Sajak-Sajak Ibe S. Palogai; Identitas Kesepian

in Puisi by
avifahve

Identitas Kesepian

Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.

Setiap orang memesan citra diri tiap pekan di penjahit langganan. Usaha memenuhi lemari dengan koleksi kemeja tak pernah berhasil. Sebagai zirah, kemeja ini cukup tebal, tetapi begitu tipis untuk tidur di bawah naungan benda-benda dan pelukan tepuk tangan.

Setiap orang mematahkan hatinya sendiri. Meyakini kebahagiaan adalah pencarian yang tersembunyi pada babak akhir. Ia membenci masa lalu tetapi menceritakannya sebagai bagian terbaik yang pernah mereka rayakan. Ia tak tahu, banyak orang mati dan menghabiskan tawa tanpa memahami definisi kebahagiaan.

Setiap orang tertipu oleh kesetiaan yang diciptakan untuk menipu diri sendiri. Begitu banyak yang tenggelam di permukaan. Sementara inti kehidupan yang tersisa hanya kedangkalan-kedangkalan yang direhabilitasi rahasia.

Makassar – 2018

 

Dingin Bermain Api

Di Munduk kasihku, dingin bermain api. Memeluk yang hampir membakar liar hutan yang tumbuh di tubuhku.

Kasihku, di sini, subuh sepanjang waktu. Menawanku seperti maaf yang tak pernah tiba pada inang amarahmu.

Angin timur dari lembah ini adalah separuh ingatanmu yang berusaha keras berkuasa melupakanku.

— Aku ingin sembuh dari mencintai bentuk. Juga nama yang terluka olehnya. —

Liar hutan di tubuhku adalah belukar terbaik bagi penjahat bersembunyi. Aku selalu menemukan diriku di sana atau mungkin semua yang sembunyi adalah diriku. Lari dari masa lalu yang kasar, berjarak dari kemarahan yang memar, dan penyesalan selalu menukar kebahagiaan dengan trauma yang samar.

Tetapi wajahmu yang tak pernah sabar melupakanku, dengan dendam kau pelihara di mata, menemukanku sekali lagi dalam api.

 

 

Munduk – 2018

 

 

Secangkir Kopi untuk Petualang yang Berteduh di Rimbun Pohon

Secangkir kopi menikmati rasa asing dari orang-orang yang ia cintai, tersisih seorang diri di tepi meja pelarian. Menunggu lilin padam dan gelap satu-satunya yang mampu ia percaya.

Petualang menempuh jalan berbeda dari orang-orang yang ia cintai, tetapi mencari mereka di persinggahan ketika kesepian terasa lebih panjang dari jalan yang telah ia tempuh.

Sebatang pohon di halaman rumah menulis sajak di tubuhnya, untuk kekasih yang senantiasa ia tunggu, untuk kekasih yang tak pernah ia tanam, untuk kekasih yang keberadaannya hanya dirasakan ketika luka meruah.

Secangkir kopi untuk petualang yang berteduh di rimbun pohon. Adakah kau telah berhenti menemukan dirimu dalam sajak ini, Kekasih?

Makassar – 2018

 

Tentang di Luar Kurung

Pertanyaan atas realitas adalah mangga mengkal. Dipetik ketika Adam datang bulan. Perempuan pertama mencium keningnya masih putih rusuk di rongga udara.

Bisakah aku mencintaimu di bumi ketika kau orang asing di pegunungan, memeluk gugup bayangan, dihapus

dari kalimat panjang yang melelahkan, diserbuki debu-debu perjalanan yang belum kita namai.

Kaukah tidur yang kutunggu sebelum mimpi rampung disulam iblis. Di ruang tunggu stasiun yang diperbaiki para ilmuan, mereka mencari tahu mengapa aku suka menunggu di tempat berbeda untuk hal yang sama.

Mimpi dikirim dari tempat Adam kesepian dan telanjang. Kini aku dapat bangun setiap pagi dari kematianku di tubuh orang asing.

Makassar – 2018

 

Dunia Silam yang Bersengketa

Percakapan tinggal dering jam pukul lima di tubuh kekasihmu. Ide tentang kesetiaan bersumber dari hukum moral. Pencarian konsep atas bunyi dan kenangan dimulai dari meninggalkan tempat tidur.

Tetapi selimut menutup serangkai antinomi. Pejam mata berkuasa atas reaksi telinga yang resah. Kondisi lain dari terjaganya kemalasan yang bertugas mengalirkan pikiran-pikiran liar. Tentang milik dan apriori kejatuhan

benda pada perempatan setruk belanja awal bulan.

“Kenangan adalah bahasa asing yang diterjemahkan seorang martir melalui asisten google.”

Ia meninggalkan tempat tidur setelah berdamai dengan dering jam di tubuh kekasihnya. Simpulan menderas di meja makan yang lowbat.

Kenangan ternyata dapat dimakan seperti sarapan.

Makassar – 2018

Ibe S Palogai

Lahir di Takalar, Sulawesi Selatan. Giat di Institut Sastra Makassar. Buku terbarunya Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi (GPU, 2018)

Latest posts by Ibe S Palogai (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.