Puisi-Puisi Toni Lesmana: Perayaan Kesendirian

 

Muara Manula

Ingatanku muara yang senyap merayap

Menulis namamu dengan hijau arus sungai

Ke tubuh biru laut. Huruf-huruf yang mengikat

Rima rimba kegelisahanku itu, yang mengangkut

Bunyi embun kesunyianku, lantas diantar ombak

Mendaki dan menatah diri pada karang di ujung

Tanjung. Mengukir hati pada erat belitan akar

Dan dahan pohonan. Namamu menjelma petapa

Yang semedi di terjal tebing hatiku, menaklukan

Gemuruh lautan waktu, menundukkan mata ombak

dan angin keresahan. Aku terus mengeja, merapal

Namamu, seperti meminum sumsum

Balung mantra pemanggul rindu

 

 

 

Way Teluk

Jauh darimu, kutunggui anak-anak senja menunggang ombak

Setiap kali mereka terguling dilumat gelombang, kurasakan

Dirikulah yang tenggelam dan karam ke dasar laut hatimu

Jauh darimu, kuayun lembut perahu-perahu di dermaga

Seperti buaian pelukanmu. Setiap kali mereka meluncur

seakan diriku yang mengembara di sekujur tubuh lautmu

Jauh darimu, papan selancar dan perahu-perahu

Segala yang mengambang itu adalah diriku

Disergap malam yang pasang, pasang laut ketiadaanmu

 

 

 

Labuhan Kuala

Dermaga kenangan di dadamu masih tangguh

Membendung gempur kemurungan. Perahu-

Perahu tidur siang di pelukmu, setenang bayi

Diayun lembut buaian ibu. Di punggungmu

Telah kubangun benteng masa lalu

Di keningmu kudirikan menara masa kini

Dan masa depan adalah berkas bayang

Pulau pisang di sebrang teduh parasmu

Berlayarlah, laut itu kekasihmu di sini,

Bisikmu menarik tubuhku dari gua

Sunyi bukit Selalaw. Pergilah bercinta,

Lepasmu mendorongku ke luncur perahu

Itulah satu jam pelayaran kehidupan di dunia

Seakan-akan aku hendak karam dan tenggelam:

Gairah laut lepas, peluk gelombang, cium-gigit

Angin, dan pekik lumba-lumba. Setelah itu

Kurengkuh juga nikmat berlabuh di pasir putih

Lembut lapis kain tapis, barzanzi, makam-makam

Keramat. Ah, udara menurunkan gerimis talkin

Mengiringi diri istirah di pulau kesendirian

Menghayati sayat ayat-ayat ketiadaan

Memahami kekosongan jiwa tanpa dirimu


Dari jauh, dalam samar kabut, searah lompatan

Tuhuk, kusaksikan daun kerudungmu kelabu

Matamu meredup di puncak menara suar

Sedang pelukmu terus mengayun tidur

Perahu-perahu. Lamat-lamat kudengar gema

Suara perempuan melantunkan hahiwang

Lengking kesedihan dari kesediaan ditinggalkan

Ratapan-ratapan dari keteguhan menunggu

Kuakhiri sajak ini dengan api dari hati senja

Membakar langit penantianmu, “Sayangku,

Kaulah pelabuhan itu, rumah sesungguhnya

Untuk keberangkatan dan kepulanganku

Tunggulah, tubuh kuyupku akan kembali

Menyusup dan menyusu di tubuh rindumu”

 

 

 

Mercusuar Bukit Selalaw

Akar-akar dan batang pohon kesepianku telah melilit erat

Kakimu yang menancap di ubun-ubunku. Tubuhmu putih

Telanjang tegak ke langit. Seakan tapa ratusan tahun

Matamu tak lelah mengirim suar ke luas ketiadaan

Namun tak ada yang singgah di karang-karang hitam

Pahaku. Hanya ombak, melulu sayatan riak melukai

Kakiku yang terjulur curam ke gelombang. Diam-diam

Para bajak lautlah yang menyusup masuk ke mulut

Hijau muara-muara dan merompak segala rempah

Di lubuk lempung leluhurku. Tak kusangsikan, bagiku

Kaulah sesungguhnya wujud kekasih itu, kesetiaanmu

Tak hanya pasrah menunggu, namun terus menyalakan

Doa ke bentangan gelap lautan waktu, persis seorang ibu

Yang terjaga sepanjang malam hingga berkas cahaya mata

Mengalir menjadi butiran embun air mata di daun-daun

Rimbun sekujur tubuhku. Itulah kenapa akar, dahan dan

Ranting seliar peluk kecemburuan yang terus melilit

Mendaki kakimu, terus menyelimuti utuh tubuh putih

Telanjangmu. Agar tak ada yang mampu menyentuh

Memasuki tubuhmu. Sebab kaulah milikku, sejak kau

Memilih berdiri semedi di puncak kegelisahanku. Mukim

Di takdir diriku sebagai bukit mungil penjaga celah batas

Pesisir utara dan pesisir selatan Krui. Seperti titik pertemuan

Kesedihan dan kebahagiaan. Di antara hamparan pasir

Hikayat dan kenyataan inilah, untukmu, hatiku telah

Mendirikan masjid kecil di tepi sepi Labuhan kuala

Selamanya diam menahan gempuran perasaan laut

Gemuruh pernyataan cinta kepadamu. Kau yang kekal

Menembakkan nyala suar sajak bagi para pengembara

Yang tersesat di samudra biru kata-kata, seakan kau

Selalu mengenang dan merindukan jejak-jejak sendiri

Silam pengembaraanmu dari seberang sana: barangkali

Negeri kincir angin, keju, dan sebuah musim yang bikin

Segala putih. Seputih tubuh tinggimu yang berdiri

Dan tak henti pula kulilit dengan birahi keabadian.

Barangkali negeri matahari terbit, kuil-kuil kesunyian,

Dan puncak gunung dewa-dewi yang semedi

Sekhusyuk dirimu menampung rimbun rinduku.

Barangkali pula sesungguhnya kau lahir dan tumbuh

Di lubuk lempung leluhur ini, surga rempah dan hikayat,

Nyanyian seribu muara, dan rumah-rumah panggung

Yang tangguh. Setangguh dirimu menemani diriku.  

Tidak kutahu benar asal-usulmu, namun aku tahu pasti

Keberadaaanmu dalam diriku adalah napas hidupku     

 

 

 

Seperti

Seperti kambing dan sapi yang berkeliaran bebas

Di tanah Krui. Kulepas kegelisahan dan kesepian

Meninggalkan kandang dadaku. Sesak pengap

Dibekap tulang dan daging sunyi pengembaraan

Kubiarkan mereka berlarian di jalanan, melompati

Pagar kedai kopi, asyik memamah rumput kering

Di alun-alun, turun ke pantai mengikuti liuk pinggul

Peselancar, bergulingan di pasir putih, menyusun

Lokan dan kerang menjadi sebuah nama, sebelum

Melompat ke arah jukung yang meluncur ke laut

Di tengah laut mereka terjun bergelut peluk persis

Kau dan dan aku di atas ranjang kemerdekaan cinta

Kubayangkan marlin dan lumba-lumba membawa

Mereka bulan madu di balik bayang Pulau pisang.

Aku tidak khawatir mereka akan tersesat, seperti

Orang-orang Krui yang melepas ikatan tambang

Memasrahkan kambing dan sapi pada tuntunan

Angin. Segala yang kulepas akan kembali ke diri

Sebab namamu yang ditabuh degup jantungku

Sepanjang waktu adalah alamat keramat, akan

Menuntun mereka pulang menghuni bilik dadaku

Seperti kepergianku yang selalu kembali padamu

 

 

 

Perayaan Kesendirian

Di penginapan, sayangku, hari adalah lilitan kawat duri

Kesepian. Kutuang dan kuteguk tuak kata-kata, sebagian

Kusiramkan pada unggun tumpuk dunia: arsip kwitansi,

Surat dinas, peta catatan perjalanan, peti harta karun

Hikayat, Kitab-kitab kulit kayu. Pelan aku menari sendiri

Menyayat Kenyal urat nadi kesunyian dan darahku sudah

Tetes api. Jatuh menyulut baju dan celana. Hangus segala

Terbakar. Aku terus menari. Kedinginan di pusat kobaran

Aku berputar. Akulah Rumi tanpa Ayamsi Tabriz, Majnum

Tanpa Laila, Wastu tanpa Rara Sakarti. Inilah aku tanpa

Dirimu. Merayakan kesendirian di tengah kobaran api

Darah kerinduan. Samar kusaksikan geliat kesedihan

Bangkit seperti ular yang asyik menggigit dan mengirim

Bisa ke tubuh sendiri. Kini kupahami getir kematian

Puisi para penyair hadir mengingatkan hakikat kekasih

Bunuh diri atau menjadi gila hanyalah isyarat kekalahan

Lantaran kegelisahan dan kesepian diikat terlalu liat

Tak dilepas menjadi berkas kata, hanya sekadar liar

Tambang ungkapan yang berbalik melilit dan mencekik

Leher hati kesendirian, menggantung tubuh kemurungan

Pilu letusan kuburan atau lengking rumah sakit jiwa

Maka kurayakan kesendirian sambil berputar-putar

Menebar api hati. Kamar dan penginapan berkobar

Jalan-jalan bara. Dari arah pantai yang gosong

Kegelisahan dan kesepian sempoyongan

Pulang telanjang bergandengan. Menembus

Kobaran api, menembus dingin tarianku

Sambil menyanyikan sajak-sajak rindu

Yang terus kutuang dan kuteguk

Sambil menyanyikan sajak-sajak baru

Yang gemuruh menggempur

Kesedihan. Aku kian berputar

Benar-benar menjelma angin

Yang tak tunduk pada apa pun

Selain dirimu. Oh, cinta

Kurasakan benar

Selain kepadamu

Bahkan retak ingatan

Adalah geliat khianat

Toni Lesmana
Latest posts by Toni Lesmana (see all)

Comments

  1. Narendra BKR Reply

    Langsung melayang pak sumpahlah

  2. Abdullah Al-Ghifari Reply

    Mantap banget yang perayaan kesendirian … dari judulnya aja menarik. kaya aku banget

  3. Aldi Aqli Reply

    Seketika aku terhanyut dalam kesendirian setelah membaca puisi ini.. Mantep.

  4. Putra Reply

    WAH!

Leave a Reply

Your email address will not be published.