Sajak-Sajak Robert Frost; Lima Nokturno

 

I. Cahaya Kala Malam

Ia harus selalu menyulut cahaya

Di sebelah ranjang di loteng kala malam.

Meski memberi mimpi buruk dan tidur yang rumpang,

Nyala api membantu Tuhan untuk terus menjaganya.

Kemurungannya yang telah jauh disingkirkan.

Kini beralih padaku baik di siang maupun malam,

Sebagai pemilik, setahuku, di masa yang akan datang

Hari-hari tergelap yang kita takuti.

 

 

II. Jika Aku Dalam Masalah

Pada sebuah tempat di mana tak dapat kupikirkan jalan pintas lagi,

Begitu jauh pada puncak gunung tertinggi,

Lampu yang membutakan kian memelototi

Dengan kilatnya ia mulai menuruni tangga granit,

Bak bintang yang baru saja terjatuh dari langit.

Dan termenung dalam hutan di seberangnya

Aku tersentuh oleh pendar cahaya asing nun jauh

Yang membuatku tak merasakan sepi sebagaimana mestinya,

Sebagai pelancong tak ada lagi yang dapat kulakukan

Bila malam ini aku bermasalah dengan gelap malam.

 

 

III. Bravado

Tidakkah aku berjalan dengan kepala terdongak

Sambil menimang tiap peringatan pada bebintang yang sungguh

Takkan luput mengenaiku saat mereka tertembak dan jatuh?

Tentunya itu sebuah risiko yang harus kuambil—dan telah kuambil.

 

 

IV. Untuk Memastikan Jika Ada yang Terjadi

Akan lebih buruk bagiku bila berakhir dipekerjakan

Ketimbang sekadar menjadi pengamat kehampaan,

Siapa yang akan mengambil bagian untuk mengabarkan

Bintang manakah yang jatuh kelak.

Mungkin sebutir benih—mutiara mentari

Akan menjadi pengabar satu-satunya;

Meski begitu aku masih tetap harus mengabarkan

Soal sebuah gugus berjarak sebintang dari sini.

Aku sudah selayaknya ragu

Untuk memilih agar menakuti gereja atau negara

Kala mengumumkan jika ada bintang yang terjatuh

Dari, barangkali, Salib atau Tahta.

Untuk memastikan bintang apa yang kulewatkan

Alangkah baiknya bila aku memeriksa pada daftarku

Tiap bintang yang tergantung di langit malam.

Sepertinya akan memakan waktu semalam suntuk.

 

 

V. Di Malam yang Panjang

Aku akan membangun kediaman dari kristal,

Dengan salah seorang temanku yang kesepian,

Di mana dingin menujam bagai peluru

Dan jarum berdiri sendiri pada ujungnya.

Kami akan menumpahakan minyak pada perapian

Dan menginginkan buku-buku untuk dibaca lantang

Kami akan menelusuri arsip-arsip

Demi mengamati Cahaya Utara.

Jika Etookashoo dan Couldlooktoo*

Dipanggil oleh para Eskimo nanti

Akan ada cukup ikan mentah pun matang

Dan cukup minuman serta minyak untuk kami semua.

Sebagai orang dalam yang menghangatkan diri

Kepada satu sama lain aku akan berkata,

Yakinlah pada sari apel yang kau teguk

Hari lain pasti akan tiba.

*Nama orang Eskimo. (penerj.)

 

 

Sajak-Sajak di atas diterjemahkan oleh Noa Dhegaska.

Robert Frost
Latest posts by Robert Frost (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.