Rekam Ingatan: Bandung Readers Festival

Foto: dok. Pribadi

Festival literasi bukan lagi hal asing yang terselenggara di negeri ini. Sebut saja dua di antaranya yang kerap menggema di pendengaran para pencinta kata sejak hampir satu dekade silam, Ubud Writers & Readers Festival dan Makassar International Writers Festival. Untuk kali pertama di bulan kesembilan 2019, Bandung akhirnya turut membenam dalam perhelatan semacam ini. Dengan mengangkat tajuk “Bandung Readers Festival: To Read or Not to Read”, acara yang terlaksana selama 5 hari di 5 lokasi berbeda ini menghadirkan narasumber dan komunitas yang 80 persennya berdomisili di sekitar kota kembang dan 70 persennya adalah perempuan.

Bandung Readers Festival 2019 dibuka oleh ulasan Galuh Pangestri Larashati mengenai kondisi literasi Indonesia terkini. Ia mengatakan, kemampuan membaca, mendengar, dan menyimak perlu peningkatan. Zaman yang sedang bertransformasi dari manual ke digital memengaruhi cara dan apa yang kita telan, pula berpengaruh terhadap kesehatan logika serta nurani. Percepatan tidak bisa dihindari sementara kita perlu waktu untuk mencerna. Kegiatan ini tidak muncul untuk memberi jawaban atas dekadensi yang dipertontonkan, melainkan hadir untuk melatih nalar dan menunjukkan bahwa ada banyak pihak yang giat memajukan kualitas masyarakat melalui literasi.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Unpar, ITB, dan Unnes) juga menyampaikan pengantar terkait buku. Menurutnya, secara formatif buku mempertajam kemampuan analitis dan kritis, meningkatkan fungsi otak, memperdalam cara pandang, memperbaiki keterampilan berbahasa dan berkomunikasi, melatih konsentrasi, memperkuat daya ingat, membentuk pikiran dan sikap pribadi, serta menumbuhkan empati atas kemanusiaan universal. Sementara dari sisi informatif, buku adalah gudang ide yang berkembang tanpa batas, peta peradaban manusia yang luas dan dinamis, rekaman kecerdasan dan kedalaman pemikiran, lukisan kompleksitas pengalaman manusia, serta sumber pengetahuan yang tak pernah habis.

Selain tema yang terbilang unik—menekankan pada pembaca dan membaca—Bandung Readers Festival 2019 juga menyajikan beragam topik menarik, yakni: Penulis = pembaca?, Quote no more “Temukan dan tuliskan suaramu sendiri”, Melacak Jejak Perempuan dalam Sastra, Judge the Book by It’s Cover, Mawa Tradisi ka Kiwari, Hak Baca bagi Difabel, Melatih Daya Kritis Pembaca, Dinamika Ngeblog, Modus Penyebaran Teks, Kekuatan Teks dan Visual Buku Anak, Maca Bari Ngariung, Narasi sebagai New Media, Relasi Penerbit-Pembaca dan Platform Digital, Kesetaraan dan Keragaman dalam Sastra Indonesia, serta Aktivisme Sosial di Era Digital. Dan, saya berkesempatan mengikuti 9 dari 15 ragam bincang-bincang tersebut.

4 September menjelang petang, di Institut Français d’Indonésie

 

Penulis = Pembaca? – Dimoderatori Tegar Bestari (jurnalis, Komunitas Aleut) dengan narasumber Dea Anugrah (penulis Misa Arwah, masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016) dan Sabda Armandio (penulis 24 Jam Bersama Gaspar, Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016).

Alih-alih penulis, Dea Anugerah lebih senang mengidentifikasi dirinya sebagai pembaca. Perkenalannya dengan buku dimulai oleh kegemarannya membaca cerita tentang nabi-nabi, majalah, juga komik. Sementara Sabda Armandio mengawali kecintaan pada cerita semasa SMP karena tumbuh di lingkungan multikultural yang orang-orangnya senang berbagi pengalaman.

Dea maupun Dio sama-sama mengaku bahwa setelah menjadi penulis, keduanya tidak lagi mengalami kenikmatan saat membaca. Bila diumpamakan semangkuk bakso, alih-alih meresapi cita rasanya, mereka justru mencari tahu bagaimana cara membuatnya. Sebagai penulis, Dea dan Dio juga sepakat menulis butuh konsistensi, latihan, serta keinginan kuat untuk menyelesaikan sesuatu. Di samping itu, penulis juga perlu berada di lingkungan yang mendukung perkembangan tulisannya.

5 September sejak hari terik hingga gelap terlihat, di NuArt Sculpture Park

 

Melacak Jejak Perempuan dalam Sastra Dimoderatori An Nisaa Yovani (aktivis isu perempuan dan kekerasan gender, pendiri Komunitas Samahita Bandung) dengan narasumber Dewi Noviami (penulis & inisiator Ruang Perempuan dan Tulisan), Aura Alifa Asmarandana (penulis & pengkaji Ruang Perempuan dan Tulisan), Aquarini Priyatna (Dosen Sastra Inggris Unpad, penulis berbagai jurnal dan buku tentang perempuan serta feminisme)

Perempuan-perempuan penulis tempo dulu yang diangkat dalam perbincangan ini ialah Rohana Kudus, Saadah Alim, dan Suwarsih Djojopuspito. Latar belakang keluarga, aktivitas sosial, pendidikan, bahan bacaan, bahkan era politik memengaruhi tema yang biasa ditulis pada masa itu. Informasi mengenai penulis perempuan zaman dulu terbilang sulit ditemukan dari sumber mana pun, termasuk jika bertanya kepada keluarga mendiang karena mereka tidak terlalu menjaga kearsipan karya nenek moyang.

Judge the Book by It’s Cover – Dimoderatori RE Hartanto (perupa dan pengajar seni rupa) dengan narasumber Emte (Mohammad Taufiq, ilustrator buku Gramedia Pustaka Utama), Koskow (FX Widyatmoko, Dosen DKV ISI Yogyakarta), Irawandhani Kamaraga (pendiri Binatang Press)

Sampul buku ibarat wajah yang kita lihat sebelum mengenali kepribadian sebenarnya (yang dimaksud yakni isi tulisan). Ilustrator buku perlu memiliki kemerdekaan berekspresi dengan tetap membawa pesan yang sama kuatnya seperti isi tulisan. Namun, pada masa ini sering kali pembaca pun turut terlibat untuk menentukan sampul yang diinginkan melalui fitur polling di media sosial. Bahkan terkadang, sampul konon memengaruhi keputusan segelintir orang untuk membeli buku.

7 dan 8 September sedari tampak mentari sampai bulan bertandang, di pelataran timur Museum Gedung Sate

 

Modus Penyebaran Teks – Dimoderatori Budi Warsito (Pustakawan Kineruku Bandung) dengan narasumber Lala Bohang (penulis Gramedia Pustaka Utama, kurator Pear Press), Theoresia Rumthe (penulis Akulah Damai, diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), Fryza Pavitta (Project Director Pear Press)

Lala berkata bahwa pada masa lalu penulis itu ibarat orang yang ada dalam akuarium, sedangkan kini penulis berperan bagai penampil yang menunjukkan persona lewat media sosial ataupun menjadi pembicara di berbagai kegiatan literasi. Theo juga berbagi pengalaman, teks yang ia ciptakan tidak melulu hanya menyebar dalam bentuk buku, bisa pula melalui dialog dengan ruang dan medium di sekitarnya. Mereka sepakat, karya-karya di zaman sekarang dapat sampai kepada para penikmatnya lewat cara maupun media yang beragam.

 

Relasi Penerbit, Pembaca, dan Platform Digital – Dimoderatori Rio Tuasikal (Jurnalis Multimedia VOA Indonesia) dengan narasumber Sari Meutia (CEO Mizan Publishing), Aulia Halimatussadiah (Co-founder & CMO nulisbuku dan storial), Abduraafi Andrian (bloger buku, pendiri komunitas Penggemar Novel Fantasi Indonesia)

Kehadiran platform digital bukanlah saingan bagi penerbitan konvensional. Adanya dua bidang tersebut memperkaya cara bagi pembaca untuk menikmati setiap karya. Seiring dengan perkembangan ini, penerbit juga dituntut menyesuaikan diri dengan mulai merambah ranah yang lebih luas seperti adanya konten berwujud gambar, video, animasi, podcast, hingga audiobook.

Kesetaraan dan Keragaman dalam Sastra Indonesia – Dimoderatori Rena Asyari (dosen, founder Komunitas Seratpena) dengan narasumber Lily Yulianti Farid (founder Makassar International Writers Festival), Mona Sylviana (penulis), Aquarini Priyatna (Dosen Sastra Inggris Unpad, penulis jurnal dan buku tentang perempuan serta feminisme)

Mona berpendapat membaca buku seperti mengupas kulit bawang. Melalui awalan teknik diskusi yang diterapkan oleh Lily, diketahui bahwa latar yang tercantum dalam buku dan dibaca sebagian besar pembaca berpusat di Pulau Jawa. Terkait hal ini, para narasumber sepakat sastra merupakan pintu untuk mengenal karakteristik setiap masyarakat di suatu wilayah yang berbeda.

Kemudian atas pertanyaan kritis yang Aquarini lontarkan, mari kita pikirkan lebih mendalam: apa yang sejatinya disebut Sastra Indonesia? Apakah sastra yang ditulis oleh penulis, tentang, dan dengan bahasa Indonesia? Ataukah sastra yang ditulis tentang dan dengan bahasa daerah? Lalu seandainya ada penulis luar negeri yang menulis dengan bahasanya sendiri tetapi membahas tentang Indonesia, itu Sastra Indonesia atau bukan?

N.b. Karena laman ini terbatas, tidak semua pembahasan dapat tersampaikan. Bagi teman-teman yang memerlukan catatan lebih lengkap silakan menghubungi deyanggibhi97@gmail.com, atau dapat menyaksikan video keseluruhan acara yang konon akan dipublikasi melalui akun Youtube Bandung Readers Festival.

Deyanggi Bhi

Mahasiswi Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia ini lahir di Bandung pada pertengahan November. Berteman dengan fiksi serta puisi sedari lama, dan sedang berupaya menuntaskan aneka tulisan yang sering kali tertunda. IG: deyanggibhi.
Deyanggi Bhi

Latest posts by Deyanggi Bhi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.