Sajak-Sajak M. Helmy Prasetya

in Puisi by
surrealistisch.blogspot.co

Nepa: Hadiah Kepala

 

 

Di Nepa, kera-kera itu menerima

setiap kata-kata yang harus terlaksana

menjadi dewa: dewa bunga, bermula

dari hukuman pancung kepala

 

Lalu patih apung menuntut laut timur

Arosbaya untuk menjadi bumbu tempurung

di atas daun pelasa: Pranggulang namanya

 

Kemudian, menjelmalah. Menjelmalah

mereka selanjutnya menjadi kampung

bukit cerita:

 

cerita kayuh –cerita perengkuh

semua yang berlalu sampai mereka

percaya kepada tenggara

 

“Mintalah segera ampun kepada udara

sebagaimana bias nasib manusia untuk

tujuh usia!”

 

Kera-kera itu berkata, membuka cela

rahasia, seperti upacara yang tak bergerak

di antara mulut dan mata

 

Maka, darinya, mereka pun melaksana

ikhtiar pendar, perasaan ikrar, dan debar

cahaya pantai yang pernah melahirkan

darah pertama: di tepi utara, di selat muara,

yang ulung, yang mengalahkan tabiat harkat

raja-raja kera dahulu kala

 

“Ibunda, mengapa engkau harus bermula,

jika tak tangguh kepada derita”

 

Demikian selanjutnya terdengar suara

Seseorang, yang mungkin juga bukan suara

seseorang

 

Bangkalan, 2017

 

Lalu, Berkatalah

Seorang Patih Kepada

Kekasihnya

 

 

Bacalah perang Shiffin

yang menawan itu. Lalu jangan

berkata menyedihkan,

menyedihkan

 

Harga kisah saudara

Tugas yang tinggi

Atau yang terlalu luas

untuk persahabatan bumi

 

Telah kutuliskan itu di matamu,

Kasih. Hingga ke bintang

 

Dan mati di hati

 

 

2018

 

 

Lesap Pun Meminta

Cakraningrat

 

 

Ayah, di mana bantalku?

Berupa cermin batin berliur hangat,

ilusi hidup, dan judul-judul mimpi

hari tua yang ingin aku turuti

kepulasannya

 

 

 

2018

 

 

*Lesap, anak selir, penentang kebijakan Belanda, dianggap pemberontak karena memerangi Raja Cakraningrat, ayahnya,

Raja Madura Barat

 

 

 

Prajurit yang Menceritakan

Kematian Lesap

 

 

Prajurit itu tak tahu, siapa yang bakal

percaya padanya

 

Bahwa sebelum terbunuh dalam gegar amarah, ia mendengar Lesap mengungkap perasaan cintanya kepada bianglala

 

Cinta hitam bagai belantara, seperti menghabiskan:

 

*“Ibu, jika aku mati, hanyutkan jasadku ke sepanjang sungai di utara. Agar terbasuh hati ibu yang pernah jadi hitam. Sebab semua demi ibu, semua demi keluhuran, semua demi warna-warna yang pernah ibu ajarkan kepadaku.”

 

 

2018

 

 

 * bagian yang diambil dari naskah drama “Jiwa Asmara” yang berkisah selir yang sia, karangan penulis

M Helmy Prasetya

M Helmy Prasetya

Pendiri Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan. Penggagas Festival Puisi Bangkalan. Bukunya puisinya “Tamasya Celurit Minor”, “Mendapat Pelajaran dari Buku”, “Mata yang Baik”, dan “Antropologi Hilang”. Sekarang menjadi tenaga pengajar di STKIP PGRI Bangkalan.
M Helmy Prasetya

Latest posts by M Helmy Prasetya (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.