Sepasang Hantu yang Murung

pinterest.com

Mereka berdua sama-sama berteduh. Salah satu berteduh dari hujan yang turun sementara yang lain berteduh dari gerimis yang rincis. Tetapi bagi mereka, rintik basahnya sama-sama mengundang perasaan sentimental; degup dada terluka antara rindu dan dendam. Ya. Di bawah atap toko yang sedang sepi, lelaki itu akhirnya menepikan tubuh. Dan di bawah jembatan nelangsa si perempuan tak bisa memilih.

Sebut saja lelaki itu Joan sementara yang perempuan Lilian. Mereka berdua saling mengenal. Bahkan lebih dari itu, mereka adalah sepasang kekasih. Terakhir bertemu bulan Agustus lalu, di perayaan tujuh belasan, di ruangan terbuka dekat sebuah taman. Tempat itu sangat dekat saat kau atau siapa pun membayangkannya.

Hari itu mereka bercakap-cakap. Orang-orang yang berduyun sudah dengan dirinya masing-masing, dengan kegiatan masing-masing. Mungkin juga sebagian yang lain sudah pada rencana untuk beranjak ke suatu tempat. Hendak beranjak pulang.

Lilian memulai dengan penekanan suara yang tidak dibuat-buat. Cara matanya menatap, kesan kesedihan begitu sempurna. “Bagaimana bisa, di tanah yang sudah merdeka ini, cinta kita belum merdeka.”

“Tidak mungkin merdeka.” Joan menimpali. Tanpa bersusah payah mencari kata-kata untuk diucapkan.

Joan menoleh. “Mana mungkin kita melawan mereka?”

“Ya, mana mungkin! Ha ha ha mana mungkin!”

Embusan napas. Semilir angin dan riap-riap cahaya matahari menembus daunan. Kasak-kusuk langkah beradu bising kendaraan di segenap sisi bundaran. Kursi panjang seolah meratapi kebisuannya sendiri di bawah pantat mereka.

“Tapi aku ingin bebas. Ingin merdeka.” Lilian melirik Joan. Mereka lalu saling menatap.

“Begitu juga denganku,” lirih Joan.

“Aku memikirkan caranya.”

“Sama. Aku sudah tahu caranya.”

“Apa?”

“Pergi.”

“Dari rumah? Berdua?”

“Bukan. Bukan itu.”

“Terus? Mati?”

Joan sedikit membuka bibirnya. Seperti tersenyum.

“Aku juga memikirkan hal itu. Barangkali tiada lain. Hanya dengan itu kita merdeka.”

Sesaat setelah itu, kecup terakhir di kening Lilian. Lantas mereka pergi menempuh jalan masing-masing. Menuju tempat tinggal masing-masing. Lilian sengaja tidak minta diantar. Sebelumnya juga menghalangi kecupan hangat di bibir dengan mengemukakan alasan waktu tidak tepat. Dia akan membuat kejutan setelah nanti bertemu lagi. Joan hanya mengangguk. Dan sudah pasti pilihannya itu. Siapa saja lebih dulu bebas dari cengkeram dunia ini, ialah yang harus menunggu, batin Joan berbisik begitu. Mantap!

MARI kita mulai dari Joan lebih dulu, selang kemudian kekasihnya yang cantik itu, Lilian. Sebab cerita ini bukan hanya dariku, tapi sesosok makhluk yang mengiringi langkah Joan hingga pada waktu yang sudah diketahui, ketika Joan memberi ancer-ancer hidupnya segera berakhir, dan dicabutlah nyawanya itu. Kecuali nanti, saat tiba waktunya juga, aku akan menceritakan bagaimana Joan dan kekasihnya itu menjalani kisahnya sebagai hantu; ya, tingkat kemurungannya itu yang menjadi titik cerita ini dan hanya aku yang akan menyampaikannya. Pokoknya bila mereka sudah jadi hantu dan kemurungan jelas terasa di sana, itulah aku tengah menerakannya. Jelas, ya….

AKU membuntuti Joan sampai rumah. Di rumah, sudah menunggu perempuan muda dan seorang anak yang membukakan pintu untuknya. Anak itu berhambur memegang lutut, disertai senyum ibunya yang menatap wajah Joan. Joan mengangkat anaknya lalu membersamai bermain di sofa untuk beberapa menit lamanya. Setelah itu pergi ke kamar, diikuti tatapan istrinya yang seakan tidak rela mereka ditinggal pergi begitu saja. Apalagi tiba-tiba anaknya ngambek melihat Joan pergi ke kamar dan begitu saja membuang mainan di tangannya seolah tak akan membutuhkan mainan itu lagi, yang segera saja ibunya coba menenangkan dalam buaiannya sambil matanya berkaca-kaca. Hari-hari terakhir memang berbeda, malam-malam juga terasa begitu, ia kerap diam, berperilaku aneh, tak hangat lagi—begitulah desis si perempuan tanpa dimengerti anaknya. Aku yang melihat adegan itu, segera menyusul Joan ke kamar. Di sana dia sedang menyurukkan kepala ke dalam bantal, duduk di tubir ranjang memegang kepala, pindah ke muka cermin dan cukup lama memandang muka, mencari sesuatu di dalam laci; antara pistol, pisau cukur, gunting, dan obat serangga yang sengaja disimpannya. Tapi sepertinya tak ada minat untuk menggunakan salah satu di antara semua. Ditutupnya lagi laci itu, kembali ke depan cermin, kemudian—kuperhatikan tangannya mengepal bergetar—meninju bayangan wajah di depannya sampai lebur. Aku tersenyum melihat itu. Alih-alih ngeri atau bersedih, tidak dua-duanya sama sekali. “Lekaslah! Waktumu tinggal sebentar. Jangan buat aku lebih cepat dari ini. Lakukanlah apa saja yang ingin kau lakukan,” kataku, yang tentu saja tidak pernah didengarnya. Tapi apa boleh buat, aku hanya ingin bicara. “Ayo, cepat lakukan sebisamu. Di menit itu kau akan hilang dari tugasku. Saat itu kau jadi hantu, dan aku pun sudah tidak mau tahu, apalagi kembali membuntutimu.” Cukup lama memandang luka, akhirnya Joan keluar lagi. Di sofa itu aku melihat mereka berdua tertidur dengan wajah teduh sebab terbebas dari urusan dunia; kenyataan yang mengusik kebahagiaan hati. Joan, entah apa yang telah terjadi di dalam dadanya, pelan-pelan dengan kaki tanpa suara telah mendekat ke arah mereka. Begitu dekat menatap lekat kedua wajah yang pulas kemudian pergi dengan tangan gemetar. Dia berjalan terus meninggalkan halaman. Berdiri setelah cukup jauh dari rumahnya. Matanya yang bulat masih lekat menatap. Mata itu kemudian terpejam ketika lampu sebuah mobil menyorot dan tubuhnya terseret begitu saja. Di situlah, begitu tangkas aku bekerja. Hm, sudah bukan perkara sulit lagi bagiku menangani kasus macam Joan. Dan oleh karena tidak harus berlelah-lelah, berkali-kali telah kupuji diriku sendiri. Bukankah memuji diri adalah sebagian dari memuji kehebatan Tuhan? Aku sebentar berdiri. Biarkan saja, mungkin arwahnya masih ingin melihat jasadnya yang hancur. Aku berkata padanya—setelah kubawa arwah itu melayang jauh dari jasad yang mungkin segera ditemukan dan ditangisi oleh orang-orang yang mengenalnya, terlebih keluarganya. “Karena kau ingin bebas, maka bebaslah. Sudah kubebaskan kau dari belenggu. Tak ada keterikatan lagi dengan apa pun. Selamat, kau sudah jadi hantu.” Aku pergi sambil tertawa, meninggalkannya termangu sendirian. Dan bukan perkara menyinggung siapa pun. Toh, sering aku tertawa di dalam tugasku.

BERUBAHNYA langit terang ke gelap benar terlepas dari perhatiannya. Lilian memang terus menatap ke angkasa tanpa berkedip. Namun pikirannya yang mengambang jauh itulah membuatnya tak sadar segala sesuatunya berubah. Rincis gerimis yang mengenai wajah murung begitu saja menyadarkannya. Dulu memang suka mengadahkan wajah pada tetes hujan, tapi setelah menjadi hantu, rupanya perih begitu terasa tiap rincis mengenai wajahnya. Memang segalanya sudah berbeda. Lagi-lagi sebab pikirannya telah membuat perih. Ketika rincis itu menitik, begitu saja terbayang wajah hancur. Wajah yang hancur penuh luka berdarah itu terasa amat perih terkena rincis gerimis, begitu dalam pikirannya, terasa perih dirasakannya.

Maka Lilian segera menarik wajahnya, dia bergegas membawa tubuh lelah berteduh dari gerimis. Dalam gelap, begitu jelas rincis itu menebar basah. Disertai angin yang desirnya kelewat dingin, Lilian mengusap-usap bahu di balik tembok penyanggah jembatan. Dia merasa sedih.

Sebetulnya Lilian ingin pergi dari tempat itu. Namun semacam kekuatan aneh membuatnya tetap berada di sana. Terasa sudah sekian tahun lamanya. Setiap kali melangkah ingin keluar dari jembatan yang membelah sungai dan tidak digunakan lagi itu, selalu saja gelap tiada berujung. Bila pun terus memaksa berjalan, bersusah payah mencari titik terang, dia hanya akan menemukan tubuhnya kembali berada di tempat yang sama. Dan sering, karena pun hanya kenangan yang tak bisa dihapuskan, bayang-bayang kekasihnya menjadi bahan tangisan. “Joan, di manakah kau? Bukannya kau berjanji akan menemuiku segera? Dan apakah setelah begini, cinta tetap sama, tak menemukan kemerdekaannya?

“Joaaannnn….”

Di tempat terpisah, Joan duduk termenung di bawah atap sebuah toko dalam kepungan hujan yang deras. Dia terus memandang ke depan, pada jalanan di mana tubuhnya dulu tergeletak penuh darah bersimbah yang dari waktu ke waktu terus-menerus bermain di kepalanya kendati bekas darah kering itu sudah berkali terhapus dan diseret air bah. Dan hanya segelintir itu, tubuhnya tidak bisa dibawa pergi ke mana pun. Memang dulu sempat dibawa terbang, tetapi setelah sesosok makhluk itu pergi, betapa keinginan menariknya dan membuatnya kembali ke tempat itu. Dan di sela semua itu, ketidaktahuannya terhadap nasib Lilian, Joan merasa telah dikhianati.

“Kau sungguh menipuku, Lili. Bagaimana mungkin kau tidak datang menemuiku?

“Lelaki mana yang sudah menyuntingmu, yang bahagia di atas kesedihanku?

“Brengsek!!” Joan terkenang jemari Lilian di bibirnya, yang serta-merta menghalangi ciuman di bibir merah itu. Diingatnya bibir merah Lilian yang menampilkan senyum kala itu, terasa nyeri semakin menjadi-jadi kini.

Dan kerap bersinambungan ingatan-ingatan di kepala Joan.

Dulu itu, saat Joan turun kembali ke bumi, dilihatnya tubuh-tubuh hidup menghampiri jasadnya. Ada pula istrinya beserta si kecil anaknya yang tentu saja meraung-raung. Dan hari itu, sungguh terasa sudah sekian tahun berlalu.

Di lain kesempatan, begitu saja Joan berjalan-jalan, terkadang pula sampai di pintu rumahnya. Di sana dia menemukan anaknya yang kian tumbuh dan karenanya telah bertemu dengan rasa sesalnya sendiri. “Oh, anakku. Maafkan aku.” Sementara perempuannya dulu, sudah bersama lelaki lain yang menggenapi. Melihat kebahagian itu, membuatnya semakin teringat terhadap Lilian yang tak kunjung datang. Sudah pun dicarinya ke mana saja, hanya Lilianlah tak ditemukan. Bahkan, jalan menuju rumahnya seakan sudah berbeda. Tiap kali Joan yakin sudah sampai, halaman rumah itu berbeda sama sekali dari rumah kekasihnya itu.

SEMENTARA itu, di lain waktu, aku mengikuti langkah kecil tapi pasti di depanku. Sesekali wajah itu menoleh ke belakang. Tampak sendu. Bila ke depan, tampak semringah sekali. Terus dan terus kuperhatikan dia di depanku, perlahan menaiki tangga sebuah jembatan. Tidak sampai di atas sungai, dia berhenti lalu menyandar. Dia tergoda menengok ke bawah. Coba-coba menaiki pembatas dan memandang ke langit lalu mengitari semesta. “Joan, kekasihku,” lirihnya berulang. Dan tanpa nyana, sebelum turun, kaki itu terpeleset. Bahkan sebelum tubuhnya remuk menyentuh tanah, lebih dulu jantungnya tak berfungsi. Lagi-lagi, aku memuji ketangkasanku mengeksekusi. Tuhan menganugerahkan padaku yang demikian itu. Oh, sungguh luar biasa.

***

“Sungguh kau menipuku, Lili.” Kemudian sedunya sendiri, ditenggelamkan hujan yang terus-menerus memukul atap. Joan juga tak henti merutuk dan terkutuk dalam kemurungan.

Sementara Lilian yang disebut-sebut pengkhianat oleh Joan, terus di bawah jembatan nelangsa itu. Terperangkap bersama serakan tubuhnya yang dari hari ke hari kian membusuk lalu belulang dan bagian-bagiannya yang lain hilang tinggal beberapa seperti tengkorak kepala yang kehilangan biji mata dan hancur sebelah. Tengkorak kepala itu dalam guyuran gerimis, dan dia pun tak habis-habis meratapi nasibnya sendiri.

D Inu Rahman Abadi

Pria kelahiran Sumenep 1995. Mahasiswa STIQNIS Karangcempaka, penikmat kopi, senja, dan sastra.

Latest posts by D Inu Rahman Abadi (see all)

Comments

  1. Siti Aminah Reply

    good. Saya suka.

  2. Juniar Syah Reply

    akhir yg sedih….cinta membutakan.

    • Elsa Reply

      Bagus ceritanya

  3. Firyal Ghina Humaira Reply

    Miris bgt lilianny …
    Cerpenny bgs Kk

  4. Ahmad zainuri Reply

    Wow, akhir yg bikin merinding.

  5. Anonymous Reply

    Saya suka cerita yang tak berakhir bahagia. Karena gak ada happy ending dalam hidup ini
    Hidup terus berlanjut

  6. Yunita Reply

    Menyedihkan, hikesss

  7. Yuni Bint Saniro Reply

    Yuni merinding baca cerita ini. Ntahlah. Menyeramkan menurut yuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published.