Puisi-Puisi Roz Zaky; Pikulan

leoweekly.com

Celurit

 

Gagal kubujuk kacong

mengasah celurit malam Jumat

mengasap dupa

air bunga.

 

Celurit itu harus keluar

dari dinding kamar,

tersungkur di sudut dapur:

tunduk di hadapan

rejang dan pangkur.

 

Celurit itu berkedip pelan

sebelum katarak di matanya

memangkas paras tanaman hias

di halaman.

 

Andai ia tahu

celurit itu pernah membebaskan aku

dari aib dan rasa malu.

 

Andai aku punya urat zakar

seujung kuku

akan kuasah celurit itu.

 

2016

 

*kacong, sebutan untuk anak laki-laki.


 

Pangonong

  

Pangonong diciptakan

untuk pasangan,

tak mungkin dipakai

sendirian.

 

Aku tahu,

kata pamitmu isyarat.

 

Tapi tekatku bulat.

Sekian tahun terikat

dalam pangonong-mu,

tak mungkin kuikat

sapi jantan lain.

 

Akan kubajak ladang

meski satu sisi pangonong

kosong.

 

2016

 

*pangonong, alat yang dipasang di leher sepasang sapi

atau kerbau untuk menarik bajak

 

Pikulan

 

Betapa lugu dan lucu.

Entah bagaimana

kacong bisa salah duga,

menyangka pikulan

di pojok dapur sebagai busur.

Tapi jujur, diam-diam

aku pun sering membayangkan

kamu Arjuna aku Subadra.

 

Aku tahu,

laki-laki menahbis pikulan

sebagai tangan Tuhan

karena laki-laki memikul

perempuan menjunjung,

laki-laki mendapat dua karung

perempuan sepinjung.

 

Tapi kau melepas anak panah

ke lain arah.

Katamu,

pikulan mengajarkan keadilan,

timbang bukan timpang.

Bila dua sisi tidak sama berat

akan sulit diangkat.

 

2016

 

Cangkul

 

Cangkul gagang akasia

rukuk khusyuk punggungmu

tak ada lagi pekerjaan berharga

selain mengubur bangkai ayam

dan kotoran sapi.

 

Sawah ladang ditumbuhi gulma.

Tanganku gemetar sepanjang cuaca

dituntun lembut tangan kacong

yang pandai menjabat tangan perawan:

tak ada kapal berlabuh di telapaknya.

 

Cangkul cabang akasia

sujud khusyuk keningmu

tak ada lagi pekerjaan berharga

selain mengubur bangkai ayam

dan kotoran sapi.

 

Sawah ladang dibubuhi tanda tangan.

Kakiku gemetar sepanjang cuaca

dipijat lembut tangan kacong

yang pandai menjabat tangan atasan:

tak ada kapal berlabuh di telapaknya.

 

Cangkul gagang akasia

tahiat akhir sembahmu

tak ada lagi pekerjaan berharga

selain mengubur diri

bersama bangkai ayam dan kotoran sapi.

 

2016

Roz Ekki

Lahir di Bangkalan 22 Desember 1983 dengan nama administrasi Rozekki. Aktif berkesenian bersama Kamunitas Masyarakat Lumpur. Menulis puisi, prosa dan drama. Buku puisinya yang telah terbit Tiga Cuaca Tanpa Musim (Komunitas Masyarakat Lumpur, 2016), Sangkolan: Mata Celurit Mata Sabit (Basabasi, 2018). Naskah dramanya “Fragmen Pasar Burung” mendapat penghargaan Rawayan Award (Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, 2017).
Roz Ekki

Latest posts by Roz Ekki (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.