Sandal

it.pngtree.com/

 

LAGI-LAGI ada orang kehilangan sandal saat jum’atan di masjid. Tempo hari lelaki perantau itu juga kehilangan sandal, terpaksa pulang tanpa alas kaki berjalan sejauh setengah kilometer hingga kakinya melepuh terkena panas trotoar dan aspal jalanan kota. Dia ikhlaskan sandalnya hilang, bahkan andai pencurinya tertangkap tak akan diperkarakan agar tidak terulang peristiwa yang menimpa almarhum temannya 30 tahun silam, sebelum dia merantau ke daerah wisata tersohor ini.

Seorang pencuri sandal tertangkap seusai shalat maghrib. Terjadilah keributan antara pencuri sandal dan penjaga masid agung di tengah kota tersebut. “Ini bukan sandalmu. Ini sandal milik mas yang memakai topi merah tadi,” kata penjaga masjid.

“Sumpah ini sandal saya. Baru seminggu lalu saya beli,” pemuda itu membantah.

“Bohong. Saya melihat yang melepas sandal ini adalah mas yang memakai topi merah. Tadi kamu duduk di sana.”

“Tapi ini memang sandal saya.”

“Kalau sandalmu, kenapa waktu mas yang bertopi merah tadi melepas sandal ini kamu duduk di sana, dan waktu mengambil sandal ini kamu celingukan seperti maling?”

Banyak orang mengerumuni. Pada saat itulah lelaki bertopi merah keluar dari dalam masjid. “Nah, itu dia orangnya. Mas, sini Mas!” panggil penjaga masjid, “Ini sandal sampean, kan?” tanyanya.

Lelaki bertopi merah itu kebingungan. Setelah mencari sandalnya tidak ada, barulah dia memperhatikan sandal tersebut dan menjawab, “Ya, ini sandal saya. Memangnya kenapa?”

“Sandal sampeyan dicuri orang ini, untung saya melihatnya,” kata penjaga masjid, kemudian berbalik ke pencuri sandal. “Nah, sekarang kamu tidak bisa mungkir. Maling kamu. Maling!” penjaga masjid geram lalu meninju pencuri sandal itu.

Beberapa orang hendak ikut memukul tapi dicegah oleh lelaki bertopi merah.  “Sudah, sudah. lepaskan saja dia, jangan dipukuli, kasihan. Yang penting sandal saya tak jadi dicuri,” ujarnya.

“Jangan begitu, Mas. Masalah ini harus diselesaikan. Kita serahkan maling ini ke polisi,” kata penjaga masjid.

“Tidak usah. Lepaskan saja.”

“Jangan begitu, Mas. Masalah ini tampaknya sepele, tapi kalau tidak diselesaikan akibatnya fatal.”

“Sudahlah, Pak. Saya mohon jangan dilaporkan polisi, nanti malah berlarut-larut.”

“Saya tidak terima kalau Mas begitu. Saya yang bertanggung jawab atas keamanan di masjid ini. Ini kelihatannya sepele, tapi kalau dibiarkan akan banyak lagi orang kehilangan sandal di sini. Tolong Mas pikirkan baik-baik. Ini demi masjid agar aman dan orang merasa nyaman beribadah tanpa merasa waswas dan khawatir akan kehilangan sandal.”

Lelaki bertopi merah itu terdiam.

“Sudah beberapa kali terjadi kehilangan sandal di masjid ini. Sebagai penjaga keamanan di sini saya jadi malu dan merasa bersalah. Makanya tadi saya tidak ikut shalat berjamaah untuk menjaga sandal. Kalau Mas membebasakan pencuri ini sama halnya mendukung maling!”

Lelaki bertopi merah itu jadi bingung. Di sisi lain dia kasihan pada si pencuri sandal, tapi tugas penjaga masjid juga harus didukung agar tak terjadi lagi pencurian. Akhirnya dia menuruti keinginan panjaga masjid. Kebetulan waktu itu ada satpam usai shalat maghrib, maka digiringlah pencuri sandal tersebut ke pos satpam, lalu bersama-sama dibawa ke kantor polisi.

“Bagaimana, Pak? Damai, atau Bapak ingin melanjutkan perkara ini?” tanya petugas yang menangani laporan tersebut di kantor polisi.

“Demi masjid, kasus ini dilanjutkan,” jawab pemilik sandal tersebut.

“Sudah Bapak pertimbangkan masak-masak? Kalau damai, masalah selesai sampai di sini. Tapi kalau Bapak menuntut, berarti kasusnya harus disidangkan di pengadilan, Bapak siap?”

“Demi masjid, saya siap sidang!”

“Jadi, Bapak benar-benar menuntut?”

“Sekali lagi, demi masjid, saya menuntut!”

“Baiklah, malam ini juga akan kami proses,” kata petugas tersebut.

Selesai menandatangani berita acara, lelaki bertopi merah itu minta diri bersama penjaga masjid dan satpam yang mengantar. Dia pulang tanpa alas kaki, karena sandalnya dijadikan barang bukti untuk diproses. Dua minggu kemudian lelaki itu dipanggil untuk sidang ke pengadilan. Dia sebagai saksi korban, penjaga masjid jadi saksi, dan pencuri sandal tersangka. Sidang hari pertama belum menghasilkan apa-apa. Lelaki itu cuma ditanya apakah sandal tersebut benar-benar miliknya, kapan dan di mana membelinya, berapa harganya, dan beberapa pertanyaan lain. Penjaga masjid ditanya peristiwa terjadinya pencurian dan penangkapan pencuri sandal. Sedangkan pencuri sandal ditanya nama, alamat, umur, pekerjaan, berapa kali mencuri sandal, di mana saja pernah mencuri. Setelah itu, sidang ditutup dan dilanjutkan minggu depan.

Sidang hari kedua belum ada keputusan. Lelaki pemilik sandal itu jadi resah, khawatir sidang akan berlarut-larut. Sudah dua kali dia tidak kerja, juga harus mondar-mandir gara-gara sidang. Padahal dia hanya seorang buruh harian di sebuah pabrik rokok yang upahnya tak seberapa. Kalau tahu begini rumitnya kasus persidangan tentu tempo hari dia batalkan tuntutannya. Pantas saja waktu itu petugas di kepolisian berulang-ulang menanyakan jadi menuntut atau berdamai.

Pada persidangan ketiga pekan berikutnya pemilik sandal itu datang lebih awal. Dia melihat keluarga pencuri sandal sudah berada di ruang tunggu, seorang perempuan tua dan seorang wanita muda serta seorang bocah perempuan. Melihat pemilik sandal itu datang, mereka segera menyalami. Perempuan tua itu berlutut sambil menangis meminta maaf atas perilaku anaknya yang mencuri sandal. Juga memperkenalkan bahwa bocah perempuan berusia tiga tahun tersebut adalah cucunya, anak dari  pencuri sandal, dan perempuan muda yang menggendong bocah tersebut adalah istri si pencuri sandal. Lelaki bertopi merah itu jadi terharu, apalagi dalam sidang sebelumnya dia telah mendengar kesaksian bahwa lelaki pencuri sandal itu belum punya pekerjaan tetap.

Sebelum sidang dimulai, pemilik sandal dipanggil menghadap hakim. Setelah bertemu hakim untuk menyelesaikan sesuatu agar sidang cepat selesai dia kembali ke ruang tunggu. Tak lama kemudian dia kembali dipanggil, kali ini disuruh menghadap jaksa.

“Saudara ingin sidang ini segera selesai, kan?” tanya jaksa.

“Ya, tentu saja, Pak!”

“Kalau begitu, saudara mau membantu kelancaran sidang?”

“Maksud Bapak?”

“Begini, karena tersangka pencuri sandal orang tidak mampu, maka yang menanggung biaya sidang adalah saudara sendiri. Apa saudara bersedia?”

Lelaki itu kaget, tak menyangka jadi begini. “Berapa biayanya, Pak?”

“Sekali sidang biayanya lima ratus rupiah, karena tiga kali sidang, jadi semuanya seribu lima ratus rupiah. Apa Saudara bawa uang?”

“Bawa, Pak. Apa uangnya diserahkan sekarang?”

“Ya.”

Lelaki itu merogoh dompetnya yang berisi uang tinggal seribu delapan ratus rupiah, yang seribu lima ratus rupiah diserahkan kepada jaksa.

“Nah, silakan Saudara menunggu dulu di luar,” kata Jaksa.

Dalam sidang terakhir untuk putusan, tersangka pencuri sandal divonis tiga bulan penjara dipotong satu bulan masa tahanan. Dia menangis. Ibu dan istrinya ikut menangis,  anaknya  hanya plonga-plongo memandangi ayah, ibu, dan neneknya.

Seusi sidang, lelaki pemiik sandal itu menemui hakim. “Sandalnya boleh saya ambil, Pak?” tanyanya.

“Oh, ya. Tapi mengambilnya harus di kejaksaan.”

“Kapan, Pak?”

Hakim diam sejenak, kemudian bertanya, “Tadi Saudara naik apa ke sini?”

“Becak, Pak.”

“Begini saja, nanti saudara berangkat bersama saya ke kejaksaan untuk menyelesaikan administrasi agar sandal ini bisa Saudara bawa pulang hari ini.”

“Terima kasih, Pak.”

“Ya, tunggu dulu di luar,” kata Hakim.

Setelah ditunggu cukup lama hakim itu akhirnya keluar, lalu bersama-sama naik becak ke kejaksaan. Sesampai di kejaksaan hakim itu menyuruh petugas untuk membuat berita acara penyerahan sandal. Setelah berita acara selesai dibuat, barulah lelaki itu dipanggil, sandal diserahkan kepadanya.

“Sudah selesai kan, Pak? Sandal ini sudah boleh saya bawa pulang?” tanya lelaki itu.

Hakim dan petugas di kejaksaan saling berpandangan. Khawatir mendapat persoalan lagi, pemilik sandal itu segera meninggalkan ruang kejaksaan. Dengan badan letih dan pikiran penat dia pulang berjalan kaki karena sudah tak punya uang untuk naik becak. Waktu berangkat tadi dia membawa uang lumayan banyak, tapi semuanya sudah habis untuk ongkos naik becak, biaya sidang, dan lain-lain. Dia berjalan sambil melamun. Pikirannya masih berputar-putar teringat persidangan dan hal-ikhwal sandal tersebut.

Gerimis mulai turun ketika lelaki itu sampai di perempatan jalan besar tengah kota. Jarak ke rumahnya masih sekitar tiga kilometer lagi. Tiba-tiba ada becak berhenti di depannya, “Pulang, Mas. Mari saya antar,” ternyata tukang becak langganan yang biasa mengantar dia pulang kerja. Lelaki itu langsung naik. Setelah duduk di dalam becak, barulah dia sadar mestinya sejak dari kejaksaan tadi naik becak dan dibayar setelah sampai rumah.

Hujan turun deras disertai angin kencang menerobos masuk lewat sela-sela plastik penutup bagian depan becak. Tukang becak tetap mengayuh becak karena lelaki itu menolak ditawari berteduh, sudah telanjur basah. Hujan-angin semakin keras, plastik penutup becak bedah membuat lelaki itu menggigil kuyup. Sesampai di rumah dia tidak bisa turun dari becak karena tubuhnya kaku kedinginan. Tukang becak membopongnya ke teras rumah. Lelaki itu kemudian memanggil istrinya untuk mengambil uang buat membayar tukang becak.

Sambil mengelap badan dan mengganti pakaiannya, lelaki itu teringat lagi peristiwa persidangan, hakim, jaksa, pencuri sandal dan keluarganya, serta peristiwa di masjid dan penjaga masjid yang ngotot agar kasus itu dipolisikan. Gara-gara sandal dicuri orang dan diperkarakan, dirinya jadi kalang kabut. Kalau dihitung, biaya untuk proses persidangan jauh lebih banyak dari harga sandal. Belum lagi waktu dan tenaga yang tersita, dan tekanan batin dalam persidangan.

Hujan sudah reda. Tukang becak pamit. Lelaki itu memandangi langganannya mengenjot becak penuh semangat setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih karena diberi upah uang lebih serta hadiah sandal bagus. Lelaki itu memberikan sandal tersebut kepada tukang becak, karena dia sudah punya sandal baru yang lebih bagus, yang seandainya suatu saat nanti dicuri orang akan dia ikhlaskan.*

Nuryana Asmaudi SA
Latest posts by Nuryana Asmaudi SA (see all)

Comments

  1. Fauziah Reply

    Terharu. Emang terkadang hal-hal sepele kayak gitu ga perlu diperpanjang. Masih ada cara lain buat dilakuin. Ajak ngobrol misalnya. Tanya apa alasan pelaku melakukan hal itu. Daripada bela-belain jaga di luar dan ga ikut sholat jamaah.

  2. Siska Maulina Reply

    Uwah ada banyak pelajaran yang aku ambil dari cerpen ini, terima kasih

  3. Mulyana Reply

    Seperti nya kisah nya

    • Mulyana Reply

      Sepertinya kisah nyata

  4. Krisantus Yustus Reply

    luar biasa ceritanya sangat sarat makna, kejahtatan memang harus diberantas tapi etika empati juga mesti tetap dijujung

  5. Zufar Reply

    Komplek juga, serasa getirnya cerita hidup. Bagus.

  6. Garin Nanda Reply

    Sederhana namun penuh makna. Terima kasih ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.