Puisi-Puisi Matroni Musèrang; Aku yang di Luar dan Aku yang di Dalam

Sylar113 (Artem Artyakov)

Aku yang di Luar dan Aku yang di Dalam

 

aku yang di luar adalah tubuh

aku yang di dalam adalah jiwa

 

aku yang enggan berpikir tentangmu

aku yang suka memikirkanmu

 

aku yang masih mencarimu

aku yang selalu merindumu

 

aku yang terus melirikmu

aku yang kadang memburu

 

aku yang duduk di atas kata

aku yang melukis dalam dada

 

aku yang luka karena tubuh

aku yang dahaga karena hawa

 

aku yang setia pada janji

aku yang lupa pada pagi

 

aku yang tak lupa mencatat tanggal

aku yang sesekali tertinggal

 

aku yang di luar adalah tubuh

aku yang di dalam adalah jiwa

 

aku yang keakuan

aku yang kebadian

 

Madura, 2019

 

 

Melihat Kampung dari Kampung

 

aku mencoba untuk jujur padamu

kampung yang bergumam tentang waktu

 

hilir pejalan kaki, dan penjual rujak

menampung segantang sajak

 

angin segar susup sudah, di matamu sedesir dadamu

kerikil perawan yang basah keringat kaki dan bulu betismu

 

aku tiba di pangkuan pagi

berupa kampung tanah dijejak sapi

 

aku mencoba untuk jujur padamu

tentang hijau berjajar di tubuhmu

 

perempuan yang setiap pagi mencari utang

sekadar mencukupi dahaga dan makan

bersama tiga anak perempuan

ia datang dan melepas sandal di tepian halaman

 

Battangan, lekas guyup yang limbung

sebab, kampung bahasa kehidupan yang paling jujur

 

dendang gending macopat mengisi aliran saraf kampung

hadang yang hendak menugal tulang

 

diamkan segala yang geram

sebab, jarak diteguk oleh kerinduan

 

Madura, 2019

 

 

Sungai Kemarau

 

tak ada yang tersisa di permukaan sungai

daun yang jatuh atau ikan kelemar menepi

selalu membuat mataku berenang, memecah keramaian

 

orang-orang mencuci masa lalu

membersihkan tanggal demi tanggal

seperti mendongak ke langit

 

ada yang harus dinyanyikan

seekor ikan kelemar, katak, dabak diam di kolam sungai

ia berjajar bersama daun-daun basah

sambil berhitung, kalau kau lelah menunggu waktu

 

yang lembut seperti embun dari rimbun kalampok

atau sekadar sajak yang haus

mengutarakan hidup yang tak bisa tenang

 

Madura, 2019

 

 

Menatap Kampung Sajak

 

aku naiki punggung pohon

yang berjajar menahan

terpaan waktu dan ruang

 

di jejak pertama sebelum ranting

jari-jari meneguk harapan datang

 

ranting pertama jari-jari memegang

mencari dahan angin sedang meruang

 

ranting kedua tangan kukuh memegang

keyakinan sebagai tonggak cakrawala mendatang

 

ranting ketiga aku melihat ke bawah

tanah dan daun kering basah

 

ranting ke empat aku melihat tubuh pohon

kuat menghujam akar dahan

 

ranting kelima aku terus naik menuju puncak

menikmati cakrawala dan angin sajak

 

ranting keenam aku melihat daun-daun gugur

tanpa lupa berucap syukur

 

ranting ketujuh aku tak jauh

ada di kedalaman paling satu

 

Battangan, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.