Puisi-Puisi Muzammil Frasdia

 

 

Episode malam

Sebuah bangku kayu, taman batu, dan daun-daun

Tanganku bersemayam hujan

Seperti ribuan perasaan yang kutumpahkan

Kau tahu yang abadi di sini adalah momen yang membangkitkan keresahan

Lebih dalam kuhayati sunyi dingin semakin berhanyut

Wajahmu menyala-nyala di sisiku yang ramai

Mengingatmu dalam keabadian hujan malam

Seperti sebuah jalan dengan garis-garis suram dan menakutkan

Seperti puisiku yang melompat ke sana kemari tak ada makna

Tak ada suara jiwa

Hanya derik cicak yang setia mengomentari diriku yang sepi

Putih kertas di mejaku, gemetar jari-jariku

Seperti perjumpaan dan letak batas

Keluasaan langitmu menghadiahiku sebuah gaun sepi yang teramat panjang

Menjelma sungai hasratku yang kau hanyutkan dengan kata-kata

Sebuah bangku kayu, taman batu, dan daun-daun

Aku menyaksikan tubuhku diselimuti bau wangi tubuhmu yang lain

Yang membuatku semakin dekat dengan kenangan

Kenangan yang mengajaku kembali membongkar peristiwa luka

Menyadap jiwaku penuh dengan sepi.

Arosbaya, 2020

 

 

APA YANG BISA KITA TEMUKAN DARI PUNCAK DOA?

Sayup-sayup cahaya lampu yang menerangi jalan setapak rumahmu

Mengingatkanku pada undakan batu, suara belalang,

Dan dengung angin yang bersiul memanggil ruh pepohonan

Sebuah petilasan tempatku kembali menyongsong kesunyian

Langit tak memberi isyarat apa-apa untukmu

Hanya jejak kaki dan dingin yang mengering di udara

Apa yang bisa kita temukan dari puncak doa?

Dadamu yang menggigil

Nyanyianmu membelah lautan sukma 

Di dekatku sebuah aliran sungai mendesir

Memotret doa-doamu yang beterbangan

Seperti cermin besar di mana daun-daun

Serta para binatang terjun melakukan penyucian diri

Seolah persetubuhan dengan dosa melebur begitu saja

Dan sulur pohon yang merundukkan pundaknya pada bumi

Memberimu isyarat sepi

Apa yang bisa kita temukan dari puncak doa?

Ketika tangan-tanganmu seolah memanjati tebing-tebing langit

Seperti tirai-tirai putih yang memagari pandanganku dari kegelapan

Kau tampak asing dalam diriku

Arosbaya, 2020

 

 

HUJAN RINDU

Aku tulis puisi untukmu sebab rindu telah mengelupas

saat dunia yang kupandang saat ini terasa kehilangan warna

Derasnya hujan seperti ribuan perasaan yang kutumpahkan

Aku ingin mengajakmu pergi menyelam kesunyian lebih dalam

Menghayati bentuk langit,

Hujan ini pula kadang menjadi luapan tak terduga

Bayangan wajahmu menyala-nyala di sisiku

Seperti lilin yang kupandangi apinya membakar rindu

Sayangku, kebahagiaan adalah kesunyianku mengingatmu dalam keabadian

Aku memandangi sebuah jalan yang riuh dengan garis-garis cahaya

Seperti puisi cintaku yang belepotan dengan metafora yang kental

Namun tak pernah membuatmu bertekuk lutut kepadaku

Putih kertas di mejaku, perjumpaan dan letak batas

Keluasaan langit yang mengusik matahari

Tajam musim kemarau yang berumah di hatiku

Setajam perasaanku padamu

Kuhadiahi kau gaun sepi yang panjang

Seperti sungai hasratku yang kau hanyutkan dengan kata-kata

Angin mendesau setelah hujan reda

Menghapus debu dan kata-kataku sendiri

Seperti sukmaku yang kian berpencar jadi suara binatang liar

Dan cahaya yang terus menyala dalam waktu

Menyinari malammu

Arosbaya, 2020

 

 

Rantau Sunyi

Kita seperti jasad yang dilingkari cahaya

Bunga-bunga persembahan

Angin mempertajam lidah hujan

Di batu-batu sunyi kita kembali

Seperti lukisan dengan garis-garis warna suram

Menggambarkan perjalanan kita   

O, adakah bahasa yang bisa menghubungkan percakapan kita

Di bantaran sungai yang meluap-luap dengan kata-kata

Malam seperti hikayat yang menelan benang-benang cahaya dari cungkup langit

Lalu sepi yang terus mengiringi doa

Tangan-tangan hanyut

Ke dalam lingkaran sujud yang paling zuhud

Arosbaya 2020

Latest posts by Muzammil Frasdia (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.