Sejarah Maaf

(Oil paintings by Eduardo Fonseca)

 

Di suatu pagi, ketika lelaki itu hendak berangkat kerja, dia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Gegas ia menuju pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, lelaki itu mendapati sosok yang mirip kakeknya yang sudah meninggal, berpakaian serba putih, dan di punggungnya terdapat sepasang sayap.

“Kakek,” sapa lelaki itu terlihat tak percaya.

“Nama Anda benar Zon?” Sosok itu tak menanggapinya, tapi justru bertanya.

Lelaki itu bingung karena sosok yang mirip kakeknya tersebut tidak mengenal dirinya. “Benar. Anda siapa, ya?” sahutnya kemudian dengan sedikit ragu.

“Tuhan telah menetapkan, hari ini adalah hari kematian Anda. Pesan dari-Nya, Anda berhak atas surga. Persiapkan diri Anda untuk pergi bersama saya,” jawabnya.

“Mati?”

“Iya, dan Tuhan juga memberi bonus kepada Anda. Sebelum Anda pergi bersama saya, Anda boleh bertemu dengan satu orang, yang mungkin ingin Anda temui.”

Ketika ia masih sibuk memikirkan kejadian itu, dan belum sempat menanggapi pernyataannya, sosok itu telah menambahkan penjelasan, sosok itu akan menjemputnya enam jam kemudian. “Ingat, hanya satu orang yang bisa Anda temui. Jika Anda melanggar, Anda akan dimatikan pada saat pelanggaran itu juga.” Setelah mengatakan itu sosok tersebut berlalu dari hadapannya.

Lama ia tercenung, memikirkan banyak hal, salah satunya tentang status yang ia tulis di media sosialnya kemarin, Terkhusus bagi siapa pun yang merasa jalan hidup ini begitu nyaman: Katakanlah surga itu ada, bersediakah kalian dimatikan sekarang, dan kalian langsung akan dimasukkan ke surga.

“Kebetulan sekali,” gumamnya.

Ia yang sedianya akan berangkat kerja menjadi urung. Di menghampiri tempat tidurnya lalu duduk di pinggirannya. Pikirannya belum beranjak dari kejadian itu. Ia belum percaya sepenuhnya dengan semua itu, dan ia juga bingung siapa yang akan ditemui. Masalahnya selain hampir di semua lini hidupnya sekarang ini memang sedang nyaman-nyamannya, banyak orang yang sebenarnya turut bersinggungan dengan keberhasilannya.

Tak sadar, tangannya masih memegang kunci mobil yang tadi sudah ia persiapkan. Menyadari hal itu ia teringat tempat di mana ia bekerja. Sekarang ini ia sedang dipercaya menjabat pimpinan perusahaan, di mana hal itu merupakan posisi yang sudah menjadi impiannya sejak dulu. Belum lama ia mereguk kesuksesan, kini harus berakhir begitu saja. Jika diminta menyebut satu orang yang membantu kemajuan kariernya di kantor itu adalah pimpinan perusahaan yang dulu, yang senyatanya memang mengusulkannya untuk menjadi pengganti dirinya yang saat itu hendak purna kerja.

Terdengar sebuah pesan masuk di ponselnya. Sejenak ia membuka pesan itu. Terbaca, Cutilah barang seminggu. Ayo reunian. Pesan itu seketika mengingatkan kepada sahabat-sahabatnya. Baginya sahabat adalah semangat hidup yang tetap bisa memberi ruang agar ia  bisa bernapas lega. Karenanya, banyak sahabat yang hadir dalam kehidupannya. Saking banyaknya, ia merasa sulit jika harus menyebutkan satu per satu, siapa saja yang selama ini sudah memberi semangat dan motivasi sehingga ia berhasil meraih apa yang ia harapkan. Ia tidak bisa memilih satu di antaranya untuk ia temui. Tapi jika terpaksa harus memilih, ada satu sahabat yang kini ada dalam pemikirannya, sahabat itulah yang dengan setia, menemani mengarungi perjalanan hidup di dunia kerja yang tidak ramah itu.

Mungkin karena pemikiran pencarian siapa yang akan ia temuilah, benaknya tertuju juga kepada kakaknya, satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Kakaknya yang sampai sekarang memilih tetap tinggal di desa. Ia menyadari, dulu kakaknya rela tidak meneruskan pendidikan agar ia yang bisa meneruskan kuliah sampai mendapatkan gelar sarjana, bahkan akhirnya keterusan menempuh pendidikan S2. Ia merasa, awal keberhasilan dirinya atas sikap ikhlas kakaknya itu, yang dengan sengaja memberi kesempatan kepadanya yang berkembang. Ia menyadari terlambat memikirkan hal itu, bahkan sejak kelulusannya dari S2, ia belum sempat menjumpai kakaknya itu.

Saat ia berpikir tentang kakaknya, ingatan itu merembet kepada sosok ibu, yang memang selalu memberikan kasihnya yang tulus bagi anaknya. Pandang matanya mengarah pada satu potret yang dipajang pada dinding kamarnya. Potret ibunya. Ibu yang sudah tidak bersama bapaknya, karena telah lebih dulu berpulang. Jalan hidup ibunya pasti bukan sesuatu yang gampang, terlebih saat harus membiayai kuliahnya dan tinggal kos di kota. Ia pikir, sesungguhnya ibunyalah yang memang pantas ia temui yang pertama dalam hal ini. Ia sadar, hanya doa dari seorang ibulah yang sanggup memampukan dirinya menyelesaikan segala urusan, dan membuat hidupnya akan menemui kemudahan-kemudahan.

Mengingat hal itu sepantasnya ia memang harus bersyukur karena di dalam perjalanan hidupnya yang penuh liku itu selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Orang-orang yang selalu mendukungnya ke arah kesuksesan. Satu nama yang tidak bisa ia abaikan selainnya tentu saja kekasih hatinya, yang bernama Mutia. Diketahui, Mutia rupanya kekasih yang penyabar dan pengertian. Mutia mampu menempatkan dirinya bukan sebagai pengganggu  tetapi justru dengan keberadaan Mutia hidupnya menjadi lebih terurus dan terarah. Mutia hadir bukan sebagai kekasih yang suka menuntut, tetapi kekasih yang mampu menerimanya dalam segala perkara. Bahkan Mutia tetap setia kepadanya pada saat hidupnya sedang berada di bawah. Pada saat ia sedang terpuruk karena masalah ekonomi, Mutia dengan ketulusan hatinya tetap sabar dan ikhlas menemani melewati masa-masa sulit itu.

Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja yang ada di kamar itu. Tangannya membuka laci meja. Ia meraih sesuatu. Rupanya sebuah kotak kecil. Dibukanya kotak kecil itu, di sana terlihat sepasang cincin. “Kalau tidak ada kejadian ini, sesungguhnya sebentar lagi kita akan menikah,” gumamnya lirih. Diletakkan kotak cincin itu di meja, dan balik menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya penat. Pandang matanya melihat langit-langit kamar. Di sana tergambar orang-orang yang tadi dipikirkan. Ia melihat wajah-wajah mereka ceria semua, menampaknya senyum yang paling indah. Tak sadar bibirnya ikut menyungging senyum.

“Aku tak bisa meninggalkan semua ini sekarang. Terlebih aku tak bisa memilih salah satu di antara kalian untuk kutemui,” ucapnya. Beribu maaf meluncur dalam batinnya yang terdalam.

Ketika benaknya mulai lelah memikirkan hal itu, matanya juga mulai meredup, mungkin sebentar lagi akan terlelap. Tapi sebelum mata itu benar-benar memejam, pintu kamarnya diketuk dengan suara keras. Ia terperanjat kaget. Terdengar ketukan lagi sebelum ia lantas bangkit menuju pintu dan membukanya.

Begitu ia tahu siapa yang datang, spontan ia melihat jam di pergelangan tangannya. “Bukankah masih empat jam lagi?” tanyanya pada sosok berpakaian serba putih dan bersayap.

“Memang benar.”

“Lalu?”

“Hm….”

“Ada apa?”

“Sebelumnya saya minta maaf, ternyata saya salah orang. Yang dimaksud Tuhan memang bernama Zon tetapi bukan Anda. Sekali lagi, saya minta maaf atas kekeliruan ini.”***

Yuditeha

Latest posts by Yuditeha (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    hahahah…..ingin ku berkata kasar ama malaikatnya.

  2. Anonymous Reply

    keren, masya Allah 🙂

  3. Anonymous Reply

    Malaikat bisa salah juga rupanya 😂

    • Syefrianidar Reply

      Endingnya bikin nganu 🤣

  4. Anonymous Reply

    kok rasanya dulu kek pernah baca cerita mirip ini tapi di mana ya ._.

  5. Anonymous Reply

    Keren, mas.

  6. Pol Reply

    Ide cerita unik. Ending lucu. Tapi akhiran -nya terlalu sering muncul.

  7. Anonymous Reply

    😁

  8. Anonymous Reply

    hahaaha… bisa gitu malaikat salah orang.. ngakak..

  9. ano Reply

    hahaha… salah orang. salah alamat. alamak… malaikat macam apa ini. 🤣

Leave a Reply

Your email address will not be published.