Sajak-Sajak Mustofa W Hasyim

(Twisting Roads by Graham Sutherland)

 

SEBENARNYA AKU MERINDUKANMU

 

Di kotamu wajah bulan

Menggoda langit hati

Gedung-gedung baru

Meruntuhkan kampung dan desa

Juga kata-kata

Pernah mengalir lewat surat kita

 

Di sini yang tak berubah

Hanya nama-nama

Dan kenangan kccil

Makan siang di rumahmu

Rasa asinan dan masakan ikan gabus

Kuahnya membasahi rindu

 

Peristiwa-peristiwa datang

menggempa

retak hasrat karena waktu

sungguh menenggelamkan

luka

membisu.

 

 

2019

 

 

 

MENUJU JALAN RAJAWALI

 

Hampir semua jalan, searah

melingkar-lingkar bagai waktu

 

Kota bertambah tua, banjir konvoi

pengemar bola meledakkan knalpot

 

Menonton ini teringat waktu muda

Suka berjoget di atas jok membara

 

”Sia-sia?”

”Tidak.”

 

Jalan Rajawali ketemu, Rumah Sakit

dan Pasar Swalayan telah buka

 

Sambil mengunyah cakue mini

menunggu jemputan tiba.

 

2019

 

 

SEPANJANG JALAN PULANG

 

Dua jam

antre menuju persimpangan

yang pulang ke barat ketemu

yang pulang ke timur

 

Anak-anak bertengkar

di dalam mobil

menimbun amarah

dan lapar

 

Warung-warung menyerah

kehabisan nasi

dan lauk perangsangnya

 

Malam menaklukkan percakapan

juga tikungan dan gelombang jalan

seperti tidak ada ujungnya

 

Di antara Ciamis dan Banjar

ada warung Pelipur Lapar

pepes bandeng, ayam goreng

dan oseng-oseng genjer

 

”Lumayan, sebelum masuk hutan

Penuhi dulu perut sampeyan,” bisik sopir

Aku mengangguk ke arah teh panas

ini perjalanan memang tanpa jeruk hangat

 

Seperti pasukan menuju medan tempur

Semua jiwa menjadi segar kembali

Diiringi lagu-Sepanjang Jalan Kenangan

Tapi tanpa hujan rintik dan payung bersama.

 

2019

 

 

TERSERET BUBUR KACANG HIJAU

 

Di utara Alun-alun utara

Di utara pagar pendek

Di utara pohon beringin tua

Ada anak muda menjual bubur

 

Kacang hijau terasa kacang hijau

Ketan hitam terasa ketan hitam

Santan kelapa terasa santan kelapa

Gula dan panili terasa peyedap hidup

 

Bubur panas dalam mangkok kembar

Kuaduk-aduk, berubah menjadi cepat

Menjadi pusaran peristiwa amat kuat

Menyeretku tidak berkesudahan

 

Aku tidak sempat mencicipi lezatnya

Panik karena sendok mirip kapal

Yang tenggelam banjir di awal tahun

Kulihat rumput alun-alun berubah cokelat

 

”Mas, mas, sadar mas,” teriak penjual bubur

memegang tanganku yang gemetar

menghentikan mangkok yang bergoyang

”Kalau lapar sekali, habiskan isinya.”

 

Ternyata yang lapar bukan perutku

tetapi jiwaku, hatiku pun dahaga

semangkuk bubur kacang hijau

tidak cukup menghiburku.

 

Ini sungguh pagi yang menyiksa

seperti berita-berita tanpa irama

senyum kenalan, bahkan gadis muda

tidak bisa meredakan keteganganku.

 

2020

Mustofa W Hasyim

Lahir di RS DKT Kotabaru 17 November 1954. Sejak tahun 1970an menulis puisi, cerpen, novel, esai, laporan, resensi, naskah drama, cerita anak-anak, dan tulisan humor. Beberapa bukunya yang sudah terbit di antaranya: Telunjuk Sunan Kalijaga, Musim Hujan Datang di Hari Jum’at, Bayi-bayi Bersayap, Perempuan yang Menolak Berdandan, Jangan Jatuh Cinta Padaku.

Di sela-sela kesibukannya saat ini, ia mengembangkan metode Quantum Training Penulisan untuk membantu pelajar, santri, guru-guru, relawan, wartawan agar bisa mulai menulis dan memelihara kemampuan serta semangat menulisnya. Metode pelatihan ini sudah diujicobakan ke berbagai kota di Jawa.
Mustofa W Hasyim

Latest posts by Mustofa W Hasyim (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Keren

  2. Anonymous Reply

    Banyak salah ketik? Jadi kurang nyaman bacanya.

  3. Anonymous Reply

    Puisinya bagus, namun sayangnya ada kesalahan ketik di sana-sini yg mengganggu kepuitisan. Apa gak dicek sama redaksi ya?

    • Anonymous Reply

      kalau penulisnya udah punya nama, editor seringkali abai. tapi kalau penulisnya masih bau kencur atau sedang belajar, naskah langsung dibuang jika ada salah ketik.

      • Anonymous Reply

        Waahh iya juga ya, hmm gtu ya baru tau.

Leave a Reply

Your email address will not be published.