Randuse dan Hal-Hal Ganjil

Sebelum menikah, Randuse dianjurkan membaca tentang kewajiban dan hak-hak suami istri. Ia membaca khusyuk, dan memutuskan menikahi Maria. Maria berkulit putih, punya hati agak keras, dan kebiasaan jeleknya adalah semua kejadian pribadi dalam rumah tangganya akan dibuat jadi status Facebook. Seolah semua teman Facebook-nya adalah guru BK yang bisa memberikan solusi. Maka, saat sudah berumah tangga, Randuse paham, menafkahi istri dan mencari kerja adalah sebuah kewajiban seorang suami, bukan kebaikan yang harus dibalas baik pula.

Maka ketika Maria kadang ngambek, ngomong dengan suara besar, dan tak jarang mengeluarkan cacian pun makian, Randuse memahaminya sebagai sebuah sisi lain dari sifat kemanusiaan dalam diri Maria. Ia tak menuntut dibalas dengan kebaikan, sebab ia tak melakukan kebaikan, hanya melakukan kewajibannya saja. Tapi sebagai manusia, sabar tentu punya batas, Randuse mulai tak tahan dengan sifat dan sikap Maria. Mereka bercerai dengan baik-baik saja. Meski apa saja yang berpisah tentu tak ada yang bisa baik-baik saja.

Randuse memutuskan mencari dirinya. Meski kata ‘mencari diri’ sudah begitu klise dan sering dijadikan alasan oleh para penulis puisi ketika ia ditanya mengapa memilih menjadi penulis. Randuse terus berjalan, jauh dan begitu jauh. Bahkan ia sendiri tak tahu ia sedang berada di mana, di wilayah mana, di kota mana. Bila haus ia akan mencari mata air. Meneguknya dan menatap sinar matahari yang terus menerpa wajahnya. Ia akan merasa tenang.

Pada sore yang mendung, di sebuah lorong kecil nan panjang, Randuse tersentak. Ia melihat seorang pemuda sedang menangis terisak, pilu sekali. Semula ia ingin terus berjalan dan tak mau peduli, sebab ia pikir, menangis adalah hal manusiawi dan sangat klise. Ia sendiri di masa muda sering menangis, bahkan lebih pilu dari tangisan pemuda tadi.

Di masa muda, Randuse pernah begitu jatuh dalam cinta. Sebut saja cintanya pada Saiba. Perempuan yang menikah dengan lelaki lain saat hubungannya dengan Randuse baik-baik saja. “Hidup adalah pilihan”, hanya itu alasan Saiba saat memberi tau Randuse ia akan menikah dengan lelaki lain. Randuse pun menangis dan tangisannya seratus kali lebih pilu dari pemuda yang ia temui di lorong tadi.

Saiba adalah permata, bagi Randuse saat itu. Randuse selalu menawarkan kebaikan di awal mengenal Saiba. Pacaran harus menawarkan kebaikan, pikir Randuse saat itu. Salah satu kebaikan yang ia tawarkan adalah menjemput Saiba tiap kali ia pulang kuliah.

“Aku jemput ya.” Randuse bersuara pelan di ujung telepon.

“Nggak ngerepotin?” balas Saiba agak malu.

“Kan aku yang nawarin, jadi, itu bukanlah satu hal yang merepotkan bagiku.”

“Ya udah, aku tunggu ya.”

Itu adalah percakapan Randuse dengan Saiba saat pertama kali menawarkan kebaikan. Tentu saja kebaikan di awal, akan selalu diikuti oleh kebaikan selanjutnya, “Aku jemput ya.” Bunyi SMS Randuse di hari kedua. “Ya,” balas Saiba singkat. Pun, dengan tawaran ketiga, Saiba mengiyakan saat Randuse menawarkan jemputan lagi.

Tapi di hari keempat, entah kenapa Randuse enggan melakukan kebaikan. Ia memilih rebahan dan tak mengirim pesan apa pun atau menelepon Saiba untuk menawarkan jemputan. Saiba resah, bolak-balik menatap jam di tangannya. “Pulang sama siapa dong? Kenapa Randuse tak ada kabar?” gumamnya. Saiba pun memberanikan diri menelepon, “Halo, kamu di mana? Kenapa nggak jemput aku?” Dengan nada agak kesal Saiba bicara.

Randuse bengong. Ia diam sejenak sekitar satu menit dan bilang ‘tunggu’. Saat itu Randuse tak paham, kebaikan berulang yang dilakukan bisa saja dianggap sebuah kewajiban oleh si penerima kebaikan. Dan setiap kewajiban dilalaikan, akan wajar jika ada tuntutan. Apalagi bila mengingat mata Saiba yang teduh, bibir Saiba yang basah, membuat Randuse selalu siap menjadi apa saja yang Saiba minta. Sampai pada mereka pacaran, sampai pada Saiba memilih nikah dengan lelaki lain dan membuat Randuse nangis begitu pilu.

***

Tangisan pemuda itu semakin besar, Randuse mundur tiga langkah. Membalikkan wajah dan menatap dalam ke pemuda itu. “Kau menangis kenapa, Saudara?” Randuse membuka obrolan. Bukannya dijawab, malah pemuda tadi semakin merengek dan tangisannnya menjadi-jadi.

“Ceritakan, Kawan, kenapa kau menangis?” Randuse memanggil dengan kata kawan agar pemuda tadi merasa akrab dan tak segan.

“Aku ingin menikahi seorang perempuan, namanya Anton,” sahut pemuda itu masih terisak.

Semula Randuse bingung, kenapa seorang perempuan bernama Anton. Tapi ia kemudian ingat, tiga puluh menit tadi, ia bertemu seorang lelaki tua yang bernama Hayati. Lelaki tua itu menggendong bayi kecil yang bernama Melati.

“Bukankah menikah adalah ibadah?” Randuse bicara lagi.

“Iya. Aku sangat mencintai Anton. Bermaksud ingin menikahinya. Tapi ia mengajukan satu syarat yang amat berat.” Suara Pemuda itu terhenti. Bibirnya gemetar sebentar. Kemudian bicara lagi, “Syaratnya adalah aku harus membuatkan sebuah candi dalam waktu satu malam sebagai maskawinnya.” Ada nada lemah dari suara pemuda itu.

Bulu kuduk Randuse berdiri, hawa panas seakan masuk dari mulut menembus kerongkongannya. Kenapa perempuan itu begitu materialistis? gumamnya. “Itu permintaan serius?” tanyanya kemudian dengan nada ragu.

“Iya,” jawab pemuda itu.

Randuse terdiam.

Pemuda itu pun berhenti menangis. “Ikut aku,” pinta pemuda itu, dan langsung menarik lengan Randuse dan berjalan secepat mungkin. Mereka tiba di sebuah tanah kosong berukuran sekitar lima hektar.

“Ini adalah tanahku. Aku melamar Anton dengan semua tanah ini. Tapi ia minta dibuatkan candi.” Pemuda itu memandang jauh saat bicara.

“Lantas apa yang akan kamu lakukan? Maksudku apa rencanamu?” Randuse bicara.

“Aku akan berdoa dengan khusyuk, agar sebuah candi besar berdiri tiba-tiba di sini,” ucap Pemuda itu dengan tegas. Lantas pemuda itu duduk bersila, dan menengadahkan tangan, bibirnya komat-kamit. Randuse terus memperhatikannya. Sekian menit, sekian jam hingga tengah malam dan tak sadar Randuse terlelap. Lelap sekali.

Suara ayam berkokok, sinar matahari menerpa wajah Randuse dan ia terbangun. Sudah pagi. Sekitar jam tujuh. Randuse menggosok-gosok matanya. Alangkah terkejut ia ketika melihat sebuah bangunan candi berdiri megah di tanah kosong yang ia lihat semalam. Berulang kali ia berdecak seakan tak percaya. Ia memperhatikan sekeliling, pemuda itu sudah tak ada.

***

Randuse melanjutkan perjalanan. Berhari-hari ia terus berjalan dan memilih istirahat pada sebuah warung kecil. Ada empat orang lelaki sedang asyik ngobrol. Sembari menunggu pesanan teh manis, Randuse ikut larut ngobrol. Ia tak sadar menceritakan kisah pemuda dan candi raksasa yang muncul tiba-tiba itu. Keempat orang itu geleng-geleng. Tak ada yang percaya mendengar cerita Randuse. Malah Randuse dianggap gila, satu per satu meninggalkan Randuse.

“Ah, kamu hanya mengisahkan sebuah dongeng. Hanya sebuah dongeng.” Begitu kata orang terakhir sebelum meninggalkan Randuse.

Randuse menghabiskan segelas teh manisnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah sebuah padang yang luas, ia menemukan sebuah bangku dan TV yang menyala. Randuse duduk dan menonton TV. Ada tayangan berita, seorang pengusaha berjubah dari Timur Tengah membeli klub sepak bola terkenal di Eropa dengan harga fantastis. Randuse berdecak. Berita selanjutnya tentang kelaparan di beberapa negara Islam lainnya. Banyak yang mati akibat kelaparan itu. Randuse berdecak. Matanya dibungkus kesedihan. Randuse menunduk dan tiba-tiba melihat sebuah dompet di bawah bangku tempatnya duduk. Ia mengambil dompet itu dan membukanya. Tak ada uang satu lembar pun, hanya ada sebuah KTP ia temukan atas nama K.H. Bagaskara, Lc. Randuse tercengang dan bingung saat membaca pekerjaan yang tertulis di KTP itu adalah Ulama. Tapi ia tak mau bingung lama-lama, ia teringat kisah pilunya saat kuliah dulu.

“Kuliah di sini harus pakai uang, tak ada uang, ya sudah lebih baik keluar.” Begitu kata seorang Tuan Guru yang merupakan pimpinan kampus tempat Randuse kuliah. Sejak itu ia berhenti dan tak balik-balik lagi ke kampus itu.

Randuse menghela napas, dompet itu ia lempar jauh. Randuse melanjutkan perjalanan. Berhari-hari sampai pada ia tiba di sebuah tempat yang tak jauh dari laut. Banyak orang ia temukan berkerumun, entah membicarakan atau melakukan apa. Anehnya, semua orang tadi memiliki wajah dan rupa yang sama. Persis. Sama sekali tak ada beda, seperti semuanya lahir dalam keadaan kembar. Randuse bingung. Lima orang lelaki juga baru saja datang dan ikut berkerumun. Lima orang itu pun memiliki wajah yang sama. Randuse semakin bingung. Dalam kebingungan itu, ia tersentak, seseorang menabraknya dengan sedikit keras. Ia terhuyung hendak jatuh, orang itu pun hampir jatuh.

Randuse kemudian saling tatap. Orang itu melotot dan menatap Randuse tajam. Sekitar setengah menit, sampai pada orang itu berteriak sangat keras. “Bunuh orang ini, ia bukan golongan kita. Bunuh orang ini, ia bukan golongan kita!” Sembari tangannya menunjuk Randuse. Orang-orang di kerumunan tadi semua serentak menatap Randuse. Semua wajah itu geram dan secepat kilat berlari ke arah Randuse. Randuse takut dan memutuskan berlari kencang. Randuse terus berlari sekuat mungkin, dua puluhan orang di belakangnya mengejar. Dua puluhan orang yang berwajah sama.

Proses pengejaran itu berlangsung sekitar dua puluh menit, sampai pada Randuse mentok di bibir pantai. Tak ada jalan untuk berlari lagi. Randuse memilih berhenti. Napasnya terengah. Dua puluhan orang tadi juga berhenti. Mereka semua menyungging senyum sebab tak ada lagi jalan bagi yang dikejarnya untuk kabur.

“Mari kita bunuh orang itu, ia bukan golongan kita,” kata salah seorang di antara mereka.

Randuse gemetar. Ia menunduk, tangannya menopang pada lutut. Ia masih terengah-engah. Tiba-tiba ia melihat sepotong bambu kecil di dekat kaki kanannya. Sepotong bambu yang seolah diselimuti cahaya. Randuse pun mendengar sebuah suara yang entah datang dari mana. Suara itu berseru memintanya mengambil sepotong bambu itu dan memukulkannya satu kali di pasir pantai. Tanpa berpikir, Randuse melakukannya.

Saat sepotong bambu itu dipukul ke pasir. Suara gemuruh hebat terdengar. Laut tiba-tiba membelah diri. Seperti sebuah jembatan megah baru saja dibangun. Randuse langsung berlari ke jembatan. Dua puluhan orang berwajah kembar pun mengejar. Randuse terus berlari, hingga ia sampai di ujung jembatan dan kakinya menyentuh kembali pasir. Dua puluhan orang itu masih di atas jembatan. Laut pun kembali menutup diri. Dua puluhan orang itu tenggelam ke dasar laut yang dalam. Randuse menghentikan langkah, napasnya seperti mau habis. Ia kemudian duduk berniat memulihkan tenaganya.

Baru saja dua menit duduk, dua orang lelaki datang menghampiri Randuse. “Kau sedang apa?” tanya salah seorang lelaki yang lebih kurus. Sambil mengatur napas dan terengah-engah, Randuse menceritakan apa yang barusan ia alami. Kedua lelaki itu kaget, sesaat ada raut bahagia di wajah keduanya. Serentak, mereka berteriak.

“Nabi baru telah datang. Ia baru saja mendapat mukjizat.” Kalimat itu berulang mereka teriakkan. Puluhan bahkan ratusan orang tiba-tiba datang dan berlari mendekati Randuse. Randuse tercengang dan kebingungannya memuncak. Ia kencing sendiri dalam celana.

***

(Majidi, 2021)

Rifat Khan
Latest posts by Rifat Khan (see all)

Comments

  1. Nara Yana Reply

    Sangat menginspirasi, bung (bagaimana cerita anda mentereng di web ini). sayang juga tahun depan berhenti menulis. terima kasih ceritanya.

    • Rifat Khan Reply

      Sama-sama Mbak. Terima kasih sudah membaca…

  2. Kadir Reply

    Biasa aja.

    • Santi Reply

      Beberapa kisah yang dirangkum menjadi satu cerita, ya ga sih? Top banget deh

  3. Yusuf Reply

    Wah batur lombok ni…
    Makaq de jaq ngkah nulis ton?

    • Rifat khan Reply

      Covid ton, hahahaa pok te engkah

  4. Rifat khan Reply

    Makasih Mas. Interteks, istilahnya

Leave a Reply to Rifat khan Cancel Reply

Your email address will not be published.