Sastra di Antara Fiksi dan Fakta Virus Corona

Sumber gambar: Menerangi Jalan Kesunyian (Dok. Eko Triono)

 

Musim dingin yang menegangkan ketika itu dan istri saya cemas memandang ke luar jendela. Seolah memastikan maut tidak terbang bersama angin dan virus, terbawa kulit jeruk, atau menempel di ranting pucat magnolia. Saya duduk di sofa memegang novel, melihatnya.

Dorongan pertanyaan kemudian muncul menuntun saya menilik sejauh mana dunia dalam novel di tangan, dunia dalam pikirannya, dunia di luar sana, dan dunia sastra dalam diri saya saling terhubung dan, secara ambivalen, mengisolasi diri masing-masing seperti himpunan dalam irisan ragam diagram ven.

Dia, atau manusia lain, dalam kondisi cemas akibat merebaknya covid-19 juga di Kota Xi’an ini sejak Januari, terlebih di negeri asing, wajar berkata ogah saat saya menawarkan membacakan novel. Sekalipun itu novel yang lucu sekali dari Jaroslav Hašek, tentang pinggang encok Prajurit Švejk dalam rusuhnya Perang Dunia I.

Dia meminta saya membacakan statistik saja. Saya menuruti dengan membaca angka terkini dari situs Johns Hopkins Unversity. Mula-mula tentang total terkonfirmasi positif seluruh China, jumlah meninggal, jumlah sembuh, lalu menyempit di provinsi tempat kami tinggal. Meski dalam sehari dia telah mengeceknya puluhan kali, efeknya tetap saja dramatik. Dia terduduk dan makin kurang selera makan. Seolah dia tengah berada di dalam novel paling ringkas di dunia, paling nyata, brutal, tanpa humor sedikit pun dalam bentuk bilangan bulat yang, hebatnya, ditulis oleh mahluk tanpa sel. Anehnya, satu dunia lagi, anak kami, satu setengah tahun, justru seperti tidak tembus berita dan statistik.

Anak kecil ini tetap rajin bangun pagi terus mandi tidak lupa menggosok gigi. Dia melompat-lompat ceria di sofa tempat murung kami, sambil mengikuti nyanyi dan gerakan animasi panda Baby Bus di TV.

Seorang anak kecil di tempat lain tidak kalah mengejutkan, saat berjalan santai dengan ayahnya, dia mengira lelaki yang terlihat mau lompat bunuh diri dari atas gedung itu adalah superhero keren yang bersiap terbang ke angkasa. Namun dibanding adegan dalam cerpennya, Fly Already, tersebut saya lebih terkesan dengan memoar personal Etgar Keret, The Seven Good Years, ketika ada bom. Dia menyuruh anaknya bermain pastrami, roti lapis dengan daging di tengahnya, kemudian dia dan istrinya akan mengapit anaknya, melindungi dari ledakan dan traumatis. Kini anak kami yang justru melompat riang dari sofa ke lantai bersama musik panda Baby Bus seolah melindungi kami dari ledakan berita dan statistik.

Dikelilingi kondisi ketika di luar sana sains, kedokteran, militer, dan relawan sedang bekerja keras sementara kami berdiam di rumah berdoa dan membaca kisah statistik, dorongan pertanyaan muncul tentang di mana irisan dunia sastra saya dengan semua keriuhan ini. Apa dan bagaimana? Jangan-jangan benar nonsens adanya.

Terasa terisolasi dalam diagram lainnya. Bukan hanya berbeda komunitas, namun saya bukan siapa-siapa dan tinggal di lingkungan berbahasa Mandarin. Penduduk sekitar memang saling berbagi semangat, lelucon penghibur, dan petikan puisi penghormatan tenaga medis.

Seorang ekspatriat dari Prancis mengirim puisi permenungan tentang ibu dan maut. Seorang dari Turki mengirim catatan opininya tentang optimisme, sebab dia mengalami masa saat China menghadapi flu burung dan melihat kompetensi negeri tirai bambu. Apakah saya harus mengirim cerpen? Tentang apa? “Tentara Tuhan” dan diskon wisata ke Bali? Sementara di grup pesan warga Indonesia di China, kiriman pesan yang muncul berbeda lagi. Beda pula adanya dengan isi komentar dan kiriman dari orang yang ada di Indonesia; tentang tautan berita dan bagaimana mereka menafsir, bercanda, berempati, juga ada yang berdusta saat wabah baru awal terjadi.

Setiap grup pesan eksis dengan karakter sosiologisnya dan memberi saya latar berpikir berikut.

Dunia sastra yang saya cintai cenderung menggunakan keilmuan lain untuk mendekati dirinya sendiri. Sebut misalnya sosiologi-sastra, psikologi-sastra, antropologi-sastra, ekologi-sastra, bahkan saya pernah mengikuti seminar nasional dari pimpinan himpunan sarjana sastra Indonesia dan di sana mulai dibahas apa itu botani-sastra. Mengapa tidak imbal-balik?

Sebagai ilmu, bukankah sastra juga memiliki perangkat saintifik yang mampu digunakan untuk menafsir keadaan; memahami, membicarakan, dan mengkritisi manusia dan kemanusiaan secara langsung sebagaimana keilmuan lainnya?

Sebagai bagian dari ilmu sastra, kajian fiksi misalnya masih menggemari berputar menyeret topik kajian dari luar atau mengaitkannya dengan kebutuhan tema jurusan seperti nilai-nilai pendidikan karakter di dalam novel dan cerpen, alih-alih mencoba berekspansi pada bagaimana pula, misalnya, cara kerja prosedur “fiksi” di dalam proses bangunan alur komunitas, konflik negara dan multinegara, atau dalam imaji visioner masa depan sosial, ekonomi, dan politik “yang dibayangkan” oleh tiap “isme” sebagaimana “fiksi” yang sering disinggung Yuval Noah Harari dalam kajian sejarahnya. Atau menggunakan perangkat “fiksi” untuk memahami bagaimana bentukan idealisasi identitas sebagaimana topik pembicaraan Kwame Anthony Appiah misalnya.

“Fiksi” sebagai perangkat berpikir keilmuan dan fiksi sebagai hasil karya dengan elemen kusastraan bisa jadi dua hal yang terbaca sama namun, hemat saya, berbeda.

Karena ketika itu Kota Xi’an masih digembok dan orang-orang harus tinggal di rumah, belanja daring, pemeriksaan suhu rutin, tiap dua hari sekali seorang anggota keluarga boleh keluar beli bahan makanan, maka fakta paling dekat untuk mencoba memahami gejolak sebagian manusia saat pandemi ini, menggunakan perangkat dari sastra yakni elemen fiksi, adalah mengkaji apa yang terjadi dengan istri dan anak saya sebagaimana sebagian tercatat di paragraf-paragraf awal tulisan ini. Menjadikannya sumber penokohan.

Saya mencari tahu apa yang terjadi dalam tindakan dan pikirannya, lalu melanjutkan mencatatnya sebagaimana petunjuk dari Mario Vargas Llosa, yang disertasi doktoralnya adalah kajian teknis novel Gabriel García Márquez, perihal bagaimana variabel fiksi dalam memahami dan mengungkapkan karakter tokoh. Sebelum mendukungnya dengan apa yang disebut Llosa, dalam lanjutan teorinya, empati dan emosi. Yang nanti akan membedakan luaran antara fiksi dan nonfiksi. Di samping tentunya mesin cerita penggerak dan manajemen waktu realitas dan waktu fiksional.

Ada sedikit dari bagaimana proses tokoh merespons dan mendapatkan respons keadaan, setidaknya bisa menggambarkan tahap-tahap kecemasan sebagian manusia lainnya. Ketika akhir Desember kabar virus masih sebatas Wuhan, istri saya masih mengabaikan. Info masuk dari warga setempat agar waspada, dari ekspatriat yang pernah mengalami masa flu burung agar jangan ke Wuhan, dari warga di tanah air tentang tautan datangnya “tentara Tuhan”, juga foto mayat bergelimpangan, yang berasal dari instalasi seni di Jerman.

Januari dan pemerintah setempat memberi peringatan terdeteksinya virus di Xi’an, tokoh utama saya ini panik. Info masuk dari warga setempat agar menjaga kesehatan, tidak bepergian, warga asing yang pernah menghadapi flu burung agar sedia masker, warga asing yang merasa hebat berkata mereka sehat dan santai bepergian, sesama warga Indonesia saling menguatkan dengan beragam tautan termasuk akan kebal virus karena biasa makan jajanan pengawet, sementara dari tanah air masuk info suhu panas dan diskon ke Bali.

Ketika kota dikunci, tokoh saya sangat panik. Warga dan pemerintah setempat memberi pesan tentang langkah-langkah praktis pencegahan maupun pelaporan gejala serta cara hidup saat di rumah saja, termasuk pelaporan kepergian dan pencatatan suhu, warga asing yang pernah pengalaman mengirimkan optimisme, yang belum memilih mengirimi kode makian, yang sudah pulang lebih dahulu mengirimkan satire betapa enaknya berhasil pulang, yang bertahan saling menguatkan dan diam-diam ada yang terus mencari cara untuk bisa pulang, lalu keluarga di tanah air menangis tiap kali video panggilan.

Tokoh kedua saya juga menangis, hanya saja karena minta ganti popok. Sementara tokoh pertama saya, karena minta cari tiket saat penerbangan mulai ditutup.

Tindakan yang dilakukan tokoh dalam teori sastra bab penciptaan karakter fiksi memiliki variabel terkait pengalaman dan pengetahuan. Ketika “alarm” virus berbunyi, mereka yang tidak memiliki pengalaman dalam kondisi bahaya akan merespons dengan santai bahkan antinalar. Mereka yang tidak memiliki pengalaman, namun memiliki pengetahuan terbatas tentang betapa mematikannya virus, akan bertindak serampangan dan menyalahkan pihak lain. Yang memiliki pengetahuan tindakan cara penanggulangannya, dengan segera bertindak saat “alarm” berbunyi.

Jeroslav Hasek, dalam The Good Soldier Švejk, ada menceritakan bagian tentang surat kesaksian Perang Dunia I di Austria-Hungaria yang mengerikan, yang anehnya, ditulis oleh letnan yang meski di garda depan namun belum pernah terlibat pertempuran.

Tokoh saya sedang berada pada tahap bingung menentukan otoritas informasi dari banyaknya sumber. Mengikuti tautan berita dari tanah air tentang jenderal dan ulama keagamaan yang fasih bicara virus meski di luar otoritas keilmuannya, bahwa warga Indonsia akan kebal dari apa yang mereka sebut “tentara Tuhan”, sehingga tidak perlu khawatir, atau dari para saintis di tanah air dan di luar negeri?

Kebingungan ini mengakibatkan kecemasan mulai dari bagaimana jika virus menempel di bawah sepatu, terbawa angin, lalu membuat mati, juga mengubah jadwal keseharian, kehilangan konsentrasi, dan terisap untuk terus melihat statistik serta menyebarkan berita terkait tanpa verifikasi. Satu tembakan peluru kematian pada tubuh putra mahkota Austria-Hongaria, Franz Ferdinand, digambarkan dengan jenaka oleh Jaroslav Hašek telah menyebabkan rakyat kecil yang encok seperti Josef Švejk harus ikut sengsara dalam Perang Dunia I. Satu “tembakan” informasi yang salah tentang virus pada penduduk suatu negeri akan mengakibatkan sengsaranya rakyat yang tidak memiliki istana dan ekonomi pelindung.

Pada tahap seperti ini, setiap individu, atau sekelompok individu, akan diuji antara fakta dan fiksi virus corona, antara medis dan magis.

Ketika Etgar Keret sigap inisiatif memeluk anaknya seperti roti tangkup, itu karena dia memiliki pengalaman realitas tentang ledakan dan perang. Ketika tokoh panda Baby Bus, tontonan anak saya, menampilkan seri mencuci tangan dan memakai masker sambil menari riang bersama kuda nil, itu karena China pernah menghadapi flu burung. Mereka memiliki pendidikan prosedur respons tanggap bencana, sebagaimana sikap Korea dan Jepang saat mendengar “alarm” jauh berbunyi dari Wuhan. Berapa banyak penduduk Indonesia yang seperti tokoh pertama saya, hiper-informasi, atau tokoh kedua saya, nir-informasi, sebab belum memiliki kemampuan untuk mengakses dan memahami kondisi yang sedang dihadapi? Atau tentang yang memiliki benteng “aneh” dalam pikirannya, yang tidak bisa ditembus oleh petunjuk sains, meski sudah bisa baca-tulis. Yang bisa dilakukan, yang mampu harus melindungi yang kurang. Tokoh saya kemudian bertindak pada tahap selanjutnya dan selanjutnya, sampai pada suatu hari kota dalam pemulihan di bulan Apil bersama datangnya musim semi dan dia melihat mekarnya sakura serta magnolia di luar jendela itu.

Para penyair, yang sungguh-sungguh, akan bisa membantu memahami bagaimana sublimasi kesadaran dan keangkuhan, juga kesabaran dan kebencian, serta spiritualitas manusia pada saat pandemi ini. Puisi sebagai ilmu dan laku sastra, memiliki juga perantinya. Sementara saya hanya bisa menelisik contoh kecil gejala tindakan tokoh nyata di atas, sebab, kata Mario Vargas Llosa, sebagian besar yang kemudian memilih menjadi novelis atau cerpenis itu karena sebelumnya merasa gagal menjadi penyair.*

Xi’an, 2020

Eko Triono
Latest posts by Eko Triono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.