Seruan kepada Guru Sastra

Sasin Tipchai

Bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan sastra di negara ini? Bagaimana pula menerawang nasib literasi anak bangsa? Jawabannya sederhana: lihatlah ke sekolah. Apakah di sekolah ada gerakan literasi atau tidak? Tentang keberhasilan sastra juga sederhana: lihatlah kemauan dan kemampuan guru bahasa Indonesia di setiap sekolah. Apakah gurunya punya kemauan dan kemampuan? Saya tidak tahu pasti, namun adalah fakta bahwa dari ribuan guru bahasa Indonesia di negara ini, ternyata tidak sampai 0,5% dari mereka yang pernah membaca karya tetralogi Pramoedya Ananta Toer.

Dalam ranah pendidikan, mereka bahkan konon tak mengenal pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire. Kenyataan itulah yang membawa saya pada simpulan ini: bahwa masa depan kesusastraan kita akan terkesan biasa-biasa saja. Dan, ini sesungguhnya berita yang patut direnungkan. Pasalnya, guru sastra semestinya menjadi lentera dan mesin pencipta seniman, tetapi dengan agak ironis, mereka malah tidak memberi teladan. Perjumpaan guru sastra dengan siswa di ruang kelas yang mestinya tidak sekadar mentransfer ilmu (apalagi sekadar copy-paste dalam bahasa Sidik Nugroho), tetapi malah sekadar cuap-cuap belaka, tanpa kedalaman, keterampilan, apalagi kemahiran. Pengajaran menjadi tak berjiwa.

Disebut tak berjiwa karena guru sastra tak memberi teladan, kecuali kata-kata belaka. Padahal, teladan lebih berarti daripada kata-kata. Guru sastra tidak malu pada guru-guru lain yang tak melabeli dirinya dengan kata sastra, namun lebih nyastra dan lebih literat. Tak ada fisika-sastra, tak ada matematika-sastra, tak ada bilogi-sastra, tetapi tak jarang malah guru-guru mata pelajaran ini jauh lebih nyastra dan literat daripada guru yang menyandang kata sastra di jabatannya: (maaf, saya tulis dalam huru besar) GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA.

Pendangkalan

Saya tak sedang menyesali mengapa kami tak menjadi sastrawan melalui tulisan ini. Dan, di awal saya sebut saya tersentuh (meski sebenarnya tersinggung) pun bukan karena kami tak menjadi sastrawan. Tak semua berbakat jadi sastrawan. Hanya saja, saya tersinggung lebih karena kenyataan ini: jangankan jadi sastrawan, menjadi penggemar sastra saja tidak! Bahkan, untuk sekadar menulis saja kami tak bisa. Saya punya dan mengenal banyak teman yang sejurusan dengan saya, tetapi mereka (kali ini saya memakai kata mereka dan bukan kami karena saya ingin lepas tanggung jawab) sama sekali tak meminati kegiatan menulis.

Membaca pun malas! Lantas, jika teladan lebih berarti daripada kata-kata, teladan apa yang sudah mereka berikan? Maksud saya menanyakan ini sederhana saja: dari mana nalarnya seorang guru akan mengajarkan dan menyemangati agar siswanya mampu menulis, sementara untuk sekadar meminati menulis dan membaca saja guru mereka masih minim? Bukankah salah satu tujuan terjauh mengajarkan bahasa Indonesia adalah agar siswa mampu dan mau untuk membaca dan menulis?

Ini hanya menduga-duga (meski sangat logis), bahwa minimnya produksi bacaan kita ketimbang negeri tetangga menjadi hipotesis awal bahwa guru, khususnya guru-sastra kita masih minim menulis. Tak ada teladan hidup sehingga siswa pun tak produktif. Inilah tentunya yang menjadi tantangan nyata bagi guru-guru kita. Karena kebetulan sastra sudah distigmakan melekat pada mereka yang mengajarkan bahasa Indonesia, tantangan ini, lebih tepatnya disebut beban ini, harus dipikul sendiri pula oleh pengajar mata pelajaran bahasa Indonesia.

Ini mendesak sekali karena memang, saat ini, kita tak melihat generasi-generasi penulis-sastra yang terkenal sekelas Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, dan sebagainya. Bahkan, ada kecenderungan siswa-siswa kita lebih suka usil dan berantam daripada berkegiatan literasi. Tawuran bertebaran. Ujara-ujaran kebencian berseliweran. Puisi-puisi terbatasi hanya untuk kisah kasih di antara para remaja. Tujuannya hanya menggombal. Selebihnya tidak! Sastra didangkalkan. Bahkan tak jarang, generasi-generasi muda kita, juga yang tua, lebih sering berkomentar heboh dan bodoh di dunia maya dengan dalih bahwa itu adalah karya sastra.

Ironsinya, mereka merasa tak bersalah. Justru ada semacam pemahaman, ini bagian dari kritik sebagaimana kritik sastra. Mereka lantas mengangkat diri dengan begitu percaya dirinya menjadi kritikus sastra. Mengumpat di media sosial, seumpama kritik sastra, maka itu lantas dijadikan mereka sebagai kritik sastra pula. Karena itulah, jangan heran jika belakangan ini, di media sosial bertebaran ujaran kebencian. Kebodohan dipelihara. Kedalaman membaca dan mencari sumber-sumber terpercaya diabaikan. Mereka hanya ngotot pada sebuah jabatan: saya ini kritikus, lho. Titik!

Nah, dengan jabatan itulah mereka seakan sah untuk memfitnah pemerintah, memojokkan orang lain, dan memanipulasi kebohongan demi menuai kebencian. Anehnya, ketika polisi mencium provokasi-provokasi itu, mereka dengan gesit menempatkan diri sebagai pejuang yang dikriminalisasi. Dengan bangga mereka menyamakan diri seumpama Chairil Anwar yang kata-katanya pedas menikam, seumpama Pramoedya Ananta Toer yang dipenjara karena benar, seumpama Wiji Tukul yang dihilangkan dari sejarah karena keberaniannya.

Harus dicatat, pada tulisan ini, saya tak sedang menghakimi! Saya mengetengahkan tulisan ini, seperti tadi, karena ada semacam gejala awal bahwa dunia sastra kita akan mati. Disebut mati karena kini, dengan fasilitas media sosial, semua orang bisa mengklaim bahwa mereka adalah sosok Chairil Anwar, Pramoeda, Wiji Tukul, dan sebagainya, dan sebagainya. Di sinilah saya pikir apa yang disebutkan A.A. Teeuw dengan kategori sastra “pokok” akan segera berakhir. Saya tak sedang main-main dengan kalimat terakhir ini.

Selain disebutkan di atas, lihatlah betapa zaman sekarang para kapitalis dan tokoh bisa berkarya. Tokoh apa pun asal dikenal dan populer, kata-katanya bisa menjadi sabda, apalagi kalau tokoh itu banyak duit karena penerbit tidak lagi melulu melihat kualitas. Sastra sudah cukup urusan bisnis berjiwakan duit. Inilah pendangkalan sastra itu sehingga di tengah minimnya jiwa kepenyairan dan pujangga (atau banyaknya karena semua merasa sastrawan?), kita malah kebanjiran penulis-puisi-cerpen-novel berbasis tokoh dan modal.

Pemberi Hidup

Nyawanya adalah fee, tentu saja. Seberapa banyak fee dan seberapa berpengaruh ketokohanmu, di saat itu kata-katamu menjadi sabda. Celakanya, ketika kemudian karya instan itu dikritik, yang lahir hanya kebencian atau kesukaan membabi buta. Tidak lagi berdasarkan substansi. Seperti kata Eagleton dalam pengantarnya di buku The Function of Criticism, bahwa kritik sastra dewasa ini tidak memiliki fungsi sosial yang substantif. Kritik sastra hanya menjadi bagian dari cabang pemasaran industri buku. Kritik menjadi promosi besar-besaran.

Sastra lantas takluk pada ekonomi dan politik. Sastra menjadi barang dagangan, bahkan senjata untuk melemahkan lawan politik. Padahal, sebelumnya kita sudah semacam bersepakat, betapa pun runyamnya politik, sastra akan meningkapkannya! Masihkah kesepakatan itu relevan? Saya tak berani sekadar menegasikan, terutama menguatkan! Barangkali AA Teeuw benar bahwa ini menjadi akhir sastra-pokok. Begitupun, marilah berdoa agar Teeuw keliru! Itu langkah religius. Marilah pula bertindak terukur melalui pemerkuatan guru-guru sastra. Itu langkah teknis.

Maksud saya, tak usah berpikir muluk-muluk menandingi Malaysia jika guru-sastra kita saja tak suka menulis, apalagi membaca (sastra)! Tak usah pula mengutuki di mana baru-baru ini peringkat literasi kita ambruk seambruk-ambruknya. Sederhana saja: kalau para guru itu tak membaca, apalagi menulis, lantas kekuatan apa yang mereka bisa sajikan untuk menyuruh siswanya membaca secara mendalam? Bukankah ada pepatah, guru kencing berdiri, maka siswa kecing berlari? Guru tak membaca, maka siswa pun malas membaca?

Khusus sastra, kita hanya perlu penyadaran bahwa sastra bukan semata karangan-karangan biasa. Sastra adalah jiwa dan sastrawanlah pemberi jiwa itu. Sastra bisa membuat kericuhan menjadi kedamaian, bukan seperti sekarang, membuat sepatah dua patah kata di media sosial, lalu yang timbul adalah kebencian dan provokasi. Sastra itu menyejukkan. Riset sudah membuktikan bahwa puisi (sastra) dapat mengendurkan denyut jantung dan irama napas jadi harmoni (International Journal of Cardiology 6/9/2002).

Karena itu, sudah saatnya kita menghidupi sastra sebagai pemberi hidup. Dan harus dicatat, memaknai hari Guru ini, terutama bagi pengajar-sastra, marilah ini dipahami sebagai jalan pulang ke jalan yang benar. Karena kebetulan di negeri ini, guru sastra adalah guru pengajar bahasa Indonesia, marilah guru pengajar bahasa Indonesia memberi teladan untuk meggiat dan meningkatkan literasi. Berikan teladan dengan sekurang-kurangnya banyak membaca kalau sekiranya belum mampu menulis. Memberi teladan lebih berguna daripada sekadar memerintahkan agar siswa-siswa membaca.

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Comments

  1. Freddy Nababan Reply

    Betul-betul menusuk celotehanmu ini, Bro! Mudah-mudahan segera ada tobat massal guru bahasa dan sastra Indonesia, ya! Menyusul pula guru-guru yang lain. Amin.

    • Tabrani Yunis Reply

      Sekolah sekarang ada literasi, tapi sekadar mengajak para murid atau siswa membaca, sementara bahan bacaan yang renyah sudah didapat

      Salam

      Tabrani Yunis

  2. Freddy Nababan Reply

    Tapi sepertinya artikel ocehanmu ini sudah terkirim lama ya? karena ada kata-kata hari Guru…hehehe….atau redaktur celotehnya yang lupa edit ya?… I can still understand when people say too err is human.:)

  3. Winarto Reply

    Salute…

  4. arisanti Reply

    aih,, ngena sekali. sungguh, meski saya bukan guru BI. saya hanya pecinta literasi.

    • Faizar Reply

      Menohok dan tajam, semoga makin banyak celoteh positif seperti ini untuk membungkam para penggiat literasi medsos yang entah lah bagaimana kita akan menggerusnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published.