Saranghae! Saranghaeyo!*

*Monolog Agus R. Sarjono

Annyeonghaseyo, teman-teman semua. Annyeonghaseyo. Kelihatannya semua pada seger-seger. Pada bergairah dan penuh semangat, seperti pejabat habis naik pangkat. Seperti makelar habis dapat komisi. Syukurlah! Aduhhh, gimana ya, saya lagi sebel sekarang ini. Tapi gimana mulainya, ya? Masak kita-kita disebut generasi apatis, generasi asyik sendiri, generasi kurang peduli. Yang benar saja!!

Apaa? Tidak apatis? Ya betul, jawaban kalian tegas, khas sikap generasi kita sekarang ini. Generasi yang bisa menjawab dengan tegas begitu masak dibilang generasi apatis dan generasi tidak pedulian. Aigooo! Enak aja.

Siapa yang ngomong begitu? Itu lho saya lihat dan dengar sendiri di acara TV, orang tua yang ngaku-ngaku pakar, enak saja ambil kesimpulan sembarangan. Enggak cuma satu pula yang berpendapat begitu. Ini belum pendapat gentu yang muncul di koran dan medsos. Ohhh, gentu? Masak kamu tidak tahu? Gentuuu, generasi tua alias the tuwir generation. Masak mereka bilang generasi kita korban K-pop dan drakor? Emang kenapa? Lagi pula, kita bukan korban, tapi pelaku, pelaku aktif.

Iya, lho, kita pelaku aktif. Kita aktif cari drakor-drakor yang keren, kita pelajari secara aktif idol-idol K-Pop. Bahkan kita tidak seperti gentu yang bagai katak dalam tempurung, bagai kepiting dalam kulkas, no way! Kita ini generasi gaul, go internasional. Fanbase K-pop kita kan bukan fanbase tingkat RT. Saya, misalnya, anggota ARMY, fanbase BTS, the best grup dunia. Kita itu ya, kalau diskusi membahas BTS bukan hanya antarsekolah, antarkampus, antar-RW, antarkampung, tapi mancanegara. Mereka itu nollaun geos! Nollal manhan! Jadi kita itu sebagai fans K-Pop saja bukan kelas lokal, tapi kelas internasional. ARMY itu fanbase terbesar di dunia, sampai TV dan majalah Amerika aja gentar, BTS diundang ke macam-macam acara TV bergengsi dan masuk sampul majalah Time. Majalah Time, kawan-kawan, bayangkan!

Apa? Exo? Yaah tentu fanbase-nya di negeri kita ada juga dong, tapi kita kesampingkan dulu soal itu. Kita kembali ke soal pokok. Apaa? Iya, iya Blackpink juga, iya deh. Kita kembali ke masalah pokok. Apa tadi? Oh ya generasi kita mabuk K-Pop dan Drakor? Generasi apatis dan tidak pedulian? Opso! No way!! Oppta! Generasi kita itu betul-betul peduli pendidikan, peduli masyarakat, dan sangat peduli lingkungan. Enggak percaya? BTS itu menyumbang miliaran untuk pemberdayaan masyarakat dan perbaikan lingkungan. Saking pedulinya, sampai-sampai PBB mengundang mereka bicara! Siapa bilang generasi kita tidak peduli? Memangnya para gentu yang bikin macam-macam komentar miring itu pernah nyumbang buat perbaikan lingkungan? Buat masyarakat? Huh! Jangankan menyumbang, jangan-jangan kalau ada duit masyarakat di depan hidung mereka, paling-paling mereka embat habis. Kalau nggak bisa nyumbang dana, enggak bisa nyumbang tenaga, enggak usahlah nyumbang komentar-komentar miring. Mentang-mentang komentar miring itu gratis! Dasar tukang gratisan!!

Coba ya, masak generasi kita disuruh memperhatikan dan berperan aktif dalam politik nasional? Politik nasional? Apaan? Siapa sudi. Saya nonton debat-debat politik di TV sebentar saja

sudah mual. Pendapatnya pada ngaco, mau menang sendiri, udah gitu ngomongnya pakai ngotot seperti preman jalanan. Sudahlah pendapatnya pada klise, bahasanya murahan, gaya ngomongnya berangasan, eh mukanya itu lho, pada jelek-jelek enggak enak dipandang. Sama sekali enggak enak dipandang. Beda jauh sama drama-drama Korea. Politisi-politisinya itu ya, tampangnya pada keren- keren, modis dan enak dipandang. Lihat itu Ji Jin Hee, pengacaranya saja keren abis seperti Jang Dong Gun dan Park Hyung Sik. Bandingkan dengan pengacara yang ngomong politik di TV kita? Ibaratnya kayak burung cenderawasih lawan burung gagak, kan? Hayooo, pasti kalian sudah pada nonton drakor “Crash Landing on You”, kan? Sudah, kan? Tuh lihat, tentaranya aja super keren. Kalau tentaranya seperti Hyun Bin, kan kita sebagai rakyat yang dilindungi tentara jadi merasa tenteram, ya enggak?

Arasso. Kalau mau generasi kita pada peduli dengan politik nasional, tolonglah para politisinya atau paling tidak politisi yang tampil ngomong dan debat macam-macam di TV itu wajahnya pada seperti Kim Soo Hyun, Hyun Bin, Park Seo Joon, Lee Min Ho, Park Hyung Sik, Gong Yoo, atau Park Bo Gum, dong. Kalau begitu, kan tanpa diminta kita semua akan aktif mengikuti politik nasional. Apaaa? Kalian akan menjadi penonton tetap? Jinjja?!! Tuh kan, betul perkiraan saya. Kalau tampangnya seperti mereka, bukan hanya kalian, emak-emak kalian juga akan jadi penonton tetap. Apa? Kalau tentaranya Hyun Bin, emak-emak siap manunggal dengan tentara? Ahh, Si Ibu bisa aja.

Tapi Iya, lho. Jangankan generasi kita, generasi emak-emak kita saja pada getol mengikuti drama-drama itu, dan setiap melihat wajah mereka, emak-emak kita pada meleleh hatinya. Wajah merekalah yang sudah berjasa membuat emak-emak kita sanggup menjalani hidup sehari-hari yang gersang, ekonomi yang sulit melilit, dan tampang politisi yang membosankan tapi pada tajir mendadak setelah menang sikut sana sikut sini memperebutkan kursi. Merekalah yang berjasa membuat rumah tipe 21 serasa diliputi unsur romantis, meski gaji dari suami baru minggu pertama sudah pada hangus alias habis. Bayangkan, para emak di daerah saya tidak habis-habisnya membahas drakor, hatinya pada meleleh oleh cowok-cowok muda dan keren yang pada sanggup berkorban apa saja demi cinta. Daebak! Tidak seperti suami-suami mereka yang sudahlah pada menjadi korban persaingan hidup, eh malah ikut mengorbankan istri dan keluarganya ke kondisi keuangan yang tipis dan rumah tangga tak romantis. Mana bisa suami-suami mereka menang melawan para bintang drakor yang sanggup tersenyum penuh cinta asmara selama 16 episode, sementara gaji suami pada tidak sanggup bertahan sampai dua episode.

Geureom, Geureom. Benar juga pendapat kalian itu. Memang omongan-omongan mereka di drakor itu pada bagus-bagus, pada intelek gitu, pada romantis dan bijaksana. Coba perhatikan adegan ini, istri dilanda galau, duduk di tangga. Si suami mendampingi karena dia selalu siaga satu bagi kegalauan istri. Berduaan memandangi bulan. Uhhh romantisnya.

“Aku suka bulan purnama yang bulat dan penuh dibanding bulan sabit yang hanya separuh,” kata istrinya, agak mengeluh. Suaminya yang ganteng dan sabar, memeluk bahu sang istri. Coba dengarkan, ini jawaban si suami, “Walaupun bulan itu separuh, tapi yang separuhnya tetap menempel di sana dan akan menemaninya sampai akhir masa.”

Wuihhh, apa gairah kita tidak pada mendidih! Daebak!!!

Tapi… yah seandainya, seandainya lho, omongannya pada bikin bosen kayak politisi nasional juga kalau tampangnya kayak aktor-aktor drakor kan paling tidak kita tidak bosen melihatnya, betul tidak?

Anehnya, meskipun kita pada getol nonton K-Pop dan Drakor, kok bisa-bisanya tidak menginspirasi lembaga pemerintah waktu bikin soal ujian nasional atau ujian penerimaan pegawai negeri. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam ujian pegawai negeri itu kan sudahlah rumit, juga serba umum. Gajel! Sama sekali tidak spesifik! Percuma kita para mahasiswa belajar bidang keahlian kita mati-matian kalau yang muncul di ujian penerimaan pegawai negeri pertanyaan-pertanyaan umum. Mana enggak mutu lagi.

Masak ujian untuk penerimaan departemen Kelautan, Pertambangan, Hukum dan HAM, Agama, Kesehatan, maupun Peranan Wanita pertanyaannya sama persis. Yang benar saja!! Memangnya ahli maritim, pakar tambang, sarjana agama, atau dokter harus gagal jadi pegawai negeri dan mengabdi bangsanya gara-gara ujian bodong yang sama rata sama rasa seperti slogan komunis? Huh, hajima! Hajimallago!

Coba perhatikan soal ini, “Beribadah dan menganut suatu agama atau kepercayaan adalah merupakan asasi… a) Pribadi, b) Perlakuan dan perlindungan, c) Politik, d) Sosial budaya. Jawaban yang betul sudah ditentukan yaitu a) Pribadi.

Pertama-tama perhatikan bahasanya? Bahasanya saja sudah ngawur padahal bahasa Indonesia itu bahasa resmi sekaligus bahasa nasional dan menjadi bagian penting dari Sumpah Pemuda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “asasi” artinya “bersifat dasar; pokok,” Maka kalimat pertanyaan tadi bunyinya: “Beribadah dan menganut suatu agama atau kepercayaan adalah merupakan bersifat dasar/pokok”. Jangnanhae. Lihat! Lihat! Secara logika maupun tata bahasa, kalimat ini jelas salah, ngawur, dan tidak dapat dimengerti. Kalau tidak mengerti bahasa asing, kan tidak perlu pakai kata “asasi” segala. Kenapa tidak dirumuskan secara jelas menjadi “Beribadah dan menganut suatu agama atau kepercayaan merupakan masalah ….”

Tapi ya, meskipun si pembuat soal itu benar-benar cinta Indonesia dan dengan begitu mampu berbahasa Indonesia dengan baik, tetap saja jawabannya aneh dan seenaknya. Siapa bilang beribadah dan menganut suatu agama atau kepercayaan adalah masalah pribadi? Beribadah dan beragama juga menjadi masalah politik, sosial budaya, dan karena masalah politik dan budaya maka memerlukan perlindungan negara. Kalau itu masalah pribadi, mengapa naik haji jadi urusan negara coba?

Belum lagi soal yang aneh seperti ini: “Hubungan sosial yang selaras, serasi, seimbang antara individu dan masyarakat dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, yaitu a) Sila kedua, b) Sila ketiga, c) Sila keempat, d) Sila kelima. Jawabannya yang betul “sila ke-2.” Eotteoke!! Memangnya “Hubungan sosial yang selaras, serasi, seimbang antara individu dan masyarakat” itu hanya dijiwai oleh sila ke-2 “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kalau orang-orang hidup dengan berketuhanan Yang Maha Esa secara konsekuen pasti hubungannya juga akan selaras. Kalau semua masyarakat berpegang pada “Persatuan Indonesia” pasti juga hubungan individu dan masyarakat akan selaras, serasi, seimbang. Apalagi kalau sekalian dijiwai oleh rasa keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia yang jadi sila kelima Pancasila. Soal semacam ini jelas bukti dari “hubungan sosial yang TIDAK selaras, serasi, seimbang. Di situ, si pembuat soal maupun penilai menempatkan dirinya maha kuasa dan merasa memiliki jawaban tunggal bagi masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Pembuat soal, penilai, maupun yang memberikan ujian semacam ini kan jelas-jelas bertentangan dengan asas negara kita yang Bhinneka Tunggal Ika. Jangan-jangan mereka juga tidak menghormati NKRI, padahal NKRI harga mati!!

Daripada bikin soal-soal aneh semacam itu, ujian penerimaan pegawai negeri kan bisa membuat soal yang lebih spesifik. Coba kalau pertanyaannya “Mengapa Yoon Se-ri yang kaya tidak bisa langsung menikah dengan Kapten Ri padahal mereka saling mencintai satu sama lain?” Kan kita bisa menjelaskan dengan detail ketegangan politik Korea Selatan tempat Yoon Se-ri menjadi pengusaha sukses dengan Korea Utara tempat Ri Jeong Hyuk menjadi Kapten Pasukan Khusus. Dijamin jawabannya lebih canggih daripada jawaban pertanyaan tadi.

Jelas ketegangan sosial politik antarnegara, problem dan filsafat usia muda, dunia mode dan dunia usaha, juga intrik kuasa adalah soal-soal yang relevan bagi kita semua. Kalau generasi kita yang jadi bagian dari gelombang besar hallyu pada demen K-Pop dan Drakor, itu kan bukan berarti generasi kita apatis. Tidak! Jelas kita peduli dengan politik antar-negara, makanya kita nonton drakor “Crash Landing on You”, bahkan kita peduli dengan politik, bisnis, dan konspirasi internasional makanya demen drakor “Vagabond”. Kita juga peduli dengan busuknya intrik politik dalam negeri seperti dalam drakor “Hwarang”, keuletan berwirausaha seperti drakor “Itaewon Class”, semangat juara yang pantang menyerah seperti drakor “Prison Playbook”, sembari belajar memahami psikologi anak dan penulisan buku cerita anak-anak di drakor “It’s Okay to Not Be Okay”.

Apa? Revolusi industri 4.0? Sorry ya, jangan anggap kita buta! Kita khatam urusan itu sih, langsung dari drakor “Start Up”! Ya kan? Ya kan? Daripada tebar slogan revolusi 4.0 kan mendingan pada diajak nonton drakor “Start Up”. Aduuuh, tapi kok Seo Dal Mi malah pilih Nam Do-san sih, padahal Han Ji-pyeong kan keren abis. Sudahlah keren, penampilannya selalu okeee, tajir, dan bijaksana lagi. Pria tajir dan bijaksana kan idaman semua wanita!

Arraso! Arraso! Kalau saya dan generasi saya dianggap apatis dan tidak pedulian, tidak apa- apa. “Aku ra popo.

Naneun gwaenchanh-a. Jinagal geora

Yeogimyeo geopeo dun jinan naldeol ….

Apa? Bagaimana kalau si Bebeb yang apatis? Ani! Jeoldae andwae! Si Bebeb itu tidak pernah apatis sama saya. Eehh betul lho, saya sama si Bebeb  itu cinta sejati, barang tulen harga pas.

Tapi memang, dia itu ya kalau saya ceritain drakor yang saya tonton, suka jarang antusias. Kemarin, dua hari yang lalu lah, baru saja mau saya ceritakan bagaimana perhatiannya Kapten Ri itu sampai bawa lilin pas mati lampu di kerumunan pasar, dia malah bilang, “Sudahlah! Cukup semua drakor itu!”. Bayangkan, kok dia bisa-bisanya bilang “Sudahlah!”, bahkan bukan “Sudahlah, Bebeb”, atau “Sudahlah, Cin”. Kalaupun dia bilang “Sudahlah, Bebeb”, atau “Sudahlah Cin” saja saya masih akan tersinggung dan baper, eh dia bahkan bilang “Sudahlah” begitu saja sama sekali tanpa bebeb, cinta, darling, atau honey! Untung mamah saya yang orang Sunda tidak mendengarnya. Kalau beliau dengar, pasti si Bebeb dibilang “Lelaki tidak bergaram” oleh mamah saya. Apa? Iyaaahhh, memang itu kok artinya, orang Mamah saya bilangnya “Lalaki teu uyahan”.

Tapi sejujurnya si Bebeb saya itu lelaki yang gigih, lho. Mana penuh potensi lagi. Cuma ya itulah, kok sampai sekarang belum dapat kerja juga. Padahal, ortu saya itu sudah wanti-wanti, cowok yang tidak punya pekerjaan jangan berani-berani mendekati saya. Tapi itu kan bukan salahnya si Bebeb. Kurang apa coba dia? Lulus jurusan fisika murni hampir cum laude, dua kali tes pegawai negeri bagian riset selalu gagal.

“Gua ini mati-matian belajar fisika. Enggak gampang. Eh mau jadi pegawai enggak diuji fisika sama sekali, tapi malah diuji yang enggak-enggak”. Itu kata si Bebeb. Kakak saya juga yang lulus mulus jurusan filsafat di universitas nomor satu, enggak lulus ujian pegawai negeri. Dia bilang begini pada saya, “Yah, bagaimana mau lulus kalau jawaban yang betul hanya satu, padahal pertanyaan macam begitu semua jawaban betul tergantung perspektif dan paradigmanya. Berpikir tidak radiks begitu kok berani-berani bikin pertanyaan ujian?”

Saya bilang sama mereka, cinta negeri itu memang harus, tapi bekerja jadi pegawai negeri kan tidak harus. Lagi pula, ngapain sih susah-susah ujian pegawai negeri yang tesnya aneh-aneh toh gajinya juga cuma segitu-segitu aja. Harga mati. Enggak ada harapan. Kalau ada pegawai negeri kaya, pasti korupsi, selain itu mustahil. Bagusan kan jadi profesional di perusahaan asing. Siapa bilang untuk mencintai negeri ini kita harus makan garam dan minum air dari negeri ini juga? Meskipun garam dan air yang kita makan dan minum itu dari negeri asing kan kita tetap bisa cinta tanah air.

“Adipati Karna waktu Perang Besar Baratayuda malah berpihak pada Astina dan siap mati perang melawan keluarga sendiri. Alasan Karna karena air yang dia minum dan garam yang dia makan berasal dari Astina. Kalau gua makan gaji dari perusahaan asing kan gua harus berpihak pada kepentingan asing. Kalau ngotot demi negeri saya berarti pengkhianat. Kalau berpihak pada kepentingan asing berarti tidak setia.” Begitu kata si Bebeb. Apa saya enggak kesal? Yang benar saja! Itu kan cuma cerita! Cuma ceritaaa! Cerita wayang lagi, jaduuulll!

Makanya kalau mau menjadikan cerita sebagai prinsip hidup itu jangan cerita jadul. Wayang lagi! Cerita drakor dong, milenial abis. Makanya wahai para cowok sedunia, pada update dong kalian!

Gilanya si Bebeb itu enggak mau update. Kalau diajak nonton drakor bareng pasti menolak. Jangankan diajak nonton, dia malah panas kalau saya cerita soal drama Korea dan bagaimana ceritanya yang seru dan cowok-cowoknya yang romantis. Ehh, jangan-jangan dia cemburu ya. Dia bilang “Enggak ada kenyataannya cowok yang bisa segitunya, tiba-tiba muncul bawain payung pas ceweknya kehujanan entah di mana”, “Mana ada cowok yang nunggu di rumah sakit 3 hari 3 malam enggak makan enggak tidur”, “Mana ada cowok yang tahu kapan ceweknya kepeleset terus siap memeluk dengan tepat dan mesra. Mana ada cowok yang tahu persis kapan kotak-kotak di atas lemari akan jatuh menimpa ceweknya sampai bisa sigap menahan semua kotak itu dengan tetap keren. Apalagi dikasih musik terus pandang-pandangan! Enggak ada itu! Enggak ada!”

Omo! Aneh, kan? Siapa bilang enggak ada? Makanya dibuat film karena pasti ada kenyataannya. Masak dia tidak tahu banyak film yang ditulis based on true story? Berdasar kisah nyata! Sebetulnya saya mau jawab dia dengan tegas, “Kalau tidak percaya, mari kita sama-sama ke Korea Selatan. Kita buktikan bersama!”. Tapi tentu saya tidak bilang begitu. Si Bebeb saya itu meskipun tampangnya ada unsur idol K-Pop tapi dompetnya benar-benar NKRI. Asli pribumi. Dari 3 kali ngajak nonton dan hang out ke kafe aja, dua kali saya yang menanggulangi. Untung ortu saya cukup stabil, jadi bisa beri uang saku yang stabil juga. Ehh, jangan salah sangka. Bebeb saya itu meskipun dompetnya tidak stabil, tapi dia tipe pejuang lho. Ingat “Itaewon Class”? Yah, dia pejuang gigih seperti Park Seo Joon di film itu, lho.

Tapi gimana ya, kok si Bebeb, kakak saya, terus para kakak tingkat saya yang sudah pada lulus itu pada belum dapat kerja juga sampai sekarang? Saya kok jadi ingat teman kuliah saya si Zaki. Waktu kami serius belajar fisiologi, dia malah santai-santai lesu begitu. Dia bilang baru saja ketemu kakak tingkatnya di supermarket, eh ternyata kakak tingkatnya yang lulus bagus sekarang kerja di SistranceMart. Dia bilang tiap dengar mata kuliah fisiologi dan ekotoksikologi dia langsung ingat SistranceMart! Yahhh memang sih untuk kerja di supermarket tidak perlu belajar mati-matian mata kuliah canggih begitu. Tapi kan, toh suatu saat ada gunanya juga, siapa tahu. Pendeknya

jangan pada patah semangat. Fighting!!

Begini ya, sekali lagi asmara saya sama si Bebeb itu cinta sejati, barang tulen harga pas. Kami sudah janji sehidup semati. Memang terdengar klise, tapi ini asli. Nah, orang tua saya itu jelas-jelas bilang menolak tegas hubungan saya dengan lelaki mana pun kalau lelaki itu belum kerja. Tidak ada cinta-cintaan. Merawat cinta itu butuh biaya! Bulan memang gratis, tapi bunga dan martabak kan harus pakai uang! Kalau Si Bebebmu itu betul cinta, dia harus buktikan cintanya dengan punya pekerjaan tetap. Lelaki tanpa pekerjaan tidak punya hak bicara cinta!

Masak segitu getasnya orang tua saya. Padahal kami itu sudah cinta mati, satu jiwa satu hati. Tidak bisa dipisahkan lagi. Bagaikan Indonesia dengan Pancasila, bagaikan HP dengan pulsa, bagaikan bakso dengan kuahnya. Tapi si Bebeb bukan pemalas! Dia betul-betul gigih. Bulan ini saja dia sudah mengirim 33 surat lamaran kerja, 11 kali ikut tes dan wawancara, semuanya demi cinta. Tapi sampai sekarang dia belum dapat kerja.

Terus terang ya, saya itu tidak peduli pemerintah itu mau berbuat apa. Saya tidak akan pernah menghalang-halangi. Kalau pemerintah mau menaikkan harga BBM, tarif listrik, pajak pendapatan, silakan. Saya tidak akan menghalang-halangi. Mau pindah ibukota, atau mau bikin kereta bawah tanah, silakan. Bahkan, mau ganti undang-undang ini dan itu sebulan tiga kali, silakan saja. Sumpah, saya tidak akan pernah menghalangi. Tapi, tolong, dong, jangan halang- halangi juga hubungan cinta kasih saya sama si Bebeb. Cinta kami yang murni itu kan masalah pribadi, tolong jangan dicampuri dan dihalang-halangi oleh negara. Kan saya sudah bilang, Si Bebeb hanya bisa menikah dengan saya kalau dia sudah bekerja. Kalau negara dengan kejam tidak menyediakan lapangan kerja buat Si Bebeb, itu kan artinya pemerintah menghalang-halangi hubungan cinta kami. Jangan begitu, dong.

(Agak terisak) Saya harus bilang apa lagi? Kan saya sudah bilang. Pemerintah terserah mau apa juga, kita mah tidak peduli dan tidak pernah mengganggu. Generasi kami tidak akan menghalangi apa pun maunya pemerintah, tapi tolong dong pemerintah juga jangan menghalangi masa depan cinta kami. Kalau tidak ada pekerjaan kan saya sama si Bebeb tidak bisa menikah, terus bagaimana tanggung jawab pemerintah? Kok tega, sih?

Aigooo!! Sudah ah, nanti saya keterusan curhatnya. Tolong ya jangan pernah bicara lagi kalau generasi kami generasi apatis dan tidak pedulian. Kami semua peduli. Hati kami penuh cinta dan kepedulian.

Saranghae!! Naneun dangsin moduleul saranghabnida.Gamsahabnida. Gamsahabnida.[]

Agus R. Sarjono
Latest posts by Agus R. Sarjono (see all)

Comments

  1. Nita Lisviyani Reply

    Aigooo,,, keren sekali. Membaca tulisan Anda saya semakin bersemangat untuk menonton drakor, tapi juga semakin bersemangat untuk belajar. Terimakasih ^^

  2. Naufal Reply

    Keren om wkwk

  3. Sindi Reply

    Waaaw berasa aku yang lagi curhat. By the way emang Drakor itu emang bikin ketagihan. Sampai nonton startup dua kali. Tim dosana saranghae 🙂

    • Admin Reply

      admin tim jipyeong dan nenek :(((

  4. Yeshi C Reply

    ah keren banget tulisannyaaa

  5. nancy florida Reply

    Tulisannya keren 👍

  6. Nisa F Reply

    Tulisan yang bikin senyum-senyum sendiri. Lucu, padahal sedang mengkritik 🤣 tapi maaf, aku tim Nam Do San :”

Leave a Reply to nancy florida Cancel Reply

Your email address will not be published.