Sajak-Sajak Ina Herdiyana; Usia Pagi

 

USIA PAGI

dari seribu tangan kita dilahirkan

bermandi aksara dan bara

pada kusam tanah rawa

kita hanya punya seikat benih

kelak menuai banyak arti

biar larat merayap

niat tak berkarat

seperti Syarifah Ambami menetap pada satu janji

sang kekasih

pada fajar pertama, merebaklah angsoka

membuka sejuta mata

membujuk tangan-tangan bekerja

senandungkanlah bait-bait nurani

yang mengalir dari kesunyian

melepaskan amuk redam

menarilah, memutari satu masa

hingga sampai pada mula

ibarat kapal,

kita sedang berlayar bukan?

begitu cepat usia beranjak

kini kita bukan lagi anak-anak

yang haus pelukan ibu

saat hantu-hantu menyusup di ambang pintu

di sudut malam itu, cermin menyorot kita

mencipta rahasia, saptadasa

masih pagikah usia kita?

Bangkalan, 2021

 


INGATAN

rinai pagi ini memanggil-manggil namamu

pada derai kuncup bunga tanjung

tempat ikatan kita berujung

iramanya makin keras

sekeras ingatanku pada satu tempat yang

orang-orangnya rajin sembahyang

dan jalanan dipenuhi bau kamboja

tiap menjelang petang

setanggi merebak menajamkan ingatan masa silam

pada rinai pagi ini,

ada yang tak bisa kusembunyikan dari dinginnya

detak jantung dan seribu langkah

yang terus bergerak menghimpun jejakmu

Bangkalan, 2020

 


MEMORIA

sore itu, tak ada siapa-siapa

orang-orang hanya bayangan

tubuhku sendiri, duduk di atas bangku tua

sepi

menelan ritme hujan

antara tiktak dan roda keheningan

memacu jiwaku

satu di antara garis tiktaknya jatuh ke tangan

membasahi catatan

yang kubawa ke segala penjuru

di sana, pernah kurangkum seluruh rindu yang gaduh

sore itu, tak ada siapa-siapa

di ujung mataku, tanjung menari cemas

papan reklame bimbang

menimbang antara gerak dan diam

sepanjang jalan

anak-anak sungai meluap

air mata menggenang

Bangkalan, 2020

 

TAMAN

entah berapa lama

orang-orang dari seberang jauh

datang ke taman ini

digalinya beratus hasta

ceruk bumi yang

menyimpan warisan tak terkira

saat hujan lebat

orang-orang berpayung, berlarian

memburu sekeping emas

dan benda-benda purba

lahir menantang hasrat

Bangkalan, 2020

——-

Taman adalah nama dusun

di pesisir Desa Romben Guna,

Kecamatan Dungkek, Sumenep,

yang pasirnya dipercaya mengandung

butiran emas.

 

 

KEMBANG LAUT

kembang laut

tumbuh, tumbuhlah di tangkai waktu

di bibir teluk

hari-hari memeram sunyi

dari terik dan buih

di laut, apa yang bisa kau rindu?

dadanya bergolak

disapu ombak segala derap

bila malam beringsut

bintang tenggelam

ke dasar hati

langit muram kembali

di laut, apa yang paling berarti?

kembang pun hanyut

mencari lubuk dalam diri

Bangkalan, 2020

 

 

LASKA

di kota ini, kali kedua kita bertegur sapa

buah pemberianmu

masih kusimpan di saku masa

selonjong anak kelapa

yang lahir dari tanah luka dan tapa

orang-orang menyebutnya manis raja

katanya, siapa pun menelannya

akan terbang tak kasatmata

seperti dewa senja kala

laska

di kota ini, kutemukan banyak tanda

apakah kita terlahir dari ibu yang sama?

tapi mengapa darah yang mengalir

di tubuhku tak sewarna

dengan darah yang mengalir di tubuhmu?

Bangkalan, 2020

 

 

TONDUK

namaku tonduk

tubuhku berharkat waktu

usiaku berlafaz gemuruh

ombak-ombak berdebur

pasang surut dalam mataku

la yamutu

pasir-pasir pecah

menguning pada rambutku

yang mengering

namaku tonduk

pulau perempuan

menata hidup di garis pasrah

seperti tangan dermaga

lapang menerima kapal-kapal

dan tak gamang kala ditinggal

namaku tonduk

penjahit malam bagi pelayar

2018–2020

——-

Tonduk: Nama desa/pulau di Kecamatan Raas,

Kabupaten Sumenep. Mayoritas penghuninya

adalah perempuan sehingga disebut Pulau Putri.

Latest posts by Ina Herdiyana (see all)

Comments

  1. Ipumk eetoh Reply

    Mantap

  2. Pangeran Diksi Reply

    Kapan gilirankuuuu

  3. Samsul Reply

    Kereeeen, kapan aku nyusul beginian ya

  4. Shintaa Reply

    Bismillah nyusul

  5. lintang Reply

    cakeppp

Leave a Reply

Your email address will not be published.