Sajak-Sajak M. Helmy Prasetya

 

Ong dan Maut

Ia gambar maut dari sisa napas

Suaranya muncul tapi terdengar jauh

Matanya melihat ke lubuk dalam

bagi segala batas yang berakhir

“Aku akan berakhir … tapi benarkah?”

Demam hinggap, tangannya mendekap

beban segala hal yang pernah terjadi:

seperti sejarah ia pernah mencintai

perempuan berwajah dewi, yang membuat

hidupnya jadi layak, dan terus membijak

Juga kisah gaji yang mungkin hanya cukup

untuk diri sendiri

Terlihat, kakinya berpudar warna

Sedikit gugup sedikit hampa

Kadang dingin kadang nyengat

Lehernya, menjelaskan fungsi iba

dan arah derita

Membentuk sendiri bunyi udara

dengan aliran yang sesak

“Sudah sebentar lagi. Sebentar lagi ….”

Untuk kesekian, ditatapnya kembali

tanda-tanda dunia yang pernah melanda

di wajahnya:

aroma pintu, potret ibu, sebuah sajadah

di samping tasbih yang menggantung

dan tak sempat dicuci

Juga tas kerja yang menjanjikan

hari tua, dengan sunahnya yang setia

Perlahan, seperti daun jatuh dari dahan

ia terpejam pelan-pelan

Bangkalan, 2021

 

 

Bram dan Maut

(Ketika ia tak bisa lebih lama lagi

besanding dengan segala kenang)

Yang melekat di paru-paruku

ingin segera kusisihkan

Walau ia terbuat dari goda dan keinginan

yang dapat memanjangkan hitungan usia,

walau sama sekali aku tak paham apa-apa

apa makna umur yang menekat pada tubuh,

dan membukakan mata melihat

kenyataan dunia

Yang melekat di paru-paruku

ingin segera kusisihkan

Agar bisa kutangkap tafsir-tafsir hidup

yang hilang dari napasku berembus

kencang

Yang melekat di paru-paruku

ingin segera kusisihkan

Karena jika suatu saat diri terpapar,

maka kunyatakan bahwa di kala itulah

kudapatkan warna ampunan

Dengan begitu, dengan sepenuhnya

dapat kurindukan kehidupan

Bangkalan, 2021

 

 

Mesdi dan Maut

Hal yang rendah hati darimu—

bagaimana engkau menyambut maut

dengan tersenyum

Tak melukai, dan tersusun rapi

seperti puisi

Bangkalan, 2021

 

 

Bagus dan Maut

Pada suatu waktu

kita saling mengingatkan

ketika kita rindu

pada seseorang yang tiada,

pilihannya hanya satu

Yaitu takkan pernah bisa

bertemu lagi

Bangkalan, 2021

 

 

Soni dan Maut

Aku ingin beriman

dengan maksud tak bersandiwara

Dalam lakon apa pun

Tapi kehendakku terlalu kecil

untuk bisa bertahan di dalam naskah

Yang Maha Besar

Ajal adalah hadiah terakhir

yang cuma bisa diterima oleh peran

dengan menjadi diam

Meski pada suatu adegan khusus

dengan cara tak berkutik,

kita mampu melihat malaikat

tengah membawa tali ikat

untuk menarik sesuatu dari tubuh

Seperti slide show

Seperti slow motion

Menarik, lalu mencarik

Dan membuat tubuh rubuh

Menjadikan ruh terpisah dari peluh

Lalu utuh ke bawah runtuh

Ke dalam pertunjukan paling gelap

dan tak riuh

Bangkalan, 2021

 

 

Roci dan Maut

(Tapi sayang, kita tak pernah

bertemu lagi)

Untuk laki-laki itu

Saya sering menyebutnya

sebagai cinta yang seimbang

bahasa yang jujur

juga rahasia yang tak mendustai

apa-apa

Jika sempat bertemu

Saya selalu sampaikan

bahwa ia adalah sebuah film

yang alurnya mengagumkan

dan bahagia

Jika bertemu lagi,

saya pasti sampaikan

untuk kesekian kali, bahwa

yang terindah dari hidupnya

adalah caranya mengagumi bahagia

Bangkalan, 2021

M Helmy Prasetya
Latest posts by M Helmy Prasetya (see all)

Comments

  1. soim anwar Reply

    Salam settong dara.. tretan madura

    • Rizky akmalsyah Reply

      Two thumbs up! Luar biasa puisinya…

  2. Kawe Reply

    Mantabs puisinya kental…

  3. Syahrul Hanafi Reply

    Itu mautt puisinya kawan…

  4. Jayamaneez Reply

    Aggoh……
    Ba ha ya

    Aggoh…..
    Diingatkan lagi

    Aggoh…..
    Segalanya milikNya

    Aggoh…..
    Semuanya,

    -maut

  5. Moh Ridlwan Reply

    Mantap

  6. Buyung Reply

    Membekukan waktu dalam kasih Tuhan, indah pasti.

  7. M Helmy Prasetya Reply

    Terima kasih pak

  8. M Helmy Prasetya Reply

    Terima kasih semuanya

  9. Dirga Reply

    Alapiu, mas.

  10. M. Helmy Prasetya Reply

    Depade Mas Dirga yang cakep

Leave a Reply

Your email address will not be published.