Rambut Panjang Tergerai

TAK bisa Kodrat menolak bisikan hati untuk mengagumi Dewayanti. Terutama saat dia menari di panggung, membawa gendewa dan anak panah. Betapa kepribadian kewanitaannya memancarkan daya pikat luar biasa. Dari rambutnya yang panjang tergerai, goresan alis, kerling mata, cuping hidung, garis bibir yang menyungging senyum, leher, dada, pinggang, sampai sekujur tubuhnya menggetarkan perasaan. Tak bisa disembunyikan, Kodrat suka memandangi tubuhnya yang berlelehan keringat sehabis menari dan anak-anak rambutnya yang basah.

Di bawah panggung, dia bukan orang asing bagi Kodrat. Apalagi dalam dandanan kesehariannya. Bercelana jins, berkaos, dan rambut diikat pita di atas tengkuknya. Terlihat biasa. Lugas. Dia tampak sebagai perempuan kebanyakan.

Terburu-buru Kodrat menyusul Dewayanti di sisi panggung. Tempat biasa ia mengobrol dengan gadis itu. Dewayanti memang sering bercanda dengan Kodrat. Tapi kali ini Dewayanti bersama bos. Tidak dipedulikannya Kodrat yang berdiri sendirian di sisi panggung. Bersama bos, gadis itu meninggalkan panggung pergelaran. Kodrat seperti orang tersesat, kehilangan arah. Terpukul, merasa dinistakan.

Belum lagi Kodrat beranjak dari sisi panggung, datang seorang penari. Agak gemuk walaupun wajahnya cukup cantik. Sayang kurang memancarkan daya pikat. Terlalu lugu.

“Dewayanti pulang bersama bos,” kata gadis itu.

Kodrat tergagap, ingin menghindarinya.

“Dia memintaku menemanimu sampai pergelaran rampung.”

“Apa dia tak naik panggung lagi?”

“Perannya sudah habis. Dia langsung pulang.” Gadis itu menatap Kodrat lekat. “Benar kamu akan mengantarkanku pulang? Dewayanti bilang begitu.”

Kodrat bingung memandangi gadis agak gemuk itu. Celaka. Dewayanti gadis cantik yang laknat! Dia umpankan gadis agak gemuk itu pada Kodrat. Tentu saja Kodrat tak bisa menolak. Bisa menyakiti perasaannya nanti. Mereka pun naik becak pulang dari pergelaran. Penari agak gemuk di samping Kodrat tak henti-hentinya bicara. Kodrat memandangi bibirnya yang agak tebal itu membuka-mengatup, membuka-mengatup.

 “Jangan tersinggung ditinggal Dewayanti,” kata penari agak gemuk. “Dia memang suka berlaku begitu pada lelaki.”

 “Rupanya kau sangat mengenalnya.”

 “Sudah bertahun-tahun aku naik panggung bersamanya. Sudah banyak lelaki yang diperlakukan begitu.”

 “Dan bos yang membawanya pergi, apa sudah lama berhubungan?” pancing Kodrat ingin tahu.

 “O, itu memang sudah lama. Dewayanti sama sekali tak peduli, walaupun bos sudah beristri dan beranak dua. Dia, kan, juga lahir dari istri simpanan.”

 Lama-kelamaan Kodrat menangkap nada benci dalam suara penari agak gemuk. Dia sengaja menyudutkan Dewayanti. Dia meminta, bahkan merayu, agar Kodrat mau singgah di rumahnya. Penari itu menempati rumah besar di pinggir kota, sebuah bangunan tua yang luas. Setibanya di rumah, penari agak gemuk menggeraikan rambutnya. Kodrat tersentak, ternyata rambut itu panjang tergerai, hitam lembut.

Kecintaan Kodrat pada rambut panjang diawali dari masa kanak-kanak. Kodrat masih ingat benar, semasa kecil ia sering digendong Ibu. Kadang ia digendong saat Ibu sehabis mandi. Rambut Ibu yang masih basah, panjang tergerai, tercium wangi. Tetesan air mengaliri pelipis dan tengkuk Ibu. Begitu dekat dengan penciuman Kodrat. Ia meronta-ronta bila Ibu menurunkan dari gendongan.

Rambut Ibu pernah membuat Kodrat sedih. Bila Ayah tak berkenan, murka, bertengkar habis-habisan dengan Ibu, kadang mencengkeram rambut itu dan diayunkannya ke dinding. Muka Ibu membentur dinding. Ayah suka lupa diri. Menghantam Ibu bertubi-tubi, sampai Ibu menjerit histeris. Tak jarang Kodrat mendapati Ibu terkapar pingsan.

Kakak perempuan merawat Ibu sampai siuman. Begitu tersadar, Ibu terisak-isak menahan rasa sakit. Mukanya lebam membiru. Merintih-rintih dengan tatapan keruh. Kodrat menunggui Ibu, hatinya ikut teriris.

Yang mengherankan Kodrat, Ibu selalu menerima kehadiran Ayah. Wajah Ibu tak pernah menyiratkan rasa amarah atau dendam pada Ayah. Biasa saja. Sehabis mandi keramas, Ibu juga masih suka menggendong Kodrat. Dengan rambut harum, halus, sehabis disisir. Kodrat sering kali sedih, di sisir selalu tertinggal rambut Ibu yang rontok.

Rambut Ibu yang hitam panjang tergerai itu semakin tipis. Rambut itu cuma indah di masa kanak-kanak Kodrat. Mungkin lebih indah lagi semasa Ibu gadis. Sebelum menikah, Ibu seorang penari yang banyak dikagumi lelaki. Setelah menikah dengan Ayah, kebiasaan Ibu menari berhenti.

Ketika Kodrat dewasa, rambut Ibu tak terlihat panjang lagi. Tiap kali disentuh sisir, rambut Ibu rontok berhelai-helai dan makin tipis. Akhirnya Ibu memotongnya sedikit demi sedikit, sampai rambut itu pendek. Dan kebiasaan Ayah menghajar Ibu, saat bertengkar, semakin bengis. Sampai suatu saat Kodrat tak tahan lagi.

“Kalau Ayah terus memukuli Ibu, aku akan menghajarmu!”

Ayah melotot memandangi Kodrat. Sikap tubuhnya seperti siap memukul. Kodrat tak surut. Menantang dalam diam. Ayah membatalkan melancarkan pukulan. Ia meninggalkan rumah dan tak pernah pulang. Tinggal di rumah istri mudanya. Kehidupan keluarga Kodrat mengalami kegoncangan. Kakak perempuan Kodrat yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia giat bekerja dan tak mau menikah. Tiap kali didesak Ibu untuk menikah, dia selalu menjawab, takut dihajar suami.

Kini Kodrat sudah bekerja, kakak perempuannya meninggalkan rumah. Menempati rumah sendiri. Di rumah besar hanya tinggal Kodrat, Ibu, dan seorang pembantu.

Walaupun lumpuh, Ibu tak henti-hentinya menasihati Kodrat. Nasihat yang paling sering disampaikan mengenai calon istri. “Menikahlah. Kamu sudah cukup umur. Jangan seperti kakakmu yang tak mau nikah. Apa kamu sengaja menyembunyikan calon istri?”

“Tidak, Bu.”

“Ajak dia kemari! Siapa nama gadis itu?”

Tergambar dalam benak Kodrat, dua penari berambut hitam panjang. Yang satu cantik dan dikagumi. Yang satunya lagi penari agak gemuk.

“Siapa nama gadis itu?”

“Dewayanti!” tanpa sadar, Kodrat menyebut nama itu.

“Bawalah kemari. Ibu ingin mengenalnya.”

Kodrat terperangkap omongannya. Ia mesti memperkenalkan Dewayanti pada Ibu. Berkali-kali Ibu menanyakan, kapan membawa gadis berambut panjang tergerai itu ke rumah. Dan Kodrat tak mampu menjawabnya. Gadis itu begitu dekat dalam angan-angannya. Tapi dalam kenyataan keseharian, dia suka mempermainkan Kodrat. Kadang gadis itu bersikap manis menanggapi Kodrat, kadang tak peduli. Terutama bila sedang bersama bos.

Alangkah nyeri hati Kodrat bila melihat Dewayanti bergayut di lengan bos saat turun dari panggung. Kodrat merasa Dewayanti sengaja memanasi hatinya.

Yang mendekati Kodrat justru penari agak gemuk itu. Lagi-lagi Kodrat diminta menemaninya pulang. Malah rupanya dia tahu, Kodrat menyukai rambut panjang hitam tergerai. Penari itu sengaja menggeraikan rambutnya bila bersama Kodrat.

“Berhentilah mendekati Dewayanti,” ujar penari agak gemuk itu. “Dia memang paling suka mempermainkan lelaki.”

“Apa memang begitu tabiatnya?”

“Hatinya selalu bimbang, antara keinginan dinikahi bos sebagai istri kedua, dan mencari lelaki lain,” kata penari agak gemuk. “Rupanya bos menolak menikahinya.

***

TAK mau terpukul perasaan terkalahkan, Kodrat selalu mencari Dewayanti dalam setiap pementasan. Ia menunggu Dewayanti di sisi panggung. Kali ini keberuntungan sedang berpihak padanya. Bos tak ditemui. Hanya ia seorang diri yang menunggui gadis itu. Tapi begitu melihat Kodrat, tanggapan gadis itu dingin. Tampaknya gadis itu tak berharap Kodrat menungguinya. Kodrat tak ditampik, meski juga tak diterima sepenuhnya.

Biarlah. Asalkan bisa memandangi rambutnya yang dibasahi keringat atau mencium harum tubuhnya, Kodrat sudah senang. Setiap memandangi Dewayanti dalam keadaan demikian, Kodrat selalu teringat kembali masa kanak-kanaknya ketika digendong Ibu sehabis keramas.     

Kali ini Dewayanti mau diantar pulang. Bersamanya di dalam becak dengan angin berembun dan sunyi kota, Kodrat merasakan kebahagiaan tersendiri. Dewayanti menggeraikan rambutnya.

“Kita langsung pulang?” tanya Kodrat.

“Ke mana lagi?” balas Dewayanti dengan suara tak berselera.

Padahal Kodrat ingin membawa gadis itu ke rumahnya. Memperkenalkan Dewayanti pada Ibu. Barangkali bisa menenteramkan perasaan Ibu. Tapi Dewayanti menolak. Malam ini Kodrat kembali merasakan kesepian yang gersang.

***

SETELAH malam itu Kodrat tak menemukan Dewayanti lagi. Dia menghilang. Meninggalkan pementasan, meninggalkan kota.

Rekah pagi, sewaktu Kodrat menyingkap gorden kamar, Ibu memanggilnya. Kodrat mendekat. Bias cahaya matahari pagi menimpa wajah Ibu. Masih tampak cantik, meski wajah Ibu menua dan hampir tanpa rambut.

“Mana gadis yang akan kauperkenalkan padaku?”

“Dia sibuk, Bu.”

Seperti apa dia?”

“Cantik, penari, rambutnya panjang.”

Lama Ibu memandangi Kodrat. Seperti menimbang-nimbang ketulusan anak lelakinya. Lama kemudian senyum Ibu mengembang. Lembut.

“Tak perlu cari gadis sepertiku. Itu akan menyusahkanmu,” kata Ibu dengan tetap memandangi wajah Kodrat, lurus, dan penuh kepercayaan. Tatapan itu membongkar penipuan hati yang dilakukan lelaki itu.

***

Pandana Merdeka, Maret 2021

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

Comments

  1. Nhaw Reply

    Gak ada cerpen yg dipublish lagi kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.