Riwayat Hidup Sebuah Buku di Lingkar Kepala Kita

 

Judul   Buku   : Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive

Penulis             : Aris Rahman P. Putra

Penerbit           : Basabasi

Cetakan .          : Pertama (2019)

Tebal               : 200 Halaman

 

“Pro captu lectoris, habent sua fata libell,i” tulis Terentianus Maurus dalam De litteris, De syllabis, De Metris. Saya sepenuhnya sepakat pada ungkapan itu, bahwa seturut kemampuan pembacanya, buku memiliki nasib masing-masing. Ambil contoh paling mudah; di hadapan kita, buku Frans Magnis Suseno berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (GPU, 1999) adalah sejenis paparan ilmiah yang menarik untuk dikaji. Di hadapan kolektor buku, jelas ia adalah “barang” incaran yang memiliki potensi nilai jual tinggi di hari mendatang. Dan, seingat saya, di hadapan ormas tertentu—juga tentara kadang kala—ia adalah dosa besar yang wajib dimusnahkan dengan alasan “Mengancam keamanan negara” atau “Membuat tuhan murka” hanya karena kegagapan memaknai “rimbun” janggut Karl Marx di sampul depan.

Bermodal ungkapan Teretianus Maurus, juga ingatan terhadap perlakuan “tidak senonoh” sekelompok orang terhadap sejumlah lektur, maka untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, saya terdorong untuk meramalkan nasib satu buku. Kira-kira, bagaimana di hadapan pembaca ia akan menuliskan riwayat hidupnya sendiri? Adalah buku berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive (Basabasi, 2019) yang mendorong hasrat purba untuk ramal-meramal nasib itu muncul.

Tahan dulu. Mungkin Anda tak sabar untuk memberi saya saran agar segera menghubungi LiNa Jobstreet, atau mengikuti gelaran Job Fair karena meramal nasib buku—bagi sebagian orang—adalah pertanda kurang kerjaan. Sekali lagi, sebaiknya tahan dulu saran itu, dan mari kita melompat menuju halaman 43. Di sana bersemayam satu cerita berjudul “Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan”.

Cerita pendek ini berisi 14 “rekaman”. Dengan tingkat kompleksitas cerita yang lumayan rumit—tentang kekacauan menjelang Reformasi, represivitas aparat, keluarga yang kehilangan anaknya karena korban peluru “nyasar”, juga kisah cinta—Aris tetap berhasil menyampaikan ceritanya dengan komposisi yang pas, juga keterkaitan antar fragmen cukup mudah untuk disimak.

Seperti Rumah Kopi Singa Tertawa (Banana, 2017) gubahan Yusi Avianto Pareanom, kisah ini terpencar dalam beberapa bagian, dan kita dituntut untuk meramunya menjadi satu cerita utuh bermodalkan percakapan antartokoh. Bentuk cerita semacam ini adalah perjudian, ia hanya memiliki dua kemungkinan; pertama, diingat karena capaian gemilangnya untuk keluar dari konvensi cerita pendek di Indonesia. Kedua, “diludahi” karena kegagalan menciptakan satu bentuk cerita yang eksperimentatif.

Tetapi beruntung, Aris termasuk pada kemungkinan pertama. Ia paham betul menjadikan dialog yang meluncur dari mulut antartokohnya sebagai senjata. Senjata untuk membangun satu suasana yang kacau, memberi citraan karakter para tokoh, juga roda penggerak cerita. Sehingga dialog bukan sekadar asal tempel seperti stiker kampanye para Caleg.

Di Rekaman 1, misalnya. Sepasang kekasih tengah melangsungkan makan malam terakhirnya, sebelum salah satu di antara mereka harus pergi menuju kejauhan. Sebagaimana kita tahu, perpisahan kerap menyulut pertikaian-pertikaian kecil, dan Aris berhasil menggambarkannya dengan cara yang jenaka, ia menjadikan kucing sebagai perdebatan dua tokoh rekaannya itu.

“Begitulah orang-orang kebanyakan di Negri ini, Raf. Mereka sengaja mengampuni kebengisan para makhluk hanya karena ia hewan kesayangan Nabi.”

“Sekarang kau mulai berlebihan, Mei.”

“Gak ada yang dilebih-lebihkan, Raf. Semua adalah kenyataan. Mereka bertingkah seolah pengikut Nabi tapi kela—“

“Stop Mei! Kau sama sekali gak tahu apa-apa soal Nabi dan berhentilah membicarakan Nabi atau apalah itu!” (Hlm. 45)

Atau, bagaimana “ketegasan”  aparat yang hanya diberikan ruang percakapan singkat di Rekaman 8.

“Apa semua sudah paham?”

“siap, Komandan.”

“Tim Mawar, mari bergerak!” (Hlm. 50)

23 cerita lainnya adalah kalkulasi antara humor yang ruah, perkara sepele yang menghadirkan kegetiran, wajah dunia yang murung dan—tentu saja—kecakapan Aris untuk membujuk kita turut serta pada pandangannya terhadap hidup;  yang sepele dan telanjur culas—terutama pada cerita bertajuk “Pada Malam Hari, Hal-hal Ini Terjadi”.

Sedangkan cerita berjudul “Ya Ampun, Pemuda ini Menonton Bokep dan Terkena Malapetaka yang Ngeri, Baca Selengkapnya…”, Ia menyuguhkan dua entitas yang sulit didamaikan oleh kebanyakan orang; yakni kejenakaan yang menghadirkan gelak, sekaligus kengerian—meski dengan intensitas yang cukup rendah. Kepolosan Fons yang nekat menelan cacing hidup-hidup agar sang “perkutut” memiliki diameter yang memuaskan, juga kelincahan Kalib dengan pisau lipatnya yang membawa satu capaian “Si cacing berhasil dikeluarkan dari tubuh Fons, begitu juga nyawanya.”

“Hubungan Baik Antara Budaya, Bahasa dan Kognisi Manusia” adalah versi alternatif—atau semacam parodi—atas proses turunnya Adam dan Eva dari surga menuju bumi, lengkap bersama apel yang ia curi di pohon belakang rumah tuhan. Sedangkan “Disleksia” adalah cerita yang benar-benar pendek, hanya delapan kata. Mengingatkan saya pada buku Matinya Burung-burung, kumpulan cerita sangat pendek Amerika Latin yang dihimpun oleh Ronny Agustinus. Atau novel super pendek yang ditulis Ernest Hemingway, For sale: baby shoes, never worn.

“Matinya Manusia” menuturkan percakapan antara sang Narator dan kambing yang ia beri nama manusia. Seluruh percakapan benar-benar menyulut tawa. Mari kita nukil bagian ini;

“Kambing, maukah kau kuambilkan air putih untuk kau minum?

“Kau bercanda?”

“Maukah kau kuambilkan segelas marimas?”

“kau Bercanda” (Hlm. 197)

Seperti ciuman dengan kekasih pertama, seluruh cerita dalam buku  ini akan menyita sedikit ruang di lingkar kepala Anda. Ia memberi kesan yang tidak mudah kita dapatkan dari buku cerita yang ditawarkan penulis Muda lainnya. Kecuali tiba-tiba kepala Anda terbentur oleh popor senapan, atau tubuh Anda tertukar dengan Alien penghuni Proxima Centauri—meski hal itu muskil  terjadi.

Buku bisa lenyap, tetapi cerita-cerita menarik akan menyala dan terus berkembang. Begitulah riwayat hidup sebuah buku di lingkar kepala kita. (*)

Latest posts by Muhammad Nanda Fauzan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.