Puisi-Puisi Lamuh Syamsuar; Benang Cahaya Batu Bolong

@idgafrary

Topeng Labuapi

 

aku mengenakan topeng jero buling

sebagaimana pekasih melabuhkan api di tanahmu

sebagaimana kupu-kupu kuning

mengukur luas matahari

dari tanah cupak ke tanah gurantang

ujung paling timur jawa dalam diriku

 

ambun uwong. ambun uwong.

 

Lombok, 24 Juni 2019

 

 

Air Mata Gondang

 

di gondang. aku pernah mengenakan raut patah arang

menunggu cinta yang tiada pasti dengan tabah

sepasrah mata cakalang dalam jerat jala pelaut tropis

 

tapi aku tak pernah setabah waktu

menyaksikan

naga gunung bertarung dalam perut lombok

kepala naga seluas utara dan timur. pecah

gondang terguncang.  gondang remuk redam

maka tumpahlah darah segala pohon hidup

mata-mata meluluhkan air mata

sementara orang-orang mengenakan

limbah gempa dan limbah kesedihan

untuk merekatkan tabah di tubuhnya

 

di gondang.  di gumi pusaka

dari dekat.  dari hutan adat bayan

leluhur mereka,  juru kunci

lawang air utara yang terbaring

tersentak oleh tetari tanpa penari

meraung mengenakan perih

bukan karena bencana. tapi

karena tangisan orang-orang suci

di pangkuan ibu mereka

dan aku tak sanggup

menatap air di mata gondang

 

Lombok, 19 Juni 2019

 

 

Benang Cahaya Batu Bolong

 

di batu bolong
aku belajar menenun matahari

seorang putri malu. menggantung bulan

menenun kupu-kupu

menyulam warna kembang gerodak

ribuan juta kilometer tahun cahaya dari hidupmu

tanganku gemetar menyapu kabut kesendirianmu
hujan turun seluas tambang
mata air kesedihanmu
air mata gadis pengibing yang mengibaskan pinggulnya
di bawah taring maskumambang

tetari yang terkepung mata mata berahi

kubaca musim semi yang lepas dari tanganmu
seperti menjangan, menjenguk telaga duka

di batu bolong

aku belajar memutus gelap benang matahati

 

Lombok, 14 Juni 2019

 

 

Dinding Grafiti

: ika umi hayati

delapan bulan lamanya aku hempaskan tubuhku di jogja
tapi rasanya, seperti hanya sewindu yang lewat begitu saja

 

ika. kebenaran tak bertulang punggung

kebenaran pula kita bertemu di tugu
tapi kita mendapatkan dongeng yang berbeda
karena tak ada puisi di jogja
tak ada gurun garam
paya-paya ditinggali ular kaca
seperti ceruk-ceruk hampa, tiang garam lot
dalam kisah sodom dan gomoro
yang berakhir di laut mati

 

ika. aku pinjam kata-katamu untuk membaca jawa
seperti kanvas kosong, aku tawarkan tubuhku

sebagai pelimbahan air matamu. dinding

grafiti kesedihan kita atas kepergian ayah

ika. aku sebrangkan sepasang dongeng dari pulau tenggara

sebagaimana aku ingin memberi nama-nama

untuk setiap kisah kita yang tak bernama

 

tapi “mata hari terbit dari timur” katamu

 

Lombok, 7 Juni 2019

 

 

 

Gerak

 

anjing hanya bisa jadi bangkai

seorang pelaut mendayung

menyebrangkan tubuhnya ke pulau impian
dokter memberimu pil tidur
memberi mimpi untuk menyembuhkanmu
seorang anak dilarang mencuri

sebiji benih di tanganmu

tumbuh jadi pohon doa dan dosa

 

aku  mengalirkankan rindu lewat kedua matamu

dan gerimis berbaring di tepi tangismu

tali ruh yang seharusnya ada padanya. ada padanya

 

Lombok, 10 Juni 2019

Lamuh Syamsuar

Lahir di Lombok Tengah, 1987. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya pernah disiarkan di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Bali Pos, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra dan Riau Pos. Buku puisi terbarunya, Mata Damar (Yogyakarta, 2019).

Latest posts by Lamuh Syamsuar (see all)

Comments

  1. Lalu Wirya Artapati Reply

    Awesome, angkat topi buat mamiq satu ini 🎩

  2. LAHAR Reply

    Lord LAMUH 🍻

  3. Anonymous Reply

    Mantap nih…

Leave a Reply

Your email address will not be published.