Puisi-Puisi Willy Fahmy Agiska

 

APA LAGI SIH, PENYAIR

Jam 13.00 WIB, pas matahari lagi judes

penyair besar itu mampir dan masuk ke kosan.

Aing masih dalam mode setengah tidur.

Tanpa babibu, ia sikat tuh sisa cemilan terakhir

di meja dan stok garpit sebatang. Malesin.

Sambil pura-pura merem, aing denger

khusyuk banget kriak kriuk keripik

dan letak pletuk rokok yang diisapnya.

Gak lama, kedengerannya si penyair itu

lagi ngomong sendiri, sambil ngabsen

beberapa judul buku di rak. Kayak orang

lagi ngomong dengan memorinya sendiri.

Gitu-gitu amat sih, penyair.

Ah, di adegan ini, akhirnya aing

gak kuat pengen buka mata

kira-kira seukuran sela-sela pintu

yang ditutup rapat rapat.

Beneran lah

dia lagi ngacak-ngacak buku

dan susunan yang susah payang

udah pernah aing susun

berdasarkan nama penulis, dsb.

Kayak ayam tetangga sebelah

lagi nyakar-nyakar tanah

nyari makanan.

Aing bangun lemes

senderan di tembok

liatin dia juga

lagi senderan di rak

sambil niup asap ke udara,

begitu tenangnya.

Seolah-olah lagi bilang,

“dunia ini, bebas kan?”

Terus dia nyapa

dan nanya ini itu,

tapi aing kok ngerasanya

kayak lagi nonton tipi

yang lagi di-mute sih.

Pas udah semenit

duamenit, tigamenit, limamenit

penyair besar pun pamit.

Gak tau mau ngelengos

ke kebebasan mana lagi.

Sebelum badannya

keliatan tinggal punggungnya aja

dia ngucapin terima kasih.

Aing cuma kuat ngebales

ngacungin jempol aja ke udara.

Dan emang kayak cuma sanggup

ngelakuin itu aja. Hhh…

2021

 

 

UNBOXING SDR. PENYAIR (I)

Seperti angin

setiap hari aku bersalin

dan berlewatan sebagai orang lain.

Kata-kata berjalan

tidak seperti kakimu berjalan.

Sebelah ke kemarin, sebelah ke hari lain.

Asyik

melewati negara dan ginjalmu yang sakit

melewati jalan dan bukit-bukit kabupaten

yang borok-berlubang oleh cara berpikir

& bermimpimu yang aneh.

Dari satu dunia ke dunia lain

rumahku, selalu di mana bukan?

2020

 

 

UNBOXING SDR. PENYAIR (II)

Ada yang terus berseru

out of the box!

dari luar kaca kereta kita.

Ada-ada saja, efek derita.

Seperti paras utang,

rumah-rumah mini manusia

dan papan tanah gusuran

lintas, sekilas sekilasan.

Busyet. Kenapa terus berhamburan

dari kepala, buku-buku tebal tanpa judul

penuh angka dan coret-coretan mimpi.

Antara kembang kempis rasa cemas

dan heroisme untuk hari nanti

yang terkepal di saku celana

out of the box!

Antara panjang jalan dan bahasa

yang di mana batasnya

out of the box!

2020

Latest posts by Willy Fahmy Agiska (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!