Sajak-sajak Irianto Ibrahim; Yang Berakhir dengan Pertanyaan

Muiz Moktar

PADA SUATU HARI

 

ketika kau tanya padaku

berapa jarak antara siang dan malam

sesingkat senja, jawabku

tidak lebih dari satu kedipan mata

 

lalu kau tatap mataku

seperti mencari sesuatu yang hilang

mataku gelap dan dingin, katamu

segelap malam, sedingin palung laut

 

angin berembus di antara kita

bias senja menerpa wajahmu

riak laut berwarna keemasan

dan di kejauhan sana tampak

seorang nelayan memasang layar

membiarkan angin membawanya pergi

menjauh menuju pulau-pulau

 

kemudian kita beranjak pergi

meninggalkan pantai

dan bersiap menyalakan lampu-lampu

berapa jarak antara malam dan siang, tanyamu lagi

sesingkat fajar, jawabku

tidak lebih dari satu kedipan mata

 

lalu kau rebahkan kepalamu di dadaku

menyimak detak jantungku

sambil  menghela napas

kemudian memejam mata

 

angin berembus perlahan di antara kita

lolong anjing yang jauh bersahut-sahutan

dua ekor cicak berebut laron yang mendekati cahaya

dan samar-samar dari tetangga sebelah

seorang ibu kedengaran memanggil anaknya

 

ketika tengah malam

kau tiba-tiba terbangun

keringat memenuhi dahi dan lehermu

wajahmu pucat

dan suaramu serak memanggilku

katakan padaku berapa jarak

antara hidup dan mati, desakmu

sesingkat kedipan, jawabku

tidak lebih dari satu tarikan napas

 

Kendari, Januari 2019

 

 

Percakapan Selepas Hujan

 

ke mana perginya bintang-bintang di malam gelap

begini rupa? bersembunyi di antara gerimis

ataukah mengendap di balik bola matamu?

 

kau menarik napas pelan

tak bisa bicara

tak ada jawaban

 

atau kau mengira

bintang-bintang telah berjatuhan

serupa daun gugur

di musim berangin ini?

 

hujan jadi deras

bunyi air di atap makin berisik

 

tidak sayangku. bukan begitu

pada kunang-kunang memang

kutemukan juga cahaya kerlip

tetapi bagi pelaut sepertiku

tak akan cukup hanya menghafal

suara ombak yang memukul lambung perahu

 

langit makin gelap. laut juga gelap

hujan yang deras menghalau percakapan kita

kau mendekap tubuhmu dengan tangan gemetaran

bibirku jadi biru menahan gigil

 

ke mana perginya bintang-bintang di malam gelap begini rupa?

 

Kendari, Januari 2019

 

 

Yang Berakhir dengan Pertanyaan

 

bisakah kita saling bicara seperti dulu

seperti ketika pertama bertemu

dengan suara yang dipelankan

dengan tatapan yang ditundukkan

 

saya merindukan degup jantungku yang dulu

perasaan gembira seperti kanak-kanak:

takjub pada segala hal baru

atau ketawa terbahak-bahak yang sering kali

berakhir tangisan, entah karena apa

 

tapi usia tidak berhenti sampai di situ

seumpama bola, ia menggelinding di tanah lapang

disepak kaki-kaki takdir dan menjauh dari cita-cita

seseorang akan memungutnya, mengembalikannya ke tanah

lapang lagi. untuk disepak lagi hingga peluit menyudahi

 

masih bisakah kita bicara seperti dulu

saling memandang dengan tatapan teduh

dan suara rendah serupa bisikan

 

saya membayangkan suasana pagi yang syahdu

menunggu matahari muncul dari balik gunung itu

menghayati kesegaran daun-daun berembun

dan menanti binar matamu tepat sesudah lampu teras itu dipadamkan

 

adakah kau mengira segalanya hanya khayalan?

hanya harapan kosong yang berakhir sia-sia?

 

Kendari, Januari 2019

Irianto Ibrahim

Lahir di Gu-Buton, 21 Oktober 1978.
Bergiat di Komunitas Arus Kendari, Sulawesi Tenggara.
Buton, Ibu dan Sekantong Luka adalah buku puisi tunggalnya yang pertama.

Latest posts by Irianto Ibrahim (see all)

Comments

  1. muh.dinil ahiri Reply

    keren sklai bosq

  2. Manaf Reply

    Tetap menggeliat puisi puisinya pa Irianto Ibrahim

  3. Anonymous Reply

    Keren memang ka anto…. Proud to you 😍

  4. Kharisma Damayanti Reply

    Suka sekali dengan puisi-puisinya 👌👌

  5. Mimi Reply

    Seperti sore tadi, ah tidak. Mungkin sudah berbulan-bulan lamanya.. Saya kagum dengan bapak Anto.
    Sukses selalu 🙏 saya menanti antologi puberikutnya😊

  6. Mimi Reply

    Seperti sore tadi, ah tidak. Mungkin sudah berbulan-bulan lamanya.. Saya kagum dengan bapak Anto.
    Sukses selalu 🙏 saya menanti antologi puisi berikutnya😊

  7. Anonymous Reply

    Keren abiz….Mantap

  8. Yurass Reply

    Keren sekali. Salam sesama penikmat sajak dari Kendari 🙏

  9. Anonymous Reply

    awww…. sesingkat kedipan..
    tak lebih dari satu tarikan nafass..

Leave a Reply

Your email address will not be published.