Sajak-Sajak Miroslav Holub

pinterest.com

 

Menunggu

 

Orang yang menunggu adalah ibu,

jari-jarinya tertambat

di banyaknya pintu otomatis dunia,

pikirannya seperti

ngengat serat telur yang terjepit hidup-hidup,

dan di tasnya tampaklah sebuah cermin

waktu yang lama berlalu oleh suatu ketika

teriak yang gembira di pepohonan apel,

lalu di rumah itu gulungan dan ulir benang itu sama-sama berbisik:

Apa yang terjadi pada kita?

 

Orang yang selalu menunggu adalah ibu,

dan takdir dari seribu hal adalah

jatuh yang tak terhindar.

 

Orang yang selalu menunggu adalah ibu,

mengecil terus mengecil,

memudar terus memudar

detik demi detik,

Hingga tuntas

tak ada yang melihatnya.

 

 

Lima Menit Setelah Serangan Udara

 

Di Pilsen,

Di Jalan Stasiun Dua Puluh Enam,

hingga Lantai Tiga perempuan itu memanjat

di loteng yang segalanya tertinggal sudah

dari rumah,

ia membuka pintunya

di atas langit,

berdiri di atas tepi yang menganga.

 

Dulu, di sinilah tempat

berakhirnya perang

 

Lalu

dengan hati-hati ia mengunci

agar orang lain tak mencuri

bintang Sirius

maupun Aldebaran

dari dapurnya,

kembali turun ke bawah

dan sendiri duduk

menunggu

demi rumah agar bangkit kembali

dan demi suami agar bangkit dari debu

dan demi tangan dan kaki anak-anaknya agar tertancap

kembali pada tempatnya.

 

Di paginya mereka menemukan si perempuan

diam membatu,

burung-burung pipit mematuk tangannya.

 

 

Pelabuhan

 

Sebab laut telah diukur

dan terantai pada bumi.

Lalu bumi diukur

Dan terantai pada laut.

 

Mereka mengeluarkan

derek, malaikat kurus,

mereka menghitung

raungan sirene janda,

mereka meramalkan

pelampung yang gugup dan resah,

mereka membuat garis

labirin dari rute dunia.

 

Mereka mendirikan

kapal-kapal Minotor.

 

Mereka menjelajahi lima benua.

 

Bumi telah diukur

dan terantai pada laut.

Dan laut telah diukur

lalu terantai pada bumi.

 

Yang tersisa hanya

rumah kecil di atas terusan itu.

Laki-laki yang berkata lembut,

mata perempuan itu bertemankan air mata.

Yang tersisa hanya lampu senja,

benua pada meja,

taplak meja, burung camar yang tak pergi menjauh.

 

Yang tersisa hanya

secangkir teh,

samudra terdalam di dunia.

 

 

Miroslav Holub adalah penyair dan ahli imunologi Ceko yang lahir pada tanggal 13 September 1923. Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku Selected Poems – Miroslav Holub (1967) melalui versi bahasa Inggris Ian Milner dan George Theiner. Penerjemah versi Bahasa Indonesia adalah Eka Ugi Sutikno yang kini menjadi salah satu redaktur Buletin Tanpa Batas, anggota Kabe Gulbleg, dan aktif mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Eka Ugi Sutikno

Latest posts by Eka Ugi Sutikno (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.