Risalah Pohon Mangga

sketchaway.wordpress.com

 

Seingat Jamhari, pohon mangga Arumanis itu tumbuh sudah 20 tahun lebih.

Ditanam di depan rumah sebelah kiri. Pohonnya rimbun tinggi menjulang menusuk langit. Batangnya kokoh, dengan ratusan ranting penyangga yang selalu tumbuh melebar, dengan daunan rapat. Tahun demi tahun, pohon itu kian meninggi dan membesar. Ia telah menjadi satu-satunya pohon paling rimbun dan perkasa di sini. Setiap gelap menjelang, menjadi tempat pulang bagi berjenis burung dari berbagai penjuru. Sarangnya bertengger di pucuk-pucuk paling tersembunyi. Setiap pagi tiba, sebelum penghuninya terbang entah ke mana, mereka serentak memberi hadiah manis berupa nyanyian. Nyanyi damai dari makhluk-makhluk kecil yang barangkali tak akan pernah engkau dapatkan di halaman rumah mana pun, selain di sini.

Pohon mangga di halaman rumah itu memang istimewa. Dua puluh tahun ia hidup, dan telah menyaksikan beragam peristiwa di rumah ini: tepat di hadapannya. Rumah Jamhari. Kalau saja pohon itu bisa mencatat, maka akan banyak sekali catatan yang dituliskan pada setiap daunnya, pada setiap rantingnya, serta pada setiap manis buahnya yang telah memberi kebahagiaan bagi banyak orang. Terutama, pada kehidupan keluarga Jamhari.

Saat Gunung Kelud yang terletak di perbatasan Kediri-Blitar Jawa Timur meletus, 14 Februari 2014, abunya terbang dan menempel berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan di setiap helai daun. Abunya lengket betul. Diguyur hujan tetap saja itu menempel lekat-lekat. Daun mangga seharusnya berwarna hijau, justru tampak keperak-perakan. Begitu juga saat Gunung Merapi meletus, 11 November 1994. Pohon mangga diguyur abu dan kerikil-kerikil kecil dari puncak Merapi. Abu dan kerikil kecil diterbangkan dari arah utara. Abu Merapi berhari-hari seperti burung hinggap dan tidak mau terbang.

Bahkan saat gempa bumi mengguncang Yogya, 26 Mei 2006. Rumah-rumah, pohon-pohon banyak yang roboh dengan cara rungkat—akar pohon terangkat ke atas. Pohon mangga itu hanya sedikit miring ke arah gang kecil.

Pohon mangga jadi saksi waktu ketika gempa bumi yang mengguncang Yogya. Akar, batang, ranting, dan daun menjadi mata waktu: melihat dengan jelas. Lima meter dari pohon berdiri, persisnya di seberang jalan tanah kosong, ada sumur tua yang airnya tiba-tiba muncrat ke atas dan berbunyi… jleguuuurrrr! Orang-orang kampung keluar rumah, dan jerit tangis terdengar memilukan.

Saat terjadi gempa susulan, warga yang berhamburan berlindung di bawah pohon mangga.

Kula nderek ngiyup wonten mriki nggih?” ucap warga dengan wajah pucat pasi pada Jamhari. Jamhari hanya tersenyum dan mengangguk. Orang-orang mencari selamat di bawah pohon mangga.

***

Dulu, pohon mangga ini ditanam bersamaan dengan pembangunan rumah. Sebagaimana layaknya orang Jawa, semua hal diawali dengan selamatan. Selamatan dengan mengundang tetangga kiri-kanan. Memanjatkan doa-doa, dengan dipimpin seorang ustadz.

“Pak Jamhari, katanya pernah ada tetangga yang meminta pohon mangga ditebang,” tanya salah satu warga, yang kebetulan tengah duduk-duduk. Rimbun daun manga memang membuat setiap orang ingin berlama-lama menikmati sejuk di bawahnya.

“Iya. Tapi aku menolak,” jawab Jamhari. “Pohon mangga ini sudah terlalu baik.”

“Maksudnya?”

“Ia sudah menjadi penanda hidup,” ucapnya. Jamhari memberi contoh waktu suasana gempa bumi. Banyak warga trauma dan tidur di luar rumah. Mereka mengungsi di halaman-halaman, mendirikan tenda-tenda. Dan pohon mangga itu dijadikan tempat berkumpul membicarakan berbagai hal. Bahkan cantelan tali-tali jemuran warga, dihubungkan dari pohon manga ke arah pohon sawo. Tidak hanya itu, cantelan nasi bungkus yang dikemas di plastik untuk sarapan pagi, makan siang, dan sore, juga digantungkan pada dahan-dahan paling rendah. Plastik-plastik makanan yang sudah ada namanya itu, dijaga pohon mangga dari terik matahari.

Pohon mangga sebagai titik kumpul. Pohon mangga menjadi pusat komunikasi dan interaksi warga. Pohon mangga menjadi penanda. Pohon mangga menjadi saksi.

***

Lima tahun terakhir ini, jarak kiri dan kanan pohon mangga seperti sudah terdesak dengan bertumbuhnya rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk yang terus dibangun, berdempetan tanpa pagar. Orang Jawa selalu percaya pada kearifan, bahwa rumah lebih baik dipagari piring daripada dipagar dengan pring/bambu. Maka pohon mangga ini pun menganut falsafah yang sama, buah-buah mangga yang ranum, harus dinikmati oleh tetangga kiri-kanan.

Pohon mangga itu juga sering menjadi penanda paling gampang saat mencari rumah milik Jamhari. “Itu lho rumah bercat hijau yang ada pohon mangganya,” kata warga Sanggarahan, setiap tamu bertanya di mana letak persisnya Jalan Adas 260 Sanggrahan Bantul, rumahnya Jamhari.

Pertanyaan itu bisa datang dari siapa saja, termasuk Pak Pos untuk mengantar surat-surat penghuni kontrakan dan kos-kosan. Oh ya, Jamhari memiliki rumah kontrakan dan kos-kosan yang dibangun tidak jauh dari pohon mangga. Kontrakan rumah dan kos-kosan itu dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah.

Jamhari punya dua rumah. Satu rumah yang ada pohon mangganya, yang ditinggali bersama keluarga, satunya lagi rumah kontrakan dan kos-kosan yang disewakan bagi mahasiswa putra—mereka kebanyakan datang dari luar Pulau Jawa.

Sebagai rumah yang memiliki banyak penghuni, terutama untuk kos-kosan yang setiap kamarnya selalu penuh, tentu saja banyak orang datang dan pergi, hampir setiap hari. Entah para tamu, atau mungkin kerabat mahasiswa yang berkunjung. Tetangga kiri-kanan Jamhari-lah yang sering kali mendapat pertayaan alamat. Maka setiap kali ada orang mencari rumah Jamhari, selalu saja ancer-ancernya seperti ini: “Dari Jalan Adas ini, lurus ke timur. Kalau ada rumah menghadap ke selatan, ada pohon mangganya. Nah, itu rumah nomor 260 milik Pak Jamhari.”

Pohon mangga jadi penanda utama. Selain penanda lain yang umum, seperti makam, pura, masjid, dan gardu ronda.

Tetangga lebih senang penanda yang akrab dan mudah diingat: pohon mangga Arumanis. Pohon ini oleh Jamhari dibiarkan seperti belukar. Ranting-ranting dan cabang-cabangnya memang jarang dipangkas. Maka tidak mengherankan, setiap anak kos yang diminta untuk mengambilkan mangga, sering kali menolak untuk memanjat dengan berbagai alasan.

“Maaf, Pak Jamhari, susah panjat pohonnya,” tolaknya.

“Maaf, Pak, pohon mangga susah dinaiki. Terlalu rimbun.”

“Manjat pohon mangga sih bisa, Pak. Yang tidak tahan itu semut ngangkrangnya. Ganas sekali!” kata anak kost sekenanya.

Jamhari sendiri sebenarnya ingin bisa memetik mangganya sendiri. Mengambil mangga yang sudah matang, dan langsung dimakan di atas pohon. Memakan mangga di atas pohon rasanya seperti mengulang kenangan masa kecil saat masih tinggal di dusun.

Ia pernah memaksa memanjat satu kali. Untuk memudahkannya, ia menggunakan tangga bambu. Tapi bukannya mangga yang didapat, justru tubuhnya jatuh ke tanah.

Kalau mau jujur, terkadang Jamhari sedikit dipusingkan oleh omongan tetangga perihal pohon mangga. Sudah banyak tetangga yang mengusulkan agar pohon mangga itu tebang saja, supaya tidak membuat masalah. Mereka mungkin simpati, atau kasihan melihat Sutini, istri Jamhari, harus menyapu guguran daunnya setiap pagi dan sore. Sebab kalau tidak disapu, daun-daun kering yang jatuh berguguran itu bisa terbang ke mana-mana. Bisa beterbangan ke teras-teras tetangga. Belum lagi ketakutan dan kehawatiran setiap tibanya angin kencang, atau hujan lebat yang disertai angin. Diam-diam, banyak tetangga yang akhirnya membicarakannya.

“Bu Sutini, pohon mangganya ditebang saja daripada bikin repot!” saran Bu Wagirin, salah satu tetangga terdekatnya.

“Ya, Bu, ditebang saja. Kalau pohon terlalu tinggi bisa berbahaya kalau roboh. Bisa-bisa rumahnya Bu Sutini keambrukan pohon…,” kata Bu Gimin, tetangga yang lain.

“Saya tidak berani memutuskan. Biar suami yang mengambil keputusan. Saya takut!”

“He he he, jadi istri kok takut suami!” ejek Bu Wagirin sambil berlalu terus masuk rumah.

Sutini sebenarnya membenarkan pendapat tetangga. Pohon mangga itu, semakin besar dan tinggi, semakin membuat repot. Selain tenaga, entah sudah berapa ratus ribu uangnya dihabiskan untuk merawat pohon mangga. Mengganti genteng karena kejatuhan buah, mengupah tukang untuk membetulkan talang akibat tersumbat daun, memangkas dahan yang menjulur ke jalan, serta membayar kerugian pada tetangga karena kabel listriknya terputus akibat dahan yang patah.

Sutini menghitung-hitung. Berapa puluh kali kali ia membayar orang untuk bersih-bersih atap rumah. Berapa puluh genteng yang pecah akibat kejatuhan mangga. Dan yang paling menjengkelkan adalah saat mangga berbuah dan matang di pohon. Buahnya yang sulit diambil itu akhirnya berjatuhan setiap datang angin. Beberapa pernah jatuh persis di atas ruang perpustakaan. Membuat banyak genting retak. Saat hujan tiba, air masuk dan merembes ke mana-mana. Buku-buku dan koran menjadi basah. Buku-buku harus dijemur, beberapa terpaksa dibuang, dan lantai harus dipel.

Pernah beberapa kali suaminya memberi usul, agar setiap kali mangga berbuah, ditebaskan saja pada tengkulak, diborongkan. Dijual ketika mangga masih di pohon. Selain akan mendapatkan sejumlah uang, buah-buah tak akan lagi matang di pohon. Seingat Sutini, sudah dua kali usul suaminya itu dilaksanakan. Mangga dijual pada bakul buah-buahan, dengan sistem tebas. Yakni diborong ketika buah masih melekat di atas pohon. Pembeli pertama adalah bakul buah-buahan dari Pasar Kranggan, pasar tradisional yang terletak barat Tugu Yogya. Yang membeli suami-istri. Biasanya, suaminya yang memetik langsung dari pohon, dan istrinya berlaku seperti mandor yang memberi aba-aba di mana letak mangga yang siap dipetik.

Sebagaimana bakul profesional, mereka membawa genter alias bambu panjang, dan sangat gesit mengambil mangga meskipun letaknya di pucuk-pucuk terjauh. Soal semut ngangkrang yang begitu banyak menjaga pohon mangga, sepertinya tidak masalah. “Cara menaklukkan semut ngangkrang itu gampang,” katanya, menjawab kekhawatiran Sutini. “Memakai abu gosok—abu dapur. Dioleskan di sekujur tubuh. Dijamin semut ngangkrang tidak berani menggigit.” Kemudian ada satu lagi perlakuan aneh yang membuat Jamhari dan Sutini saling pandang. Sebuah ritual.

Pedagang buah suami istri itu, kedua tangannya memegang pohon. Kemudian suaminya merapal doa dengan kepala menunduk, “Iki dina Senin Kliwon. Senin neptune 5, Kliwon neptune 8. Neptu dina lan pasaran dadi 13. Aku nyabut gawe. Aja diganggu. Gusti Allah ora sare. Bismillah. Dadio pangan kang barokah. Amin. Amin. Amin,” ujarnya lirih. Usai rapal atau doa dibaca, ia menjejak tanah tiga kali. Kemudian barulah dipanjatnya pohon tinggi itu. Dalam sekejap, tiba-tiba suami pedagang buah sudah nangkring di atas cabang paling tinggi. Dan istrinya menadahkan tangan kemudian mengusap muka. Pertanda ritual doa sudah selesai.

Jamhari dan Sutini saling menatap, dan tidak tahu harus berkomentar apa.

Memang, pernah ada satu tetangga yang mengaku memiliki kepekaan lebih, mengatakan bahwa pohon itu ada penunggu gaibnya. Ia menyebutnya wingit alias angker. Katanya, sudah puluhan orang yang lewat malam hari melihat ada anak kecil yang bermain ayunan. Dan setiap kali disapa, anak kecil itu hilang begitu saja. Isu yang diembuskan dari mulut ke mulut menjadi ingatan kolektif warga di situ. Begitulah hidup di masyarakat Jawa. Maka jika Jamhari dan Sutini melihat pedagang buah suami istri berlaku sedikit aneh, mereka pun maklum.

Berbeda lagi dengan bakul buah-buahan yang kedua dari Kotagede ini. Mereka cukup membawa bilah-bilah bambu paling ujung diberi kawat yang melengkung. Risikonya mangga yang jatuh buahnya jadi pecah. Maka untuk menghindari buah jatuh lebih banyak, ada orang yang ditugasi membentangkan kain. Mereka tidak melakukan ritual seperti pedagang pertama.

Seumur pohon mangga itu tumbuh, hanya dua kali itulah pernah dijual. Selebihnya, tak pernah lagi ada yang cocok—terutama mengingat harga yang ditawarkan. Mungkin lantaran pohon terlalu tinggi, atau semut yang semakin berkembang menggila, rata-rata setiap pedagang menawar dengan harga murah. Mungkin juga mereka menimbang risiko jatuh dari pohon. Atau pohon mangga itu memang benar-benar angker? Entahlah.

***

Yang jelas, pohon mangga ini tumbuh semakin tinggi, semakin rimbun, dan semakin sering membuat jengkel. Jika mengingat sejarahnya yang panjang, maka pohon ini tak layak untuk ditebang. Ia adalah saksi hidup hampir semua peristiwa. Sejak dari penanaman pertama.

Awalnya bibit pohon mangga dibeli dari kebun pembibitan di Kotagede Yogya. Waktu itu, bibit stek mangga dibeli dengan harga 20.000 rupiah oleh Sutini, istri Jamhari.

Pohon mangga ditanam seiring pembangunan rumah milik Jamhari-Sutini hampir selesai. Rumah itu dibangun seiring pula pembangunan Jogja Expo Center (JEC) di wilayah Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Kenapa di depan rumah harus ditanam bibit mangga? “Saya menanam pohon mangga ini menuaikan wasiat Ibu,” kata Jamhari memberi alasan, setiap ditanya orang yang datang bertamu atau orang yang lewat rumahnya.

Jamhari bercerita, ibunya yang tinggal di lereng Gunung Muria, Pati, Jawa Tengah, punya kebiasaan menengok dirinya di Yogyakarta. Baik saat Jamhari-Sutini masih mengontrak rumah maupun sudah punya rumah sendiri. “Wong omah-omah kudune duwe tanduran. Sak ora-orane nandur wit pelem. Siji yo ora apa-apa,” kata Suwarni, ibu Jamhari dalam bahasa Jawa.

Kok kudu nandur wit pelem Arumanis?” tanya Jamhari.

Wit pelem Arumanis kuwi mung kanggo pralambang, urip kuwi ora mung seneng wae, sing manis-manis. Ana pahite, ana rasa getire. Manungsa dununge lali lan luput, dununge manis lan pahite urip,” tutur Suwarni.

Bagi Jamhari, perkataan ibunya seperti sebuah wasiat. Manusia adalah tempatnya lupa, tempat bertemunya salah, manis, dan pahitnya hidup. Sekarang ibunya telah tiada. Setiap kali Jamhari duduk berteduh di bawah rindangnya, ia seperti melihat bayangan ibunya, serta jejaknya yang melekat di setiap guguran daun.

Tapi pohon mangga itu kian membesar. Akarnya menjalar dan menggila, hingga ke mana-mana.

 Yogya, November 2019

Jayadi Kasto Kastari
Latest posts by Jayadi Kasto Kastari (see all)

Comments

  1. AMY Reply

    Asyik ceritanya yaaa. Sayang, buat yg bukan orang Jawa, sulit memahami bagian percakapan yg berbahasa Jawa. Usul: mungkin tdk apa2 jika diberi terjemahan dlm bhs Indonesia u/ bagian yg berbahasa daerah itu. Biar karya ini bisa dinikmati seluruh nusantara… Nuhun.

    • VA Reply

      Bagus cerpennya, muatan konfliknya realita dan alasan tdk menebang nambang wawasan hehe. Terima kasih min sudah post cerpen ini.

  2. siput santuy Reply

    akhirnya update juga min setelah sekian lama vakum wkwk,
    sukses trozz ya

  3. Fadilla Reply

    Suka alur ceritanya, bukan sekadar pohon mangga biasa. Memiliki makna tersirat. Majas yang digunakan juga begitu apik dan tokoh jamhari begitu sabar menyikapi ocehan tetangganya tanpa disadari pohon mangga itulah menyajikan kenangan..

  4. Wisnu Bara O. Reply

    Alur sangat asyik, saya begitu menikmati. Pembawaan cerita dan penggambaran suasana enak dan realistis. Apalagi pesan moralnya, keren bro. 👍
    Btw, aku yo wong jowo. Salam rahayu. 🙏

  5. damar Reply

    bagus sekali mas ceritanya, kalem. oh iya, kalau Bu Sutini itu orang jogja, setahu saya orang pati nggak boleh nikah sama orang jogja katanya bisa mendatangkan kemalangan, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.