Sajak-Sajak IDK Raka Kusuma; Di Sudut Puisimu

Ceslovas Cesnakevicius

DI SUDUT PUISIMU

 

di sudut puisimu, Raka

ada toko kelontong tua

menjual barang kedaluwarsa

bertahun-tahun terpajang

serupa benda di tempat lengang

 

tetapi pemiliknya

setia membuka

 

di meja kasir dia duduk

tak pernah menunduk

memandang ke arah jalan

selalu penuh harapan

suatu saat pasti ada

datang berbelanja

 

di depannya

tak ada botol minuman

tak ada tempat makanan

yang ada cimpoa

lusuh dan tua

tak pernah disentuh tangan

 

perkenalkan aku padanya

akan kukatakan, saudara

kesetiaan pada yang sia-sia

kesetiaan tak ada bandingnya

 

sesudah berjabat tangan

sejumlah uang kusodorkan

sebagai tanda

aku pembeli pertama

 

/2019/

 

 

DOA SEPANJANG KEMARAU

 

Maha Air, di mana pun berada

hendaknya segera di jiwaku ada

 

kualirkan ke timur jadi sungai putih

memantulkan sinar jernih

kualirkan ke barat jadi sungai kuning

memantulkan sinar bening

kualirkan ke utara jadi sungai hitam

memantulkan terang tanpa setitik kelam

kualirkan ke selatan jadi sungai merah

memantulkan sinar cerah

 

usai merapal mantra

kualirkan ke segenap sawah ladang

benih apa pun

tanaman apa pun

ketika disentuh menjulang seketika

sarat buah matang

pemiliknya melihat serta merta berdendang

kekallah mengalir di sini air karunia

 

lalu kualirkan ke muara

tiba di laut menjelma suara

kami air hidup

mengalir dari jiwa pemberi hidup

kekal berdegup

 

Maha Air, di mana pun berada

hendaknya segera di jiwaku ada

Kau tak akan tiada

 

/2019/

 

 

DARI SAKIT MENUJU SEMBUH

 

dari sakit menuju sembuh

sangat panjang jarak kutempuh

 

tak ada jalan lurus

tak ada jalan mulus

berliku

berdebu

di kiri kanan

tak ada pohon hijau

dihinggapi burung berkicau

di kiri kanan

jurang menganga

dalam tak terkira

kabut mengambang di atasnya

menampakkan pemandangan mengerikan

 

sepanjang jalan

saat hujan

pada air di udara

kuburan bergelantungan

dengan nisan

berisi pahatan nama

tak terbaca

 

kilat di angkasa

menukilkan peta

menuju tempat gulita

entah di mana

 

pagi dan siang

saat terang

terdengar suara orang mengerang

senja, malam, saat menakutkan

terdengar teriak kesakitan

terdengar jeritan mengaduh

riuh, gaduh

walau sesaat, dini hari

tampak bergelimpangan

tubuh berlumuran darah, mati

 

dari sakit menuju sembuh

sangat panjang jarak kutempuh

o, berbulan-bulan

o, menjalar perih di badan

 

yang kutuju ada

di pedalaman diri

jauh, terpencil, tersembunyi

akankah tiba?

 

/2019/

 

 

LEMBAH SUDAMALA

 

/1/

aku kemari

melewati hutan suci

 

di sela ranting patah

terserak di tanah

tak terlihat jejak

tanda tak ada   menapak

 

bau harum menyebar

dari cabang

dari batang

pepohonan menjulang

juga dari sembulan akar

panjang menjalar

 

bau lumut dan cendawan

serupa aroma pedupaan

saat pendeta

memuja para dewa

memohon kesentosaan dunia

 

yang kulintasi

sejuk dan berkilau

yang kulintasi

memancarkan sinar hijau

 

/2/

bersila. pada pawana

kulukis mega

berbentuk candi purba

 

di bawahnya

pondok beratap rumbia

berdinding daun kelapa

penuh nukilan aksara

dikitar rumput

tanpa henti berdenyut

 

seseorang menghuni

bersemadi

 

seseorang itu, Rsi tua

di masa purbakala

memberkati leluhurku

di sini. di atas batu

berbentuk sekar padma

sembilan warna

 

/2019/

 

 

SESAT DI JALAN BAHASA

 

mencari jalan kata

aku sesat di jalan bahasa

 

di kiri kanan menjulang rumah huruf

pintu-jendela terbuka tertutup

berbentuk tanda baca

ada berbentuk koma

ada berbentuk titik dan titik koma

ada berbentuk tanda tanya

berbentuk tanda seru beberapa

 

marka terpancang pada tiang

berbentuk lambang

tak bisa kupahami

tak bisa kumengerti

walau memperdengar terjemahan

terkadang keras terkadang pelan

 

bergelantungan terlihat

rangkaian kalimat

tiap akan kubaca melesat

 

yang hilir mudik

sosok berbentuk titik-titik

tak ada yang berkata

tak ada saling menyapa

tak ada debu

tak ada kendaraan melaju

 

tak tahu mana timur mana barat

mana utara mana selatan

langit jauh sekaligus dekat

tak berwarna, tanpa awan

ada tulisan mengitar

matahari, melingkar

bergetar

berdenyar

 

ingat rumah kelahiran di kota sastra

aku berbalik. terpana

jalan yang kususuri semula

tak ada, tak ada

 

/2019/

 

 

BELAJAR MENARI

 

berdiri dalam kalangan

lampu yang menyala

jadikan

bulan sempurna

rumput yang membentang

jadikan hamparan

tempatmu berpijak, teduh dan terang

 

panggil penari utama semesta

minta di depanmu berdiri

minta menyatukan diri

sesudah diri kau buka

 

minta bergerak tangannya

seraya menggerakkan tanganmu

minta melangkah kakinya

seraya melangkahkan kakimu

minta melirik matanya

seraya melirikkan matamu

minta bergetar bahunya

seraya menggetarkan bahumu

 

sebab dua raga

membawakan tarian

sebab dua jiwa

membawakan tarian

tak akan kau lelah

napasmu tak terengah-engah

 

bila ada suara mendesah

semua salah, semua salah

bantah dengan ucapan di hati

apa pun benar pada tarian ini

 

bila ada bisikan kau dengar

tak ada, tak ada yang benar

bantah dengan kata-kata di hati

apa pun sempurna pada tarian ini

 

suara itu

bisikan itu

milik sang pengganggu

hanya aku yang tahu

 

berdiri dalam kalangan

pejamkan mata

bila dari dalam dirimu ada

wujud keluar terasa

lambaikan tangan

ucapkan pelan

selamat jalan, selamat jalan

 

/2019/

IDK Raka Kusuma

Lahir di Klungkung 21 Nopember 1957 Kumpulan cerpennya Tanah terbit tahun 2017. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Bali.

Latest posts by IDK Raka Kusuma (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Trims

  2. Novita Reply

    gudgud

  3. zieah Reply

    love tulisan ini

  4. Anang Reply

    Jos pembaca setia puisi basabasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.