Sampul: Rupa, Laba, Makna

“Sayangnya, ia tidak ingat judul, penulis, atau isi buku itu, meski ia ingat bahwa sampul buku itu berwarna merah.”

—George Orwell

Bayangkan buku tanpa sampul. Hanya bubur kayu bogel yang memalukan alih-alih menyedihkan. Tak ada yang sudi memandangnya—kecuali pembaca rudin, penjaja buku bekas ingusan, atau pemulung kesiangan.

Itu sebabnya sampul penting. Buku tak bersampul laksana Raisa tanpa durja. Siapakah yang mau berkenalan, berkawan, atau bercinta dengannya? Tukang nongkrong nakal berakal kancil terlengit sekalipun pasti enggan mengancaninya—apalagi mengencaninya makan malam penuh asmara nan keras kepala.

Musyafir lata pemuja Kafka tak tepermanai sejagat pun bisa jadi menganggapnya sontoloyo belaka—serupa Aglaea yang tak suci lagi—sehingga tak layak diajak bermehong di dunia mayanya yang pepak cerita narsistik murahan dan penuh akal geladah.

Oleh karena itu, baiklah kita stabilo merah: sampul merupakan penanda eksistensial buku. Baik dan buruknya sampul bakal menentukan harkat dan martabat buku—pun mungkin reputasi penulis dan penerbitnya—di lidah dan hati pembaca, paling tidak di mata toko buku.

Sudahkah Anda ke toko buku hari-hari ini? Apa yang tersua di sana? Puluhan hingga ribuan buku yang minta dijamah—jika tak dibeli—dengan bujuk rayu yang sama: Sampul!

Ialah Thalia yang dipuja penerbit setinggi langit—tentu saja guna dapat laba. Ialah mesin hasrat untuk membuat pemerlu buku terpincut. Ialah erotisme tersembunyi di toko buku—yang menggaya penuh harap ditenteng pulang pengunjung toko buku. Ialah pariwara yang tak kentara bersuara: “Pandang aku, pegang aku, pilih aku—aku milikmu!”

Dengan begitu, pengunjung melihat sebelum membaca—dan apa yang pengunjung alami saat melihat sebelum membaca itu adalah suatu momen pertempuran nilai ekonomi, sosial-politik, dan estetika yang mempertaruhkan selera, nalar, dan imajinasi mereka. Alih-alih, seperti kata penyiar dan kritikus arsitektur Tom Dyckhoff, sampul menjadi senjata penerbit untuk menodong pengunjung mengambil keputusan: ambil atau tinggalkan—dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Pemerlu buku bermata terpelajar sudah pasti insaf untuk tak menilai buku dari sampulnya. Tapi, keruan mereka akan gregetan mendapati buku bagus bersampul banal. Sementara itu, sangat mungkin mereka bijaksana pada buku yang biasa-biasa saja, bahkan payah, tapi bersampul aduhai dengan pesona Lolita di mata Humbert Humbert—terutama ketika dipajang di rak.

Begitulah. Alih-alih alat pemasaran dan penjualan penerbit, kover yang aduhai menyelimuti buku sebagai benda visual berdaya tarik estetis bagi pembaca bergairah penuh rasa ingin tahu. Dengan kata lain, sampul nan jempolan bukan hanya mengekspresikan optimisme dagang penerbit, melainkan juga mencerminkan penghayatan artistik penuh seluruh perancang sampul. Merekalah perupa dalam khazanah estetika buku. Merekalah perancang busana di dunia pustaka. Benarlah kata penulis Allison Hover Bartlett, sampul yang menawan merupakan ikhtiar kreatif mendandani sesuatu yang menakjubkan dengan busana indah.

Kita percaya buku sebagai sesuatu yang menakjubkan dalam peradaban manusia. Penulis Keith Houston bahkan mendakunya sebagai “the most powerful object of our time.” Tapi, tanpa sampul, sesuatu yang menakjubkan itu—objek paling perkasa zaman kita itu—akan kehilangan kedigdayaan ekonomi, sosial-politik, dan estetikanya.

Saya berani bertaruh, penerbit indie paling progresif revolusioner di kolong langit ini pasti ciut nyali untuk menerbitkan buku sonder kover. Saya yakin tak ada toko buku, baik di dunia-nyata maupun di dunia-maya, yang paling anarkis sekalipun, berani petantang-petenteng berniaga buku tak bersampul.

Buku tanpa sampul bukanlah buku—tapi seikat jerami kata-kata belaka tanpa nilai simbolis. Statusnya serupa tamtama belia berlatih perang atawa perang-perangan dengan bedil kayu atawa bedil-bedilan. Kalau tertembak, dia pasti cedera atau mati pura-pura. Jika tertawan, dia sepenuhnya menyerah sebagai penggeli hati kawan-kawannya belaka.

Kenyataannya, buku tak berkover seperti serdadu tawanan yang telah dilucuti seragam dan senjatanya dari medan tempur. Harga dirinya pastilah terjerembap semata pecundang perang yang malang. Memang buntung bintangnya. Buku tak bersampul serupa Ahasveros yang—dikutuk-sumpahi Eros—cuma bisa mengembara di pasar buku bekas.

Apatah nasib. Rupanya penerbit buku sudah lama mengarifinya dengan istilah naas: “stripped book”—buku yang telah dilucuti sampulnya, terutama setelah remuk redam di pasaran, untuk dimusnahkan, paling tidak didaur ulang menjadi kertas polos atau rakitan karbon lainnya.

Apa boleh buat. Hidup memang tak mudah seperti dalam Declare! atau Foucault’s Pendulum. Buku yang telah dilucuti sampulnya adalah buku yang dilumpuhkan oleh kepentingan komersial di luar dirinya. Ia, kata Umberto Eco, seperti kavaleri genius yang tidak diakui oleh orang Philistin. Ia berharga sekadar barang loakan yang menanti tiba pecinta pustaka jatmika, yang gemar blusukan ke pasar buku bekas—seperti George Orwell, Benedict Anderson, dan Rangga—membelinya dengan kesenangan ekstatik. Atau, bila beruntung, ia akan ditebus dengan penyesalan patriotik yang kasip oleh penerbit berselara kontemporer.

Perkaranya, buku yang telah dilucuti sampulnya laksana wong gemblung yang telah melampaui baik dan buruknya nasib insan duniawi. Tak ada cara lain untuk menghargai martabatnya—sebelum diterbitkan kembali—kecuali menyuntingnya dengan saksama dan membusanainya dengan sampul baru nan elok.

Makanya, yang terjadi bukan cuma penebusan buku, tapi juga pembangkitan dan peremajaan penulis atas kepekaan penerbit kepada naluri estetika dan cita-cita mulia yang lebih tinggi dari nama, tahta, dan laba yang taksa. Itulah kesejatian—kalau bukan keabadian—buku  yang bakal menjerat leher pembaca pustaka waskita.

Mereka tentu tahu betapa mereka tidak berdaya di depan sampul nan elok dengan aura menggoda yang mengandung kualitas kontemplatif dari keindahan. Namun, mereka pun tahu bahwa sampul yang unggul tak hanya bisa membikin hormat, kagum, dan puja-puji, tapi juga pengkhianatan, pembunuhan, dan penyesalan.

Demikianlah—sampul memang bukan segalanya yang membuat buku menjadi utuh. Tapi sampul merupakan keniscayaan yang memberi buku makna.

Wahyudin

Kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Latest posts by Wahyudin (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.