Sebuah Klub Buku Bernama Petra dan Mimpi Literasi dari Ruteng

Dokter Ronald mengawali sambutannya dengan mengucapkan lima salam. Persis seperti yang disampaikan para pejabat ketika hendak berpidato pada acara-acara formal kenegaraan. Tetapi sesungguhnya, acara malam itu tidaklah formal. Berlangsung begitu santai dan menyenangkan. Tamu-tamu tampak tak berhenti tersenyum, ikut berbahagia atas lahirnya Yayasan Klub Buku Petra di Ruteng, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang literasi. Pendirinya adalah dr. Ronald Susilo, seorang praktisi medis, pendamping ODGJ di salah satu klinik jiwa di Ruteng, pegiat literasi yang mencintai buku-buku dan bercita-cita agar semakin banyak orang menikmati kegiatan membaca.

Yayasan Klub Buku Petra sejak hari Sabtu, 27 April 2019 pukul 19.00 Wita—kala dr. Ronald Susilo menyampaikan sambutannya pada acara syukuran literasi itu—selanjutnya menjadi payung resmi dari agenda literasi di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada beberapa kegiatan.

Pertama, Bincang Buku Petra, yakni pertemuan sebulan sekali dari sekitar 20-an anggota Klub Buku Petra, membahas satu novel yang telah disepakati bersama. Kegiatan ini telah dimulai tahun 2013 silam dan kini menjadi agenda tetap yang dikelola yayasan. Terakhir, yang dibahas adalah Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Parianom.

Kedua, Perpustakaan Bergerak Petra, sebuah layanan peminjaman buku yang menggabungkan konsep perpustakaan konvensional dengan literasi digital. “Program ini dikerjakan oleh Maria Pankratia sebagai admin dan saya menyampaikan terima kasih atas pengabdiannya di dunia literasi,” tutur dr. Ronald.

Maria Pankratia adalah pegiat Buku Bagi NTT, penulis dan bloggr, berasal Ende-Fores, yang kini menetap di Ruteng dan mengelola program-program literasi milik Yayasan Klub Buku Petra.

Tentang konsep perpustakaan bergeraknya, kepada sekitar empat puluh undangan yang hadir di LG Corner Ruteng akhir pekan itu, Maria bercerita: “Sebenarnya ini perpustakaan biasa. Artinya anggotanya bisa pinjam koleksi buku kita. Yang berbeda adalah, setiap anggota wajib mendaftarkan keanggotaan melalui google form dan melihat daftar buku yang ingin dipinjamnya via tautan yang sudah kami simpan di google drive. Setelah menentukan judul yang ingin dipinjam, kontak WA saya, kita bikin janji, bukunya diantar.”

Menurut Maria, ada beberapa target yang ingin dicapai dari konsep ini. Mulai dari memudahkan akses anggota pada buku, memanfaatkan kemudahan teknologi sebagai usaha meningkatkan literasi digital, dan memudahkan proses pendataan serta pertumbuhan pembaca. “Sejauh ini sudah ada puluhan anggota yang berhasil mendaftar dan melakukan peminjaman secara rutin. Biasanya kita bertemu di sini (LG Corner, red),” tambahnya.

Yayasan Klub Buku Petra sendiri menyadari bahwa pertumbuhan literasi digital adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Paul Gilster dalam bukunya Digital Literacy (1997) menjelaskan bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui peranti komputer. Itu berarti, literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Berdasarkan kesadaran itu, dr. Ronald Susilo, dalam mewujudkan mimpi literasinya di NTT bersama sejumlah pengurus yayasan memutuskan menambah satu jenis kegiatan yakni melahirkan website literasi bernama bacapetra.co.

“Website ini adalah program andalan Klub Buku Petra. Di dalam website ini, ada kolom cerpen, puisi, ulasan, agenda literasi dan seni-budaya. Yang menulis untuk bacapetra.co akan mendapat honorarium. Ada juga bagian dalam website ini yang menulis hasil diskusi buku oleh anggota Klub Buku Petra setiap bulan,” papar Dosen STIKES St. Paulus Ruteng ini.

Beberapa bulan silam, saya diminta mengelola website ini dan mendapat dua tugas. Memimpin redaksi dan mencari para redaktur yang akan membuat konten-konten di bacapetra.co adalah bacaan-bacaan yang berkualitas. Atas kepercayaan itu, saya menghubungi beberapa teman yang tidak hanya telah lama bergiat di bidang literasi tetapi terutama memiliki kecakapan kurasi yang sangat baik. Beruntung, mereka segera menyambut baik tawaran tersebut dan dengan segera menyatakan kesediaan bergabung, dan bersama-sama menjaga website baru ini. Ada Mario F. Lawi, AN Wibisana, Felix K. Nesi, dan Marcelus Ungkang di komposisi redaktur.

Mario adalah penulis dan penyair asal NTT yang telah melahirkan beberapa buku puisi dan meraih sejumlah penghargaan sastra. AN Wibisana adalah kurator di Jurnal Sastra Santarang yang diterbitkan Komunitas Sastra Dusun Flobamora, editor lepas, pustakawan yang tekun, dan penulis puisi yang karya-karyanya telah disiarkan di sejumlah media. Felix K. Nesi adalah penulis asal NTT yang cerpen-cerpennya dikenal luas publik sastra tanah air, dan naskah novelnya Orang-Orang Oetimu menjadi pemenang pertama pada Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. Sedangkan Marcelus Ungkang adalah akademisi (dosen sastra di STKIP St. Paulus Ruteng) yang menulis sejumlah kritik sastra serta naskah-naskah pementasan teater.

Para redaktur ini akan melakukan seleksi dan kurasi atas setiap karya yang dikirimkan para penulis dari seluruh Indonesia, dan selanjutnya diserahkan kepada dua anggota redaksi lainnya yakni Oliva Nagung seorang perupa yang bertanggung jawab mengerjakan ilustrasi, dan Daeng Irman (Nirmansyah Totong) untuk penggarapan info grafis.

“Saya berbangga. Tim redaksi adalah orang-orang yang luar biasa dan karena itu saya berharap website ini akan berkembang dengan baik. Saya mengundang semua penulis, khususnya dari NTT, untuk mengirimkan tulisan terbaik mereka agar dapat ditayangkan di bacapetra.co,” jelas Dokter Ronald yang berharap agar kehadiran website ini menjadi salah satu alternatif bagi penulis untuk mengirimkan karyanya, selain portal-portal literasi yang sudah ada, seperti basabasi.co, jurnalruang, buruan.co dan lain-lain.  “Honorarium untuk penulis adalah bentuk penghargaan atas kerja keras para penulis dalam menghasilkan karya,” tambahnya.

Selain mendengarkan sambutan dr. Ronald Susilo, pegiat literasi dari berbagai komunitas di Ruteng yang hadir pada acara di LG Corner Ruteng itu juga menikmati penampilan dari Komunitas Saeh Go Lino Ruteng yang mengorganisasi acara ini. Ada Rana Maria, siswi kelas dua SD, yang membacakan dongeng dari buku terbaru Clara NG, Haris Saputra menampilkan dramatic reading cerpen, Rossy Wilhemina dan Simin Ara dalam musikalisasi puisi Aku Ingin dari Sapardi Djoko Damono, Ando Fernando dan Ferdy Mozakk yang tampil menghibur dengan menyanyikan salah satu lagu milik Payung Teduh.

Ferdy Mozakk, anggota Komunitas Saeh Go Lino Ruteng yang bertugas menjadi host (tuan rumah) pada malam itu juga memberi kesempatan kepada perwakilan komunitas lain yang hadir untuk tampil dan membaca puisi. Rinny Temala, pegiat di Teater Saja dan Komunitas Sastra Hujan mengambil tugas tersebut dan membacakan salah satu puisi yang telah disiarkan di bacapetra.co.

“Website ini sudah dibuka aksesnya tanggal 7 April silam. Silakan dikunjungi, dibaca, dan jadilah bagian dari usaha kita bersama memajukan literasi di Indonesia, khususnya di NTT,” ajak Maria Pankratia. Mewakili Yayasan Klub Buku Petra, Maria menyampaikan terima kasih kepada semua undangan yang hadir pada acara syukuran tersebut: Komunitas Sastra Hujan, Taman Baca Aksara, Manggarai Art, Pegiat Mading dari sekolah-sekolah (SMPN 4 Langke Rembong, SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng, SMAK Setia Bakti Ruteng), Sanggar Tari Nusantara Awit Te Sae, Madrigal Choir, dan sejumlah pegiat literasi pribadi yang turut hadir.

Pukul 22.30 Wita, ketika seluruh rangkaian kegiatan telah selesai, Dokter Ronald bersama sejumlah pendiri Yayasan Klub Buku Petra masih bertahan di LG Corner Ruteng. Bercerita tentang mimpi-mimpi yang perlahan telah terwujud. Katanya: “Tugas ke depan pasti tidak mudah. Tapi seperti tadi yang saya bilang di sambutan, yang sedang kita kerjakan adalah usaha untuk keabadian.” Dalam sambutannya, dia mengutip kalimat Pramoedya Ananta Toer: Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Rumah Kaca, hal. 473).

Armin Bell

Tinggal di Ruteng, bergiat di Komunitas Saeh Go Lino. Tahun 2018 menerbitkan buku cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”. IG: arminbell.
Armin Bell

Comments

  1. Br. Honorius,FC Reply

    Selamat dan sukses Yayasan club Buku Petra. Tuhan memberkati

  2. Ucique Reply

    Tulisan yang luhur. Viva Klub Buku Petra!

  3. Anonymous Reply

    Proficiat dan sukses Yayasan Club Buku Petra 🙏🙏

  4. Fazrin Reply

    Semangat kawan, salam dari kami Komunitas Warung Baca, Banjarmasin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.