Puisi-Puisi Samih al-Qasim; Surat dari Dalam Bui

@avifahve

surat dari dalam bui

 

aku tak punya kertas, tak juga pena

tapi aku—karena sengatnya panas dan getirnya nestapa—tak bisa tidur, kawan

bagaimana andai aku bicara lewat puisi saja, ucapku

tiba-tiba ada yang mengunjungiku melalui lubang selku yang hitam

jangan pernah anggap remeh..  kelelawar telah mengunjungiku

lalu pergi dengan gesitnya

ia ciumi dinding selku yang hitam

lalu kusampaikan: wahai pengunjung yang berani

kabarkanlah! bukankah kau punya berita tentang dunia kami?

sungguh, tuan

sejak lama aku tak pernah membaca koran di sini

tak pernah mendengar berita

ceritakanlah tentang dunia

tentang keluarga dan orang-orang tercinta

tapi ia tak menjawab!

ia mengepakkan sayap hitamnya melewati lubang.. lalu terbang

aku teriak: wahai pengunjung asing

sebentar, tidak inginkah kau bawa berita tentangku kepada kawan-kawan

***

dari panas yang menyengat, dari kecoa dan getirnya nestapa

aku tak bisa tidur, kawan

dan sipir yang malang masih berdiri dibelakang pintu

masih saja.. tak bosan memindahkan kakinya

seperti diriku, ia pun tak bisa tidur.

seolah-olah ia diriku, dihukum tanpa alasan

***

kusandarkan punggungku ke dinding

celaka! aku tercekik dalam pusaran tanpa keputusan

lalu di balik keningku pikiran berkobar

– – – – – – – – – – – – – – – – – – –

ibu! betapa menyedihkannya ini

demi aku, pada malam-malam yang menyakitkan

engkau menangis dalam sunyi, kapan akan kembali

saudara-saudara tercintaku dari kesibukannya

demi aku, engkau tak bisa makan

tempat dudukku kosong, tak ada tawa, tak ada kata

ibu! betapa menyakitkannya ini

kau teteskan air mata

setiap kali kawan-kawanku datang bertanya

tapi aku yakin, ibu

aku yakin dalam bui ini

akan lahir keindahan hidup

aku yakin pengunjungku yang terakhir

bukan lagi kelelawar malam yang berkelana tanpa mata

siang harus mengunjungiku

lalu para tawanan menunduk dengan penuh khidmat

bernyanyi.. oh, buiku bernyanyi..

celaka! siang adalah kobaran!

 

 

dengan tegak aku berjalan

 

dengan tegak aku berjalan

dengan mendongak aku berjalan

di tanganku kugenggam zaitun

dan di pundakku kupikul keranda

lalu aku berjalan.. lalu aku berjalan

hatiku bulan merah

hatiku taman

di dalamnya, oh, di dalamnya tanaman berduri

di dalamnya tumbuh kemangi

bibirku layaknya langit hujan

kadang api, kadang juga cinta

di tanganku kugenggam zaitun

dan di pundakku kupikul keranda

lalu aku berjalan.. lalu aku berjalan

 

 

orang-orang asing

 

kami menangis ketika orang lain bernyanyi

kami mengungsi ke langit

saat orang-orang meremahkan kekuatan langit

karena kami lemah

karena kami terasing

kami menangis sembari berdoa

saat mereka bermain dan bernyanyi dengan gembira

***

kami bawa, oh, luka kami yang berdarah-darah, kami bawa

ke ufuk di balik alam gaib yang memanggil kami… lalu kami tinggalkan

rombongan anak-anak yatim

lalu kami menyelinap dalam pekatnya kesia-sian… dari tahun ke tahun

dan kami masih saja terasing

dan kami masih saja menangis ketika orang lain bernyanyi

***
usia keangkuhan di thursina telah mencapai empat puluh tahun

kemudian orang lain kembali

dan kami pergi… saat orang lain kembali

lalu ke mana? tentu, kita akan tetap kebingungan

atau tetap terasing?

 

 

majulah

 

majulah

majulah

seluruh langit di atasmu, neraka

seluruh bumi di bawahmu, neraka

majulah

anak-anak dan orang tua kami telah mati

namun ia tak kunjung menyerah

seorang ibu terjatuh di hadapan mayat anaknya

namun ia tak kunjung menyerah

majulah

majulah

dengan tank-tank tentaramu

dengan rajaman muslihatmu

ancamlah

cerai-beraikanlah

yatimkanlah

hancurkanlah

kau tak akan mampu melenyapkan jiwa kami

kau tak akan mampu menaklukkan kerinduan kami

kami adalah takdir yang tak bisa diubah

majulah

majulah

jalanmu di belakangmu

masa depanmu di belakangmu

lautanmu di belakangmu

tak pernah ada di hadapan kami

jalan

masa depan

daratan

lautan

kebaikan

bahkan kejahatan

lalu apa yang membuatmu tertarik

dari mayat mayat ini

lalu apa yang membuatmu tertarik

dari wabah-wabah ini

kegilaan yang ambigu telah pergi

majulah

di balik semua batu

ada tangan

di balik semua rumput

ada kematian

dan di balik setiap mayat

ada jebakan indah yang direncanakan

bila tak dapat betis

mereka masih mengincar pergelangan tangan

majulah

seluruh langit di atasmu, neraka

seluruh bumi di bawahmu, neraka

majulah

majulah

yang haram untukmu, halal

yang halal untukmu, haram

majulah dengan segala hasrat membunuh

sebagaimana hasrat para pembunuhmu

bidiklah dengan cermat, jangan berbelas kasih

lalu bersihkanlah dengan kasih sayang

sebab sungguh, tetesan darah kami sangat mahal

majulah sekehendakmu

bunuhlah

pembunuhmu merdeka

korban kami terpenjara

tuan tentara masih saja berdiri dan terjaga

begitu juga si hakim  yang jahat

majulah

majulah

jangan buka sekolahan

jangan tutup tahanan

jangan kasih ampun

jangan takut

jangan mau mengerti

awalmu

akhirmu

mukminmu

kafirmu

penyakitmu adalah aibmu

maka luncurkanlah, tantanglah

gempurlah, tabraklah

untuk rindu terakhir yang masih bersamamu

untuk tali terakhir yang masih bersamamu

sebab semua kerinduan punya akhir

sebab semua tali punya akhir

dan matahari kami adalah awal dari segalanya

tak usah kau hiraukan

tak usah kau pahami

majulah

seluruh langit di atasmu, neraka

seluruh bumi di bawahmu, neraka

majulah

majulah

bukan baret tentara

bukan pentungan polisi

bukan gas air mata kalian yang membuat kami menangis

gazalah yang membuat kami menangis

karena dalam diri kami

ia adalah kekuatan gaib kerinduan

yang berdarah-darah untuk kembali

majulah

dari jalan ke jalan

dari rumah ke rumah

dari mayat ke mayat

majulah

semua batu yang dirampas, menjerit

semua alun-alun teriak karena marah

semua saraf meraung

mati tak berarti menyerah

mati tak berarti menyerah

majulah

majulah

lihatlah, tenda-tenda telah maju

yang terluka telah maju

yang terpenggal

yang kehilangan anaknya

yang menjadi yatim

batu-batu rumah

tanduk telinga

bayi

orang tua

janda telah maju

pintu janin dan nablus telah maju

jendela-jendela al-quds datang

doa matahari

dupa dan rempah-rempah

pembunuhan telah maju

pembunuhan telah maju

tak usah kau hiraukan

tak usah kau pahami

majulah

majulah

seluruh langit di atasmu, neraka

seluruh bumi di bawahmu, neraka

 

 

perdamaian

 

orang lain bernyanyi tentang perdamaian

orang lain bernyanyi tentang persaudaraan, persahabatan dan kesetiaan

orang lain bernyanyi.. tentang burung gagak

dengan girangnya, ia menjeritkan malapetaka di antara bait-baitku

orang lain bernyanyi tentang burung hantu.. pada puing-puing benteng merpati!

orang lain bernyanyi tentang perdamaian

sedangkan tangkai-tangkai sawahku sedih karena rindu

pada mesin pembajak yang disembahnya, yang membuatnya abadi dari fana

pada gema nyanyian para pemanen

pada penggembala di lereng-lereng gunung

ia bercerita tentang kambing betinanya, tentang cintanya yang malu-malu

tentang matanya yang hitam, dan kulitnya yang kemerah-merahan

***

orang lain bernyanyi tentang perdamaian

sedangkan mata tak lagi membasahi suara dahan-dahan anggur

ranting-ranting zaitun.. menjelma kayu bakar

bagi tungku perapian yang berkobar,  ah, celaka!kayu bakar!

terali kami yang tengah terancam dihiasi ringkikan kuda pada anak-anak kecil yang menggemaskan

palung mengadu tentang kepergian.. sedangkan teko berharap datangnya tamu

dengan ((selamat datang)).. ketika matahari terbenam

melihat pigura-pigura berdebu yang dihancurkan

menangis pada bingkainya, sebab tercerabut dari foto-foto masa lalu

tas anak-anak kecil… adalah kepingan keyatiman

yang tertinggal di atas puing-puing sekolah yang dirobohkan dan menyedihkan

ia masih di sana.. masih menyisakan tawa dengan tenang

pulang dari sekolah terakhir..

dari cinta dan perdamaian!!

***

orang lain bernyanyi tentang perdamaian

sedangkan di sana.. di balik blokade kawat berduri.. di balik kegelapan

penduduk kota tertahan dalam tenda penampungan

menjadi tempat tinggal bagi kesedihan, demam dan keranjang bagi kenangan

 di sana.. kehidupan telah padam

pada manusia kami

pada warga sipil.. yang tak pernah jahat pada kehidupan

di sini..

kebun-kebun jeruk sedih atas perbuatan mereka, manfaatnya berlimpah

nenek moyang mereka menanamnya untuk mereka

namun, oh, betapa malangnya, manfaat yang berlimpah itu justru dirasakan oleh selain mereka

sedangkan warisan yang mereka dapatkan hanyalah kesedihan bertahun-tahun lamanya

dan anak-anak yatim  kenyang dari sisa-sisa hidangan para penjahat yang hina

***

orang lain bernyanyi tentang perdamaian

dalam genggaman tuhanku, tanah airku, namun dalam lembahnya, perdamaian telah dibunuh?

(delapan larik terakhir dari puisi ini dihapus sebagaimana bentuk berikut)

(xxxxxxxx)

tak ada monumen, tak ada bunga, tak ada kenang-kenangan

tak ada bait puisi.. tak ada gitar

tak ada sobekan kain yang dicelup dengan darah

 pada saudara-saudara kami yang baik hati

tak ada batu yang menulis nama-nama mereka

tak ada apa-apa, oh, sungguh memalukan!

***

hantu-hantu mereka masih saja gentayangan

menggali kubur pada bekas kuburan di kafr qasim

(delapan larik terakhir dari puisi ini juga dihapus sebuah tanda dalam pengawasan zionis)

 

 


Samih Al-Qasim
lahir di kota Zarqa’ pada 11 mei 1939. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di kota Nashirah/Nazareth, salah satu kota di Palestina yang kini telah masuk dalam administrasi Israel. ia adalah penyair Palestina modern yang namanya kerap kali dikaitkan dengan tema-tema revolusi dan perjuangan, karena, sejak peristiwa nakbah 1948, ia sering kali melakukan perlawanan dari dalam. Selain itu, penyair yang satu masa dengan Mahmoud Darwish ini juga pernah menjabat sebagai ketua redaksi koran Kull Al-Arab, dan mantan anggota Partai Komunis Palestina. Puisi di atas diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Fazabinal Alim.

Fazabinal Alim

Penerjemah dan Kritikus Sastra Arab
Fazabinal Alim

Latest posts by Fazabinal Alim (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.