Sajak-Sajak Ahda Imran

pinterest.com

 

Hidangan

 

Dari sahur ke magrib

Berenang tubuh ke tepian

Lapar hausku telah raib

Sebab Akulah hidangan

 

 

Sepasang Mata yang Lain

 

Kau mendesis di jantung bayang

 

Sepasang matamu berasal dari entah

Ke dalamnya sedang kuserahkan sekalian

yang kelak jadi kenangan; tubuh yang terusir

dari kata. Atau suara yang lebih menyerupai

raungan. Besar dalam asuhanmu

 

Sepasang matamu berasal dari entah

 

Seperti juga sepasang mata yang lain

Berdiam di kelopak padma

Ke dalamnya sedang kupulangkan

sebuah kata yang tak pernah bisa

kau jamah

 

Kau mendesis keras; melata ke atas tubuhku

 

 

Catatan 2020

 

Dalam jemaat

Tuhan membagikan kantung mayat

 

Wabah tak berlidah

Senyap manusia tak berjubah

 

 

Boulevard de Belleville

 

—Gani

 

Boulevard de Belleville yang panjang

Di ujung kelok bersimpang lengang

Di kedai kopi orang menatap dingin hari

Di luar kepak kata di pohon mati

 

Boulevard de Belleville yang panjang

Lalu kata ke lubuk angin bergulung

Lenyap di kelok jalan bersimpang

Di situ burung dan langit tak berujung

 

 

 

Perpisahan

 

Aku telah keluar dari tubuhmu

Meninggalkannya di suatu tempat ketika

kau mengucapkan sebuah nama sambil mengunci

gerbang di ujung sekalian jalan. Dengan nama itu

 

kau menyangka hidup bersamaKu

 

 

 

Kota Putih 

 

Aku melihatmu di sebuah kota

yang menjadi putih. Ketika gelap

bersalin lidah dengan terang. Ketika

orang-orang menemukan sisik ular

di bawah bantal, sajadah, dan altar

 

Bagai lebah mereka berkerumun—

memasuki tubuhmu. Mengangkut kecemasan

dan kebencian. Di padang lapang mereka

mengerang dan mengasah pisau

 

Kota seputih kafan. Kau berjalan

memanggul jenazah Habil, mengitari

Kota Suci, memandikannya

dengan percik bunga padma

 

Tubuh dan kakimu mengucur darah

Jemaat yang terus mengerang; berebut

daging dan darahmu. Mengitari tulang

belulangmu

 

Aku menemukan kematianmu

di sebuah kota yang menjadi putih

Kota yang kuciptakan dari percik ludah

 

dan pisau yang terus diasah

 

 

Yang Membelah di Pucuk Lidah

 

Tubuh dingin berkaki hujan

Langit putih rambut angin

Melambai kekasih di kejauhan

Manusia dan kata berpeluk ingin

 

Musim gugur pohon basah

Mantel biru tubuh perempuan

Gelap berpilin di kelok tikungan

Manusia membelah di pucuk lidah

 

 

 

Pelancong

       —Red Light Amsterdam

 

Cahaya menggenangi tubuhku

Pelancong melintas pandang belaka

Antara termangu dan kerling pendosa

Kuhafal benar bau nafsu

 

Rabi muda yang tampan

Dari dasar kanal ia bangkit

Menggeser bayang langit

Di atas alun air ia berjalan

 

Kawanan gagak menghilang

Ular pergi ke balik lalang

 

Rabi muda berdiri di muka kaca

Memanggul manusia dan kata

Tenang matanya putih jantungnya

Kuhafal benar luka bau darahnya

 

Rabi muda yang tampan

Jangan berdiri belaka

 

Bawa tubuhku ke dalam kata

Latest posts by Ahda Imran (see all)

Comments

  1. Rach Reply

    Kabupaten 50 Kota…. I miss you so much. Membuka kenangan tiga tahun silam.

    Salam dari kalsel…

Leave a Reply

Your email address will not be published.