Riwayat Pergulatan Identitas dan Jalan Pintas Menikmati Sastra bagi Kaum Milenial

Sumber gambar: suara.com

 

Jika sastra adalah obat gombal sejarah yang mujarab, saya berani bertaruh, sebagian besar anak-anak muda usia dua puluh tahunan ke bawah mungkin tak pernah mengerti apa itu sastra. Boro-boro soal sastra, buku mungkin menjadi benda yang asing bagi mereka. Kurikulum sekolah juga sepertinya belum serius-serius amat ngurusi sastra sebagai mata pelajaran. Ditambah, mereka tak memiliki ikon idola semisal, Lupus yang aktif menulis sebagai wartawan di sebuah majalah dalam film “Lupus: Tangkaplah Daku kau Kujitak” (1986), Boy dalam “Catatan si Boy” (1987) yang gemar menulis buku harian, atau bahkan seorang Rangga “Ada Apa Dengan Cinta” (2002) yang lihai menulis puisi. Ketiga tokoh itu mungkin sedikit banyak turut berperan dalam membentuk korelasi antara sastra dan maskulinitas. Bahwa pria berbuku adalah keren dan gagah. Lalu, bagaimana generasi masa kini mampu membaca karya sastra seberat dan setebal Bumi Manusia?

Sutradara Hanung Bramantyo berusaha menjembatani dua jurang pemisah itu. Sastra yang terlihat “berat” dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan tinggi disajikan dalam kemasan yang lebih ngepop: film. Meski demikian, gejolak pro-kontra film adaptasi novel Bumi Manusia ini telah mencuat sejak setahun lalu. Sejak pengumuman tokoh utama Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Aktor kinyis-kinyis yang lekat dengan sosok Dilan. Tapi justru dengan beragam kontroversi itu yang membuat film ini jadi membikin penasaran banyak orang.

Film dibuka dengan visual akhir abad ke-18. Seorang anak bangsawan, putra bupati Bojonegoro, Minke (Iqbaal Ramadhan) yang dipamerkan segala jenis produk modernisasi oleh kawan indonya, Robert Suurhorf (Jerome Kurnia). Mereka satu sekolah di Hooger Burgerschool (HBS) Surabaya. Produk-produk modernisasi itu antara lain kereta kuda, kapal uap, kereta api uap, telegram, es krim, hingga busana Eropa. Minke dibuat takjub oleh benda-benda “ajaib” yang telah merasuk ke negerinya di Hindia Belanda.

Secara tergesa-gesa, plot film langsung menukik ke romansa Minke dengan Annelies Mellema (Mawar Eva De Jong). Pertemuan antara Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Di saat itu pula, Minke langsung mengagumi paras ayu seorang indo atau blasteran pribumi-Belanda, Annelies Mellema.

Di lain pihak, Nyai Ontosoroh alias Sanikem merupakan manajer operasional dari pabrik perkebunan dan perusahaan susu termasyhur Boerderij Buitenzork di Wonokromo. Ia adalah istri tak resmi dari seorang Belanda kaya raya, Herman Mellema (Peter Sterk). Ia dijual oleh ayahnya sendiri, Sastrotomo, seharga 25 gulden kepada Herman untuk menjadi seorang gundik atau nyai. Alias istri simpanan kala itu. Meski seorang nyai, ia fasih berbahasa Belanda dan lihai dalam memimpin perusahaan Herman. Nyai Ontosoroh menjadi simbol perempuan Jawa yang perkasa.

Saya harus mengakui penampilan Sha Ine Febriyanti boleh diacungi dua jempol dalam memerankan sosok Ontosoroh. Gestur gundik dan dialek Jawa Timurannya sangat memesona. Begitu pula saat ia berbahasa Belanda. Hampir sama dengan sosok Minke. Iqbaal juga tampil meyakinkan di awal. Dengan mengenakan setelan jas dan topi ala Eropa, ia berperan sebagai pribumi cerdas yang mengenyam pendidikan Belanda. Saya juga angkat topi kepada Salman Aristo sebagai penulis skenario yang telah meracik “Bumi Manusia” pada dialog multibahasa Jawa-Belanda-Prancis-Cina-Jepang pada takaran yang pas. Tidak lebih, tidak juga kurang.

Hubungan percintaan antara Minke dan Annelies memulai segala macam konflik di cerita ini. Suurhorf yang lebih dulu jatuh hati pada Annelies lambat laun cemburu dengan Minke. Ia sering berlaku tidak adil kepada Minke. Terutama sering melakukan sindiran rasis sebagai pribumi. Demikian pula dengan Ontosoroh. Sejak Herman hobi mabuk-mabukan dan main perempuan, ia selalu geregetan dengan tindak-tanduk seorang Belanda gila. Baginya, Eropa gila sama saja dengan pribumi gila. Seteru ini yang hendak disampaikan dari “Bumi Manusia”. Ini bukan sekadar tentang sejarah penjajahan yang pernah menggerogoti negeri ini. Bagi saya, ini adalah pergulatan identitas antara Eropa dan pribumi. Atau Belanda dengan Jawa saat itu.

Pergulatan Identitas

Sebelum para pahlawan revolusi memiliki kesadaran kolektif untuk melawan penjajahan, sayangnya kolonialisme telah lebih dulu merongrong sendi-sendi kehidupan pribumi. Kekayaan alam dan manusia tak ada harganya. Mereka, para penjajah londo, merasa sebagai manusia unggul. Manusia beradab yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan pribumi adalah “monyet” yang menyerupai manusia. Hal itu tercermin dalam sindiran-sindiran londo kepada pribumi pada sekujur film ini. Begitu pula yang tampak pada sosok Suurorf, Herman, dan Robert Mellema yang hanya bangga sebagai Belanda tulen.

Jika kita merujuk pada pemikiran sosiolog Richard Jenkins (2004), identitas adalah persoalan pelik tentang bagaimana kita mengetahui siapa diri kita dan bagaimana orang lain mengidentifikasi diri kita, siapa diri kita dan ingin terlihat seperti apa diri kita. Dalam konteks “Bumi Manusia”, orang-orang londo itu tampak superior dibanding pribumi Jawa. Para londo merasa menguasai apa pun, termasuk hak asasi manusia. Jadi, segala bentuk penindasan yang tercermin di situ adalah legitimasi atas identitas sebagai Belanda. Sialnya, orang pribumi Jawa tak bisa apa-apa.

Sementara kajian lanjut mengenai identitas dari sosiolog Drajat Tri Kartono (2015), mengemukakan bahwa identitas merupakan bauran konsep diri dari proses konstruksi pengetahuan dan negosiasi individu atau kolektif atas ruang demarkasi, legitimasi, dan proyeksi keberadaannya. Ini yang tercermin pada sosok Minke dan Ontosoroh. Tokoh Minke dan Ontosoroh memainkan peran besar dalam pergulatan identitas. Minke sebagai pribumi tulen terbaur oleh gaya pendidikan Eropa. Sedangkan Ontosoroh terpengaruh oleh kegigihan Herman Mellema. Mereka berdua melawan tindakan semena-mena para londo sekaligus menentang praktik feodalisme di Jawa.

Sumber gambar: suara.com

Konflik identitas yang menjadi titik persoalan di “Bumi Manusia” tetap berlanjut sampai akhir film. Persoalan rasisme di sekolah, rasisme percintaan, bias gender, hingga watak feodalisme Jawa selalu muncul di setiap babak. Selesai dari kasus kematian Herman Mellema, Ontosoroh masih harus berjibaku dengan tuntutan anak tirinya, Maurits Mellema dari Amsterdam. Pengadilan Hindia Belanda juga menunjukkan sikap rasisnya terhadap Ontosoroh yang tak boleh menggunakan bahasa Belanda.

Di sisi lain, Minke masih harus menghadapi bapaknya yang melarang cintanya dengan noni Belanda, Annelies. Baginya, ia harus menjadi Jawa tulen yang patuh terhadap norma-norma dan perintah orang tua. Hingga akhirnya Minke menikahi Annelies pun, bapaknya tak tampak mendampinginya sebagai bentuk kekolotan dari watak priyayi.

Terlepas dari bagus tidaknya film ini, saya hampir tidak peduli. Beberapa kritikus melontarkan ada bagian-bagian yang keliru dari isi novel. Seperti misalnya tentang penangkapan Minke oleh polisi Hindia Belanda, asal-usul nama Minke, dan detail properti yang digunakan pada film berdurasi tiga jam lebih ini. Karena memang menurut saya, pada dasarnya sastra dan film adalah dua semesta yang berbeda. Roh sastra terletak pada imajinasi dan intelektualitas pengarang. Sedangkan nyawa dari film adaptasi adalah interpretasi sineas. Baik kognitif maupun teknis visual. Jadi, jika ada bagian-bagian yang tereduksi atau terdistorsi ya sah-sah saja sebagai film. Saya hanya menyayangkan sinematografi yang terlalu sederhana untuk ukuran film sejarah akhir abad ke-18 ini.

Film ini berujung pada kekalahan. Perjuangan dan pergulatan identitas yang telah dilakukan oleh Minke dan Nyai Ontosoroh untuk menumpas ketidakadilan berakhir pada pulangnya Annelies Mellema ke Belanda. Namun bagi Ontosoroh, tak ada perjuangan yang sia-sia. Seberapa pun payah dan kalahnya adalah tetap terhormat. Bagi saya sendiri, nilai kemanusiaan dari film adaptasi ini seperti apa yang diungkapkan Minke saat sungkem ibunya: saya ingin menjadi manusia bebas, tidak diperintah dan tidak memerintah. Ingin hidup di bumi manusia dengan segala persoalannya.

Gunawan Wibisono

Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak maupun online seperti Harian Kompas, Majalah Jasmerah, Midjournal, Sorgemagz, Warning Magazine, dan Geschieporia Magazine. Beberapa puisi dan esainya diikutkan dalam buku antologi TentangLangit (2012) terbitan Balai Soedjatmoko Solo dan Hajatan Aksara (2012) terbitan Taman Budaya Jawa Tengah. Pernah menulis skenario film pendek W.A.R (2012). Saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Lab Sosio FISIP UNS sembari merampungkan buku perdananya bertajuk Musik dan Gerakan Sosial.
Gunawan Wibisono

Comments

  1. Pro-Gusion Reply

    Cuwantuik Annalis 😍

  2. Wiwik Reply

    👍👍👍👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published.