SEXY KILLERS: MELAYANI SYAHWAT PEMBUNUH

 

Seperti judulnya, sebagai santri, sontak saya merasa “saru” begitu melihat intro film dokumenter ini: sebuah adegan mesra sepasang suami-istri yang berbulan madu di (agaknya) hotel. Terus terang, saya risih. Sayang sekali, padahal ide yang ingin disampaikan film garapan Dhandhy Dwi Laksono dan Suparta ARZ ini hanyalah; betapa bergantungnya kita terhadap listrik, betapa sering kita lupa untuk tidak mubazir saat menggunakaannya. Cuman itu! Ataukah, saya yang terlalu “sensitif”?
Untungnya, adegan mesra tersebut langsung terlupakan, lenyap begitu saja saat rentetan scene demi scene berikutnya diserbu oleh adegan “horor”: truk dan alat berat yang sedang bekerja sama, cangkang-mencangkang membedah perut bumi. Mereka seperti dokter-dokter bergelar “Sp.B” yang bekerja cepat sebelum bius si pasien habis dan kembali siuman. Yang membedakannya; “habis bedah, luka dibiar”.

Dari ketinggian, melalui kamera drone, tampak kubangan-kubangan dipenuhi air. Ceruk di sana-sini, datar berundak, rendah dan tinggi. Sapuan warnanya selaras, hitam kecokelatan dengan bintik-bintik warna kuning, khas warna alat-alat berat. Sementara di petak yang jauh, tampak barisan pepohonan yang berwarna hijau, itu pun barisan pepohonan yang tumbuh sangat rapi, tanpa keanekaragaman hayati.

Sungai Mahakam, ponton pengangkut batubara melintas sungai menuju laut, cerobong besar berasap putih, orang-orang yang bekerja “untuk mendapatkan”, orang-orang yang menangis “karena kehilangan”; adalah sekian potongan film ini. Kalimantan Timur, Jawa Pantura, juga Bali, merupakan lokasi utama pengambilan video yang dikerjakan oleh tim Ekspedisi Indonesia Biru tersebut, tim utama menggarap data mentah film dokumenter ini. Lalu, sekian scene tersebut dirangkai di bawah kata kunci: batubara, listrik, kerusakan.

Saya menontonnya Ahad, malam Senin tengah malam (14-15 April 2019). Total penonton film yang baru diluncurkan di YouTube ini masih 550 ribuan. Selasa pagi (16/4), penontonnya sudah 4,9 juta; siangnya sudah masuk di angka 6 juta, dan habis isya, film tersebut sudah ditonton 8,2 juta. Dan ketika artikel ini rampung 48 jam kemudian, jumlah penontonnya sudah lewat dari angka 9 juta. Gila!

Film ini telah membuka mata kesadaran saya (boleh juga pakai kata ganti “kita”), bahwa konsumsi listrik, lebih-lebih jika tidak terkendali, akan berdampak sistemis. Pemakaian listrik untuk pengering rambut, kulkas, AC, atau bahkan cuma sekadar pengisi daya ponsel, berupakan hilir dari semua masalah ini di mana tambang batubara merupakan hulunya. Sampai hari ini dan entah hingga kapan, kita begitu bergantung pada listrik yang “kotor” ini, yang sumbernya berasal dari batubara. Berdasarkan data, 40 % listrik dunia (data National Geographic, April 2014) bersumber darinya.

Melalui film dokumenter milik Watchdoc ini, yang judulnya merangsang tapi isinya malah menakutkan, kita diberi tahu banyak hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Ya, barangkali kita tidak tahu karena kita memang tidak mencari tahu. Atau, kita tidak tahu karena yang mestinya kita ketahui itu malah ditutup-tutupi. Terlepas ia diluncurkan menjelang Pilpres 2019 dan mungkin saja memicu naiknya angka golput, ia telah membuka mata kita perihal kekayaan alam yang diambil dan dikuasai oleh hanya sedikit orang saja di negeri ini.

Dibandingkan solar atau yang lain, listrik berbahan batubara adalah yang paling murah. Kok bisa? Panjang rentetan dan alurnya dan film tersebut menjawabnya. Tapi, yang pasti, bahwa ia bisa murah karena ongkos sosial dan dampak lingkungan darinya dibebankan kepada masyarakat, baik yang menikmatinya langsung atau yang terpapar polusinya, atau bahkan yang sama sekali tidak menikmatinya.
Menurut para aktivis lingkungan, batubara bersih itu hanyalah mitos. Contohnya, PLTB Mountaineer punya American Electric Power di West Virginia mengisap lebih dari 450.000 kilogram batubara per jam. Catat: per jam! Kubangan, kerukan, keamanan dalam tambang, telah menewaskan ribuan orang dalam setahun. Limbah CO2-nya menyumbang 39% emisi global.

Amoniak, polutan, racun merkuri, nox, arsenik, timbal, pm10, dll (data film, menit ke 48:24) adalah bagian dari yang diresahakan itu.

Laporan Michelle Nijhuis mencatat bahwa pada tahun 2012 saja, dunia mencetak rekor (ini rekor buruk, bukan juara terbaik) emisi sebesar 34,5 miliar ton karbon dioksida dari bahan bakar fosil (Bayangkan! 34,5 miliar ton!) dan batubara adalah kontributor terbesarnya. Di Amerika, negara yang maju tapi konsumtif itu, gas alam murah dapat mengurangi permintaan batubara, tapi di negara-negara yang lain, seperti di Indonesia, India, Tiongkok, dan banyak bagian di belahan muka bumi ini, permintaan tetap melonjak. Diperkirakan, 30 tahun ke depan, permintaan akan naik lima kali lipat.
PLTU Paiton sudah lama tegak. Yang lain menyusul dan akan terus dibangun. PLTU Batang, PLTU Buleleng, entah di mana lagi, adalah buktinya. Dan seperti skenario film, penentang selalu dicap sebagai musuh. Siapa yang jadi pemenang di akhir cerita? Tahu sendirilah Anda. Jika kasus AMDAL selalu dijadikan alasan masyarakat untuk jadi batu sandungan, sesuai skenario yang sudah-sudah, penduduk akan protes, lalu berdemo, lalu seperti sudah terjadi sebelum-sebelumnya, semua akan berlalu begitu saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mengapa pasokan listrik terus bertambah? Karena penduduk juga bertambah, tapi yang lebih banyak lagi adalah karena bertambahnya kebutuhan kita terhadap listrik, termasuk kebutuhan yang pada dasarnya hanyalah fasilitas dan kenyamanan, bukan kebutuhan dasar. Bukankah kita semakin rajin menggunakan barang-barang eletronik melebihi kebutuan dasar kita? Meskipun ini sifatnya kecil dan sedikit, tapi karena masif, dilakukan oleh jutaan orang, maka yang kecil dan sedikit akhirnya menjadi banyak.

Di kolom komentar film ini, di saluran YouTube yang saya tonton, ternyata ada juga yang iseng bertanya seperti saya (kira-kira begini): apa manfaat menjelaskan data-data jika tidak disertai solusi? Pengunggah video, Wactcdoc Documentary, tentu tidak akan membalas jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Lebih-lebih pertanyaan serupa yang dibumbui sinisme, pasti yang akan terjadi debat kusir dan menang-menangan. Sudah temanya tentang energi kotor dan kebiasaan buang-buang energi, yang terjadi malah akan bertambah buang-buang waktu pula. Media sosial kan memang punya kecenderungan berwatak begitu.

Terlepas dari kekurangan dalam sinematografi atau (andai saja ada) kelemahan dalam data atau risiko yang didampakkannya karena secara jelas menampilkan tokoh-tokoh yang sedang gencar berkampanye untuk Pilpres 2019 ini dari kedua belah kubu, Sexy Killers telah berhasil membukakan mata kesadaran saya (sengaja saya tidak menggunakan “kita” agar Anda punya alasan mandiri untuk bersikap dan menyikapi), betapa hulu dari semua masalah ini adalah sifak rakus belaka. Landasannya adalah keuntungan, keuntungan, keuntungan, baru kemaslahatan. Sebab itu, film ini, meskipun mengangkat tema pengrusakan alam dan lingkungan melalui tambang, soal kuasa pemodal dan oligarki, pemahaman sebaliknya yang dapat saya tangkap adalah kampanye untuk berhemat dan kemungkinan mencari dan menemukan energi yang bersih, bukan kampanye untuk golput.

Kiranya, target lain yang ingin dicapai oleh para aktivis di tim film ini adalah meluruskan cara pandang yang keliru perihal energi dan pemanfaatannya, seperti tampak dalam wujud statemen jemawa seperti; “jika uangku sendiri yang digunakan untuk membayar listrik, apa urusanmu? Suka-suka aku mau ngapain aja!”. Bukannya setuju berhemat dan menolak mubazir, pernyataan dan pertanyaan retoris yang berkesan logis ini malah nyelekit.
Kita memang tidak dapat mangkir, bahwa kebutuhan manusia terhadap listrik tidak terelakkan, bahkan terus bertambah setiap hari. Jika dulu kita hanya mengisi daya baterai setiap 2 hari sekali, tapi setelah ada WhatsApp dan media sosial lainnya, perilaku kita berubah: mengisi baterai bisa per hari atau bahkan sehari dua kali. Dulu, AC adalah kebutuhan mewah, sekarang turun derajatnya ke tingkat yang lebih rendah.

Dari kenyataan ini, yang tidak kita sadari adalah; mata rantai yang menghubungkan listrik ke rumah kita, dari hulu (tambang batubara) ke hilir (konsumsi barang elektrik di rumah) itu sangat panjang dan mengalami berbagai kepelikan dan kerumitan dalam perjalanannya. Bagi saya, film ini berhasil menggugah kesadaran saya dari “situasi terlena berkepanjangan”.
Sedikit-dikitnya, film tersebut merekomendasikan tiga butir: Pertama, berhemat. Berhemat bukan saja semata menjalankan anjuran agama agar tidak mubazir, melainkan demi menekan biaya konsumsi listrik dan dampak sistemis yang mata rantainya sangat panjang; Kedua, negara harus mencari dan memanfaatkan sumber energi terbarukan (seperti angin, panas matahari, dan air). Kita sangat kaya dalam hal ini. Mengapa tidak termanfaatkan? Karena modalnya besar, keuntungan kecil; Ketiga, pengurangan emisi karbon, tapi cara ini sangat mahal dan sangat ribet, yakni harus melalui empat tahap sebagai berikut: (1) Penangkapan: CO2 dipisahkan dari gas-gas cerobong dan dimampatkan; (2) Pemindahan; CO2 fluida dipindahkan ke tangki atau reservoir; (3) Penyuntikan; CO2 disuntikkan ke dalam formasi berpori, jauh di bawah tanah supaya aman, dan; (4) Pemantauan: resrvoir harus senantiasa diawasi dan dipantau.
Rumit? Sangat! Kalau sudah tahu rumit, kok kita nekat?

Setelah menonton, saya (boleh juga pakai kata ganti “kita”) menjadi tahu hal ihwal yang sebelumnya tidak diketahui. Dan ini sudah cukup sebagai bagian dari proses belajar, yakni mencari ilmu. Lalu, mengapa harus hemat? Sebab produksi akan bertambah jika permintaan pasar juga bertambah. Hukumnya pasarnya begitu. Yang terakhir, menguak kesadaran, bahwa kita semua ini cuma numpang sebentar tinggal di Bumi ini. Ingat, anak cucu dan generasi kita juga punya hak. Karena itulah, kita wajib merawat, bukannya merusak dan menghabisi sama sekali.

Namun, jika sesudah menonton masih ada pula pertanyaan semacam “mengapa kok kita tetap pakai listrik yang berbahan bakar batubara?” atau “apa gunanya menampilkan data-data seperti ini jika tanpa solusi?”, berarti film tersebut gagal memberikan edukasi. Hal itu mungkin disebabkan ada bagian penting dari film yang Anda lewati, semisal pada momen laptop tetap menyala, YouTube tetap streaming, sementara itu Anda tinggalin pergi boker ke toilet atau malah tertidur di depannya.

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)

Comments

  1. Mazdon O Reply

    Wah.. Sebelum membaca artikel ini, saya sempat membuka film itu di youtube; karena penasaran. Tapi langsung saya pencet digit “stop play” saat buka mata pertama ternyata adalah adegan sebagaimana yang diterangkan Ra @M Faizi, dan bla bla bla.. karena saru (tidak sama dengan Ra M Faizi; moh untuk nonton lanjutannya sebab, selain seperti alasan Ra M Faizi, juga sedang bersama anak di sisi :).

    Setelah membaca artikel ini, saya kok jadi makin penasaran; ingin segera “search” kembali kata kunci “Sexy Killer” itu di beranda youtube. Setidaknya, kendati barangkali tidak mungkin se-“menangkap” Ra M Faizi, nanti saya juga jadi sadar akan pentingnya menghemat energi listrik sejak setelah usai nonton film ini :).

  2. Mazdon O Reply

    Wah.. Sebelum membaca artikel ini, saya sempat membuka film itu di youtube; karena penasaran. Tapi langsung saya pencet digit “stop play” saat buka mata pertama ternyata adalah adegan sebagaimana yang diterangkan Ra @M Faizi, dan bla bla bla.. karena saru, tidak sama dengan Ra M Faizi; Aku malah langsung moh untuk nonton lanjutannya. Sebab, selain seperti alasan Ra M Faizi, juga sedang bersama anak di sisi :).

    Setelah membaca artikel ini, saya kok jadi makin penasaran; ingin segera “search” kembali kata kunci “Sexy Killer” itu di beranda youtube. Setidaknya, kendati barangkali tidak mungkin se-“menangkap” Ra M Faizi, nanti saya juga jadi sadar akan pentingnya menghemat energi listrik sejak setelah usai nonton film ini :).

  3. Faizar Reply

    Energi adalah isu yg sangat sensitif bahkan sexy, karena sampaibsaat ini tidak ada yg bisa mengantikan tingkat efisiensi energi dari fosil, bahkan para ilmuan telah melakukan berbagai macam cara untuk menghasilkan energi yg benar2 bersihb dan berkelanjutan, melaui filem dokumenter ini pesan yg benar ingin dibsampaikan adalah bagaimana membangun kesadaran kita bersama, miris sekalinsaat kita merasa nyaman sementara banyak saudara-saudara kita disana harus menanggung akibat dari penggunaan hilir listrik, sementara mereka harus kehilangan anggota kekuarga karena lubang tambang tambang yg terus bertambah tanpa pernah ada proses reklamasi. Terimakasih M. Faizi telah mengulas dengan sangat baik sekali…

  4. e-bike user Reply

    Di film itu kan ada tawaran solusi alternatif dengan menampilkan tokoh Bung Kayon, yang listriknya mandiri dari tenaga surya (solar panel), idealnya setiap warga bisa mandiri energi listrik seperti itu, namun kenyataanbya tak semudah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.