Pulang ke Kampung Asing

Rasanya baru kemarin aku dan teman-teman bermain di teras surau malam-malam. Menangkap kunang-kunang sebelum diterbangkan kembali dari telapak tangan yang diarahkan ke bulan. Kami bersorak bersama melihat kunang-kunang yang terbang tinggi, melawan angin malam. Lalu Kiai Munir datang menegur kami supaya tidur tidak terlalu malam. Ia membawakan kami singkong rebus dan potongan gula siwalan. Setelah itu kami tidur dan sebelum subuh sudah bangun. Sesudah salat dan mengaji, kami mencabut rumput, lalu menyapu halaman surau dan halaman dalem1. Kata tetua, menyapu halaman surau adalah menyapu hati sendiri hingga bersih aman dari kotoran kebodohan.

Rasanya juga baru kemarin aku dan teman-teman memotong bambu wuluh sebelum bermain tembak tiup menggunakan amunisi buah kendung di simpang tiga jalan kampung, kadang juga berjam-jam menunggu joran bergetar oleh tarikan ikan di tepi Sungai Jumariya. Siang dan malam kami belajar dan bermain bersama. Tetapi hari ini, anak-anak jarang bermain di luar rumah, kebanyakan lebih suka bermain HP di rumah dengan segala fasilitas canggih lainnya kiriman dari orang tua mereka di perantauan. Mereka bebas bermain HP kapan saja sesuka-sukanya karena kontrol yang lemah dari kakek dan neneknya. Bukan hanya anak perantau, anak-anak lainnya—yang orang tuanya bekerja di kampung ini—juga banyak yang mengalami  hal sama; lebih suka menghabiskan waktu dengan HP.

Langgar, halaman, dan jalanan kampung jadi senyap. Jarang anak-anak yang bermain di sana. Sudah tidak seperti dulu. Daun nangka di musim kemarau masih rimbun karena selain tak ada yang mengambil untuk pakan ternak, anak-anak juga tak lagi membuat layang-layang kecil dari daun itu. Bambu wuluh dan buah kendung kian lebat dan banyak yang melesak ke bahu jalan hingga membuat jalan jadi kotor. Jalan yang kotor itu tak ada yang peduli lagi untuk membersihkan karena warga kampung ini sudah tinggal yang tua-tua. Kalaupun masih ada yang muda, mereka sibuk mengurusi pekerjaannya, seakan tak mau kalah dengan mereka yang merantau.

Di antara rumah-rumah yang mentereng itu, terbentanglah jalan kotor dan rimbun semak yang tumbuh liar.

Suatu ketika aku menempuh jalan senyap itu. Iseng kupungut selembar daun nangka. Kuamati lekat-lekat; seolah ada masa kanakku yang membangkai di tulang-tulangnya yang halus melengkung. Aku teringat masa lalu. Teringat teman-temanku. Ke mana Halim, Risno, dan Mahrus? Aku pulang ke sini untuk menunaikan janji yang dulu diikat bersama mereka untuk bersama-sama membuat kampung ini lebih hidup. Tapi kenyataannya, mereka enggan tinggal di sini demi meraup banyak rupiah.

Kumasukkan selembar daun nangka itu ke dalam saku sebagai cara terbaik mengemas kenangan, lalu kupajang di dinding kamar. Walau mungkin terlihat tidak waras, biar kujelaskan bahwa begitulah caraku mengenang masa lalu kampung yang kini sudah senyap dalam kemegahan, bagai wanita cantik tapi sakit, membuatku kadang bertanya pada diri, “Jangan-jangan sepulang dari pesantren, aku kesasar ke kampung asing?”

“Apa benar ini kampungku? Mengapa tidak seperti dulu?”

Aku meraba selembar daun nangka di dalam saku. Seperti meraba masa lalu yang kering.

#

Aku seperti pulang kesasar; bentang tanah dengan banjar pohon nyiurnya yang sunyi-ranau dimukim beratus burung dan kunang-kunang telah berganti pacak tiang-tiang besi, cor semen, juga pernik ribuan kilau lampu yang di bawahnya terdapat muda-mudi yang entah apa yang diobrolkan hingga larut malam; minum, cekikikan, dan saling pegang tangan. Mereka duduk dan bersenda dengan gaya yang sudah tidak seperti masa kanakku dulu. Mungkin orang tua di kampung ini juga tak sekhawatir ayah-ibuku dulu bila anak-anaknya—terutama anak perempuannya—pulang malam.

Aku cemas. Sepulang dari pesantren, aku seperti salah menempuh arah pulang dan kesasar ke kampung asing ini.

Kecemasanku memuncak pada hari meninggalnya Oba’ Sahwi. Pagi sesudah subuh yang dibanjur gerimis, aku dan Kakak datang ke rumah almarhum yang sangat megah itu. Rumah Oba’ Sahwi tak seperti rumah duka, di sana hanya ada tiga orang lelaki; Sano, Mubin, dan Huri yang di raut wajahnya sama sekali tak menampakkan ekspresi duka. Mereka asyik mengobrol, merokok, dan bahkan bebas berguyon sesukanya sambil tertawa nyaring. Di dalam dapur ada beberapa orang perempuan yang hanya duduk saja, tak perlu repot menyalakan tungku dan memasak nasi untuk menjamu tamu. Sepintas kudengar keputusan mereka saat ngobrol untuk menjamu tamu-tamu langsung dengan makanan dan minuman instan.

Jenazah Oba’ Sahwi dibiarkan membujur sendirian di pojok kamar dalam balutan sampir cokelat seadanya, tak ada yang menemani dan tak ada yang mengaji di sampingnya.

“Anak-anak Oba’ Sahwi ke mana? Kok tidak kelihatan?” tanyaku pada Huri.

“Dua orang bekerja di Malaysia. Satunya lagi yang sudah sarjana, sukses bekerja di sebuah perusahaan di Jawa Barat.”

“Mereka tidak pulang?”

“Tidak. Mereka sibuk bekerja.”

“Apa mereka tahu jika orang tuanya meninggal?”

“Iya, tahu.”

“Kalau tahu, mengapa mereka tidak pulang? Bahkan mestinya mereka sudah pulang sejak Oba’ Sahwi masih sakit. Kasihan Oba’ Sahwi meninggal tanpa kehadiran anak-anaknya,” suaraku semi terisak karena ada irisan rasa iba dalam dada.

Mereka bertiga malah menertawakan omonganku agak lama. Seolah omonganku lucu dan sia-sia belaka. “Kenapa kalian menertawakanku?” tanyaku sedikit tersinggung.

“Orang kampung sini jika meninggal tanpa kehadiran seorang anak sudah biasa, Mat,” kata Huri melirik wajahku.

“Apa? Biasa? Kalau anak tidak pulang pada saat orang tuanya meninggal menurutku itu bukan biasa. Itu pergeseran nilai,” sergahku agak nyaring. Tapi mereka tertawa lebih nyaring dari sebelumnya. Barangkali omonganku semakin lucu, dan aku semakin geram.

“Itu sudah biasa, Mat. Yang sibuk kerja di perantauan tak perlu pulang meski orang tuanya meninggal, yang penting mengirim doa dan uang,” tegas Huri sekali lagi.

“Tidak! Ini tidak biasa. Ini pergeseran,” suaraku membuat tiga lelaki itu baru terdiam.

Sore harinya Oba’ Sahwi disalatkan dan dimakamkan hanya oleh dua belas orang. Penggalian kubur dan pemakamannya pun menggunakan jasa khusus yang diongkos. Praktik gotong royong sudah jarang kulihat di kampung ini. Alasannya sederhana; semua orang yang merantau dan sarjana yang punya kerja di kota sudah kaya raya, maka pekerjaan apa pun yang dilakukan di kampung langsung diongkoskan.

Seusai pemakaman, setelah orang-orang itu pulang, aku mencoba bertahan duduk di sebuah batu—bersandar ke pokok pohon kamboja; merenungkan kembali prosesi pemakaman yang begitu sunyi tanpa kehadiran anak-anak dan banyak orang. Menatap makam-makam yang terbaring kotor oleh serakan debu dan daun-daun, pertanda jarang diziarahi oleh keluarganya.

“Mengapa kampung ini berubah? Banyak orang kaya, tapi nilai kian tak berdaya,” gumamku seperti ditertawakan hening.

#

Malam itu angin kecil menyisir beranda. Paman datang menemuiku yang sedari tadi duduk di kursi kuno seraya menatap bulan tanggal muda yang mematung di balik rimbun mangga. Setelah sedikit mengobrol, akhirnya paman sampai juga pada percakapan yang selama ini paling kukhawatirkan.

“Ladang sangkolan2 ayahmu sudah kujual, Mat,” suara Paman lirih di sela napas berat yang mungkin lama tertahan.

“Dijual? Untuk apa, Paman?” tanyaku pura-pura penasaran meski sebenarnya aku tahu arah pembicaraan Paman ke mana. Sebentar Paman diam dan menghela napas. Lalu dengan canggung melirikku.

“Kita gunakan saja untuk modal mendirikan warung di perantauan. Hasilnya lebih tampak ketimbang hanya ditanami singkong,” suara Paman lirih tapi meyakinkan. Ia seperti sudah punya keyakinan besar bahwa upayanya itu akan membuahkan hasil. Aku terdiam, menunduk, menatap barisan sekoloni semut yang memanjang ke arah kaki meja. Masih membisu, karena tak menemukan jawaban yang pas untuk merespons.

“Begini saja, Mat. Misalnya kamu tidak setuju, biar kuganti dengan tanah milikku saja yang tersisa di perbatasan desa. Meski tanah itu lebih bagus dari tanah pemberian ayahmu itu, aku rela. Biar uang dari penjualan tanah ayahmu itu kugunakan untuk mendirikan warung,” imbuh Paman kemudian seraya melirikku yang masih diam.

“Tapi itu tanah sangkol, Man. Jika dijual biasanya akan menyebabkan tulah,” protesku agak nyaring.

“Jika dijual untuk kebaikan, aku kira tidak akan menyebabkan tulah, Mat.”

“Apa Paman yakin upaya paman itu kebaikan? Apa Paman yakin upaya itu akan berhasil?”

Paman terdiam. Wajahnya menunjukkan ekspresi sedikit marah pada protesku. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bulan yang mulai kian samar, sebelum akhirnya ia beranjak pergi, tanpa kata-kata.

Aku masuk ke kamar, menatap selembar daun nangka yang kupajang di dinding untuk menampung kenangan masa lalu kampung yang lenyap. Daun nangka itu kian kering dan mulai dilintasi garis sobekan. Pada sobekan itu, masa lalu kampung ini seperti tersisa dalam sekarat.

#

Kenyataan hidup yang meretakkan banyak nilai membuatku semakin merasa asing di kampung ini. Aku pusing memikirkan itu semua. Suatu siang, kuputuskan untuk jalan-jalan seraya membawa selembar daun nangka itu dalam saku, hingga aku berdiri di depan rumah teman lamaku, Kardi. Rumahnya sangat luas dan megah.

Di rumah Kardi yang besar dan megah itu, aku hanya bertemu Ki Supna, ayah Kardi. Sedangkan Kardi sudah empat tahun di perantauan. Kala itu Ki Supna menabur roti kepada sekoloni semut yang berbaris di teras. Katanya, ia sedang bersedekah untuk almarhumah istrinya.

“Kenapa disedekahkan kepada semut, Ki?”

“Para tetangga sudah kaya semua, lagi pula mereka kebanyakan ada di tanah rantau, jadinya kukasih saja ke semut ini.”

Mendengar pernyataan itu, seketika air mataku berlinang. Kuseka dengan lembar daun nangka yang kusimpan di saku, berharap dukaku menyatu dengan kisah masa laluku di daun itu. Beberapa detik setelahnya, HP berdering, Paman memanggil. Dia mengabarkan kalau sudah ada di perantauan bersama Bibi. Aku mematung; antara mau gembira atau sedih.

Rumah Filzaibel, 2021

  1. Rumah Kiai.
  2. Pemberian dari tetua secara turun-temurun yang tidak boleh dijual.
A. Warits Rovi
Add Me
Latest posts by A. Warits Rovi (see all)

Comments

  1. Nadine Putri Reply

    Pergeseran nilai yang bikin miris, sedih tapi nyatanya demikian. Terima kasih sudah menceritakan kisah ini, salam🙏

  2. amelia Reply

    membaca cerita ini seolah olah aku membaca kisahku sendiri, mata berkaca kaca mengenang masa kecil yang sudah hilang ditelan jaman, masa kecil di desa jaman dulu memang sangat berbeda dibandingkan sekarang, bahkan kunang kunangpun sudah lenyap, mungkin anak anak jaman sekarang tidak tau betapa cantiknya malam dihiasi gerombolan kunang kunang yang berkilau dan berkedip kedip..sungguh kenangan yang sangat indah yang akan kukenang sampai tua nanti…

  3. kata keadaan Reply

    Sejenak berhenti untuk menghela napas, kemudian melanjutkan kembali bacaan yang benar-benar seperti merasakan langsung aoa yang terjadi.
    Karena sudah menjadi tuntutan zaman, saya pun bingung bagaimana harus menyikapi kisah yang juga mirip dengan kehidupan sekarang.
    terima kasih atas penulisan cerita ini

  4. Panglima Kumbang Reply

    cerpen yang sangat bagus…. sangat menyentuh….

  5. wondo wikromo Reply

    Byuh… bagus amat ini cerpen

  6. Orlan Reply

    seperti tertampar membacanya

  7. Juperi Reply

    sangat menyentuh, indahnya masa kescilku

  8. Poestaha Reply

    Cerita ini klise; tokoh aku yang meromantisir kehidupannya yang dulu, seakan-akan masa kecilnya harmoni, tenteram, damai, bernilai adiluhung belaka. Banyak cerpen model begini. Cerpen ini, menurutku, juga dituturkan dengan biasa, tak ada yang spesial.

Leave a Reply

Your email address will not be published.