sajak-sajak zelfeni wimra; ia tidak lagi menunggu

pinterest.com

 

ia tidak lagi menunggu

 

aku mendatanginya dari belakang

pada setapak jalan berkelok di tengah padang

ia duduk menggenggam gulungan tali

 

“sudah lama kau menunggu?” aku bertanya

“aku sedang tidak menunggu,” jawabnya

 

ia tampak menggulung tali gembalaannya pelan-pelan

aku masih ingin bertanya, tapi ragu

jangan-jangan, dia bukanlah orang yang ingin kutemui

setelah bertahun jarak kenangan terlampaui

 

saat gembalaannya mendekat, aku berkali-kali mengedipkan mata

sebuah gumpalan tak berkaki menggelinding

melambung, melantun-lantun,

dan melompat ke dalam pelukannya

 

ia membalikkan badan, persis ketika gumpalan itu menggeliat

masuk ke lubang yang seperti pintu kandang terbuka di dada kirinya

gumpalan merah marun itu meronta

siluet cahaya berpantulan dari celahnya

lalu diam

 

“untuk apa lagi aku menunggumu?” ucapnya, sebelum berlalu

dan hilang di kelokan padang penggembalaan itu.

2020

 

 

batu betina

 

batu pengganjal roda bus yang dipakai di pendakian itu

ternyata berjenis kelamin betina

 

bus yang semula nyaris terguling ke jurang

kini selamat, melaju pesat

 

batu betina tinggal

tergolek di tepi jalan berlereng terjal

goresan roda tergurat kaku

pada garis bekas senyumannya

 

2020

 

 

  

jarum penggali kubur

 

ia korek-korek tanah itu dengan jarum

 

katanya, ia akan menggali sumur

 

baiklah. kita tunggu drama ini sebabak lagi

jangan-jangan, lobang tergali, bukan air yang datang

liang kuburan malah kiranya.

 

2020

 

 

  

lima belas menit sebelum tidur malam

 

bagaimana mungkin, kekasih

gelanggang licin berpasir tajam

kita terabas dengan cinta yang apa adanya

 

cinta yang habis-habisan itu

dalam mimpi saja kita tualangi

 

2020

 

Latest posts by Zelfeni Wimra (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.