Puisi-Puisi Nanda; Perempuan di Jari-jari Tanganku

Perempuan di Jari-jari Tanganku

sepuluh puisi tumbuh di jari tanganku: kelaparan, kehilangan ingatan, dendam, satu orang, kebaikan, ibuku, tuhan, tubuh yang besar, ketidakpastian, diriku sendiri–aku berada di garis terakhir sebagai yang terkecil setelah pertanyaan-pertanyaan sewarna angin menciptakan gelembung di hidungku, mengganti kulit hitamku dengan gambar malaikat yang terluka

aku memberikan tanganku kepada sungai untuk disucikan mata air pancawarna sebelum puisi memanjat naik ke alis mataku dan menciptakan lipatan-lipatan tanah di keningku

sebuah botol minum dari lautan mengendapkan pasirnya di atas meja, seekor makhluk tanpa wajah berjalan, berdarah-darah, melukis lintasan, mengirimkan amisnya ke luar jendela

*

lantai kamarku berbalik menghadap cermin menirukan diriku di dalam cermin, kudengar ruh-ruh dinding terpanggil menghapus pundakku, sederet hitungan hitam

bermiliar jalan dibentangkan

*

seorang bayi meringkuk dan basah mendidih di dalam kantung plastik, di kukunya sepuluh jarum pintal berkarat; dan catatan dosa, berjalan dengan empat kaki, semakin lama menjauhi bumi semakin melupakan diri sendiri:

*

seorang anak perempuan dengan gaun merah ranum membentuk bola dari kepala bapaknya, meringankan diri dalam angin dan suara ombak di balik rumah-rumah jauh, berlari lebih kencang dari cambuk dan ingatan yang berderit di dalam kapal

*

seorang perempuan tumbuh menunggui ibunya di surau yang redup, menunggu dalam ketakutan pada bayang-bayang waktu dan kabut hitam yang sebentar saja menyirep, menculik si ibu dan tuhan yang sering cemburu

“adakah cahaya juga membentuk bayang-bayangmu, ibu?”

di dalam ketakutannya ruang memutih lebih suci dari kelahiran seperti seribu cahaya dari seribu nabi berlawanan, angin hanya segenggam pasir dari sisi lain kehancuran kota yang gersang, menyusup ke dalam rumah–jalan-jalan panjang membentang

*

seorang perempuan menyimpan api di dalam kamar, menumbuk diri sendiri sambil membaca laki-laki, sambil belajar memijat kesedihan dan asin laut di betis, menghafal ramalan-ramalan dan kesaktian tapi tubuhnya diisap karena tubuhnya sendiri laut mendatangkan pulau sambil telanjang, dihabisi tiap bunyi ketukan tangannya yang menyapa dengan dendam, dengan diam

*

sebuah kamar berubah jadi ruang tumpah ruah di mana seisi kota mengamankan diri dalam peti, ke tubuh puisi, ke bawah hati, di luar gemerlap peradaban dan gempa menenggelamkan satuan zaman, impian dan batu-batu disusun dengan sabar di atas kubur bunga-bunga yang ditabur setelah kematiannya sendiri

“selamatkan aku, selamatkan aku,”

*

di sebuah tembok, di barat, wajah-wajah menyerupaimu menyerupaiku membentuk pasar, bergerak jemaah, tapi tak pernah kuucapkan doa itu, tak kuucapkan,

“ke dalam puisi atau ruang sembunyi yang gelap dan hangat,”

tuhan tak pernah seputih kukuku, tidak pernah berkaitan denganmu, meski kudengar waktu telah jadi denyut kebas dalam gerak kesadaran yang lancip, di dalam cermin seluruh kamar mengecil kecuali diriku dan sebuah suara

Surabaya, 2016

Musim Bergulir

 

                buat L

 

tiap kujangkau engkau, hutan yang pohon-pohonnya kurus merenggang, mengisi jaraknya dengan kabut, bergenggam-genggam musim dingin seperti sulaman, tanda duka di sapu tangan, bila kubayangkan menyentuh pipiku, kesedihan lebih dalam membeku di dadaku

sebab dengan tangan musim dinginlah kau mengetuk pintu, di baliknya masa kiniku terbungkus, seperti seorang anak ketakutan, tapi di atas jembatanmu tak kulihat ada yang tengah melintas lagi –

barangkali musim bergulir dari savana gaib ke kota yang menandai batas langit dan laut dalam jiwamu, dan di hutan ini, jiwamu gaib pula, memisahkan diri dari segala yang bertanda –

di hutan ini, aku tanah basah yang menyerap dan melahirkan kesedihanku sendiri, keteguhan diam-diam tersenyum menimangmu sebagai hawa yang telah menjelajah langit dan laut, tapi kau menyimpan dendam pada bumi, memadatkan masa lalu menjadi batu

perjalanan jiwamu mengundang segala yang sejiwa dengan angin – jiwaku, membeku, di atas jembatanmu, kuresapi musim yang diam

2019-2020

Laki-laki yang Rumahnya Terbakar

laki-laki yang rumahnya terbakar, di mana pintumu, aku gantungkan kalimat doa, manik-manik upacara, jiwa kesedihanku, untuk menjadi hujan yang tak berhenti, menyembuhkan dendammu

mengapa kau bersembunyi tapi aku mendengar napas beratmu, mengisapi cahaya matahari dan bulan, sebongkah hati yang baik terlindung dari masa lalu puisiku

yang kumiliki adalah kata-kata dari galaksi yang rusak, di punggungmu mereka ingin berbaring, sebagai sayap yang malas, menyerah akan kepalsuan, lalu cintaku yang berat dan jujur bisa mencari jalan untuk datang, terbakar, pulang padamu

2020

Menyalami Ruang Kosong

jiwaku kabut berjalan, angkasa tak berlantai, kesepian yang nyata serupa burung hitam, terbang memotong langit kota

duh, kepunahan, suara, suara, langit biru dongeng gemetar di pendengaranku, selalu direbut angin, tangan dunia yang kasar, tuliskan namamu di kelopak mataku, pintu tertutup, jalan yang jauh, purnama sembunyi dari mata hatiku, selalu, coba kuraih engkau, bayangan hutan dan suara air terjun, tak pernah menimpa batu dadaku, dari situkah – kuraih engkau

jalan yang jauh, kuingat warna lenganku terulur padamu, terulur, menyalami ruang kosong

2020

Jawaban-jawaban Pendek untuk Puisimu

1

sungai naik meraup bulan, kita di bawahnya menadah kesedihan, wajah ini dilunturkan musim, dicacah siklus, bertahan pada tubuh gopong yang kian waktu kian kurus, kau adalah munajat, hutan yang kaku di kegelapan, kedap bunyi, sementara tiga bintang putih menusukkan jari ke dahiku, aku berpikir tenggelam bersama bulan basah, pengujung waktu yang menyisakan galian-galian liar

2

sehabis pertarungan, pagi mengirimi kita hujan, langit: isi kepala yang tumpah ruah ke jalan, ke halaman, cahaya yang berjuang untuk tampil di barat, menunggu segala bunyi redam, segalanya ditenangkan, segalanya dibisukan

3

hujan di luar tak habis-habis, tak usah kautunggu, tak usah kauhitung, pohon-pohon lebih berhak menghirupnya, tak akan kaupahami siasat tanah basah yang menumbuhkan juga melumat dirimu suatu hari, ke dalam kenangan-kenangan berpasir

4

hujan di luar tak habis-habis, aku tamu yang kedinginan masuk dengan lancang ke rumahmu, mengentakkan debu di sepatuku, ke rumput-rumputmu, melontarkan puisiku ke pintumu, terduduk ia di kursi tamu sendirian

5

aku seorang anak, menghamparkan buku tulis di ruang tivi, menaikinya seperti berdiri di atas karpet ajaib, membayangkan lembah-lembah suria masa lalu, eufrat dan nil masa lalu, matahari dan bulan masa lalu,  seseorang mungkin membayangkan hari ini di masa lalu

2020

Nanda Alifya Rahmah
Latest posts by Nanda Alifya Rahmah (see all)

Comments

  1. rizky akmalsyah Reply

    mantap puisinya, ka…. banyak makna yang tersirat, dan tersurat memikat. Ajib

  2. Janabijana Nia Reply

    Keren puisi prosanya. Yuhuu.

  3. RiaNa Reply

    Indah

  4. Arlin Reply

    keren

  5. Suseno Permadi Reply

    Untuk mu yang masih menyalami ruang kosong
    Yakin lah di situ bukan tempatmu
    Bergegaslah keluar dari situ
    Ikuti sepercik cahaya itu
    Walau mata hatimu tak mampu menemukan arah

  6. MELIANA SAFITRI Reply

    keren kaak

  7. Riyanto Reply

    Bagian balasan pendek puisi itu sungguh dahsyat. Bahkan sepertinya layak dijadikan postingan puisi terpisah.

  8. Putrilanina Reply

    Wow… Keren banget… Indah sekali

Leave a Reply to MELIANA SAFITRI Cancel Reply

Your email address will not be published.