Sajak-Sajak Mutia Sukma

pinterest.com

 

Merariq

Untuk Inaq Penjual Kain Tenun di Tanjung Ann

 

Ini pantai paling indah milik kami.

Airnya tenang,

Lautnya hijau dan biru keputih-putihan

Konon laut kami sebenarnya transparan

Tapi warna langit dan awan

Memancar hingga ke dalam.

 

Kain kami adalah kain paling tabah

Bermotif Subhanalle

Pada teras rumah

Kayu songket mengapit pinggang kami yang sempit

Dan nasib adalah tenun yang tidak pernah bisa diselesaikan

 

Subhanalle, subhanalle katamu sambil menenun

dan menyebut tuhanmu

Gambar kain kami bergambar kesedihan

Cinta lama yang ditelan keindahan lautan

dan papan seluncur wisatawan

Juga bekas bibir kekasih yang memudar

diterpa tekanan udara angin Tanjung Aan

 

Subhanalle

 

 

2019

 

 

 

 

Gempa Jogja-Lombok

 

Ternyata kita bertemu lagi

Padahal aku kira hanyalah deja vu

 

Dalam dada lapangku

Kamp pengungsian dibangun

Seperti seusai peperangan

 

Getaran jantungku

Telah merobohkan sekolah dan perkantoran

Mengagetkan ibu-ibu yang menyusui anaknya

Bupati yang sedang memberi ceramah

di dalam mimbarnya

Juga sepasang kekasih yang sedang basah-basahnya

 

Kugali lagi fondasi pada diri

Pasir dan batu dipastikan masuk hingga ke dalam inti

Agar aku yakin

Apa yang telah ditegakkan

Tidak pernah runtuh kembali

 

Bersama debu dan ispa

Kepalaku mengenang yang terserak

Ingatan yang menempel akrab

Seperti pancaran gambar bintang pada langit-langit kamar

 

Di tempat baru

Aku kembali seperti tanah lapang yang dulu pernah ditinggali

 

2019

 

 

 

 

Bangsal-Gilitrawangan

 

Katamu,

Perjalanan dekat tak menjamin

datang dengan cepat

 

Di kejauhan

Kamu seperti tiang satelit yang meninggi

Tempat titik tujuan

akan diberhentikan

 

Dengan senyap sajak dan kapal kayu

Aku terapung bersama bayangan

yang hendak dilupakan

Seperti nasib sebuah kampung di Pemenang

setelah terterjang abrasi dan gempa lautan

 

Kuhayati tubuhmu seperti kemerdekaan tanpa batas

Tanah tak lagi bertuan

Sebab rumah-rumah telah kandas

 

Dengan rompi pelampung dan kacamata renang

Aku mengapung dalam dirimu

Lampu keselamatan kunyalakan

Namamu kuserukan

 

2019

 

 

 

 

Di Kota Asing

 

Aku suka berlama-lama di kota asing

meraup airnya untuk mencuci muka

mengusap gambar masa lalu kita yang

perlu diperbaiki.

 

Aku suka memandang gedung

dan menara pemancar

dari atas ketinggian pada sebalik kaca

hotel murah yang kita sewa.

 

Aku tergoda lampu-lampu

Polusi

Dan bangun pagi

 

Setangkup roti selai bagi sarapan kita hangus

Menguarkan harum percumbuan

yang berararoma gaji di bawah minimum

bagi pekerja restorasi

 

Cangkir kopimu mengepulkan asap pembakaran hutan

Perih nasib buruh tak punya ladang

di pedalaman Sumatera.

 

Kita berpelukan

mengambil gambar terbaik

di atas ranjang dan selimut tebal

Menertawai nasib yang tak lebih baik dari penjaga pintu

yang selalu mengucapkan kata selamat datang

bagi pedih dan kebahagiaan.

 

2019

 

 

 

 

Padang Mangateh

 

Sapi-sapi dilepas dari kandang

Sekawanan lebah berdesis melewati pohonan

 

Rumputan tumbuh tinggi dan rendah

Mulut pemamah biak itu terus mengunyah

Setetes embun menitik pada pagar karatan

Kami meringkuk kedinginan makan goreng pisang

 

Di atas mobil pinjaman

Hamparan hijau pinggang Gunung Sago

Seperti matras melengkung

Berdenyut dalam gua rahasia perawan desa

Seseorang mengolokku sebagai penyair mooi indie

Pencinta hujan dan keindahan

 

Dia lalu mengangkat segelas kopi kawa

Pura-pura mabuk bersama lambat genta sapi

Sepatu yang menginjak tahi

Dan air mata para kaum yang tidak memiliki tanah ulayat

 

Dataran membentang

Kawat besi merentang di dalam diri

Pohonan tinggi

Angan meninggi

Dalam selokan

Air gunung mengalir ke lubuk rasa sepi

 

2019

Mutia Sukma
Latest posts by Mutia Sukma (see all)

Comments

  1. rizky akmalsyah Reply

    ‘Meraqiq’ wonderful banget! Pokoknya suka banget…. subhanalle!!! Good Job sista:)

  2. Susi Rida Simamora Reply

    Puisi yang nikmat.

  3. Briii Reply

    Wow, masterpiece!

Leave a Reply

Your email address will not be published.