Seperti Burung Walet yang Terbang [Melayang] dan Luwes Berbalik

KETIKA lewat di irigasi, di luar batas kampung dengan persawahan itu—matahari mulai bundar, menyilaukan tanpa berlumuran merah seperti pagi dini tadi—, dan sambil memperbaiki peredaran oksigen di rongga dada serta melenakan napas memburu dan terengah-engah: aku menatap puluhan burung walet, yang terbang bagaikan berputar-putar. Kemlayangan luwes nyaris tanpa kibasan kepakan sayap. Semua bagai pusingan benda terbang, berwarna hitam, yang tidak bersuara—kumpulan, gerombolan, yang melayang-layang. Meninggi dan merendah berirama, bergilir berputar untuk memulai semuanya dari awal lagi, lalu menuju puncak yang tak tampak—setelah memintas sepanjang alur sungai.

Semua rutinitas gerakan itu dimulai dari terbang agak menukik, di awal, di hilir irigasi, melintas menentang arah arus ke hulu—bukan saluran besar, hanya saluran primer, sengaja dibuat, dan jadi sumber air amat artifisial dengan membendung anak sungai alam, yang sempadannya mendinding sampai empat meter lebih dari dasar palungnya, yang lebih dalam dari hamparan sawah. Dan burung-burung itu melintasi cepat, menukik seperti akan menyentuh air, sekilas karena cepat, mengarah ke atas, menjauh, dan melayang dalam keriangan kelompok, kebersamaan berkerumun—dan memulai gerakan dari awal lagi.

 ***

SEMUA gerakan itu, pada awalnya aku berpikir: mereka itu sedang meneguk air—seperti kucing atau anjing, yang minum dengan menjilati air, dan itu dilakukan berulang-ulang, hanya dengan menjulurkan lidahnya, tanpa pernah dahaga itu ditawarkan dengan sengaja digeloggok—seperti Trimo meneguk arak oplosan. Terpikir, mereka sangat cepat saat meneguk, dan sekilasan sudah tergabung lagi dalam komunitasnya di ketinggian pagi muram—sebelum mendapat giliran memulai gerakan dari awal lagi. Semacam keriangan ritus di pagi hari, sebelum mereka, bersama-sama, terbang ke tempat jauh dan berputar-putar di tempat yang jauh, menangkap serangga sampai kenyang—, dan di petang harinya serentak, bersama-sama, pulang, kembali—berputar-putar dulu sebelum masuk ke bangunan tua yang mereka kuasai di kota, yang terpaksa ditinggalkan penghuni, manusia, buat ditempati mereka—meski kemudian diambil sarangnya.

Kemudian terpikir, mereka itu sedang menyambar serangga—sudah mulai sarapan—, atau itu mungkin hanya larva, si yang berjentik-jentik di permukaan air yang tidak deras (meski mereka agak terhanyut-hanyut), atau kepompong yang gaib saat si larva itu akan bermetamorfosa jadi serangga—nyamuk atau apa, tapi yang sangat renik. Karenanya, aku paham, kenapa mereka hanya bergerombol di sungai yang agak tergenang serta arusnya tak cukup deras—arus agak tertahan pembendungan, untuk menaikkan permukaan air, untuk memudahkan air mengalir ke sawah—dan percaya bahwa itu tidak akan ditemukan pada irigasi dan sungai yang arusnya deras. (Dan percaya, ihwal yang sama juga dilakukan di tengah kemarau, ketika sungai benar-benar nyaris tidak mengalir—juga kenapa walet itu suka berkelompok, terbang berputaran, serta melintas tanpa pernah menjejaki permukaan, sekilasan, sebelum membubung lagi ke dalam komunitas yang melayang tanpa berkepak, di areal persawahan yang baru tandur, dan tidak pernah ada ketika rumpun padi telah menyembunyikan genangan—seperti juga kumpulan burung bangau yang datang entah dari mana, memburu cacing atau anak katak, lalu menghilang entah ke mana).

 ***

AKU ingat almarhum Sule. Ia pernah jadi penyuluh pertanian, jadi si orang Bimas, yang mengaturkan permintaan kredit modal, kredit pupuk, dan kredit alat pertanian yang diajukan kepada Bank—dan ia mendapat fee dari itu, selain memeras dan menipu petani yang buta berurusan dengan organisasi administrasi kredit—, dan (kemudian) ia memang digaji untuk melakukan hal itu. Tapi ia tidak terlalu tekun dengan pekerjaan itu, beberapa temannya telah jadi PNS, berkantor di areal kecamatan, dan mendapat inventaris motor trail, yang lincah di daerah becek dan bergeronjal di pelosok, dan malahan banyak yang (kini) telah pensiun.

Sule tidak pernah bertahan jadi honorer—serta diangkat jadi PPL. Itu mungkin karena ia terlalu suntuk kepada kegemaran orang Subang dekat ke pesisir, dekat Krawang, untuk berlatih Jidor. Menari dengan patokan ketuk tilu, dengan menikmati bunyi kecrek, si nan monoton dan membuat pola mandiri, lantas gamelan menghiasi pola lurus itu, dan (pula) menerima kenikmatan komposisi gamelan itu, dengan ledakan varian pukulan kendang, sampai tuntas ukuran satu wilet, satu bar, yang ditutup oleh bunyi klimaks dari si gong besar, dengan kemerdekaan berimprovisasi gerak dan hiasan tepuk kendang di antara sederetan bunyi pukul gong kecil—dan dengan bantuan sinden nyanyi dibimbing rebab.

Semua merujuk pada kebebasan improvisasi gerakan sebelum bunyi gong besar penutup wilet. Itu patokan untuk berimprovisasi, meski kemerdekaan itu harus patuh kepada ujung bar, dengan penutup gerakan, yang disebut ngalagenah—menikmati (akhir) empati. Kemerdekaan yang membiusnya, dan ketika kontrak kerjanya habis; ia memilih tak bertahan dan memperpanjang kontrak—beberapa temannya, saat itu jadi honorer bank, lalu diangkat jadi pegawai bank, yang bertugas di lapangan. Ia malah bergiat dalam lapak kesenian, dan ketika Gugum Gumbira mempopulerkan genre tarian itu—sebenarnya hanya mengubah tariannya, dengan membuat notasi gerak tari berdasar teks notasi komposisi musik, hanya membuat patokan gerak dengan mengacu lagu, mengikuti tradisi jidoran—, dan itu dikemasnya dalam produksi (massal) kaset, yang diedarkan industri rekaman miliknya.

Itu jadi ledakan produksi kaset, budaya massal jaipongan. Dan Sule perlahan bergerak dari pemilik sanggar, yang melatih orang menari jaipongan, dan (perlahan) jadi si yang mengkreasi corak tarian individual berdasar kebebasan berimprovisasi. Dan saat ia ingin memperkaya variasi gerakan, ia bertualang, dari satu penari kahot ke penari kahot lain, dan mulai mengkreasinya dengan gerak silat. Memaksanya mencari beberapa guru silat yang tersembunyi dan punya gerakan kembangan indah dan orisinil, dan mengembara dari satu kuil tua serta ke kuil tua yang telah dilupakan—bagai pendekar dalam kisah silat Mandarin di buku yang gemar dibacanya—, sekadar mencari empek-empek, untuk berlatih silat Cina. Puncak pencariannya, ia melihat komunitas walet terbang, melintas cepat—menyambar serangga—, lalu membubung cepat dan berbalik—sigap dengan gerak berbalik yang tak kaku dan tanpa ada tersendat jeda. Indah, pikirnya—dan karenanya, ia minta agar dukun mempersiapkan susuk, untuk menyerap laju gerakan itu, menelan gerak sigap tanpa tersendat itu. Sebuah estetika gerak luwes terbang berbalik dari burung walet.

Untuk itu, kata orang, Sule pergi ke Banten—ke suatu tempat dengan, masyarakat yang keyakinan dan lelaku mistiknya masih kental. Meminta susuk dan penyerapan—tanpa pengajaran, hanya dengan mantra saja, serta itu hanya dalam sekali lelaku—: laku serta mekanisme terbang luwes burung walet. Dan kata orang, itulah khas gerak tari Sule, membuat gerakan menari, yang dalam melangkah monoton ritmis ke arah depan itu bisa tiba-tiba berbalik—membangun putaran—, dan penonton bisa melihat kelebatan badan penari, yang dibalut kain panjang dan kebaya ketat, berbalik dengan tangan sigap mengibaskan ujung selendang, sampur. Indah sekali—katanya. Dan karena itu ia jadi pembimbing dan pelatih tari—terutama bagi penari profesional—, di bagian yang tak terlalu diperhitungkan orang dan kini diburu oleh banyak penari, sebagai gerakan tari yang tak boleh dilewatkan.

Dan karenanya ia jadi pelatih tari yang penting, bertarif, seiring dengan ledakan popularitasnya jaipongan. Bahkan mengembangkan potensinya jadi pemilik sanggar, yang memiliki gamelan dan nayaga top—bahkan ia merangkap jadi pembawa acara yang popular. Semua hanya karena jaipongan—mungkin juga karena susuk serta ilmu gerakan (terbang) membalik badan walet. Mungkin.

 ***

HIDUP jadi lebih mudah—terkadang Sule berangkat pagi, dan bertualang memenuhi satu panggilan penari dan artis ke penari serta artis lainnya, ke rumahnya, mengajarinya menari; dan terkadang malam-malam ada yang datang ke sanggar dan semalaman diminta melatihnya menari. Kini ia suka berkumpul dengan banyak seniman, iseng ikutan main kartu, dan sambil menenggak bir. Sangat duniawi sekali, hingga aku merasa bahwa ia telah jadi orang lain dan karenanya amat jarang bertemu dengannya.

Lalu lebih sering berada di rumah, mungkin karena kesehatannya agak terganggu, karena terlalu sering begadang dan menenggak minuman keras. Kemudian terkabar kalau diabetesnya kambuh, dan itu ditambahi dengan gangguan luka pada kaki kiri—jadi borok, yang tak kunjung sembuh, bahkan tak bisa disembuhkan karena lukanya tak bisa mengering—ngangaan itu jadi pintu infeksi, bahkan kakinya kiri itu membusuk sekitar di bawah dengkul. Ia tercenung. Ia mencari dana ke sana kemari—saat itu masih terkenal dan diakui banyak orang atas kemampuannya—, dan amat positif menerima anjuran dokter untuk diamputasi. Sule mau menerima fakta, bila ia akan jadi orang yang hanya punya sebelah kaki. Tapi, dengan gagah, ia tak merasa rendah diri dengan fakta itu, malahan meneruskan lagi kebiasaan lama—bangun telat, bergerak ke sanggar atau rumah artis, yang satu dan yang lainnya, untuk mengobrol, untuk minum-minum, begadang sambil main kartu, serta pulang selepas tengah malam. Tetap bangun telat dan melakukan kebiasaan itu lagi.

Saat itu aku tak di Bandung lagi. Lama tidak bertemu dengannya—aku pergi ke timur, mengembara ke provinsi lain dan jarang pulang kampung. Semua hanya berita yang sampai lewat telepon. Kemudian terbetik berita, bahwa kadar gula darahnya tetap tinggi, diabetesnya terus bermukim, dan itu terbukti dengan tumbuhnya borok baru di atas sendi dengkul dan jauh dari ujung atas pangkal kaki—jauh dari persendian, tempat tungkai kaki bergayut, kalau tungkai paha, bila masih ada, dibebaskan dari buhul sendi dengkul—, dan itu tak mungkin sembuh dan terus membusuk. Sule tak bisa pergi ke mana-mana, dan hanya berbaring di ranjang, di kamar yang senantiasa bau aroma anyir daging membusuk.

 ***

TERPIKIR: apa harus dipotong lagi? Dan ketika dibawa ke dokter, dokter pun angkat tangan. Kadar gula darahnya tinggi, hingga setiap luka mustahil sembuh—bahkan racun dari daging membusuk itu telah terserap dan mengadoni tubuh. Lantas? Kata dokter, seharusnya Sule sudah mati, tapi tubuhnya tak bisa mati karena tubuhnya itu tak hanya dimiliki ruh tapi juga jin—sehingga sepanjang hari ruh serta (otak serta saraf refleks) kesadaran Sule selalu tersiksa dengan pembusukan tubuh. (Kini, terkadang, sebagai seorang pengarang, aku merasa menyesal tak mengajaknya mengobrol dan bertanya tentang bagaimana merasakan mengalami mati sambil tak bisa mati, padahal tubuh sedang terurai jadi busuk. Memang). Tapi, katanya—saat itu, dan aku jauh di timur—; Sule tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun—meski matanya selalu liar, mendelik-delik, serta mulutnya terus nyerocos memaki dan bicara kasar tentang segala hal—sehingga perlu ditenangkan, dengan sanak keluarga kuat-kuat dan lantang membaca Al-Qur’an, terutama Yaasin.

Dengan itu Sule jadi tenang—tidak gelisah serta buas meracau lagi. Kata orang tua, Sule punya ilmu, punya susuk, serta itu harus dikeluarkan dahulu, sehingga tubuh jadi netral dan bisa alami mengalami prosesi kehancuran—dan spontan menyetel tombol mati. Kini, semua keluarga dan sahabat Sule mencari orang yang bisa mengeluarkan susuk—dan itu semakin merepotkan ketika sabetan daun kelor tidak bisa mengeluarkan susuk. Orang tua yang didatangkan mengangkat tangan. “Ilmu yang memasangkannya sangat tinggi,” katanya—setengah berbisik, ia bilang, bahwa ilmu itu akan tawar bila Sule mau makan daging walet bakar, seekor. Karenanya kami semua mencari orang yang bisa menangkap walet, dan si walet tetap hidup—tapi siapa, tapi bagaimana itu dilakukan?

Keluarga bertanya kepada si orang tua lagi, kepada si sembarang orang, serta mendapat jawaban sederhana—“Cari pawang burung, yang dengan membakar kemenyan bisa mendatangkan burung, yang paling liar dan paling langka sekalipun.” Setelah orang itu ditemui, diminta bantuan buat menangkap walet—dan tanpa banyak omong keluarga segera menyediakan sesajian dan membakar kemenyan—, dan katanya, “Suatu saat nanti, aku juga mungkin akan merepotkan banyak orang.” Siangnya ia mengantarkan seekor walet hidup, dan si burung kecil itu disembelih keluarga—tanpa boleh mengucapkan bismillah—, dan langsung dibakar—, bau sangit bulu terbakar memenuhi deretan rumah-rumah sekitar.

Sule tersentak dari tidurnya—mata membelalak, dan ia gelisah, meski badannya tak bisa bergerak. Berteriak dan mencakar-cakar—melempari setiap orang dengan apa yang bisa diraih. Orang menjauh—dari balik tembok membaca Al-Qur’an dan terutama Yaasin. Orang tua itu, si yang meminta daging walet bakar, membawa walet bakar itu dan meletakkan itudi sisi Sule sambil hormat menyarankan itu agar dimakan. Mata Sule membeliak, lantas ia tenang serta tertidur. Tubuhnya diseka dengan handuk kecil, dan menjelang zuhur meninggal—dengan tanpa bangun lagi, dengan amat tenang. Dan semua orang jadi lega.

 ***

KABAR itu sampai di rantau, lewat telepon—serta detail kematiannya aku sarikan dari cerita—, dan (karenanya) buru-buru aku bertobat serta melepaskan segala susuk kekebalan serta ilmu dan mantra pemanggil kekuatan Iblis dalam wujud binatang buas. Sejak itu aku hidup susah—malahan harus mbecak—, tapi lega karena aku tidak akan merasakan sakit tubuh yang hancur terurai tanpa pernah mati, akan hanya disiksa menikmati prosesi sekarat wajar dari detik ke detik. Dikutuk siksa oleh kemudahan di masa kini yang diciptakan sihir serta iblis. Tapi aku tidak berdaya ketika mantu sulungku berjualan arak oplosan—meski dengan keras dilarang—, karenanya di setiap pagi aku aerobik, melupakan fakta itu sambil menyegarkan tubuh, meski saat pulang aku kembali melihatnya meracik arak Jawa, putihan, dengan aneka zat memabukkan—yang derajatnya, hanya satu strip di bawah garis mutlak kesadaran hilang dan mati. Amat berisiko—tapi aku yakin, mereka pasti akan segera mati dan tak perlu berlarut-larut menderita kayak Sule. Jadi enjoy saja.

Dan saat ini, ketika menatap tarian walet di atas arus irigasi yang agak tergenang—sedang langit kelihatan lebih muram, serta mendung melabur tipis kecerahan siang, yang tidak kunjung terang—, dan aku teringat Sule. Ingat kematian yang tidak mengizinkan ruh bebas keluar dari tubuh, yang sedang ekstrem melakoni prosesi penghancuran. Mengerikan sekali. Memang!***

Caruban, 12/2018-03/2019-2020

CATATAN:

digeloggok: diminum cepat dan sebanyak-banyaknya, sepertinya ingin sekaligus dihabiskan, sehingga berleleran di pipi, leher serta dada, hingga mulut bagai hanya dingangakan dan air/cairan dari tabung penampung digelontorkan cepat-cepat untuk mengisi lambung.

oplosan: campuran

tandur: penanaman bibit padi, yang pucuknya dipotong, dengan akar yang tepat utuh meski dicabut dari persemaian, dan lantas ditanamkan di hamparan lumpur sawah yang telah matang disiapkan untuk penanaman—biasanya dilakukan ibu-ibu.

nayaga: si kelompok penabuh gamelan, pria, instrumentalis, yang mengkreasi serta menghias monositas bunyi kecrekan, dan sekaligus mencipta ruang yang membolehkan varian improvisasi gerak dalam acuan komposisi satu bar atau satu wilet—sekaligus memperkuat dan menganjurkan improvisasi dengan kode teriakan/senggakan.

ngalagena: gerakan penutup dari komposisi satu wilet, yang amat menunjukkan kenikmatan dan penikmatan satu prosesi menari yang amat bebas berimprovisasi. Ini adalah hakikat ketuk tilu, perasaan puas dan senang seiring penutupan bar, dengan bunyi gong besar yang dipukul—klalu komposisi dimulai dengan bar baru.

jidor: sebanding dengan ketuk tilu dan biasa dimainkan di Krawang atau perbatasan Jakarta, di pesisir, penuh dengan improvisasi gerak serta dengan laku penyimpangan.

kahot: terkenal, tua dan yang dipertuakan.

kembangan: gerakan kosong bukan untuk berkelahi, hingga dirancang indah dipandang.

empek-empek: lelaki tua, kakek-kakek.

susuk: butiran emas, terkadang intan, yang ditanam di bagian anggota tubuh tertentu—dengan membaca mantra—, dan berfungsi sebagai pemikat secara magis.

jaipong: orang yang menarikan tarian jaipongan, biasanya wanita.

kelor: daun tanaman perdu, yang diasumsikan bisa menghapus sihir susuk.

sangit: bau yang tajam menyengat dari sesuatu yang hangus terbakar.mbecak: menaik/bekerja menarik becak.

Beni Setia

Comments

  1. Adrian Reply

    Cerpennya bagus sekali…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!