Sang Pembaca Terhormat

in Celoteh by
Jonny Lindner

1/

Saat kita memegang buku, kita berada di tiga dunia: dunia si penulis, dunia sang buku, dan dunia pembaca yang adalah kita sendiri sebagai sang pembaca tapi tidak pernah tertulis dalam buku. Di antara tiga dunia ini, betapa sering posisi sang pembaca berada di tingkat ketiga terendah: sejenis diwajibkan merasa inferior, merasa lebih bodoh, bahkan merasa lebih hina. Di hadapan penulis dan hasil (buku) karyanya, sang pembaca bukanlah siapa-siapa. Just nobody. Inilah yang sering kita rasakan. Yang lebih parah bahkan, bukan cuma dirasakan, semua itu sudah diajarkan dari sekolah tingkat sangat dasar sampai perguruan tertinggi.

Di sekolah dan kampus bahkan di toko buku, kita diajari membaca tapi kita tidak pernah diajari menjadi sosok sang pembaca. Siapakah pembaca di sekolah atau di kampus? Tak ada cita-cita menjadi pembaca. Yang ada adalah menjadi penulis. Menjadi pembaca adalah menjadi bukan siapa-siapa pun dalam jagat ketertulisan.

2/

Siapakah sang pembaca? Kita bisa bersepakat bahwa mengeja bukanlah membaca. Ia hanya pengeja. Kita juga sudah bersepakat bahwa pemilik buku bukan berarti pembaca. Ia hanya kolektor kata yang disimpan dalam kertas terjilid. Dan tentu saja, kita mungkin bisa bersepakat bahwa buku dan penulisnya sungguh bukan pembaca. Itu hanya buku dan hanya penulis.

Pembaca adalah seorang yang membacakan kata-kata untuk pikiran-hatinya sendiri. Bukan untuk siapa pun, termasuk bukan untuk guru, dosen, bahkan bukan untuk Tuhan. Peristiwa membaca adalah peristiwa teregois sejagat: sang aku melihat buku, dengan matanya sendiri, memasukkan ke dalam otaknya sendiri, dan sendirian dalam imajinasi-pikirannya, seorang diri. Seorang pembaca tidak pernah bisa menggunakan otak orang lain.

Maka, pembaca adalah seseorang yang saat membaca sangat berusaha menjadi manusia egois yang hanya mengurusi agar menjadi pemilik kata-kata bagi dirinya sendiri. Apa yang ada di dalam pikiran penulis buku atau apa yang tertulis bukanlah urusan seorang pembaca. Urusannya adalah bagaimana agar ia memiliki kata yang dibaca, entah dengan cara mengutip, mengkritik, atau menulis sesuai dengan pikirannya sendiri.

3/

Di tingkat manakah kita sebagai pembaca: pengeja-penyuara kata, penyerap kata ke dalam imajinasi-kepala, penggembira-penemu kutipan ampuh, penghakim sengit kata-kata, penulis-ulang kata-kata yang kita baca dengan kata-kata kita sendiri?

Ingatlah saat kita masih berada di sekolah kanak, sekolah dasar, mengengah atas, atau perguruan tertinggi. Persis seperti tiap hierarki penjenjangan pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tertinggi, sewajibnya tiap pembaca memperhatikan peningkatan keterampilan membacanya: semakin naik meningkat dan terus meningkat, atau jangan-jangan meski sudah ada di perguruan tertinggi pola membacanya adalah seperti siswa di taman kanak.

Jika ada seorang mahasiswa membaca persis seperti saat berada di bangku sekolah menengah atas, ia sungguh telah menurunkan sistem kerja otak-pembacanya. Jika ada seorang dosen mengajarkan mahasiswa membaca buku persis seperti guru sekolah, ia telah melecehkan tingkat perkembangan kognitif si mahasiswa. Dan jika si mahasiswa melakoni tingkat membaca persis seperti saat berada di sekolah menengah, ia telah mendegradasi tingkat kecerdasannya dan tidak sadar bahwa membaca itu ada tingkatan-tingkatan yang wajib dilalui dengan meningkatkan kualitas kepembacaannya dan ia justru mandek sekian puluh tahun ke belakang.

Sungguh, bedanya seorang siswa di sekolah kanak dan seorang profesor adalah tingkat kualitas membacanya yang biasanya tercermin dalam ucapan dan terutama dalam tulisannya. Jika ada profesor membaca persis seperti bocah sekolah kanak, ia sungguh siswa taman kanak-kanak.

Apakah kita memperhatikan perkembangan dan peningkatan pola membacamu setua bangka umur kita sekarang?

4/

Peristiwa membaca adalah peristiwa subjektif, sangat subjektif bahkan. Adalah sombong dan salah jika ada anjuran bahwa kita wajib membaca secara objektif.

Ingat sekali lagi: kita memegang buku, membuka halamannya, dan mulai mengarahkan mata ke kata-kata, dan kata-kata itu masuk dalam sistem inskripsi otak yang ada dalam otak kita, dan otak kita sungguh sudah pernah punya berbagai pengalaman, peristiwa sejarah, harapan-harapan, dan segala hal yang bisa berkecamuk dalam diri kita: semua itu adalah peristiwa subjektif, terjadi dalam ruang yang sangat subjektif. Sekali lagi, membaca bukan peristiwa objektif yang ada di luar diri kita.

Maka, saat kita membaca, adalah sungguh penting agar kita menjadi sang subjek radikal: sang aku se-aku-akunya yang paling ideal tertinggi. Dalam subjek yang sangat radikal, adalah sungguh dosa jika ada sikap dan rasa inferior di hadapan buku atau penulis. Apa pun buku itu dan siapa pun penulisnya!

Betapa berdosanya mereka yang telah merendah sang pembaca. Dan betapa jauh lebih berdosanya kita yang telah merendahkan diri kita sendiri di hadapan diri kita saat membaca buku siapa pun. Ingat: Pembaca adalah sejenis tuhan atas segala kata!

 

5/

Di hadapan buku, kita mungkin perlu ingat peristiwa perkembangan sejarah filsafat ilmu dalam polemik maha dahsyat antara empirisme versus rasioanalisme.

Tokohnya bisa dimulai dari tokoh bernama Galileo (1564-1642) yang sudah termasyhur itu. Dia adalah pembaca kitab suci yang buruk dan bukan pembaca teladan yang penuh keberimanan. Pada zamannya, bisa-bisanya Galileo tidak percaya pada kata-kata dari kitab suci yang sampai kepada otaknya padahal sudah dibenarkan dan bahkan sangat dibenar-benarkan sejak ratusan tahun oleh manusia-manusia cerdas nan beriman. Dia justru lebih percaya pada teleskop sederhana buatannya sendiri.

Pada satu malam, tahun 1609, Galileo mengarahkan teleskop agar otaknya tidak terpengaruh buku baik yang sudah ratusan tahun dianggap benar. Lalu, di hadapan dua bola matanya yang sampai pada langit tertinggi yang bisa dijangkau teleskop buatannya, hancur-remuklah begitu banyak kepercayaan yang sangat dicintai orang awam bahkan para teolog. Sejak Galileo, semua setan, arwah, roh-roh halus, bahkan singgasana Tuhan tersingkir dari medan langit, hanya menggunakan teleskop sederhana. Bukan menggunakan kata-kata, apalagi senjata. Sekali lagi: hanya teleskop, yang sangat sederhana. Dan pembersihan langit itu semakin radikal di mata-imajinatif Albert Einstein.

Maka, bacalah dengan mata-kepala dan arahkan semua isi buku+penulis ke hadapan sang realitas. Buku apa pun itu, baik yang ditulis manusia, yang diembuskan setan, atau yang diwahyukan Tuhan. Persis seperti Galileo.

6/

Jika kamu tidak punya teleskop Galileo, saat membaca, kamu mungkin perlu bersikap dan meneladani seperti Rene Descartes (yang membaca Al-Ghazali). Dialah manusia paling penakut terhadap mimpi-mimpi apalagi yang dibawa para penulis.

Maka, dia selalu mewanti-wanti dirinya dengan pertanyaan radikal: apakah aku sedang berada dalam bermimpi atau aku sadar dengan seluruh otak-hatiku? Hanya satu yang bisa dipercayai Descartes di dunia ini: sang ragu! Jika aku sedang sangat ragu, terhadap keberadaan segala hal bahkan Tuhan dan bahkan keberadaan diriku sendiri yang sedang ragu, maka aku masih ada, berada di puncak kesadaran, dan aku bukan sedang dalam mimpi. Pesan Descartes: ragulah sesengat-sangat ragunya terhadap apa pun yang kamu baca.

Maka, kamu bisa selamat dari mimpi-mimpi sembrono para penulis termasuk Tuhan. Kamu juga perlu ingat: semua kata bukanlah benda, semua kata hanya penjerumus terhadap angan-angan. Betapa banyak manusia terjerumus dalam mimpi kata-kata.

Maka, jadilah sang pembaca penghancur kata-kata agar kamu selamat dari segala mimpi buruk para penulis, buaian surgawi tuhan-tuhan palsu, dan terutama dari ketololan dan kebodohan tak terampuni yang mendekam dalam dirimu!

 

7/

Aku ingat surat yang pernah ditulis Goethe kepada Johann Friedrich Rochlitz: “Ada tiga tipe pembaca: pertama, pembaca yang menikmati saat membaca tanpa menghakimi; kedua, pembaca yang menghakimi tanpa menikmati saat membaca; ketiga, pembaca yang menghakimi seraya menikmati dan menikmati tatkala menghakimi. Tipe ketiga ini benar-benar mampu mereproduksi karya seni baru; yang masuk dalam kategori ini tidak banyak.”

Dan begitulah, sang pembaca adalah seorang yang menjalankan tugas sebagai seorang detektif penuh selidik, pikiran awas dan tajam, dan tentu saja akhirnya menugaskan diri sebagai sang hakim termahaagung atas tiap tulisan-tulisan yang dibacanya. Dan dengan hasil pembacaannya itu, ia menjadi penulis-pembaca yang mencipta, setidaknya dalam gagasan baru di pikirannya. Maka, siapakah kamu di hadapan tulisan-tulisan yang telah, sedang, dan akan kamu baca? Perhatikan nasibmu di hadapan tiap teks, dari sejak masa bocah sampai kelak menjelang tua bangka dan kamu melihat di rumahmu ada kitab suci yang keterlaluan kamu sucikan sampai-sampai tidak pernah kamu baca dengan kejam dan penuh cinta.

8/

Bayangkanlah: kelak dirimu sudah berusia 50 atau bahkan 100 tahun, lalu tiba saatnya kamu bertanya: apa yang telah aku baca selama umurku ini, sejak di pendidikan-pengajaran taman bocah? Apa yang sudah terbaca dalam pikiranku sampai sejauh usiaku? Apa efek dari membaca terhadap pencerdasan pikiran dan hatiku? Apakah aku masih menjadi pengeja persis anak sekolah, penurut pada tiap penulis, penakut seperti para pengiman pada kitab suci pada tiap kitab suci hanya kata-kata, atau menjadi manusia yang sangat waspada terhadap kata apa pun seperti ilmuwan alam, atau bahkan sudah sampai pada taraf pemabuk kata yang tak hendak keluar dari dunia sang mimpi terajaib buat manusia?

Ingatlah peristiwa ajaib yang begitu sangat lumrah terjadi ini: aku sedang dan sudah membaca, lalu tidak terjadi apa-apa.

M. Fauzi Sukri

M. Fauzi Sukri

koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo,
menulis Guru dan Berguru (2015)
M. Fauzi Sukri

Latest posts by M. Fauzi Sukri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.