Realitas dan Kebenarannya Menurut Imam Ghazali

thecompanion.in

Semesta literasi Islam kita hari ini berutang banyak sekali kepada para leluhur kita, di antaranya Imam Ghazali. Untuk sekadar membumikan dan meruahkan ajaran beliau tentang “kebenaran realitas”, sebagian besar kita masih tampak kelimpungan.

Buktinya ialah gagapnya kita untuk senantiasa mampu membedakan kebenaran realitas dengan takwilnya, sehingga keduanya menjadi tercampurkan dan bahkan tersamakan begitu saja. Akibatnya, sungguh fatal! Padahal, tentu saja realitas adalah riil pada kebenaran dirinya sendiri dan takwil adalah “realitas kedua” yang tak pernah benar-benar melingkupi kebenaran-realitas itu.

Dampak dari kegagapan ini ialah lalu merajalelanya klaim kebenaran (truth claim), berikutnya lazim beriiringan dengan klaim keselamatan (salvation claim), yang bukan hanya menjadikan kita yang rasional begini tampak begitu lucu dan wagu karena arogan dalam logical fallacy, melainkan lebih jauh menyurukkan kita ke dalam jurang perkelahian sosial yang menyedihkan.

Kita yang acap bertikai keras dengan sesama saudara, seiman, dan semanusia hanya gara-gara kultus tafsir, takwil, terhadap realitas (teks), bukankah itu panggung kelucuan dan kewaguan yang melampaui imajinasi terluar paling liar manusia rasional?

Imam Ghazali mewariskan skema yang jernih ihwal kebenaran realitas ini.

Pertama, kebenaran realitas pada dirinya sendiri.

Begini misalnya.

Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang kita sembah. Dia Swt. menurunkan al-Qur’an dan mengutus Rasul Muhammad Saw. kepada kita.

Siapakah Allah Swt.? Dzat macam apakah Dia? Bagaimana kita memahami, mengenali, memikirkan, dan mengungkapkanNya?

Boleh jadi kita lalu merujuk kepada Asmaul Husna sebagai sifat-sifat Allah Swt. yang sangat dekat dengan gambaran kita. Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Raja, Maha Suci, Maha Selamat, Maha Mukmin, hingga Maha Sabar (asma ke-99).

Apa betul penggambaran kita ini adalah Dia Swt.? Bukankah itu semua hanya penggambaran, sama-sekali bukanlah Wujud Dzat Utuh Allah Swt.? Bukankah Allah Swt. telah menyatakan DiriNya laitsa kamistlihi syaiun, tiada sesuatu pun yang serupa denganNya?

Jika seperti serupa pun tidak, apalagi benar-benar menyerupaiNya, dan apalagi sama denganNya, dan apalagi dinyatakan adalah Dia Swt.?

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika ditanya tentang bagaimana caranya mengenal dan memahami Allah Swt., beliau berkata: “Al-‘ajuzu fil idraki idrakun, ketidakmampuan mengenalNya adalah pengenalanNya”.

Umar bin Khattab mengatakan hal sejenis: “Aku mengenalNya melalui pantulan-pantulan cermin yang dipantulkanNya.”

Begitupun Ali bin Abi Thalib yang mengatakan setamsil: “Aku mengenal Tuhanku dengan caraNya mengenalkanNya kepadaku.”

Begitupun sejatinya saya, Anda, dan orang lain. Semua kita!

Setiap orang yang beriman kepadaNya niscaya memiliki “tangkapan pengenalan” yang boleh jadi sangat tak pernah sama satu sama lain, dan semua itu bernisbat kepadaNya Swt,, walau pada hakikatnya sama sekali jelas tak sahih diklaim sebagai Wujud Dzat Utuh Allah Swt.

Allah Swt. sebagai Realitas Tunggal yang Satu tetaplah adalah Kebenaran-Realitas-DiriNya-Sendiri, bukan dalam realitas kebenaran-kebenaran setiap kita.

Maka, kita pun menyatakan dalam hati dengan takzim: Maha Suci Allah Swt….

Ihwal prinsipil begini, bahwa Realitas adalah Benar-dalam-Dirinya-Sendiri, bukan selain-lainnya dalam rupa persepsi dan bahkan postulasi apa pun, seyogianya berlaku pada semua hal.

Apa gerangan yang bisa Anda katakan tentang ayat “waman lam yahkum bima anzalaLlah faulaika humul kafirun, siapa yang tidak menetapkan hukum berdasarkan hukum Allah Swt., maka mereka golongan orang kafir”? (ayat yang paling getol dirujuk oleh para pejuang khilafah).

Yang mana yang dimaksud hukum Allah Swt.? Al-Qur’an-kah? Tuntunan RasulNya-kah? Kitab-kitab mazhab yang berlimpah ruah itukah? Pemikiran, tafsir, dan takwil imam siapakah? Atau, yang Anda pikirkan, ikuti, genggam, dan yakini kini? Bagaimana pula bila di dalam diri Anda ternyata menyala tendensi-tendensi tertentu, seperti politik ekonomi dan kekuasaan?

Mari kembalikan selalu kepada prinsip awal tadi: Realitas Pertama adalah Benar-dalam-Dirinya-Sendiri, bukan selain-lainnya, termasuk postulasi-postulasi kita.

Kedua, pandangan kognisi dan rohani kita. Di hadapan sesuatu atau hal, termasuk Tuhan, kita semua niscaya membangun persepsi, opini, postulasi. Boleh jadi, mulanya hanya pandangan dangkal, dan berikutnya jadi lebih dalam, mendalam, hingga bahkan sekokoh suatu worldview atau welstanchauung.

Tentu, kita paham, persepsi beda dengan postulasi, sebagaimana pula keduanya beda dengan worldview atau welstanchauung.

Misal.

Ketika kita berkata “daun itu hijau warnanya”, kedalaman opini ini niscaya tak setimbang sama sekali dengan ungkapan filosofis Hans-Georg Gadamer tentang warna daun: apa benar warna daun itu hijau? Siapa yang memberi tahu kita bahwa warna daun itu hijau? Kitakah sebagai subjek yang mengatakannya? Ataukan daun itu sendiri sebagai subjek yang mengatakannya kepada kita? Jadi, siapa sebenarnya yang menjadi subjek dan objek? Ataukah keduanya sama-sama subjeknya dan sekaligus sama objeknya?

Kendati begitu, mau sedalam apa pun worldview kita terhadap sesuatu, hal, dzat, apalagi Tuhan, semua itu tetaplah pandangan kita yang berdenyar di dalam kepala (kognisi) atau rohani (hati) atau persekutuan keduanya. Ia, bagaimanapun bentuknya, tetaplah “pikiran atau imajinasi (dzauq)” kita yang berjarak nyata dengan hal atau dzat tersebut.

Ingat peta pertama Imam Ghazai bahwa kebenaran realitas melekat pada realitas itu sendiri—bukan di luarnya.

Ini artinya, keberjarakan kita dengan realitas, walau kita seintim apa pun dengannya, menisbatkan konsekuensi secara langsung bahwa kebenaran kita tetap bukanlah kebenaran-diri-realitas itu, melainkan sekadar “kebenaran-kita-yang-bukan-realitas-pertama”. Jangan pernah hilangkan kata “kita” dan “bukan realitas pertama”.

Sampai di sini, kita termafhumkan dengan jernih bahwa umpama kita menakwil ayat atau hadits dengan kedalaman ilmu akademik yang paling kokoh dan tanggung jawab paling bermoral sekalipun, kesimpulannya tetaplah bukan kebenaran-realitas-sendiri, melainkan semata “kebenaran-kita-yang-bukan-realitas”.

Boleh jadi, di dalam pikiran atau samudra rohani yang tak terbatas, kita telah melakoni penjelajahan literatur dan penyelaman ontologis yang luar biasa, sehingga kesimpulan-kesimpulan yang didedahkan kemudian dalam bentuk definisi dan epistemologi sangat kokoh. Tapi, ia sama sekali tetaplah bukan kebenaran-mutlak-realitas-pertama. Ia tetaplah “kebenaran-kita-yang-bukan-realitas-pertama”. Atau, boleh ditambahkan, ia adalah semata “kebenaran-epistemologi-kita-yang-bukan-realitas-pertama”.

Walhasil, derajat kesahihannya tetaplah relatif. Tiada hak memutlakkan pada dirinya.

Inilah hakikat filosofisnya: segala persepsi, postulasi, hingga worldview atau welstanchauung khittahnya adalah kebenaran-relatif. Tidak mutlak!

Maka sungguh aneh bila dalih-dalih terhadap dalil-dalil apa saja yang kita kuarkan ke publik lalu dengan beraninya kita klaim sebagai kebenaran-mutlak, bahkan keselamatan-mutlak. Sungguh ini secara ilmiah adalah logical fallacy yang memalukan dan secara moral adalah arogansi tak terperikan….

Ketiga, realitas yang didalilkan atau dinarasikan dalam bentuk ungkapan, tuturan, konklusi, hingga epistemologi akan selalu mereduksi esensi kedua dan apalagi pertama tadi.

Walaupun cukup pelik, saya tetap membaca Slavoj Zizek. Peliknya Zizek toh masih lebih pelik Martin Haidegger, bukan?

Zizek pernah membuat narasi filosofis begini:

Keinginan adalah “ini bukanlah itu”, berbeda dengan cinta yang bernarasi “ini adalah itu”. Perbedaan keduanya ada pada “bukanlah” dan “adalah”.

Umpama kita berkeinginan membeli motor, lalu suatu hari motor itu benar-benar berhasil kita beli, keinginan yang terkabul akan seketika merontakan “bukan motor ini yang saya inginkan, tapi motor itu atau begitu”. Walhasil, keinginan, seterkabul apa pun, sungguh merupakan pengkhianat yang hakiki kepada diri kita, dan wajarlah ia dikatakan sebagai sumber penderitaan. Mengurangi keinginan adalah jalan hakiki mengurangi penderitaan.

Berkebalikan dengan cinta yang berspirit penerimaan. Boleh jadi motor yang kita cintai adalah begitu, tapi yang kita miliki kini adalah begini, maka begini menjadi adalah begitu—beda dengan keinginan “begini bukanlah begitu” tadi.

Cinta menyelesaikan segala prahara yang dirontakan keinginan, dikarenakan cinta memiliki spirit penerimaan. Membesarkan cinta adalah jalan hakiki membesarkan kebahagiaan.

Sampai di sini, kita bisa melihat betapa pewujudan hal atau dzat dalam suatu bangunan bahasa, ungkapan, penyampaian, tegasnya segala bentuk pembendawiannya, tepat di detik yang sama mengikis eksistensi “pikiran dan rohani” yang belum terkatakan (realitas kedua)—hanya terpikirkan dalam kepala atau terasakan dalam hati—yang juga telah mengalami pengikisan dibanding kebenaran-realitas-itu-sendiri (realitas pertama).

Jadi, dalam narasi Zizek, jika kita mengandaikan motor di jalanan yang kita inginkan adalah motor yang memesona dan menyenangkan untuk kita miliki, debur pikiran dan perasaan tersebut akan terkikis dengan sendirinya tatkala telah “membendawi dengan nyata” menjadi milik kita. Ya, dikarenakan prinsip “ini bukanlah itu” tadi telah teruahkan dalam keterungkapan.

Maka, ingin menarasikan hal atau dzat, sejatinya mesti kita sadari sedari dini sebagai reduksi kita sendiri kepada otentisitas hal atau dzat itu.

Saya punya ilustrasi yang tampaknya cukup mewakili tiga skema realitas Imam Ghazali ini.

Rabi’ah Adawiyah kita kenal sebagai sufi perempuan yang sangat kondang dengan konsep mahabbahnya. Cinta. Jenis tasawuf yang kemudian juga dikembangkan Imam Ghazali.

Suatu hari, beliau keliling kota Baghdad sembari menenteng ember berisi air di satu tangan dan tangan lainnya memegang obor yang berkobar. Orang-orang bertanya apa gerangan yang ingin dilakukannya?

Beliau menjawab: “Aku ingin membakar surga dengan obor ini agar orang-orang tidak lagi beribadah kepada Allah Swt. dengan semata mengharap dibalas surga dan mematikan api neraka dengan air dalam ember ini agar orang-orang tak lagi menjauhi maksiat karena semata takut dibalas neraka.”

Allah Swt. sebagai Realitas Pertama tetaplah Kesejatian Dzat yang bertahta Pada Kebenaran Dirinya, bagaimanapun dalam dan luhungnya dzauq mahabbah Rabi’ah Adawiyah yang tak terkatakan. Ketika dzauq mahabbah itu kelak diungkapkannya dalam bentuk puisi sekalipun—kita tahu puisi adalah bentuk ungkap yang paling terbuka pada luasan makna—semua itu bukankah hakikat realitas kebenaran dzauq mahabbah yang dirasakannya.

O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah Jiwaku

Kaulah sumber hidupku

Dan dariMu juga berahiku berasal

Dari semua benda fana di dunia ini

Diriku telah tercerah

Hasratku adalah bersatu denganMu

Melabuhkan rindu.

Ungkapan puitis Rabi’ah Adawiyah tersebut memperlihatkan kedalaman dzauq mahabbah-nya—kita yang membacanya dapat merasakannya. Namun, puisi itu pun tetaplah ungkapan reduksi atas samudra rasa rohani yang dirasakannya, yang tak terkatakan. Dan yang tak terkatakan ini adalah kepingan belaka dari Realitas Tuhan itu sendiri.

Begitulah bentang jarak-jarak reduksi antara ucapan diri, pikiran/imajinasi diri, dan realitas itu sendiri. Ketiganya akan selalu berjarak dalam keintiman yang paling manunggal sekalipun.

Realitas Pertama adalah realitas hakiki yang tak tepermanai; pikiran dan imajinasi kita terhadapnya adalah sekadar realitas kedua yang seluas samudra; dan tuturan atau ungkapan kita terhadapnya—yang melalui medium ini bisa dibaca, dilihat, dan dirasakan orang lain—adalah realitas ketiga yang kiranya seluas sungai-sungai di hadapan samudra-samudra.

Jarak realitas ketiga dengan realitas pertama tak teukur bentangnya. Maka, semestinya, berdasar pemahaman atas skema filosofis Imam Ghazali ini, tiadalah hak dan kepatutan niscaya kepada setiap kita untuk mendakukan diri sebagai “pemegang kebenaran realitas” apa pun. Sekali lagi, apa pun!

Teks ayat yang kita takwil sekokoh apa pun fondasi metodologisnya plus sejernih apa pun rohani di balik sang penakwil, ia selalu tak sahih diklaim sebagai “pemegang kebenaran tunggal realitas”. Ia hanyalah sungai-sungai. Ia dengan sendirinya adalah sungai yang nisbi, relatif, sekadar representasi di antara jubelan representasi lain, sungai-sungai lain—entah yang aliran airnya setara atau di atas atau di bawahnya.

Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun, Allah Swt lah yang mengetahui (maksud-maksud kebenaran yang dikandung realitas ayat-ayat yang kita baca) dan kalian tak mengetahui, begitu tutur al-Qur’an.

Seyogianya, nalar dan rohani kita lalu senantiasa berada di derajat legawa demikian di antara jubelan takwil dan paham apa saja. Tak patut ada kefanatikan. Negasi-negasian. Salah-menyalahkan. Dan klaim-klaiman paling benar, paling sesuai maksud Allah Swt. dan tuntunan RasulNya. Denyar-denyar demikian hanyalah logical fallacy paling sombong dari para nisbi.

Mari berendah hati atas realitas kenisbian relatif kita. Bukankah surat Ali Imran ayat 8 telah mengajarkan kepada kita melalui istilah ulul albab: “(Mereka (ahli ilmu) berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Egkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dariMu, sungguh hanya Engkau lah Sang Maha Pemberi (karunia).

Semoga kita semua dianugerahiNya maqam ulul albab ini. Amin.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Jogja, 20 Agustus 2019

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Comments

  1. KN Krise G Reply

    Lagi !
    Lagi !
    Lagi !

  2. Juk Reply

    Kebenaran relatif selalu didengungkan oleh orang yang tidak mempercayai Khabar shadiq. Benar kita tidak tahu kebenaran, tapi Rasul telah diberikan Wahyu tentang kebenaran. Jadi manusia tahu yang benar, karena diajari Rasul. Kita bisa membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah semuanya dari wahyu.

    Bgitupun Ali bin Abi Thalib yang mengatakan setamsil: “Aku mengenal Tuhanku dengan caraNya mengenalkanNya kepadaku.” Berarti ia tahu kebenaran, karena Allah melalui Nabinya mengajarkan kebenaran.

    Janganlah kita menjadi ragu terhadap ilmu yang kita miliki sendiri. Semakin tinggi ilmunya semakin ragu terhadap agamanya. Wah parah!

Leave a Reply

Your email address will not be published.