Puisi-Puisi Mahdi Idris; Silsilah Jejak

Mistrzowie akwareli Ilya Ibryaev.

Silsilah Jejak

 

Mesti kautinggalkan dusun, jelajah hutan Halimun

dalam aroma kabut. Lain kali, tubuhmu tercium serdadu.

Para pengintai tak henti memburu. Tersebab engkau pawang

seribu lelaki yang mengakhiri kesetiaan ke seberang pulau.

 

Malam yang dingin dan hari yang kilau, tak mampu

bungkam suara lantang teriak merdeka. Hidup terhina

atau mati terhormat tanpa riwayat luka.

 

Reremputan liar biarkan tubuh dibuai angin.

Ia seperti malam dalam tatap mata. Jejakmu gelap

di kerimbunan pohon, dirahasiakan belukar.

 

Seperempat abad kaubabat belantara. Kaupancang

sebatang juang, setiap kelahiran punya hak atas tuah bumi.

Juga berkah langit yang menampung desis hujan.

 

Tanah Luas, 2019

 

 

Ke Lain Kota

 

Ke tanahmu para serdadu mengirim ladam kuda.

Mencacah tanaman hijau, merampas kebahagiaan

di ladang subur. Sungai-sungai dicemari mayat

saban pagi.

 

Ke lain kota kau harus pergi, mengisi gelas kosong

dengan amunisi. Mengirim surat-surat berisi

pertahanan dan penyerangan pada malam buta,

bila tiba-tiba mereka datang mengokang senjata.

 

Di kota itu kauhanguskan kenangan. Membalut luka

dengan warisan mimpi kepada para lelaki yang bersembunyi

dalam tubuh gua, sesekali mereka menyesakkan diri ke kota.

 

Ke lain kota kautebar rahasia tanahmu dalam

cengkeram serdadu yang tiap malam menembakkan

ketakutan. Malam-malam adalah hantu yang mengejar

mimpi sampai ke dalam selimut. Ketika pagi,

para lelaki menghitung jemari, berapa lubang  harus digali.

 

Tanah Luas, 2019

 

 

Surat Kematian

 

Berhari-hari, setelah membaca surat itu

kau mulai berpikir; apakah ini akhir atau awal

sebuah perjalanan. Perjalanan ke pulau yang lama

kautinggalkan, sebelum kotamu ditembakkan peluru.

 

Kaudengar para sahabat dan kerabat jauh

menyusun rencana. Rencana kepulangan yang tiba-tiba,

setelah sepertiga abad kaurambah belukar kota yang riuh.

Demi kebebasan bicara dan berpikir. Menyingkir segala praduga.

 

“Kau adalah seorang putra yang patut diberi amnesti.

Mereka takkan menangkap dan menghukum mati.

Percayalah kepada kami sebagai sahabat yang bertaruh nyawa

dari belantara sampai ke kota.”

 

Sehari setelah menjadi warga negara, kau tatap terakhir

langit kamarmu. Tangisan-tangisan, atau semacam kesedihan,

mengantarmu ke persinggahan. Kematianmu adalah jalan

yang memberi luang kebebasan cita-cita.

 

Tanah Luas, 2019

 

  

Bayang Pemburu

 

Kau takkan mampu menangkap ketakutanku.

Maut masih bersemayam dalam selimut takdir.

Kini bayangku menyelinap ke dalam kantung nasib

mereka yang kuburu. Satu per satu akan tumbang

dalam pandang mata. Kutebas seluruh kenangan

dan luka yang kaucakapkan.

 

Bila tubuhku masih terbalut malam, maka bayangku

yang mengejarmu. Tak ada perisai dan ruang persembunyian

yang menghadangku. Tak ada persimpangan dan jalan

berliku, di mana tubuhmu menghindar kejaranku.

 

Percayalah! Semua mata adalah bayangku,

akan menyeret tubuhmu ke lubang bantai.

Bayangku punya taring dan cakar mencabik tubuh.

Punya racun ular mematikan.

 

Dari jarak paling jauh kukirimkan sebutir peluru

menembus jantung. Meski aku bayang, punya cara

bidik tepat sasaran. Aku tak pernah meleset

melesatkan kematian dari busur panah.

 

Tanah Luas, 2019

 

Mahdi Idris

Lahir di Aceh Utara. Karyanya berupa cerita pendek dan puisi pernah dimuat beberapa media lokal dan nasional. Membaca Tanda (2019) adalah buku puisinya terbaru. Saat ini bermukim di Tanah Luas, Aceh Utara.
Mahdi Idris

Latest posts by Mahdi Idris (see all)

Comments

  1. Soni setyo atmojo Reply

    Caranya upload puisi kayak gitu gimana ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.