Seandainya Ahok Balas Meminta Tere Liye Turunkan Harga Buku

Sumber gambar: kit8.net

 

Tempo hari, Tere Liye digadang-gadang sebagai inspirator anarkisme bagi generasi muda. Hal ini ditandai dari dibekuknya Anarko Sindikalis. Penangkapan kelompok remaja pelaku aksi vandalisme itu disertai dengan barang bukti berupa mahakarya sang penulis legendaris, yaitu Negeri Para Bedebah.

Negeri Para Bedebah adalah novel politik yang ditulis Tere Liye. Berkisah tentang tokoh utama yang bertahan hidup di negeri korup di bawah cengkeraman dinasti politik. Selain piawai menggoreskan pena merangkai kata-kata romantis, ternyata sang penulis bernama asli Darwis ini juga jago meramu cerita aksi penuh intrik. Bisa dibilang Tere Liye adalah penulis produktif serbabisa nan kritis. Bahasa halusnya, berkarya sembari protes.

Menyikapi berita bukunya dijadikan barbuk oleh pihak berwajib, Tere Liye justru berharap bapak-ibu polisi menyempatkan waktu untuk baca novel Negeri Para Bedebah. Lantas semoga besoknya mereka berburu 40 judul lainnya karena ketagihan baca tulisan Tere Liye yang seru. Alih-alih tersinggung, Tere Liye justru memanfaatkan momen luar biasa itu untuk promosi buku. Kepolisian sebagai duta baca dan promotor buku sukarelanya.

Belakangan, melalui fanpage di Facebook, Tere Liye gencar menyuarakan protesnya kepada pemerintah yang tak kunjung menurunkan harga BBM. Padahal harga minyak dunia turun, negara lain pun sudah menyesuaikan harga BBM dengan harga terkini, mengapa Indonesia masih pakai pricelist yang lama?

Dengan manuver tersebut, Tere Liye menyasar Pertamina yang dipunggawai Basuki Thahaja Purnama (BTP) alias Ahok. Namun, mengapa Ahok tidak balas meminta sang penulis novel kondang itu untuk menurunkan harga buku-buku karangannya yang beredar di pasaran? Pasalnya, saat pandemi, orang-orang kebanyakan di rumah saja dan butuh bacaan yang bergizi. Buku Tere Liye memenuhi kandungan gizi yang dibutuhkan otak pembaca.

Ahok yang sekampung dengan penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, bisa mencuit di Twitter seperti ini:

“Sekarang toko buku-toko buku tutup. Harusnya itu mengurangi biaya distributor yang bisa mencapai 50 persen dari harga sebuah buku, tetapi kenapa harga buku masih sama saja? Tolong Tere Liye sebagai penulis yang nyaris memonopoli jalur fiksi untuk mulai koreksi harga buku.”

Walaupun toko buku tutup, buku-buku masih bisa dibeli melalui toko buku online. Pembaca yang beli secara online ini menanggung sendiri ongkos kirim ke alamat rumah masing-masing (jika tidak ada promo gratis ongkir). Dengan sistem begitu, seharusnya sebuah buku tidak usah dikenakan biaya distribusi lagi.

Buku adalah bensin bagi otak manusia dalam menciptakan imajinasi dan mempertajam pola pikir. Buku yang dijual mahal adalah kabut bagi dunia intelektual. Oleh sebab itu, Komisaris Pertamina itu perlu menyarankan Tere Liye berdiskusi dengan penerbit untuk menurunkan harga buku-bukunya.

Tere Liye diyakini punya andil besar dalam mengendalikan dunia literasi tanah air. Sebab sebelumnya beliau pernah menghentikan penerbitan buku-bukunya atas nama perlawanan. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang mengenakan pajak yang memberatkan penulis. Berhubung Tere Liye juga penulis, beliau merasa keberatan.

Meskipun rakyat terisolasi di rumah saja, dengan membaca buku, mereka bisa tetap melihat dunia. Sementara harga BBM tidak perlu diturunkan walaupun harga minyak dunia turun. Kalau harga BBM turun, nanti Ahok tidak bisa kasih diskon setengah harga ke driver ojek online.

Lagi pula, kalau harga BBM turun, memang mau ke mana sih? Bukannya disuruh di rumah saja? Di kondisi saat ini, buku lebih penting daripada bensin. Jangan sampai mereka yang ingin baca buku terpaksa baca buku PDF ilegal yang belakangan marak beredar di media sosial. Sebab harga buku asli tidak terjangkau semua kalangan.

Politikus yang dulu sempat demo setiap harga BBM naik, tidak perlu kembali berdemo untuk mendesak pemerintah menurunkan harga BBM. Sekali lagi, lebih baik di rumah saja dan menikmati hak istimewa sebagai kader partai penguasa. Kalau turun ke jalan untuk demo jadinya berisiko tidak menerapkan physical distancing (pembatasan fisik).

Yang mendesak saat ini adalah harga buku asli yang mahal dan peredaran PDF ilegal di tengah pandemi. Ya benar sekali, selain BBM, barang yang perlu disubsidi pemerintah adalah buku. Sebab, yang ditakutkan dari beredarnya buku bajakan adalah sakit hatinya penulis. Penulis yang bukunya dibajak adalah golongan teraniaya. Lantas doa-doanya didengar oleh Allah Swt.

Contohnya saja, Ika Natassa yang acap kali geram dengan penjual buku bajakan di marketplace. Wahai penikmat buku bajakan, mau didoain Ika Natassa, nasibmu tidak berubah selama belasan tahun ke depan? Melihatmu yang begitu-begitu saja, Mbak Ika jadi punya bahan mencuit di Twitter:

“Pernah nggak ketemu orang-orang yang bersentuhan denganmu di masa lalu: tukang baca buku bajakan, penyebar PDF ilegal, dan penjual buku non-original? Hidupmu sekarang sudah berbeda dengan saat dulu kau kenal mereka, sementara mereka masih menjalani hidup yang sama setelah belasan tahun. Sungguh pengingat untuk bersyukur.”

Untuk menghindari nasib buruk generasi muda di masa mendatang, karena itulah penulis berprivilese, marilah kita memerangi pembajakan buku. Dimulai dengan menurunkan harga buku aslinya. Kalau harga buku aslinya lebih murah daripada buku bajakan, pembaca pasti bakalan memilih buku asli.

Haris Firmansyah

Comments

  1. Yuyu Reply

    Honor penulis sudah kecil, jangan minta dikecilin lagi, hehe

    • Taufik sentana Reply

      Betul juga ya..ha ha

  2. Hardi Reply

    Ciyee…. Sesama penulis…😅

  3. Aku_siapa Reply

    Perang ilustrasi mahakarya

Leave a Reply

Your email address will not be published.