Sajak-Sajak Pier Paolo Pasolini

 

Catat


Apa sebab ada puisi lirik? Sebab hanya aku,
tiada siapa pun di mukimku, yang tahu tradisi panjang
penunjang dukacita yang pekat dengan udara berjelaga.
Petang dan mega beriringan mengabarkan malam dan musim dingin.
Mata apa yang tidak penuh cahaya muram ini, jika bukan mataku?

 

 

Pulang ke Desa

Où sont les neiges d’antan?

F. Villon[1]

 

I

Kau sedang apa

di dekat api, Nak,

sepucat tunas

memudar di rembang petang?

“Saya sedang membakar ranting-ranting kering.

Asapnya gelap membubung

dan membisikiku bahwa

dunia yang saya tinggali adalah tempat yang aman.”

Akan tetapi, di dekat api yang beraroma manis itu

Aku sulit bernapas.

Aku berharap menjadi angin

yang habis daya begitu sampai di desa.

 

II

Tualangku berakhir.

Bau manis polenta[2],

lenguh sedih sapi.

Tualangku sudah usai.

“Kau sudah berada di antara kami,

tapi kami hidup sekadarnya,

tenang dan lembam,

seperti air menetes

di balik pagar, tak terlihat.”

 

III

Dentang-dentang genta

Bertalu-talu di desaku pada tengah hari.

Namun, justru kesunyianlah

yang bergema di ladang-ladang!

Kau belum berubah, wahai genta;

dalam ketakjuban aku kembali kepada suaramu.

“Waktu tidak bergerak:

lihatlah senyuman para bapak

pada mata anak-anak mereka

seperti tetes air hujan di cabang-cabang pohon.”

 

 

Dendang Genta

 
Ketika malam melarut di pancuran
rona desaku memudar makin samar.

Dari kejauhan kuingat kuak kodok-kodok,
bulan itu, krik-krik jangkrik yang membesitkan hati.

Doa rosario dipanjatkan, bergaung hingga ke ladang-ladang:
rohku diterbangkan dendang genta-genta itu.


Wahai orang asing, jangan takut melihatku melayang
di atas dataran ini; aku roh cinta

kembali ke tanah lahirnya dari tempat yang jauh.

Nubuat


Untuk Jean-Paul Sartre, yang menceritakan kepadaku tentang Alì si Mata Biru


Di dunia ini ada seorang anak laki-laki
yang pada suatu hari pergi ke Calabria[3].
Musim panas kala itu, dan
rumah-rumah petak sempit—
baru dibangun, laksana rumah
liliput yang dicat sewarna tahi—
kosong. Kosong.

Macam kandang babi tanpa babi, dapur tanpa selada, ladang
tanpa tanah untuk diolah, sungai tanpa air. Desa-desa diluku bulan.
Dedak untuk pakan para jerangkong. Angin dari Laut Ionia[4]

memorak-porandakan jerami hitam
seperti ilham dalam mimpi:
dan bulan warna tahi
meluku tanah
yang tidak dicintai musim panas.
Pada zaman anak lelaki itulah
cinta itu dimungkinkan
terbit, tapi tidak jadi.
Anak itu punya mata
sewarna jerami gosong, mata
tanpa rasa takut, dan telah melihat segala
yang jahat: dia tidak tahu hal lain
selain berladang,
reformasi agraria, perjuangan
serikat, dan Yayasan Derma.
Tapi dia punya mata semacam itu.

Bulan tragis segerah matahari
tengah hari bercokol di sana, meluku
sepuluh ribu, lima puluh ribu
ekar dengan bintik-bintik rumah-rumah liliput
di abad televisi—
kandang-kandang babi asal jadi
yang dibangun demi martabat para majikan.

Rumah tak layak huni! Ah, akan berapa lama lagi para buruh Milan memperjuangkan upahnya! Di bawah sinar bulan mata gosong anak itu melihat,
di lahan-lahan tragis itu, hal-hal yang tidak dilihat

saudaranya di Utara. Ini masa
ketika Kristianitas baru
menyeret dunia modal
ke dalam bayang-bayang: satu sejarah sedang memungkasi
dalam temaram aliran peristiwa
yang diketahui dan tak diketahui, yang timbul dan yang surut,
berseliweran. Namun, anak itu
gemetar dalam amarahnya pada
masa itu—kala
para petani Calabria
baru mengenal pupuk kimia,
berserikat, lelucon-lelucon tentang
Yayasan Derma,
Demagogi Negara
dan tentang Partai Komunis . . .

. . .  dan dia keluar dari
rumah petak kecilnya
yang mirip kandang babi tanpa babi
di tanah-tanah ladang sewarna tahi,
di kaki gunung-gunung bundar kecil
dengan pemandangan Ionia penuh nujuman.
Tiga milenia berlalu—

bukan tiga abad, bukan tiga tahun—dan dalam udara bermalaria, bisa kita rasakan kembali harapan-harapan para pemukim Yunani. Ah, berapa lama lagi, kalian para buruh Milan, berjuang demi upah kalian? Kau tak lihat mereka menyembahmu?

Hampir seperti seorang majikan.
Dari kawasan-kawasan kuno
mereka membawakan kepada kalian
buah dan hewan, hobi-hobi
samar mereka, dan meletakkan
semua itu dalam kebanggaan ritual
di kamar-kamar Abad XX kalian
di antara kulkas dan televisi,
terpikat kedewataanmu,
kalian di Komite Internal,
kalian di CGIL[5], sekutu dan Dewa
di bawah matahari menyilaukan di Utara.

Di Tanah mereka
tanah ras berbeda, bulan meluku
perdesaan yang kalian
serahkan sia-sia kepada mereka.
Di Tanah para Gergasi
Rumahan, bulan
adalah gundik jiwa yang

sia-sia kalian modernkan. Ah, tapi anak itu tahu: keanggunan pengetahuan
adalah angin yang berubah arah di angkasa. Kini ia mungkin berembus dari Afrika
dan kau mendengar yang diketahui anak itu. (Jika dia tidak tersenyum

itu karena harapan baginya
bukanlah cahaya, melainkan nalar.
Dan terang ihwal perasaan
Afrika, yang sekonyong-konyong
menyapu Calabria, suatu tanda
nirmakna, tapi tetap absah
hingga masa depan!) Jadi:
sebaiknya kalian berhenti
menuntut upah; kini
persenjatai orang-orang Calabria!

Alì si Mata Biru,
salah satu putra dari putra seseorang,
akan turun dari Aljazair
pakai kapal layar atau perahu dayung. Bersamanya
akan ada ribuan orang
berbadan kecil dengan mata sayu anjing
warisan dari ayah-ayah mereka

di kapal-kapal yang bertolak dari Negeri Lapar. Bersama mereka ada anak-anak kecil,
dan roti serta keju dibungkus kertas kuning Senin Paskah.
Mereka akan bawa para nenek dan keledai, naik galai-galai yang dicuri dari pelabuhan-pelabuhan kolonial.

Mereka akan mendarat di Crotone atau Palmi[6]
jutaan orang jumlahnya, berpakaian ala
orang-orang Asia dan Amerika.
orang-orang Calabria harus berkata berbarengan,
seperti sapaan antarberandal:
“Inilah saudara-saudara kami yang telah lama hilang,
bersama anak-anak mereka dan roti serta keju!”
Dari Crotone atau Palmi mereka akan bergerak
ke Napoli, dan dari sana ke Barcelona,
Salonika, dan Marseille[7],
ke kota-kota pusat kejahatan.
Roh dan malaikat, tikus dan kutu
dengan benih Sejarah Kuno,
mereka akan terbang di atas rumah-rumah.

Mereka selamanya rendah hati
mereka selamanya lemah
mereka selamanya malu-malu
mereka selamanya hina
mereka selamanya bersalah
mereka selamanya sahaya
mereka selamanya kecil,

mereka yang tak pernah mau tahu, mereka yang hanya punya tatap memohon,
mereka yang hidup seperti pembunuh bayaran, mereka yang hidup seperti bandit
di dasar laut, mereka yang hidup seperti orang gila di pusat langit

mereka yang menciptakan sendiri
hukum di luar hukum,
mereka yang beradaptasi dengan
dunia di bawah dunia ini,
mereka yang beriman kepada
bujangnya dewa,
mereka yang berdendang
di tengah pesta terbantainya para raja,
mereka yang menari
dalam perang-perang borjuis,
mereka yang mendoakan
revolusi buruh . . .

. . .  mengesampingkan kelurusan
agama para paisano,
melupakan kehormatan
neraka,
mengkhianati kemurnian
bangsa barbar;
di belakang Alì si Mata Biru

—mereka akan muncul dari dalam bumi untuk menjarah—mereka akan mentas dari dasar laut untuk membunuh—mereka akan turun dari langit untuk mengambil alih—untuk mengajari para kamerad tentang nikmatnya hidup—

untuk mengajari kaum borjuis
nikmatnya kebebasan—
untuk mengajari orang-orang Kristen
nikmatnya maut
—mereka akan menghancurkan Roma
dan di atas puing-puingnya
mereka akan menanam benih
Sejarah Kuno itu.
Lalu dengan Paus dan segala sakramen
mereka akan berkelana seperti para gitana
ke Barat dan ke Utara
dengan panji-panji merah
Trotsky berkibaran . . .

 

 

Hari Kematianku


Di sebuah kota, entah di Trieste atau Udine[8],
dengan barisan pepohonan tilia di alunalunnya
ketika dedaunan berubah warna
pada musim semi,
aku akan ambruk tak bernyawa
di bawah terik matahari
membakar
dan akan kupejamkan mata,
terbang ke langit, menuju cahayanya.
Di bawah keteduhan pohon tilia
aku akan berpusar ke gulita
alam kematian, yang akan dihalau matahari
dan pohon-pohon tilia.
Para pemuda rupawan
akan berlarian di bawah terang cahaya
yang baru saja kutinggalkan,
terbang di atas sekolah-sekolah,
melintang seperti alis mata.

Aku seharusnya mati selagi masih muda
dalam balutan kemeja warna terang
rambutku mengombak elok
memerangkap debu jalanan.
Jasadku mungkin masih hangat,
ketika pemuda itu berlari
ke trotoar beraspal
untuk meletakkan tangan
ke kristal[9] di antara pahaku.


[1] Ke mana perginya salju tahun lalu?

Kutipan dari sajak dari Abad ke-16 karya Francois Villon yang dia gubah pada ultahnya yang ke-30

[2] Hidangan bubur jagung

[3] Kawasan di Italia Selatan

[4] Kawasan kuno di pesisir Barat Andalusia

[5] Confederazione Generale Italiana del Lavoro: Konfederasi Buruh Italia

[6] Crotone dan Palmi adalah nama-nama tempat di Calabria

[7] Napoli kota di Italia, Barcelona di Spanyol, Salonika di Yunani, dan Marseille di Prancis

[8] Trieste dan Udine adalah nama-nama kota di Italia

[9] Ini pengaruh dari Arthur Rimbaud. Dalam puisi Menjadi Molek penyair Prancis itu memakai ungkapan ‘lengan kristal’.

 

 

Sumber: The Selected Poetry of Pier Paolo Pasolini

(terjemahan dari bahasa Italia ke bahasa Inggris oleh by Stephen Sartarelli)

The University of Chicago Press, 2014

 

Penerjemah: David Setiawan

Latest posts by Pier Paolo Pasolini (see all)

Comments

  1. Mahmud Abida Reply

    Bagus puisinya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!