Puisi-Puisi Usman Arrumy; Pada Suatu Rindu

Puisi-Puisi Usman Arrumy; Pada Suatu Rindu
eharmony.co.uk

Kidung Kekasih

 

: Faroh Nur

 

Langit tak cukup luas

Untuk menerjemahkan kasihmu

Laut tak cukup dalam

Untuk mengukur rindumu

Bunga-bunga tak cukup elok

Untuk menjelaskan senyummu

 

Burung-burung tak cukup merdu

Untuk mendendangkan hidupmu

Baris Puisi tak cukup fasih

Untuk menggambarkan cantikmu

Matahari tak cukup hangat

Untuk mengganti pelukanmu

 

Kau, kekasih

Adalah denyut bagi jantungku

Adalah udara bagi nafasku

Adalah waktu bagi usiaku

Adalah takdir bagi cintaku

 

 

 

Pada Suatu Rindu

 

Pada suatu rindu

Kenangan terbentang antara diriku

Dan denyut jantungmu

 

Aku mendengar suaramu lewat desir air

Mendengar suaramu dilafalkan seluruh penyair

Dan segala yang akan berakhir

 

Aku mencintaimu

Di luar kesanggupan hujan

Menakar derasnya rinduku

 

Pada suatu rindu

Kau adalah api dalam tungku

Yang menanak masa laluku

 

Aku membaca namamu di selembar sepi

Membaca namamu di seluruh bait puisi

Dan di segala yang hendak abadi

 

Aku mencintaimu

Di luar kemampuan waktu

Menghitung usiaku

 

 

Doa

 

: Faroh Nur

 

Selamat pagi kamu

yang memutuskan tinggal di ingatanku.

Selamat pagi, semoga matahari

Yang terbit dari matamu

Akan terbenam di mataku

 

Selamat senja kamu

Yang tak reda merenda rinduku

Selamat senja, semoga kamu dan aku

Adalah sepasang doa

yang dipanjatkan oleh cinta

 

Selamat malam kamu

Yang setia menggali lubuk di jantungku

Selamat malam, semoga sepasang matamu

Tetap menjadi dua bait terbaik

Bagi seluruh puisiku

 

Bila

 

Bila kububuhkan namamu pada baris puisiku
Pastilah seluruh huruf akan terpelanting
Sebelum tinta sempat mengering

Bila kupahat namamu pada larik puisiku
Tentu seluruh kalimat akan memucat
Sebelum pena sempat kuangkat

Bila kutulis namamu pada bait puisiku
Niscaya seluruh kata akan meregang
Sebelum pena sempat kupegang

 

Guru Rindu

: Faroh Nur

 

Rindu adalah guru yang mengajari bibirku
agar rajin menyebutmu

 

Rindu adalah guru yang membimbing mataku
Agar tekun memandangmu

 

Rindu adalah guru yang melatih telingaku
Agar khusyuk mendengarmu

 

Rindu adalah guru yang menuntun langkahku
Agar bersemangat menujumu

 

Rindu adalah guru yang mendidik penaku
Agar telaten menulis namamu

 

Rindu adalah guru yang menempa hatiku
agar gigih mengenangmu

 

Rindu adalah guru yang mengasuh jiwaku

Agar berbakti pada cintamu

 

 

KEPADA PUISI

 

Lautan adalah tinta

Pepohonan adalan pena

Hampar tanah adalah lembar buku

Dan penulisnya adalah aku

:

Kau adalah kata-kata

Yang harus ada

Dalam puisiku

 

Terimakasih

 

: Faroh Nur

 

Terimakasih karena kau telah berkenan

Meletakkan kenanganmu di atas puisiku

Terimakasih sudah memberkahi katakataku

Aku akan bahagia bila kesedihanmu

Dapat terlelap di sela-sela hurufku

 

Terimakasih karena jemarimu berkenan

Menuntun penaku untuk menulis cinta

Terimakasih karena suaramu berkenan

Membimbing bibirku untuk menyebut cinta

 

Terimakasih karena kehadiranmu

Telah menyelamatkanku dari rasa putus asa

Terimakasih atas cintamu yang telah

Membaiatku sebagai seorang penyair

Usman Arrumy

Lahir di Demak. Baru saja menerbitkan buku Surat Dari Bawah Air—puisi-puisi Nizar Qobbani (2016, Perpustakaan Mutamakkin Kajen), dan buku Hammuka Daimun—puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (2016, Dar Twetta, Giza, Mesir). Sekarang sedang belajar di Al-Azhar Kairo, jurusan Bahasa Arab.
Usman Arrumy

Latest posts by Usman Arrumy (see all)

Comments

  1. Adeng Nurdin Reply

    Good

  2. Anonymous Reply

    Nih mah ga usah diragukan

  3. Idrus Ali Reply

    Good

  4. Sechudin Reply

    Luar biaso

  5. Anonymous Reply

    Wagelasehhh

  6. Sri Maryati Reply

    Romantis hehe

  7. Anonymous Reply

    Melting Gus

Leave a Reply to Anonymous Cancel Reply

Your email address will not be published.