Raja Cerita “Sepanjang Masa”

Sumber: Majallah Minggu Pagi, Nomor 27 Tahun XII, 4 Oktober 1959

Di Solo, ia bersekolah dan menunaikan kerja-kerja sastra. Ia pernah jadi “legenda” di Solo tapi lekas terlupa gara-gara ketiadaan pengisah. Ia bernama Mansur Samin. Pada masa 1950-an, ia berperan penting dalam semaian sastra Indonesia di Solo. Mansur Samin bukan orang Solo atau beradab Jawa. Ia berasal dari Tapanuli, Sumatra Utara. Mansur Samin lahir pada 29 April 1930. Pada usia hampir 20-an tahun, ia memang merantau ke Solo membentuk biografi sebagai orang terpelajar dan pengarang.

Pendidikan SMA diselesaikan di Solo, dilanjutkan dengan pekerjaan sebagai guru dan wartawan. Selama di Solo, ia dihormati oleh kalangan wartawan dan sastrawan. Di RRI, ia mengampu siaran sastra. Mansur Samin juga rajin mengadakan acara-acara sastra, dari diskusi sampai pementasan teater. Di tanah rantau, ia keranjingan bersastra untuk hidup dan kehormatan. Pamusuk Eneste dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990) mencatat Mansur Samin pernah menjadi redaktur di mingguan Adil dan majalah Cerpen. Capaian bersastra terbukti dengan meraih hadiah dari majalah Sastra (1963) untuk puisi berjudul “Raja Singamangaraja XII”. Pada masa 1960-an, ia mulai dikenal dengan puisi-puisi protes dan melawan rezim berlatar situasi politik dan sastra membara. Ia pun resmi masuk dalam Angkatan 66 mengacu kriteria HB Jassin. Pamusuk Eneste memberi informasi sekalimat pilihan bersastra Mansur Samin setelah malapetaka 1965: “Ia juga banyak menulis cerita anak-anak.” Di situ, kita tak menemukan judul-judul buku membenarkan Mansur Samin mulai menekuni sastra anak, tak terlalu getol menempuhi jalan sastra-politis.

Kita bisa membuktikan dengan membuka buku-buku gubahan Mansur Samin terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, Gunung Jati, dan lain-lain. Pilihan itu tepat dan menghidupi. Sejak masa 1980-an, Mansur Samin tercatat paling rajin menulis buku anak. Sekian buku masuk dalam Inpres pengadaan buku bacaan murid SD diedarkan ke pelbagai daerah. Gairah mengurusi sastra anak diwujudkan saat Mansur Samin mulai tinggal di Jakarta. Di pusat politik, sastra, dan ekonomi, ia menetapkan diri sebagai pengisah bagi jutaan bocah, dari masa ke masa. Ia berada di naungan kebijakan Soeharto saat ingin memajukan Indonesia dengan Inpres. Kebijakan itu membuat para pengarang mendapat honor besar dan kehormatan di pendidikan-pengajaran. Mansur Samin “memanen” rezeki dan membagi cerita-cerita di nalar keaksaraan Orde Baru.

Pada 1997, buku berjudul Hadiah Alam gubahan Mansur Samin cetak ulang ketiga. Cetakan pertama, 1980. Novel anak berlatar Tapanuli, tanah asal pengarang. Di situ, kita menemukan keterangan tentang Mansur Samin. Ia sempat dikenal dengan buku puisi: Perlawanan (1966), Tanah Air (1969), dan Dendang Kabut Senja (1985). Di luar pengenalan sebagai pujangga, Mansur Samin adalah penulis mumpuni di kesusastraan anak. Kita simak: “Ada 55 buku kanak-kanak karangannya yang telah diterbitkan berbagai penerbit di Jakarta dan Bandung. Di antaranya: Urip yang Tabah, Kesukaran Terkalahkan, Berlomba dengan Senja, Parut, Antara Tiga Pelabuhan, Lepas, Si Masir, Luhut, Pesan Sebatang Mangga, Hari Cerah, Telaga di Kaki Bukit, Panggilan Desa Sunyi, Tagor dari Batangtoru, Tidak Putus Asa, dan lain-lain.” Jumlah itu pasti bertambah setelah 1990-an.

Kita kagum dan “cemburu”. Mansur Samin sanggup menulis 50-an buku. Di Indonesia, buku sastra untuk anak jarang tebal. Jumlah itu wajar meski tak semua bermutu. Mansur Samin mungkin pernah memiliki misi “menuruti” jadwal atau arus Inpres, selain kemauan serius memajukan sastra anak di Indonesia. Gubahan sastra anak mengantar kembali Mansur Samin membuka nostalgia saat masih di Tapanuli. Ia pun melacak pewarisan sastra lisan di pelbagai tempat. Pesan mengenai impian-impian Orde Baru di buku cerita memang ada tapi Mansur Samin tetap ingin memiliki kekhasan. Puluhan novel anak perlahan mengenalkan para pembaca ke adat, situasi hidup, dan pembangunan di pelbagai daerah. Novel-novel bermaksud mengajarkan keindonesiaan. Mansur Samin ada di “pengajaran” ketimbang menuruti kaidah-kaidah sastra anak cap Eropa di pemanjaan fantasi dan heroisme.

Pada masa lalu, ingat Mansur Samin pasti ingat sastra anak. Ingatan itu semakin sah saat Mansur Samin menjabat sebagai pimpinan Perpustakaan Anak-Anak di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di luar ingatan Mansur Samin adalah pengarang selera Inpres, kita mencatat informasi di jagat teater dan film. Mansur Samin menulis naskah dan menggarap pementasan teater. Ia pun pernah bermain dalam film. Pada saat di Solo, Mansur Samin dikenali sebagai sutradara. Ia menggerakkan acara sastra dan drama bersama DS Moeljanto, Armaja, Hartojo Andangdjaja, dan Budiman S Hartojo. Sekian seniman pernah dalam “asuhan” Mansur Samin adalah Rendra, Arifin C Noer, dan Salim Said.

Puji Santosa (2013) menjelaskan pilihan Mansur Samin menekuni sastra anak meski berisiko “surut” dari pergulatan sastra di Indonesia. Pada 1982, Mansur Samin berhasil menulis 7 buku anak lolos dalam Inpres Pengadaan Bacaan SD. Honor bisa digunakan untuk membeli rumah di Jakarta. Kita mengimajinasikan negara menggelontorkan dana besar. Para pengarang tekun menulis buku anak dan bersaing mendapat honor. Mansur Samin mengaku memang ada di arus utama buku Inpres. Pada masa 2000-an, ia mengaku sudah menulis 320 buku anak. Jumlah itu melampaui tebakan dari jumlah di informasi Pamusuk Eneste. Berpihak ke buku anak mengantar Mansur Samin menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Berhaji dari rezeki kesusastraan anak.

Di majalah Horison edisi Januari 1987, pembaca menemukan anekdot mengenai Mansur Samin. Anekdot disampaikan penulis berinisial YUD. Mansur Samin dijuluki “Raja Cerita Inpres”. Pilihan di arus Inpres memang membedakan nasib dengan pengarang-pengarang melulu di sastra serius untuk pembaca dewasa. Mansur Samin enggan minder di arus Inpres. Ia malah bercerita bisa naik haji “berkat anak-anak sekolah” alias kaum pembaca di kebijakan Inpres. Sekian orang “meledek” dengan memberi sebutan Mansur Samin adalah “Haji Inpres”. Para pengejek tak pernah mengetahui bahwa semaian sastra anak di Indonesia tak seheboh dan semeriah sastra di kalangan dewasa. Mansur Samin saja harus mengajari orang-orang teknik menulis kalimat untuk dibaca anak-anak. Rumus Mansur Samin: “Tak boleh lebih dari 12 kata tiap satu kalimat.”

Pada masa 1990-an dan 2000-an, Mansur Samin adalah tokoh dihormati dan disegani oleh sesama pengarang, terutama pengarang-pengarang asal Solo. Episode di Solo mencipta panggilan mentereng “Kakak”. Mansur Samin adalah “Kakak” bagi kaum seniman di Solo masa lalu. Mansur Samin berpamit 31 Juni 2003. Sekian buku anak mendapat penghargaan-penghargaan. Ia pantas tercatat di album besar kesusastraan anak dan mendapatkan gelar terhormat, tak harus meniru seperti di anekdot dimuat di Horison. Mansur Samin telah menunaikan kerja-kerja besar di kesusastraan, dari masa ke masa. Ia memberi persembahan pantas dikenang “sepanjang masa”. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Comments

  1. Bulancair Reply

    Thank you so much for writing this! It’s delightful to see someone still remember about my grandfather and his art-works.. once again, thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published.