Puisi Tjak S. Parlan

 

Suatu Pagi di Desa Ini

 

Kabut tipis merambah ke ladang:

pucuk-pucuk daun jagung yang tenang

menunggu kilau matahari

yang belum sampai.

 

Sebuah pagar rumah telah lama terbuka,

seorang ibu menyiapkan bekatul

agar ayam-ayam segera berkumpul:

sarapan paling pagi

sebelum dapur mengepul

dan tanak nasi dipindah ke dalam bakul

 

sebelum kelak

—yang jauhnya tak terbilang jarak—

anak-anak akan kembali ke desa ini.

 

Di jalan, perempuan-perempuan

paruh baya bersepeda Phoenix

—mini atau jengki

warna biru masa lalu—

pergi ke sawah luas

menjadi buruh lepas.

 

Sejumlah laki-laki

dengan gemuruh mesin heler

mulai berkeliling kampung,

menyambangi rumah-rumah

para pemilik gabah.

 

Ketika cercah pertama matahari tiba,

kabut mengawang ke puncak-tajuk

pohon-pohon bambu, pohon-pohon nangka.

Lalu dari sebuah madrasah,

lagu-lagu murottal memanggil-manggil:

 

anak-anak bergegas ke sekolah

meninggalkan sepi rumah,

orang-orang tua, juga segala

yang masih ingin dipeluk

 

di pagi hari.

 

Kolomayan, 13 Februari 2024

 

 

Di Kedai Dawet Serabi Pinggir Sawah

 

Di kedai dawet serabi,

pelan-pelan ia teringat

perpisahan yang rumit

dengan dirinya sendiri:

 

tak ada yang ingin ditinggalkan

—tapi ia harus pergi—

dengan punggung menggumuk

oleh usia dan melankoli.

 

Dan hatinya yang bengkak-padat

sesekali mencair dalam kuah legit

santan kelapa dan gula jawa,

 

dalam lembut-kenyal tapioka

dalam gurih serabi yang lumer di lidah

ketika hawa pertemuan yang silir

dan jauh mengalir

 

dari bulak-sawah.

 

Di kedai dawet serabi,

perjumpaan dan perpisahan

sama-sama beraroma pandan,

sesekali menyusup bau tipis keringat:

 

mereka yang datang memintas pematang,

setelah melunasi dahaga padi

sebelum tuntas dahaganya sendiri.

 

Dan mereka yang pergi selepas

isi mangkuk tandas,

tersenyum lepas

kepadanya,

 

dan ia

—yang bertahan dan asing—

berusaha mengawetkannya

seperti seorang ibu yang tabah

menyimpan apa-apa yang telah diolah

 

dalam kendil-kendil tanah.

 

Kolomayan, Januari 2024

 

Di Arena Pacuan Kuda Pikatan

 

Memasuki arena,

warna samar sayembara mengelupas

pada garis-garis pembatas:

sisa lapuk kayu, menunggu tepuk

yang dulu melantun

 

dari sebuah tribun.

 

Dan di startgate

yang kerap telantar itu,

kesunyian menunggu

dengan debar yang lain.

 

Debar dari masa lalu:

antara awas juga was-was

derap pasukan berkuda

di hari-hari geladi

—para pemanah jitu

dari Panjalu,

 

debar dari masa-masa gemilang

pertaruhan para joki

di tengah gelanggang.

 

Tapi di track yang lengang

—hari yang lembab itu—

galur memanjang roda sepeda

seperti hendak menjangkau

sore-sore yang lampau

 

selepas hujan,

 

selepas kisah-kisah

yang tak pernah diceritakan

dalam riuhnya pacuan

di Pikatan.

 

Kolomayan, 1 Februari 2024

 

Dari Tanah Lapang Ini

 

Dari tanah lapang ini,

kita memandang hari yang condong ke tepi.

Angin menguap dari ladang yang hening

membawa aroma sisa musim petik:

batang-batang jagung

dengan kelobot menjuntai warna gading.

 

Di angkasa yang lapang,

layang-layang warna merah terang

sendirian dan terpencil

—diterbangkan dari jauh oleh seseorang

yang senang mengingat masa kecil.

 

Tak ada yang akan datang bermain.

Hanya penyabit rumput, satu-dua peladang,

dan mereka yang ingin mengulang

jalan simpang.

 

Hanya tiang gawang gersang

seperti usia tua yang tak pernah diingat

dan lama tak disambang.

 

Hanya kita, hingga angin

menjadi lebih dingin

dan matahari layuh perlahan

dijamah pucuk-pucuk tebu di kejauhan.

 

Kolomayan, 22 Februari 2024

Admin
Latest posts by Admin (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!