Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup

bt3_1
ellusionist.com

Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.

Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.

“Mampir dulu, Gus.”

Inggih, terima kasih,” jawabnya lembut.

Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara sembarangan pula. Kami tidak pernah menggunjing tentangnya. Segala yang terkait dengan Gus Usup kami anggap sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada prasangka buruk sekecil biji zarah pun terhadap Gus Usup. Sikap dan pembicaraan para orang tua kami seakan memberi contoh bahwa begitulah yang harus kami lakukan terhadap Gus Usup, termasuk kepada saudaranya seperti Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zin. Kami memang memanggil dengan sapaan “gus” untuk laki-laki keluarga pondok. Di antara mereka itu hanya Gus Usup yang bergaul akrab dengan siapa saja.

Gus Usup terbilang tampan. Wajah dan kulitnya kuning bersih. Rambutnya selalu dipotong pendek. Karena tak pernah memakai kopiah, rambut bagian depan yang agak panjang terlihat ikal menggelombang. Alisnya cenderung tebal. Dia tak pernah memelihara kumis dan jenggot, tapi tepat di bagian bawah bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang manis di wajahnya. Sering dia mengangkat ujung sarung hingga sebatas dengkul saat berjalan. Bulu-bulu keriting kelihatan tumbuh lebat di kakinya yang kuning. Mungkin karena ketampanannya itulah Gus Usup menjadi anak kesayangan Bu Nyai.

“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.

“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.

“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi bersama-sama di Kali Dam sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu kecil di dasar sungai.”

“Untuk apa batu?”

“Katanya itu batu akik.”

“Kalau ketahuan keluarga pondok, Gus Usup dimarahi apa nggak, Guk?”

Guk Mat tersenyum. Sepertinya dia memang punya kenangan masa kecil yang seru dengan Gus Usup.

“Ya, sering. Gus Man itu, kakaknya yang paling besar, sering mencarinya. Gus Usup diseret pulang kalau ketahuan mandi di sungai. Makanya kalau habis mandi Gus Usup nggak berani langsung pulang.”

“Kenapa, Guk?” kami makin ingin tahu.

“Kalau habis mandi di sungai mata pasti merah warnanya. Makanya kalau pulang harus nunggu lama sampai nggak merah lagi. Tapi itu dulu,” kata Guk Mat. “Sekarang Kali Dam sudah tercemar sampah dan limbah.”

Inilah satu kebiasaan lain Gus Usup. Kami hampir selalu melihat dia menggigit-gigit benda kecil semacam tusuk gigi hingga kedua rahangnya bergerak-gerak. Sering dia menggapai ranting-ranting kecil ketika berjalan, atau bagian-bagian tertentu dari pagar bambu di tepi jalan yang dilewatinya untuk digigit-gigit menggantikan yang telah habis di bibirnya. Mohon maaf kalau perumpamaan kami tidak tepat. Kesukaan Gus Usup menggigit-gigit lidi itu mirip kebiasaan burung labet yang hendak bersarang.

Seperti yang sering kami lihat, pagi itu tampak Gus Usup berjalan meniti pematang di jauh sana. Dia kembali pulang setelah semalam bermain kartu remi dengan orang-orang kampung di sebelah timur, di rumah Wak Parmin dekat kuburan. Rumah Gus Usup di lingkungan pondok dengan kampung kami memang dipisah oleh bentangan sawah. Kami tetap tahu meski dia berjalan sambil sarungnya diangkat hingga menutup kepala. Bila Gus Usup tidak pulang, Fadilah, keponakannya, sering mencari di pojok kampung tempat dia bermain kartu.

Meski umurnya terbilang lebih dari cukup, Gus Usup belum menikah. Guk Mat, teman sepermainan Gus Usup itu, sudah memiliki tiga orang anak. Tapi Gus Usup belum ada tanda-tanda mau menikah. Dulu kabarnya dia akan dijodohkan dengan Ning Sokhifah, anak Gus Bay dari pondok utara, tapi tak ada kelanjutannya. Justru Ning Sokhifah malah menikah dengan Gus Roz, adik Gus Usup dari ibu yang berbeda. Entah mengapa Gus Usup belum menikah, padahal kalau dia mau, tinggal memilih bidadari di kampung kami yang paling cantik pasti terkabul. Kami tahu hampir semua gadis di sini ingin jadi menantu keluarga pondok. Para gadis pun diam-diam berusaha menampakkan diri ketika Gus Usup yang tampan itu lewat. Tapi memang begitulah adanya. Keluarga pondok biasanya mengambil menantu juga dari keluarga pondok yang lain, meskipun antarmereka masih memiliki hubungan kerabat. Tapi sayang, hubungan antarpondok sekarang banyak yang kurang akrab karena para pengasuhnya terlibat dukung-mendukung partai politik yang berbeda. Mereka bahkan bersaing tidak sehat dalam pencalonan anggota parlemen maupun kepala daerah. Syukurlah hingga detik ini Gus Usup tidak termakan godaan partai politik hingga bisa bergaul dengan siapa saja.

Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik gula. Tapi pekerjaan Gus Usup tidak terlalu jelas buat kami. Yang pasti Gus Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik. Bila musim kemarau, tanaman terong, lombok, serta tomat berbuah dengan lebat. Saat malam, ketika kami berburu jangkrik sambil membawa obor, terong-terong itu sering kami curi untuk dimakan mentah-mentah, meski banyak juga di antara kami takut kalau terkena sesuatu setelah makan terong Gus Usup.

“Perutmu bisa mlembung kalau nyolong terong Gus Usup,” kata Guk Mat menakut-nakuti kami.

Seperti diceritakan oleh Guk Mat, dulu waktu mandi Gus Usup suka mencari batu akik di dasar sungai. Dan itulah yang paling menjadi perhatian bagi kami: cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Batu akik sebesar ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna cokelat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Saat bermain kartu, terutama ketika malam menjelang ada orang hajatan di kampung, akik sisik naga Gus Usup itu hampir pasti menjadi pembicaraan. Dengan memakai akik itu konon Gus Usup tidak pernah kalah dalam bermain kartu. Kalau toh kalah dengan taruhan uang kecil-kecilan, kata orang itu sengaja mengalah demi menyenangkan lawan mainnya seperti Guk Mat, Guk Pin, Wak Parmin, Wak Rokemat, Kang Marsud, Kang Maskut, Kang Gangsar, Cak Kamal, Cak Nan, dan beberapa orang lainnya.

Mungkin karena sering mendengar cerita soal akik Gus Usup, tidak sedikit yang berusaha mendekat sambil menuding-nuding akik itu, terutama mereka yang berumur belasan tahun. Gus Usup hanya tersenyum sambil tetap bermain kartu remi di acara hajatan warga.

 “Kalau pegang kamu nggak bisa kencing dan berak,” kata Gus Usup.

 “Masak, Gus!?” Salah satu dari mereka, Dulah namanya, terjingkat.

 “Lo, beneran. Nggak bohong ini,” ujar Gus Usup kalem sambil tersenyum.

 “Demi Allah, Gus?”

 “Demi Allah,” Gus Usup manggut-manggut.

Mendengar jawaban Gus Usup tiba-tiba semuanya terdiam. Tergambar perasaan takut pada wajah mereka. Mereka agak menjauh. Tapi Dulah kembali nyeletuk, “Musyrik itu, Gus. Masak pegang aja nggak bisa kencing dan berak?”

“Kamu nggak percaya?” tanya Gus Usup sambil meletakkan sebuah kartu remi ke deretan di depannya.

“Masak?”

“Buktikan saja kalau berani,” Gus Usup tersenyum sambil mengulurkan lengan kirinya, sementara kartu reminya dipindah ke tangan kanan. “Kalau tidak terbukti nanti saya beri uang kamu.”

 “Saya berani, Gus. Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Dulah pun menyentuhkan ujung telunjuknya ke akik Gus Usup, agak sedikit gemetar tapi berani.

 “Sudah?” tanya Gus Usup.

 “Sudah, Gus. Nggak apa-apa kan?”

 “Ayo, sambil memegang sekarang kamu kencing dan berak di sini!”

 “Wah ya nggak mau, Gus….”

 “Nggak bisa kan? Tadi saya bilang kalau pegang. Kalau ke WC berarti sudah tidak pegang.”

Semua yang hadir tertawa. Dulah cengar-cengir. Beberapa saat setelah itu giliran Gus Usup mengambil sebuah kartu remi yang tertumpuk di depannya, ditepuk-tepuk dulu punggung kartu itu dengan jemari yang dihiasi sisik naga, digeser, diletakkan di depannya, kemudian diintip pelan-pelan dari sudutnya.

Ngandang!” kata Gus Usup sambil membuka semua kartu di tangannya dengan cekatan, diletakkan di lantai. Benar, kali ini dia memenangkan permainan. Diraupnya uang recehan yang menumpuk di tengah karena sudah lima kali putaran belum ada yang memenangkan. Yang lain cuma manggut-manggut kecut. Dengan sigap Gus Usup kembali mengocok tumpukan kartu dan membagikan kepada para pemain.

“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.

“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.

“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.

“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”

Semua yang bermain mengerti apa yang dimaksud Guk Mat. Mereka berharap Gus Usup membagikan kembali uang yang telah dimenangkan. Dan memang demikianlah. Mereka yang bermain dengan Gus Usup boleh dibilang tak pernah kalah atau merugi. Mungkin juga tak pernah benar-benar menang. Di akhir permainan, atau ketika lawannya sudah kehabisan uang, Gus Usup akan memberikan kembali uang itu. Mereka lama-lama merasa sungkan. Ketika Gus Usup kalah dan kehabisan uang, mereka pun memberikan kembali uang modal kepada Gus Usup. Akik sisik naga di jari manis Gus Usup akhirnya menjadi harapan mereka, karena kalau Gus Usup menang pasti uangnya akan dibagikan kembali.

Dulu, ketika kami belajar mengaji dan berlatih bela diri di pondok, akik sisik naga Gus Usup juga menjadi perhatian. Kami berlatih tenaga dalam. Untuk mengujinya, salah seorang di antara kami harus nyetrum, sejenis trans tapi masih dalam kesadaran utuh sebagai penyerang. Gus Usup dengan enaknya berkata kepada kami sambil meletakkan akik sisik naganya di lantai. Kami tahu, akik itu sudah diisi oleh Gus Usup dengan bacaan tertentu.

“Silakan nyetrum, datangkan semua kekuatan dan ambillah ini!”

Benar, kami semua terpental. Tak seorang pun yang berhasil mengambil akik itu meski seluruh tenaga dalam sudah kami datangkan saat nyetrum. Isian akik itu benar-benar berat. Gus Usup tak pernah membuka rahasianya. Entah ayat atau asmaul husna apa yang dibacakan. Kami makin hormat dengan Gus Usup.

Gus Usup sepertinya juga tahu walau tidak melihat. Ini terbukti saat kami salat berjamaah waktu belajar mengaji di pondok dahulu. Seperti biasa, kami yang waktu itu masih anak-anak suka bergurau, saling menggoda, tertawa cekikikan dan saling mendorong saat salat. Kami memang berada di saf atau baris paling belakang. Nah, begitu salam pertanda salat usai, tiba-tiba Gus Usup dari saf terdepan bangkit menghampiri kami. Mereka yang bergurau saat salat digebuki dengan sajadah. Gus Usup ternyata tahu persis siapa yang bergurau dan siapa yang tidak. Sejak itu kami tidak berani lagi bergurau saat salat, terutama kalau ada Gus Usup. Kadang-kadang di antara kami ada juga yang mbeling, berharap Gus Usup tidak ada sehingga bisa sedikit gurauan, saling mencubit dan dorong-dorongan ke samping waktu salat berjamaah. Bagi kami saat itu, salat berjamaah adalah saat yang tepat untuk usil dan menjahili teman. Karena itulah salah seorang teman yang mbeling, Muhdlor namanya, pernah diselentik kupingnya oleh Gus Usup dari belakang. Saat itu Muhdlor memasukkan pemukul kentongan ke sarung teman yang sedang sujud di depannya. Muhdlor tidak tahu kalau Gus Usup baru datang di belakangnya. Saat pulang dari mengaji Muhdlor kami kapok-kapokkan sepanjang perjalanan hingga dua hari dia tak berani ke pondok.

Uang recehan Guk Mat sudah benar-benar habis. Beberapa kali putaran dia tidak pernah memenangkan permainan kartu remi itu. Gayanya membanting kartu sudah tampak bahwa dia agak kesal karena belum pernah nyirik. Sementara dia melihat di depan Gus Usup uang recehan mengumpul sebagai bukti kemenangan. Tiba-tiba Gus Usup pamitan ke belakang. Dia minta permainan dilanjutkan saja. Hari memang semakin beranjak malam. Semua pemain juga sudah pernah pamit ke belakang untuk kencing. Dengan sedikit terburu-buru Gus Usup masuk kembali dan melemparkan jaketnya ke Guk Mat.

“Titip sebentar, biar tidak basah!” kata Gus Usup.

Jaket tentara warna hijau yang sudah memudar itu berada di pangkuan Guk Mat, baunya apak kayak karung karena mungkin sudah lama tak dicuci. Permainan berlangsung terus meski harus melangkahi giliran Gus Usup. Sampai satu putaran usai Gus Usup belum juga kembali. Entah mengapa kali ini lama. Dari tadi memang Gus Usup tampak kurang nyaman sambil memijit-mijit perutnya.

“Mumpung tak ada Gus Usup. Menang!” kata Guk Mat dengan yakin.

“Aku yang harus menang,” Cak Kamal menimpali.

“Jangan mulai dulu. Kita tunggu Gus Usup datang,” usul Cak Nan.

“Kan kita disuruh terus tadi?” Kang Marsud ingin berlanjut.

“Gak enak ah!” sergah Cak Nan.

“Lanjuuut…!” Guk Mat tak mau membuang-buang waktu. Kartu remi itu dikocok dengan cepat. Diletakkan di tengah, barangkali ada yang mau mengocok lagi karena tidak puas. Tidak ada. Guk Mat segera membagikan kartu itu satu per satu. Permainan pun berlanjut. Ketika semua asyik mencermati kartu, Gus Usup muncul dan pamitan pulang dengan terburu-buru. Tanpa menunggu tanggapan dia langsung pergi dengan mengucapkan satu kalimat pendek, “Perutku nggak enak.” Uang recehannya juga ditinggal.

Kepulangan Gus Usup membuat para pemain bersemangat untuk memenangkan. Cuaca malam makin dingin. Guk Mat baru tersadar bahwa jaket Gus Usup masih di pangkuannya. Tanpa berpikir panjang dia memakainya untuk menghangatkan badan. Kepulangan Gus Usup membuat peluang mereka untuk menang makin besar karena musuhnya berkurang satu orang. Kali ini benar-benar tampak serius di wajah mereka. Mata mereka melihat ke lantai ketika ada kartu yang dibanting. Setiap ada kesempatan mengambil kartu selalu dibarengi harapan agar bisa ngandang alias menang. Cara mereka membuka kartu juga sangat hati-hati, ditarik ke depannya dan diintip pelan-pelan dari pojok. Membuka kartu adalah membuka nasibnya sendiri. Tumpukan kartu di depan mereka juga makin menipis, seperti gundukan pasir yang makin lama makin tipis karena disapu angin.

“Nutup!” kata Guk Mat tiba-tiba, sembari membuka kartunya ke lantai. Uang recehan yang menumpuk di tengah itu disiriknya. Dia pun bergegas meraup kartu untuk dikocok ulang. Darah baru tampak merambat di wajahnya.

Tanpa kehadiran Gus Usup permainan bukan makin mengendor, tapi makin bersemangat. Hari makin malam dan masuk ke dini hari. Mereka tidak lagi bertaruh dengan recehan, uang kertas yang tadi hanya ngendon di saku kini keluar dengan warna-warninya. Permainan kali ini bukan sekadar cari hiburan atau menghabiskan waktu, tapi benar-benar mempertaruhkan nasib untuk meraih kemenangan. Putaran demi putaran berlangsung. Meski tidak sama kadarnya, rata-rata dari mereka sudah pernah memenangkan dari putaran-putaran sebelumnya. Lihatlah, uang-uang kertas tampak di depan mereka. Di depan Guk Mat tampak lebih banyak karena dia lebih sering nyirik. Recehan tidak lagi bermakna, bahkan disisihkan.

Tiap rentetan peristiwa pasti mencapai puncaknya. Titik kulminasi terjadi bukan tiba-tiba, tapi mengalir dengan pasti, seperti suhu pada tungku pembakaran yang mendidihkan air. Begitu juga permainan kartu kali ini. Mereka yang kehabisan modal telah tersingkir. Tidak ada lagi pembagian recehan seperti kalau bersama Gus Usup. Kopi-kopi di tempatnya sudah tinggal ampas dan memadat. Ayam berkokok sudah terdengar. Mungkin sebentar lagi beduk subuh ditabuh. Di arena permainan itu menyisakan tiga orang: Guk Mat, Cak Kamal, dan Kang Marsud. Mereka yang tersisih kini sebagai penonton saja. Sudah lima putaran belum ada yang memenangkan. Sementara tiap ganti putaran uang taruhan selalu ditambahkan.

“Sudah, ini yang terakhir!” kata Kang Marsud ketika memulai lagi permainan.

“Oke, yang terakhir. Ini semua!” Cak Kamal mendorong semua uangnya ke tengah. Tanpa sisa.

Mau tak mau semua harus menambah taruhan sebesar yang disodorkan Cak Kamal. Uang Kang Marsud ternyata tak cukup. Terpaksa harus ditambah dengan recehan yang tadi ditinggalkan Gus Usup di dekatnya.

“Pinjam, Gus,” kata Kang Marsud sambil menghitung recehan.

Inilah pertaruhan nasib di titik-titik akhir. Sudah tak ada lagi taruhan yang ditambahkan. Dompet-dompet sudah terkuras. Tampak mereka makin berkonsentrasi. Kartu yang dibawa juga makin rapat dirahasiakan agar tidak diintip oleh lawan. Cara mereka membanting kartu juga makin keras. Setiap kartu yang dibanting selalu diikuti oleh pandangan mereka. Selalu waswas, jangan-jangan kartu yang dicari sudah terbanting di arena. Mereka yang menonton juga berharap cemas. Ingin tahu siapa yang berhasil meraup uang yang menumpuk di tengah arena itu.

Seperti juga memancing. Ada debaran dan harapan agar ikan segera menggondolnya. Ikan itu kali ini tidak lain adalah kartu remi. Mata mereka makin membuka. Jantung mereka makin mendebar. Alir darah mereka juga makin menderas. Beberapa putaran kartu-kartu yang mereka buru juga belum ketemu. Sepertinya mereka saling mengetahui kartu-kartu yang diburu sehingga dicengkeram makin rapat. Waktu makin merambat dengan pasti. Kokok ayam makin kerap terdengar.

“Nah, ngandang!” kata Guk Mat dengan cepat. Semua kartu yang dipegangnya dibanting ke lantai dengan terbuka. Semua mata spontan ikut menatap. Benar! Guk Mat memenangkan permainan. Wajahnya tampak berbinar-binar. Darah segar sepertinya langsung menderas ke tubuhnya. Gunungan uang di tengah arena langsung diraupnya mendekat. Sementara Kang Marsud dan Cak Kamal melemas karena pertaruhan nasib semalam suntuk harus berakhir dengan pahit. Ketidakhadiran Gus Usup telah membuat dompetnya terkuras. Mereka berdua percaya, sebentar lagi istrinya ngomel-ngomel karena tak kebagian uang belanja. Permainan pagi itu pun bubar.

 Sesampai di rumah Guk Mat langsung masuk kamar. Uang yang tadi digembol dalam perut jaket segera dikeluarkan. Lembar demi lembar menggumpal dengan warna-warna campuran. Sekian banyak rupiah dari banyak orang telah mengumpul di tangan Guk Mat. Dia ingin menghitung cepat-cepat dan menyembunyikan agar tidak ketahuan istrinya.

Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan. Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat. Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya. Ada getaran di jemarinya.

 Tangan Guk Mat belum juga berubah. Akik sisik naga milik Gus Usup itu terus diperhatikan di kedua ujung jarinya. Dia mulai berpikir, apakah kemenangan terbesar yang diraupnya kali ini terkait dengan akik sisik naga di sakunya? Dia sadar bahwa benda itu milik Gus Usup, tapi lama-lama timbul keinginan pada diri Guk Mat untuk memiliki sisik naga itu. Guk Mat terpaku di atas dipan kamarnya. Uangnya masih menggelasah di tikar. Guk Mat menimbang-nimbang, cara apakah yang paling ampuh agar sisik naga itu terus berada di genggamannya?

Jombang-Surabaya, 2016

M. Shoim Anwar
Latest posts by M. Shoim Anwar (see all)

Comments

  1. Natasha Deborah Panjaitan Reply

    cerita yang menarik! sederhana namun berhasil mengulik keinginan dasar manusia dengan tepat. walau awalnya mereka hanya ingin menang kartu remi–sebuah keinginan yang inosen dan seolah tak ada konsekuensi yang berarti–namun cerita ini kelak menguak hasrat yang kerap dipendam tiap insan. saya suka bagaimana cerita ini dibawakan, mengalir dengan ringan tanpa lupa menorehkan kesan di benak pembaca 🙂

    • Yuliana Sarti Reply

      Mengkritik Cerpen “Sisik Naga Jari Manis Gus Usup”karya Shoim M.Anwar
      Maret 31, 2021
      cerpen yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya Shoim.M Anwar menggambarkan kehidupan aktual yang terjadi saat ini. Mengisahkan sosok laki-laki dari keluarga berada namun tidak menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang berkecukupan.. Gus usup seseorang yang sederhana dalam hidupnya, selain sederhana gus usup juga sosok yang baik hati dan santai. hal itu terbukti bahwa saat sedang bermain kartu remi dengan teman-temannya ia berbaik hati untuk memberikan uangnya kepada teman yang saat bermain mengalami kekalahan. selain itu, gus usup juga orang yang senang bercanda hal itu terbukti bahwa gus usup mengatakan siapapun yang memegang akik sisik naga maka orang yang memegang tersebut tidak bisa buang air kecil & berak. Pada kandungan isi cerpen ini juga memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan nyata.

      Gus Usup sebagai sosok orang yang tidak menggunakan latar belakangnya agar disukai semua orang tapi karena sifatnya yang suka bergaul membuat orang-orang segan kepada dirinya bahkan, orang-orang tidak segan bermain dan berteman dengannya. Kehidupan masyarakat saat ini memang jarang seperti yang di miliki oleh sosok Gus Usup seperti halnya dalam berjudi. Saat ini orang yang berjudi hanya memikirkan sebuah kemenangan hingga pada akhirnya segala apa yang di miliki terkuras habis. Bermula dari keisengan berjudi hinga menimbulkan perjudian yang hebat.Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” di kupas dengan sedemkian rapi dengan alur yang tak membosankan serta banyak makna kehidupan didalamnya. Cerpen ini juga mengulik sebuah fakta tentang kehidupan manusia saat ini yang terkadang tergila-gila dengan sebuah permainan yang bahkan belum tentu membawa sebuah keberuntungan bagi dirinya hinga tak jarang manusia sekarang ini rela menyakiti orang lain dan bersaing menjadikan dirinya yang pertama. Cerpen ini juga menimbulkan rasa penasaran terhadap kelanjutan kisah batu akik yang di miliki oleh Gus Usup. Apakah batu akik itu merupakan sebuah keberuntungan yang di miliki oleh Gus Usup ataukah hanya sebagai penghias di jari manisnya.

      • Silvi Ruliani Reply

        Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup

        Cepren tersebut ditulis pada tahun 2016 yang mana pada tahun tersebut sedang maraknya pengguna batu akik. Secara garis besar cepren tersebut menceritakan manusia dengan berbagai macam keinginannya. Cerpen tersebut ditulis dengan kata-kata yang sederhana namun mampu untuk membuat pembaca memehami lebih dalam maksud dari cerpen tersebut.

        Dari cepren tersebut termuat beberapa makna secara simbolik, diantaranya:

        Cerpen tersebut sendiri menceritakan tentang kisah tentang orang-orang yang melakukan peremainan kartu remi, yang mana permainan tersebut adalah salah satu permainan yang mengandalkan aji mumpung. permainan remi adalah permainan yang menggunakan teknik perhitungan yang matang dan ditambah dengan keberuntungan. Sebuah permainan yang erat dengan rakyat. Dapat dikatakan mereka yang melakukan permainan remi adalah orang-orang yang mengedepankan keberuntungan/aji mumpung. Artinya dalam cerpen tersebut permainan kartu remi merupakan simbol keinginan manusia untuk memiliki sesuatu atau bisa dibilang dengan uang dengan cara praktis.
        Naga sendiri adalah lambang dari keberuntungan, sedangkan akik sisik naga kalau dipakai orang tersebut memiliki pengasihan, kewibawaan, dan sebagainya.
        Gus Usup, Gus Usup sendiri menurut saya adalah simbol pemimpin Ideal. Kenapa Ideal? Karena dalam cerpen tersebut sosok Gus Usup yang sungguh dihormati, tidak meminta hormat, karena diakui bukan mengakui. Sosok yang tidak segan bercengkrama dengan siapapun tidak memilih-milih. Kebanyakan kebanyakan hari ini adalah banyak orang dikatakan sebagai pemimpin masih pilih-pilih teman/pergaulan dan gila hormat.

        Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari cerpen tersebut, yakni dalam segi sosial, masyarakat,dan agama. Dibalik kelebihan pasti ada kekurangan, begitu pula pada cerpen tersebut, kekurangan yang dapat saya jabarkan adalah mengenai penggunaan kata berbahasa jawa yang tidak diberi penjelasan hal itu membuat pembaca yang non jawa tidak begitu memahami.

      • Fijannatin Alfiyah Reply

        Cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar menggambarkan kehidupan manusia yang saat ini penuh dengan keinginan untuk dapat memuaskan dan mencari kesenangan terhadap dirinya sendiri. Seperti tokoh Guk Mat yang kala itu sedang bermain kartu remi bersama Gus usup dan teman-temannya ingin memenangkan sebuah permainan agar bisa meraup uang yang ada di depan arena permainan. Cerita yang disuguhkan sangat menarik, dikemas dengan bahasa yang sederhana dan dengan pemaknaan yang tergambar jelas. Setiap tokoh mempunyai ciri khas dan mempunyai rasa hormat terhadap orang yang dianggap tidak biasa di kampungnya yaitu Gus Usup. Warga di kampung tersebut menganggap Gus Usup mempunyai cerita tersendiri daripada keluarga pondok lainnya. Gus Usup orang yang sangat unik, sederhana dengan penampilan yang apa adanya layaknya pemuda kampung biasa, sarugnya selalu diangkat sampai di atas lututnya, dan jarang terlihat memakai kopyah dengan ciri khas rambutnya. Pemuda yang tampan dan berkulit kuning tersebut diyakini warga bahwa dengan adanya batu akik sisi naga, Gus Usup terlihat lebih kuat dan selalu menang dalam permainan remi. Seperti yang tergambar pada cerita tersebut, bahwa pada saat itu mereka sedang belajar bela diri di pondok, mereka tidak bisa mengambil batuk akik sisi naga milik Gus Usup tersebut. Mereka semua terpental dan meyakini bahwa Gus Usup telah memberikan bacaan yang kuat terhadap batu akik tersebut. Sebuah cerita pendek yang terkemas rapi, dengan alur maju, dan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Sosok Gus Usup dan warga desa yang mengambarkan kisah atau kejadian fakta yang terjadi di dalam kehidupan kita saat ini. Bahwa setiap manusia mempunyai porsi dan caranya tersendiri untuk mendapatkan keinginan dengan sifat orang yang notabennya terlihat berbeda-beda. Rangkaian peristiwa kejadian yang berurutan. Cerita pendek tersebut mempunyai makna dan simbol tersendiri, yaitu ketika masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri ketika melihat, menyapa, dan menjamu orang terhormat tersebut tanpa adanya rasa ingin dihormati kembali. Tetapi, mereka juga tahu jika Gus Mus dan keluarga pondok menorehkan banyak pelajaran dan kesan sendiri. Terutama orang yang selalu dihormati sekalipun para tetuah juga menghormati akan tokoh yang dianggap tak biasa tersebut yaitu Gus Mus.

  2. Anita Eka Syalina Reply

    Nama: Anita Eka Syalina
    Nim: 175200075
    Prodi: Pendidikan Bahasa Indonesia 2017 A

    ESAI DAN KRITIK CERPEN SISIK NAGA DI JARI MANIS GUS USUP KARYA SHOIM M. ANWAR

    Esai
    Cerpen yang berjudul “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya Shoim M. Anwar menceritakan tentang tokoh Gus Usup yang sangat dihormati oleh warga kampung yang ia tempati. Masyarakat setempat menganggapnya bukan orang biasa meskipun usianya masih mudah. Namun masyarakat di kampung itu baik dari anak-anak sampai para tetua sangat menghormatinya. Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan masyarakat di kampung itu. Gus Usup adalah seorang anak pondok dan ia memiliki beberapa saudara yang juga disegani oleh masyarakat setempat, akan tetapi Gus Usuplah yang paling dihormati dan disanjung oleh warga kampung dikarenakan sikap, tutur kata, dan keakrapannya dengan warga membuat ia dihormati. Apa lagi dengan ketampanannya membuat gadis desa sangat mengaguminya.
    Sejak kecil Gus Usup sudah dekat dengan warga kampung meskipun orang tuanya melarangnya keluar dari pondok. Sejak kecil sampai dewasa Gus Usup memiliki teman yang selalu menemaninya kapanpun ia butuh. Namanya Guk Mat. Mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lain dan selalu bersama meskipun Guk Mak sudah memilki seorang istri dan tiga anak. Persahabatan mereka berdua tidak berubah. Mereka selalu bersama bahwakan tempat kerjapu di tempat yang sama. Selan itu, mereka memiliki hobi dan kebiasaan yang sering mereka lakukan yaitu bermain kartu. Saat malam menjelang ada orang hajatan di kampung dan di sebelah timur, di rumah Wak Parmin dekat kuburan itu adalah saat mereka permain.
    Salah satu yang menarik dari Gus Usup adalah cincin akik yang menelingkari di jari manis nya. Batu akik sebesar ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna coklat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Saat bermain kartu atau setiap hajatan di kampung, akik sisik naga itu menjadi pembicaraan warga setempat. Warga setempat mengetahui bahwa cincin batu akik bersisik naga adalah bukan batu biasa, melainkan cincin batu akik yang memiliki kesaktian yang luar biasa dan membawa keberuntungan bagi Gus Usup. Selain kesaktian dan keberuntungan cincin batu akik bersisik naga itu membuat Gus Usup memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat. Bahkan diantara warga setempat penasaran dengan cincin batu akik itu dan tak segan mencari tahu kebenarannya pada Gus Usup langsung. Namun respon Gus Usup hanya tersenyum dengan berbagai pertanyaan dari beberapa warga kampung.
    Di suatu malam Gus Usup bersama teman-temannya berkumpul bersama dan melakukan hobi mereka yaitu main kartu. Sepanjang permainan kartu batu akik bersisik naga milik Gus Usup selalu ia bawa. Hampir disetiap permainan Gus Usup selalu memenangkan permainan hingga lawannya merasa agak kesel. Akan tetapi Gus Usup tidak meningkati hasil kemenangannya hanya untuk diri sendiri. Gus Usup selalu membagi kembali uang miliki teman-temannya, hingga membuat mereka merasa senang dengan sikap Gus Usup.
    Ditengah permainan kartu, Gus Usup marasa perutnya sakit dan ia mengakhiri permainan dan langsung pulang ke rumah. Sedangkan Guk Mak dan teman-teman yang lain masih melanjutkan permainan mereka. Setelah dipertengahan permainan Guk Mak baru menyadari bahwa jaket Gus Usup ketinggalan padanya. Dan lebih anehnya Guk Mak setelah Gus Usup tidak bermain kartu ia selalu menang dalam pertarungan. Bahkan ia sendiri merasa aneh dengan kemenangannya. Sesampai di rumah Guk Mak langsung mengeluarkan semua uang hasil judiannya dari saku celana. Juga uang yang ia simpan di jaket Gus Usup. Saat ia meraba ke saku jeket miliki Gus Usup ia merasa ada yang aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mak terjengkat. Ternyata itu cincin sisik naga milik Gus Usup. Ada gemetar di jemarinya. Ia menduga bahwa kemenangan yang ia dapat mungkin berasal dari batu akik milik Gus Usup yang tertinggal padanya. Ada keinginan untuk memiliki namun bagaimana cara agar benda itu tetap digenggamannya.

    Kritik
    Dari cerpen yang berjudul “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar alur ceritanya sangat bagus dan alur ceritanya sangat jelas. Jalan cerita dari cerpen Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup sangat menarik apa lagi sesuai dengan kehidupam di masyarakat.

    • Admin Reply

      “apalagi” bukan “apa lagi”. beda makna antara yang dipisah dengan yang digabung. “di” tidak kapital jika digunakan dalam judul.

  3. Dian DikaTika Reply

    Cerpen dengan judul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, penulis M. Shoim Anwar. Pada cerpen ini terdiri dari beberapa paragraf. Cerpen tersebut memiliki tema yakni tentang cara untuk mendapatkan kemenangan & bersikap yang baik saat di dunia. Tokoh utama dalam cerpen tersebut yakni Gus usup. Gus usup seseorang yang sederhana dalam hidupnya, selain sederhana gus usup juga sosok yang baik hati dan santai. hal itu terbukti bahwa saat sedang bermain kartu remi dengan teman-temannya ia berbaik hati untuk memberikan uangnya kepada teman yang saat bermain mengalami kekalahan. selain itu, gus usup juga orang yang senang bercanda hal itu terbukti bahwa gus usup mengatakan siapapun yang memegang akik sisik naga maka orang yang memegang tersebut tidak bisa buang air kecil & berak. Pada kandungan isi cerpen ini juga memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan nyata. hal itu ditunjukkan dengan bahwa gus mus seseorang yang baik hati & rajin beribadah. hal tersebut tentu berkaitan dengan kehidupan nyata, bahwa kita sebagai manusia harus ingat dengan akhirat jadi selama di dunia kita harus melaksanakan perintah tuhan dengan benar, itu adalah sisi positif isi cerpen yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Namun, ada juga sisi negatif yakni guk mat ingin mempertahankan kemenangannya saat sedang main kartu remi tetapi dengan bisa memiliki akik sisik naga milik gus usup. hal ini tentunya tidak boleh untuk dilakukan. Karena, hal tersebut dapat membuat orang lain susah & sedih karena kehilangan benda miliknya. jadi, jangan sampai kita mengambil barang milik orang lain untuk kebutuhan pribadi kita itu sangat berdosa & termasuk dalam perbuatan tercela.

  4. Mokhamad Nurhidayatullah Reply

    Guk Mat adalah Kita Semua dalam Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup Karya M. Shoim Anwar

    Manusia dengan segala bentuk keinginannya. Itulah pesan yang disampaikan pengarang melalui cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup. Sebuah cerpen yang dikemas dengan kata-kata yang sederhana namun mampu untuk membuat pembaca khususnya saya untuk memehami lebih keras lagi apa sebenarnya maksud dari pengarang dalam cerpen tersebut. Cerpen ditulis pada tahun 2016 dengan judul Sisik Naga di jari Manis Gus Usup. Awalnya saya kira cerpen tersebut adalah sebuah bentuk kritikan pada masa itu, karena kalau tidak salah antara tahun 2015-2016 adalah tahunnya akik. Tahun dimana-mana akik bagaikan sebuah permata, bahkan lebih dari permata. Semua orang mendadak menjadi akiklovers sebutan saya untuk mereka yang mengagumi batu akik.
    Baiklah kita uraikan cerpen tersebut dalam hemat pandang saya. Cerpen tersebut sendiri menceritakan tentang kisah tentang orang-orang yang melakukan permainan kartu remi. Sebuah permainan yang mengandalkan aji mumpung. Didalam permainan tersebut Gus Usuplah yang sering menang, namun ketika menang hasil dalam permainan tersebut tidak dibawah pulang, dan malah dibagikan kemabali kepada mereka yang ikut dalam permainan tersebut. Tak pernah kalah dan tak pernah menang. Konon, kata mereka yang menikuti permainan remi semua bentuk keberuntungan dan kemenangan dari Gus Usup karena akik yan melingkar di tangannya akik sisik naga. Naga sendiri dimaknai sebagai lambang dari keberuntungan, sedankan akik sisik naga kalau dipakai orang tersebut memiliki pengasihan, kewibawaan, dan sebagainya. disela-sela permainan Gus Usup pulang dan jaketnya dititipkan ke Guk Mat. Guk Mat pun menang dalam pertandingan kartu remi dan sampai dirumah tanpa sadar didalam jaket Gus Usup yang dititipkan padanya ada akik sisik naga. Timbulah rasa untuk memilikinya.
    Dari cerita singkat dalam cerpen tersebut menunjukan ada makna-makna simbolik yang digunakan oleh pengarang yaitu permainan kartu remi, batu akik sisik naga, dan Gus Usup, Guk Mat. Permainan kartu remi permainan yang sering kita jumpai dan mungkin hampir kita semua pernah melakukannya. Tapi pernakah terbesit bahwa permainan tersbut memiliki nilai filosofi? Atau mungkin saya hanya sok-sok berfilosofi. Huuu… menurut saya sendiri permainan remi adalah permainan yang menggunakan teknik perhitunngan yang matang dan ditambah dengan keberuntungan. Sebuah permainan yang erat dengan rakyat. Dapat dikatakan mereka yang melakukan permainan remi adalah orang-orang yang mengedepankan keberuntungan/aji mumpung. Kenapa saya mengatakan seperti itu, lihat saja mereka yang mengharapkan uang banyak dengan cara bermain kartu remi. Mempasrahkan nasib pada lembar-lembar kartu. Artinya dalam cerpen tersebut permainan kartu remi merupakan simbol keinginan manusia untuk memiliki sesuatu atau bisa dibilang dengan uang dengan cara praktis.
    Simbol selanjutnya yakni batu akik sisik naga. Banyak kalangan percaya batu akik sisik naga memiliki beragam fungsi dan manfaat. Manfaat dan fungsi batu akik sisik naga itu sendiri konon katanya untuk pengasihan, pelaris dagangan, dan bisa digunakan untuk mancing, kalau kita memancing dan memakai akik tersebut ikan-ikan akan kumpul. Didalam cerpen tersebut sendiri batu akik sisik naga dipercaya dan beberapa orang percaya dapat membuat menang permainan remi, dan memiliki kesaktian. Hal tersebut diperkuat dengan bukti mereka yang mencoba dan benar adanya batu akik sisik naga Gus Usup itu memiliki kekuatan tersendiri. Ampuh benar. Nah, dari batu akik sisi naga ini sendiri pengarang menyelipkan makna dalam pandangan saya bahwa tidak ada yang luput dari kuasaNYA. Batu akik adalah perantara adalah alat yang digunakan untuk menguji hambaNYA. Apakah HambaNYA mengingatnya ketika orang tersebut mendapat apa yang ada padanya? Apakah hambaNYA akan menganggap bahwa semua itu benar bersumber pada batu akik, baik keberuntungan dan kekuatannya? Sejatinya semua ada pada kekuasanNYA berasal dariNYA.
    Gus Usup, Gus Usup sendiri menurut saya adalah simbol pemimpin Ideal. Kenapa Ideal? Karena dalam cerpen tersebut sosok Gus Usup yang sungguh dihormati, tidak meminta hormat, karena diakui bukan mengakui. Sosok yang tidak segan bercengkrama dengan siapapun tidak memilih-milih. Kebanyakan kebanyakan hari ini adalah banyak orang dikatakan sebagai pemimpin masih pilih-pilih teman/pergaulan dan gila hormat. Kembali lagi kepada sosok Gus Usup dalam cerpen tersebut, Gus Usup sendiri memiliki sikap yang luwes, kapan harus serius dan kapan harus bercanda, selain itu bliau juga kental dengan nilai-nilai keagamaan. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika menegur anak-anak yang suka bercanda saat mengikuti sholat bersama. Sosok yang bebas dan teguh pada pendirian. Artinya apa? Artinya adalah sosok yang kita idam-idamkan hadir dikehidupan ini. Sosok yang memiliki pandangan 10 langkah ke depan. Hehehehe…..
    Sedangkan simbol terahir yaitu Guk Mat. Guk Mat sendiri adalah simbol dari manusia dengan segala bentuk keinginannya. Keinginan menang main remi. Keinginan memiliki akik sisik naga Gus Usup. Hal yang wajar atau lumrah dan sebuah sifat alamiah manusia ingin memiliki seseuatu yang ia inginkan. Memiliki keinginan itu boleh, sangat diperbolehkan. Tapi kita harus menimbang apakah keinginan itu hal yang baik atau tidak? Kadang demi keinginan kita secara tidak sadar melakukan dalam norma dianggap salah. Misal dalam cerpen tersebut Guk Mat ingin mendapatkan banyak uang dengan main remi dan juga timbul rasa ingin memiliki akik sisik naga milik Gus Usup. Guk Mat adalah kita semua dengan nafsu keinginan yang menggebu-nggebu sulit mengontrol.
    Begitulah makna simbolik yang saya tangkap dan dapat diuraikan. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup karya Shoim Anwar merupakan cerita yang menarik. Ketika kita akan membacanya, seolah-oleh masuk kedalam isi cerpen tersebut. Penuh teka-teki disetiap kalimat yang digunakan. Bahkan di akhir cerita sendiri berahir dengan tanda tanya. “apa yang akan dilakukan oleh Guk Mat dengan batu akik sisik naga Gus Usup tersebut? Apakah dikembalikan?ataukah disimpan sendiri?”pertanyaan tersebut mungkin akan muncul muncul dalam kepala pembaca. Sungguh cerita yang dikemas dengan perfect. Untuk nilai-nilai sosial, tidak bisa diragukan lagi cerpen tersebut syarat akan nilai sosial, dan bahkan nilai keagamaan. Namun ada beberapa yang kurang yakni, penggunaan kata bahasa jawa yang tidak diberi penjelasan. Seperti istilah nyetrum, mebling, dan ngandhang, mungkin bagi beberapa orang khususnya diluar pulau jawa akan sedikit sulit untuk mengartikan jika sekali membaca cerpen tersebut. Itu saja mungkin kekurangan yang ada pada cerpen tersebut. Selebihnya mengagumkan.

  5. Skolastika Juita Reply

    cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” menggambarkan kehidupan aktual yang terjadi saat ini. Mengisahkan sosok laki-laki dari keluarga berada namun tidak menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang berkecukupan.. Gus Usup sebagai sosok orang yang tidak menggunakan latar belakangnya agar disukai semua orang tapi karena sifatnya yang suka bergaul membuat orang-orang segan kepada dirinya bahkan, orang-orang tidak segan bermain dan berteman dengannya. Kehidupan masyarakat saat ini memang jarang seperti yang di miliki oleh sosok Gus Usup seperti halnya dalam berjudi. Saat ini orang yang berjudi hanya memikirkan sebuah kemenangan hingga pada akhirnya segala apa yang di miliki terkuras habis. Bermula dari keisengan berjudi hinga menimbulkan perjudian yang hebat.Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” di kupas dengan sedemkian rapi dengan alur yang tak membosankan serta banyak makna kehidupan didalamnya. Cerpen ini juga mengulik sebuah fakta tentang kehidupan manusia saat ini yang terkadang tergila-gila dengan sebuah permainan yang bahkan belum tentu membawa sebuah keberuntungan bagi dirinya hinga tak jarang manusia sekarang ini rela menyakiti orang lain dan bersaing menjadikan dirinya yang pertama. Cerpen ini juga menimbulkan rasa penasaran terhadap kelanjutan kisah batu akik yang di miliki oleh Gus Usup. Apakah batu akik itu merupakan sebuah keberuntungan yang di miliki oleh Gus Usup ataukah hanya sebagai penghias di jari manisnya.

  6. TIARA RIZQY EKA NINGTYAS Reply

    Cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar menggambarkan kehidupan manusia yang saat ini penuh dengan keinginan untuk dapat memuaskan dan mencari kesenangan terhadap dirinya sendiri. Seperti tokoh Guk Mat yang kala itu sedang bermain kartu remi bersama Gus usup dan teman-temannya ingin memenangkan sebuah permainan agar bisa meraup uang yang ada di depan arena permainan. Cerita yang disuguhkan sangat menarik, dikemas dengan bahasa yang sederhana dan dengan pemaknaan yang tergambar jelas. Setiap tokoh mempunyai ciri khas dan mempunyai rasa hormat terhadap orang yang dianggap tidak biasa di kampungnya yaitu Gus Usup. Warga di kampung tersebut menganggap Gus Usup mempunyai cerita tersendiri daripada keluarga pondok lainnya. Gus Usup orang yang sangat unik, sederhana dengan penampilan yang apa adanya layaknya pemuda kampung biasa, sarugnya selalu diangkat sampai di atas lututnya, dan jarang terlihat memakai kopyah dengan ciri khas rambutnya. Pemuda yang tampan dan berkulit kuning tersebut diyakini warga bahwa dengan adanya batu akik sisi naga, Gus Usup terlihat lebih kuat dan selalu menang dalam permainan remi. Seperti yang tergambar pada cerita tersebut, bahwa pada saat itu mereka sedang belajar bela diri di pondok, mereka tidak bisa mengambil batuk akik sisi naga milik Gus Usup tersebut. Mereka semua terpental dan meyakini bahwa Gus Usup telah memberikan bacaan yang kuat terhadap batu akik tersebut. Sebuah cerita pendek yang terkemas rapi, dengan alur maju, dan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Sosok Gus Usup dan warga desa yang mengambarkan kisah atau kejadian fakta yang terjadi di dalam kehidupan kita saat ini. Bahwa setiap manusia mempunyai porsi dan caranya tersendiri untuk mendapatkan keinginan dengan sifat orang yang notabennya terlihat berbeda-beda. Rangkaian peristiwa kejadian yang berurutan, ringan dan mudah dipahami sehingga pembaca ikut hanyut ke dalam peristiwa yang terjadi. Cerita pendek tersebut mempunyai makna dan simbol tersendiri, yaitu ketika masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri ketika melihat, menyapa, dan menjamu orang terhormat tersebut tanpa adanya rasa ingin dihormati kembali. Tetapi, mereka juga tahu jika Gus Mus dan keluarga pondok menorehkan banyak pelajaran dan kesan sendiri. Terutama orang yang selalu dihormati sekalipun para tetuah juga menghormati akan tokoh yang dianggap tak biasa tersebut yaitu Gus Mus.

  7. Okky Fajar Wijayadi Reply

    Paparan singkat yang saya berikan di blog pribadi saya. Sila kunjungi https://puisikosongsaya.wordpress.com/2021/04/01/guk-mat/

  8. Dini Safia Hudah Reply

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya dari M. Shoim Anwar, seorang sastrawan sekaligus dosen. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Menurut KBBI cerita pendek adalah cerita yang isinya kurang dari 10.000 kata dan ceritanya berkonsentrasi pada satu tokoh dalam cerita.
    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  9. Dela Ruspita Sari Reply

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya dari M. Shoim Anwar, seorang sastrawan sekaligus dosen. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menggambarkan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya dan merupakan dari keluarga berada. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Warga di sana mengangganya bukan orang biasa meskipun umur beliau masih muda. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, cerita yang digambarkan sangat menarik dan mudah dipahami, pemaknaanya juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” juga memiliki alur cerita yang sangat jelas.

  10. FATIKHATUL KOIROH Reply

    Analisis kritik/ esai dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”
    Penulis : M. Shoim Anwar
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki banyak paragraf. Tema dari cerpen tersebut adalah memiki kehidupan yang ingin menang sendiri , selalu ingin bersikap baik pada semua orang di kehidupan dunia dan akhirat. Tokoh dari cerpen tersebut adalah Gus Usup, Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zi. Watak Gus Usup adalah seorang yang baik hati, sederhana, dan tidak pernah sombong kepada semua orang. Latar setting dari cerpen tersebut ada tiga yaitu latar tempat di Kali Dam, dasar sungai. Latar waktu : pagi hari, siang hari, dan latar suasana tersebut menggambarkan kesediha, kegembiraan. Pada cerita tersebut terdapat alur maju,mudur, cerita tersebut sangat kompleks. Awal hingga ending sesuai dengan yang di harapkan. Amanat dalam cerpen tersebut jangan pernah mengambil barang yang bukan milik hak kita karena itu perbuatan syetan atau tercela.
    Dalam kutipan cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” yaitu bahwa ada seorang kyai atau gus yang sangat hebat. Dia pandai dalam ilmu agama, ilmu spiritual. Memiliki nilai moral yang sangat baik. selain itu, gus usup juga orang yang senang bercanda hal itu terbukti bahwa gus usup mengatakan siapapun yang memegang akik sisik naga maka orang yang memegang tersebut tidak bisa buang air kecil dan berak.
    Dalam kandungan makna isi cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” yaitu mempunyai ilmu keagamaan yang sangat baik. Gus usup adalah sosok kyai yang mempunyai etika baik, mampu mengajarkan beribadah untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT tetapi selalu salah untuk memainkan kartu taruhan yaitu uang. Selain itu, Gus Usup juga orang yang senang bercanda hal itu terbukti bahwa Gus Usup mengatakan siapapun yang memegang akik sisik naga maka orang yang memegang tersebut tidak bisa buang air kecil dan berak.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” berkaitan dengan kehidupan nyata, bahwa kita sebagai manusia tetap harus mengingat dengan kehidupan di dunia dan di akhirat. Dalam cerpen tersebut memiliki dampak positif yaitu selama di dunia kita harus melaksanakan perintah tuhan dengan benar, seperti beribadah kepada Allah SWT dan memperbanyak amal sholeh. Namun kegiatan mistis tersebut tidak boleh dilakukan karena bisa dapat membuat orang lain susah dan sedih kehilangan benda miliknya. Jadi, jangan sampai kita mengambil barang milik orang lain untuk kebutuhan pribadi. Hal itu sangat berdosa dan termasuk dalam perbuatan tercela.

  11. Ihda Ayu Anniza Reply

    Pesan yang disampaikan oleh penulis melalui sebuah cerita pendek dengan judul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usap. Sebuah cerita pendek yang dikemas dengan estetika tetapi, membuat pembaca lebih keras untuk memahami maksud dari pengarang dalam isi cerita pendek. Baiklah, marilah menguraikan sebuah cerpen dengan singkat yaaa.

    Cerpen tersebut menceritakan tentang orang yang sedang melakukan permainan kartu remi. Di dalam permainan tersebut Gus Usup yang sering menang, namun ketika menang hasil dalam permainan tersebut tidak dibawah pulang bahkan dibagikan kepada mereka yang ikut dalam permainan tersebut. Sampai suatu ketika Guk Mat pun menang dalam pertandingan kartu remi dan sampai dirumah tanpa sadar didalam jaket Gus Usup yang dititipkan padanya ada akik sisik naga. Timbulah rasa untuk memilikinya.

    Dari cerita pendek ini menunjukkan adanya beberapa simbol yang sangat menonjol yaitu:

    ~ Kartu Remi, permainan yang sering kita jumpai dalam kalangan masyarakat. Tanpa kita sadari bahwa permainan tersebut bukan hanya kita bermain teknik perhitungan saja, tetapi terdapat keberuntungan dalam setiap permainan tersebut. Simbol ini memiliki keterkaitan dalam kehidupan saat ini, masyarakat lebih mengedepankan keberuntungan atau aji mumpung.

    ~ Gus Usup, simbol pemimpin yang begitu ideal, Gus Usup yang begitu dihormati tetapi tidak meminta hormat. Tidak hanya itu saja, beliau tidak memili teman bergaul, terkadang serius tapi dicempur dengan lelucon atau candaan dan memiliki keagamaan yang kental.

    Dari sedikit paparan di atas, ada salah satu hal yang membuat pembaca sedikit kecewa dengan alur yang memutar dan pemilihan kata dengan menggunakan bahasa jawa tanpa adanya arti dalam kata tersebut. Sedangkan keunggulan cerpen karya Shoim Anwar ini membuat pembaca penasaran apa kelanjutan dari kisah Gus Usup dan Guk Mat yang dalam akhir cerita penuh tanda tanya. Satu lagi nih yang menurut saya lebih penting bahwa semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan dengan porsi masing-masing.

  12. Riska Mardiana Reply

    Kritik Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”

    Cerpen yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya yang seorang penulis yang bernama M. Shoim Anwar. Sudah banyak hasil karya yang telah dibuat mulai dari puisi, cerpen hingga karya bentuk lainnya. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”menceritakan sosok yang bernama Gus Usup yang memiliki kepribadian baik dan kehidupan yang sederhana. Gus usup yang hidup sederhana sehari-hari ia pergi ke sawah untuk menanam sayuran yang tumbuh dengan subur. Gus usup memiliki cincin batu akik yang bermotif sisik naga. Cincin gus ucup sangat unik sehingga menarik perhatian orang-orang di kampungnya. Banyak orang yang menyebut cincin gus usup memiliki kekuatan dan bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Hal tersebut dapatan dilihat pada saat gus usup bermain remi bersama teman-temannya ia selalu memenangkan permainan tersebut. Gus usup memiliki hati yang baik ketika ia memenangkan permainan remi ia selalu membagikan uang recehan yang ia menangkan kepada teman-temannya yang sudah tidak memiliki uang lagi. Ketika gus usup sakit perut dan ingin ke toilet jaket yang didalamnya terdapa sebuah cincin batu akik dititipan ke salah satu temannya tak lama kemudian teman yang membawa jaket itu berhasil memenangkan permainan remi.

    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar berkaitan dengan kehidupan nyata masih banyak orang yang bermain judi dan masih banyak orang yang percaya dengan benda keramat seperti cincin batu akik yang membawa keberuntungan. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar dalam ceritanya sangat menarik dan unik untuk dibaca. Cerpen tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca sehingga banyak yang menyukai cerpen tersebut

  13. Samirah Reply

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya M.Shoim Anwar yang ditulis pada tahun 2016. Cerpen ini penuh dengan teka-teki luar biasa, berawal dari cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Keajaiban dan kehebatan cincin akik Gus Usup dimulai saat permainan kartu remi. Dimana tokoh Gus Usup selalu memenangkan permainan ini, konon karena cincin yang melingkar di jari manisnya, sehingga membuat semua orang penasaran dan ingin memilikinya. Tokoh Gus Usup digambarkan dengan laki-laki yang tampan, wajah dan kulitnya kuning bersih, rambutnya selalu dipotong pendek, rambut bagian depan yang agak panjang terlihat ikal menggelombang, alisnya cenderung tebal, tepat di bagian bawah bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang manis di wajahnya. Tokoh Gus Usup bukan tokoh sembarangan, beliau sangat dihormati.

    Cerpen ini sesuai dengan judulnya, yaitu mengisahkan misteri cincin berupa sisik naga di Jari Manis Gus Usup. Cincin ini didapatkan dahulu, ketika Gus Usup suka mandi mencari batu akik di dasar sungai. Batu akik sebesar ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna cokelat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Batu akik inilah yang menjadi sorotan pembicaraan semua orang.

    Penulis menggunakan simbol Naga, dimana Naga melambangkan kebenaran, keberuntungan, kebaikan, kekuatan, dan kemakmuran. Seperti dalam cerpen ini, cincin di jari manis yang digunakan Gus Usup bermotif sisik naga, yang membuat Gus Usup selalu beruntung dalam hal apapun, khususnya permainan kartu remi. Penulis dalam cerpen ini juga menggunakan istilah bahasa Jawa seperti: inggih, cak, gus, ngandang, nyetrum, mbeling, nyirik.

    Cerpen ini mengangkat kisah menarik dan juga unik, sehingga pembaca dibuat bertanya-tanya bagaimana kisah selanjutnya, hingga akhirnya pembaca menebak dengan pikirannya sendiri. Akhir cerita pembaca menerka apakah Guk Mat berhasil memiliki cincin milik Gus Usup. Banyak hal yang menakjubkan dari cincin akik Gus Usup, dimana bukan hanya sekedar batu akik biasa, entah apa yang ada didalamnya.

  14. Fionna Vidi Pramesti Reply

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”
    Karya M. Shoim Anwar

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang disegani, dihormati, dan dihargai oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup merupakan seseorang yang baik dan ramah kepada siapapun. Dalam cerpen ini digambarkan bahwa masyarakat menganggap dan mempercayai apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa bisa dilihat dari batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut memang benar terjadi di kehidupan nyata di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda yang nantinya akan membawa efek positif.Kita boleh percaya akan hal itu, namun kepercayaan pada benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri, menjerumuskan ke hal yang negatif, dan menimbulkan keserakahan.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya cukup mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas seolah-olah kita ikut masuk kedalam cerita tersebut. Amanat cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” bahwa kepercayaan dan kesukaan untuk memiliki benda boleh saja, hanya sebagai hiasan, memperindah diri atau karena rasa suka saja. Jika digunakan sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik, dan tidak bisa berpikir jernih.

  15. Cantika DR Reply

    Berbeda dengan cerita pendek sebelumnya, cerita pendek yang berjudul ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’ ini kiranya lebih mengarah pada kepercayaan. Jika membaca secara menyeluruh pada cerita pendek tersebut, maka terdapat hal utama yang diperbincangkan di dalamnya:Batu Akik. Sebelum membahas mengenai Batu Akik, saya uraikan persepsi umum saya secara menyeluruh dari cerita pendek ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’. Pada cerita pendek tersebut menggambarkan bahwa seseorang dihargai atau tidak dapat dilihat dari statusnya pada saat itu. Hal ini sejalan dengan narasi yang terdapat dalam cerita pendek tersebut yakni ‘
    Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara sembarangan pula.’ Dari potongan narasi tersebut dapat disimpulkan bahwa Gus Usup merupakan seseorang yang memiliki status terhormat di wilayahnya sehingga beliau diperlakukan sesuai statusnya. Meskipun disanjung oleh masyarakat sekitar, Gus Usup tetap rendah hati dan masih mau bercengkrama dengan masyarakat sekitar bahkan untuk main kartu pun beliau bersedia.

    Biasanya panggilan Gus itu diberikan atau diberlakukan orang Jawa pada lingkup agamis yang lebih kental, dalam lingkup pesantren misalnya. kata ‘Gus’ sendiri memiliki arti ‘Bagus’ sehingga kebanyakan orang Jawa memberikan julukan tersebut pada sekelompok orang yang paling banyak memahami tentang agama, khususnya Islam. Selain itu ‘Gus’ ditujukkan pada seseorang yang berasal dari keturunan kyai. Panggilan ‘Gus’ tersebut tidak hanya digunakan dalam lingkup pesantren saja sebenarnya. Sebetulnya bisa saja panggilan tersebut juga diberlakukan secara bebas di masyarakat, namun memang ikon dari panggilan ‘Gus’ tersebut biasanya ditujukan pada seseorang yang berasal dari latar belakang kyai atau dari wilayah pesantren.

    Batu Akik dulu sempat ramai digandrungi orang Jawa. Mereka menggunakan Batu Akik dengan kepercayaan masing-masing tentunya. Ada yang bilang bahwa Batu Akik dapat dijadikan sebagai penangkal penyakit, ada juga yang menyebut bahwa jika kita memiliki Batu Akik akan diberikan rezeki yang melimpah, dan ada juga yang hanya ‘pingin’ punya saja. Bahkan saya pernah membaca di internet bahwa Batu Akik itu diyakini sebagai bagian dari makhluk Allah yang mencerminkan manusia. Batu Akik yang awalnya hanya sebongkah batu kemudian ia dirawat, digosok, atau dikelola dengan zat-zat lain sehingga menjadikannya sebagai batu yang bening nan indah. Hal tersebut disamakan dengan proses tumbuhnya manusia. Jika ingin menjadi manusia yang baik diperlukan proses yang tidak mudah, ibaratnya harus terus digosok dengan istighfar, berdzikir, ataupun melantunkan doa-doa untuk dimunajatkan pada Allah agar dapat sebening Batu Akik, kiranya seperti itu. Barangkali pendapat bahwa Batu Akik dapat menangkal penyakit memang benar adanya. Hal ini dapat dilihat dari isi cerpen ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’ yang menyatakan bahwa Gus Usup sakit perut setelah ia menanggalkan jaketnya dan ternyata di dalam jaket tersebut terdapat Batu Akik Sisik Naga yang biasanya melingkar di jari manis Gus Usup.

    Persepsi-persepsi seperti itu lazim saja terjadi di sekitar kita selama positif bagi diri sendiri dan sekitar. Kiranya eksistensi Batu Akik masih ada sampai sekarang meskipun tidak seramai dulu.
    Cerita pendek dari M.Shoim Anwar kali ini dapat membuat saya mengingat kembali apa yang saya lihat di desa saya sendiri bahwa tak sedikit saya menemukan persamaan dengan tokoh Gus Usup dalam cerita pendek tersebut yakni terdapat orang-orang dari background pesantren jika diperhatikan banyak juga yang memakai Batu Akik entah untuk apa.

  16. Alfiyah Hasanah Reply

    Cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar, yang diunggah oleh penulis di laman web (https://basabasi.co/sisik-naga-di-jari-manis-gus-usup/ ) tersebut, penulis dalam cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” menggunakan bahasa sederhana sehari-hari yang mudah dipahami oleh pembaca. Pengarang membuat kata-kata tersusun rapi, alur ceritanya juga jelas, memiliki banyak dialog, dan menariknya pengarang menyisipkan humor, sehingga pembaca tidak merasa bosan dalam membacanya. Pada kalimat:
    “Kalau pegang kamu nggak bisa kencing dan berak,” kata Gus Usup.
    “Masak, Gus!?” Salah satu dari mereka, Dulah namanya, terjingkat.
    “Lo, beneran. Nggak bohong ini,” ujar Gus Usup kalem sambil tersenyum.
    “Demi Allah, Gus?”
    “Demi Allah,” Gus Usup manggut-manggut.
    Mendengar jawaban Gus Usup tiba-tiba semuanya terdiam. Tergambar perasaan takut pada wajah mereka. Mereka agak menjauh. Tapi Dulah kembali nyeletuk, “Musyrik itu, Gus. Masak pegang aja nggak bisa kencing dan berak?”
    “Kamu nggak percaya?” tanya Gus Usup sambil meletakkan sebuah kartu remi ke deretan di depannya.
    “Masak?”
    “Buktikan saja kalau berani,” Gus Usup tersenyum sambil mengulurkan lengan kirinya, sementara kartu reminya dipindah ke tangan kanan. “Kalau tidak terbukti nanti saya beri uang kamu.”
    “Saya berani, Gus. Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Dulah pun menyentuhkan ujung telunjuknya ke akik Gus Usup, agak sedikit gemetar tapi berani.
    “Sudah?” tanya Gus Usup.
    “Sudah, Gus. Nggak apa-apa kan?”
    “Ayo, sambil memegang sekarang kamu kencing dan berak di sini!”
    “Wah ya nggak mau, Gus….”
    “Nggak bisa kan? Tadi saya bilang kalau pegang. Kalau ke WC berarti sudah tidak pegang.”
    Semua yang hadir tertawa.
    Dalam cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” penulis menggambarkan seorang anak yang terhormat, anak dari salah satu pengasuh pondok yang biasanya disebut Gus Usup. Gus Usup yang dikenal ramah dan akrab terhadap warga kampungnya. Salah satu yang menjadi ketertarikan orang kampungnya adalah cincin akik bermotif sisik naga yang melingkari jari manisnya. Saat bermain ataupun ada hajatan yang menjadi topik pembicaraan oleh warga yaitu cicin Gus Usup, warga menyebutnya cincin pembawa kemenangan dan keberuntungan.
    Kekurangan dalam cerpen tersebut ada kata yang menggunakan bahasa daerah yaitu Jawa, penulis tidak menjelaskan atau memberi arti sehingga pembaca hanya bisa menerka-nerka dengan bahasa yang dimaksud dalam cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup.”

  17. FITA DWI ANJELINA . Reply

    Sebuah karya sastra tentunya muncul dengan berbagai faktor, seperti cerpen merukapan karya sastra yang muncul bisa jadi karena pengalaman pribadi penulis, pengalaman oaring lain, atau muncul berdasarkan pengamatan penulis terhadap fenomena lingkungan sekitar yang sengaja ia angkat menjadi sebuah rangkaian cerita yang menarik dan indah. Seperti cerpen yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar. Cerpen tersebut menceritakan tentang kehidupan seorang keturunan kyai yang mempunyai sebutan gus dan sangat dihormati oleh seluruh warga dengan berbagai keunikan yang dia miliki, seperti batu akik sisik naga yang selalu melekat pada dirinya dan sering diperbincangkan oleh warga.

    Jika kita telaah lagi cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus usup” karya M. Shoim Anwar tersebut sarat akan simbol-simbol yang sebenarnya memiliki makna luar biasa di dalamnya. Seperti yang terdapat dalam judulnya yakni sisik naga, kata bisa dilambangkan dengan sesuatu yang kokoh, kuat, pemenang dan tak terkalahkan. Seperti yang diceritakan dalam cerpen tersebut bahwa tokoh Gus Usup memiliki sebuah akik sisik naga yang kononkatanya memiliki kekuatan magis yang membuatnya menjadi kuat dan tak terkalahkan, hal tersebut dapat dibuktikan pada saat permainan kartu remi beliau tidak pernah terkalahkan.

    Simbol kedua terdapat pada tokoh Gus Usup, menurut saya Gus Usup adalah simbol dari seorang pemimpin yang ideal. Sosok Gus Usup dengan gelar yang melekat pada dirinya yang disebut dengan Gus anak dari keluarga pesantren, tidak membuatnya menjadi sombong atau membuatnya menjadi seorang pemilih. Gus Usup suka bergaul dengan siapaun, bahkan dia tidak segan untuk mengajak warga desa bermain kartu denganya. Simbol seoarang pemimpin yang kuat akan pendiriannya, tidak gila hormat dan tidak segan bergaul dengan siapapun tanpa terkecualai tetapi masih tetap memegang teguh ilmu agama yang dimilikinya.

    Simbol berikutnya terletak pada tokoh Guk Mat, menurut saya tokoh Guk Mat menyimbolkan sifat manusia pada umumnya. Sifat ingin memiliki, sifat ingin unggul, sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang mewakilkan manusia pada umumnya. Sifat ingin memiliki merupakan sifat manusia yang sangat wajar, tetapi hal yang harus diperhatikan adalah tindakan yang akan kita lakukan pada saat ingin memiliki sesuatu tersebut. Apakah cara yang kita tempuh untukmendapatkan sesuatu sudah benar atau salah. Tentu tindakan tersebut harus kita perhatikan, seperti yang terdapat pada cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus usup” karya M. Shoim Anwar yang mencerikan tokoh Guk Mat yang berambisi ingin memenangkan permainan kartu dan keinginan Guk Mat yang ingin memiliki batu akik sisik naga milik Gus Usup.

    Berdasarkan uraikan makna cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus usup” karya M. Shoim Anwar yang sudah saya paparkan di atas dari segi pemaknaan simbol terdapat banyak kelebihan di dalamnya, salah satunya yakni cerpen tersebut memiliki pesan moral pada masyarakat bahwa menjadi seoarang pemimpin tidak harus memberikan jarak atau batasan dalam bergaul, justrucontoh pemimpin yang ideal yakni yang mampu berbaur dengan siapa saja tetapi tetap menjaga ilmu yang mereka miliki. Sedangkan jika dikaitkan dengan aktualisasi kehidupan saat ini terletak pada paragraph ke enam cerpen tersebut yang menceritakan tentang ketidakharmonisan hubungan antar pondok dikarenakan para pengasuhnya terlibat dalam sebuah partai politik sehingga membuat tidak akur jika yang mereka dukung berbeda. Hal tersebut sangat relevan dengan kehidupan saat ini, dapat kita lihat banyaknya para kyai yang menaungi sebuah pesantren ikut andil dalam mendukung sebuah partai politik membuatnya menjadi tidak netral dan akur antar pesantren yang berbeda dukungan partai politik dan akhirnya menimbulkan perpecahan di antara mereka.

  18. Anisya Rahmawati Reply

    ESAI
    1. PENCERITAAN “SISIK NAGA DI JARI MANIS GUS USUP”
    Diceritakan di sebuah cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini menceritakan seseorang yang terhormat dan terlahir di pondok pesantren yang begitu dihormati. Gus Usup ini bukan dari segelintir orang biasa namun beliay adalah sosok yang begitu dihormati dan disanjung oleh masyarakat setempat, usut punya usut ternyata dia memiliki tampang yang rupawan, berkulit kuning dan fisiknya hampir sempurna terlebih banyak gadis desa yang menyukainya, memiliki tindak tutur yang baik, sikapnya yang menyejukkan membuatnya semakin diakrabi oleh masyarakat sekitar siapapun yang melihat akan terkagum dilihatnya. Anehnya ia belum memiliki tambatan hati, sempat dahulu pernah dijodohkan oleh Ning Sokhifah anak dari pondok utara. Namun dibalik sifat dan tampangnya yang baik tersimpat kebiasaan buruk yaitu gemar bermain kartu remi pada saat hajatan bersama temannya yaitu Gus Mut, Guk Pin, Wak Parmin, Kang Marsud, Kang Maskut, Cak Kamal. Cak Ruan yang menjadi saya tariknya adalah dari akik yang bersisik naga berwarna coklat konon katanya akik ini adalah jimat yang dipercaya bisa membawa keberuntungan saat bermain bisa meraup uang banyak.

    2. HUBUNGAN CERPEN “SISIK NAGA DI JARI MANIS GUS USUP” DENGAN KEHIDUPAN NYATA
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” menyajikan kisah Gus Usup secara fisik dan tampangnya memikat para kembang desa. Banyak yang seakan menyajung dan menghormatinya karena derajatnya yang tinggi dan masih memiliki kekerabatan dengan keluarga pondok pesantren dengan Gus Man. Namun dibalik sosoknya yang sempurna tesimpan kebiasaa buruk yaitu bermain remi dengan menggunakan akik berisisk naga sebagai jimat yang didapuk sebagai pembawa keberuntungan yang tidak mencerminkan perbuatan baik kepada masyarakat, yang mana dia sudah dipandang sebagai panutan karena sosoknya yang begitu dikenal. Berikut ini beberapa paragraf yang dicuplik dari cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” .

    Sikap Menghormati
    Berdasarkan nilai moral, memang benar alangkah baiknya kita untuk menghormati seseorang. Hal ini telah dilakukan masyarakat kepada Gus Usup, mereka beranggapan dia bukan orang biasa melainkan dari orang terhormat dari pondok pesantren. Hal ini nampak pada pernyaataan kutipan sebagai berikut.

    “Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilahkan mampir ke rumah.”

    Pada kutipan tersebut terurai jelas bahwa sikap menghormati adalah perbuatan yang terpuji, terlihat saat masyarakats sedikit membungkukkan badannya, mempersilahkan masuk, dan menanyakan dengan ramah itu nampaknya sopan untuk dilakukan. Relevansinya dengan kehidupan masyarakat saat ini bila ada seseorang yang menyapa atau mendekat kepada anda sapalah dia dengan itikad yang baik dan ramah, tidak terlalu mengitimidasi sehingga orang beranggapan kita adalah orang ramah.
    Bekerja Keras
    Menerapkan etos bekerja sangat penting bagi keberlangsungan hidup bila dipupuk sedini mungkin. Hal ini berlaku bagi Gus Usup yang dikatakan oleh Guk Mat yang mengatakan bahwa kawannnya ini adalah pekerja keras yang rajin ke sawah setiap harinya, hasilnuya semua dipupuk dengan baik. Hal ini nampak pada pernyataan kutipan.

    “Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik gula. Tapi pekerjaan Gus Usup tidak terlalu jelas buat kami. Yang pasti Gus Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik.”

    Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa memang benar Gus Usup memupuk etos bekerja keras sama seperti yang dikatakan oleh Guk Mat karena dia melihat sendiri. Relevansinya dengan kehidupan masyarakat saat ini adalah pentingnya menerapkan etos bekerja keras demi keberlangsungan hidup karena dengan bekerja keras dan itikad baik akan membuahkan hasil yang baik walaupun kita harus memupuk dari awal karena itu memang proses.
    Tetap Memperat Tali Silaturahmi
    Tali silahturahmi perlu untuk dibasuh antar anggota keluarga supaya komunikasi tetap terjalin dengan baik. Hal ini tidak menyurutkan Gus Usup untuk tetap menjalin komunikasi walaupun anggota keluarga lain ada yang mengurusi politik. Berikut ini kutipannya.

    “Keluarga pondok biasanya mengambil menantu juga dari keluarga pondok yang lain, meskipun antar mereka masih memiliki hubungan kerabat. Tapi sayang, hubungan antarpondok sekarang banyak yang kurang akrab karena para pengasuhnya terlibat dukung-mendukung partai politik yang berbeda. Mereka bahkan bersaing tidak sehat dalam pencalonan anggota parlemen maupun kepala daerah. Syukurlah hingga detik ini Gus Usup tidak termakan godaan partai politik hingga bisa bergaul dengan siapa saja.”
    Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa Gus Usup memiliki sikap yang mudah bergaul dan tetap memperat tali silaturahmi antar anggota keluarga meski banyak yang mengurusi perihal politik yang menjadikan kurang akrab namun tidak menyurutkan Gus Usup untuk tetap menjalin silaturahmi. Relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini adalah sebaiknya kita tetap menjalin komunikasi kepada keluarga sesering mungkin kalau tidak memungkinkan hanya beberapa kali supaya hubungan kekeluargaan akan terus berjalan dan tidak renggang.
    3. MAKNA KARYA
    Dalam Cerpen berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tampak menyoroti kisah dari Gus Usup yang tinggal di pondok pesantren dengan sikapnya yang lembut, ramah, serta tampangnya yang rupawan, berkulit kuning sehingga siapapun yang melihatnya akan menyajungnya bahkan gadis desa ikut merasa terpikat akan paras dan sikapnya, dia juga masih memiliki kekerabatan yang erat dengan keluarga pondok pesantren orang yang memandangpun menganggap sebagai panutan namun sayang dia memiliki hobi bermain kartu remi pada saat hajatan berlangsung bersama teman-temannya dengan menaruhkan uang sebagai bahan taruhan dengan mengandalkan akik bersisik naga berwarna coklat yang selalu dikenakan dia menganggap sebagai jimat keberuntungan sehingga dia selalu menang dan meraup banyak uang.
    Di setiap paragraf dan kalimat terpadu dengan baik tidak ada yang rancu dari ceritanya, bahkan sebagai pembaca bisa mengambil nilai kehidupan yang tersirat di cerpen yaitu jangan melihat seseorang dari status sosial, tampang untuk menilai baik buruknya seseorang namun lihatlah dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Simbol yang menjadi perhatian yaitu “Sisik Naga di Jari Manis” yang dikenakan Gus Usup terasa istimewa dan terasa magis karena dianggap sebagai simbol keberuntungan bahkan temannya yang meminjamnya saat bermain kartu remi merasakan hal serupa tetapi Guk Mat berpikiran untuk tidak mengembalikan dan digunakan untuk diri sendiri entah sebab beradanya akik di jaketnya ini disengaja atau tidak.

    KRITIK
    Cerpen berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini memiliki kelebihan bila dibaca secara keseluruhan isi ceritanya memiliki alur yang menarik dan penulis menggambarkan kisah Gus Usup yang memiliki perawakan dan rupa yang hampir sempurna, dimana tabiatnya juga baik yang membuat penduduk seantero kampung merasa menyajungnya, dia juga masih memiliki kekerabatan yang begitu erat dengan anggota keluarga pondok pesantren, namun dibaliknya tersimnpan kebiasaan yang uruk yaitu gemar bermain kartu remi yang selalu bertaruh dengan uang, tetap ini bisa dikategorikan sebagai berjudi padahal dia sendiri seorang panutan masyarakat bagaimana bisa memiliki kebiasaan tersebut entah ini karena dia sebagai unjuk hobinya atau merasa paling hebat.
    Untuk kekurangannya sendiiri sebagai pembaca masih merasa kesulitan menelaah akhir ceritanya yang terkesan menggantung di tengah jalan dan seperti tidak ada kelanjutan tanpa adanya penyelesaian. Alangkah baiknya membuat penegasan kalimat di akhir paragfaf yang menjelaskan penyelesaian sehingga pembaca tidak menanyakan perihal akhir ceritanya. Kekurangan kedua terletak pada beberapa kata bahasa Jawa yang masih terasa asing bila dipahami, sebaiknya penulis meletakkan kata yang umum didengar oleh khalayak umum sehingga cerita yang disuguhkan terasa menarik.

  19. Titania Arsianul Fitri Reply

    Kritik Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya M. Shoim Anwar

    Cerita Pendek yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan karya M. Shoim Anwar. Beliau sudah banyak mengarang sebuah cerpen dan puisi. Cerita pendek “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” menceritakan seseorang bernama Gus Usup dari keluarga pondok yang memiliki kebiasaan sederhana, tidak serakah dan dapat bergaul dengan siapa saja. Kesederhanaan itu dapat terlihat bahwa Gus Usup rajin ke sawah dan menanam tanaman terong, lombok, dan tomat hingga tumbuh lebat.
    Gus Usup bersama teman-temannya sering bermain bersama permainan yang ia mainkan adalah bermain kartu, biasanya setelah uang recehan milik teman-temannya habis maka uang milik Gus Usup yang dimenangkan itu dikembalikan pada teman-temannya agar permainan tidak cepat selesai. Gus Usup sendiri mempunyai cincin batu akik yang menarik perhatian, batu itu ia temukan saat di sungai. Cincin yang dimiliki Gus Usup mempunyai motif sisik naga dan dapat menarik perhatian. Sikap kesederhanaan dan baik pada sekelilingnya membuat Gus Usup jarang sekali digunjing.
    Guk Mat sebagai temannya memiliki sikap yang berbeda dengan Gus Usup. Sikapnya yang mempertahankan kemenangannya serta bersemangat bermain untuk mendapatkan uang dari bermain kartu itu tidaklah baik. Guk Mat juga menemukan cincin milik Gus Usup dijaket yang ia tinggalkan saat pulang ke rumah. Guk Mat memiliki niatan untuk memiliki cincin Gus Usup karena kemenangan yang baru ia peroleh.
    Cerita pendek “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” dengan dikehidupan saat ini adalah ketika sama-sama kita jumpai seseorang berasal dari pondok dan sikapnya begitu sederhana. Khusyuk dalam beribadah, mengingatkan temannya jika tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan berteman baik dengan siapapun. Serta adanya orang-orang yang masih mempercayai hal magis bahwa sebuah cincin bisa mendatangkan keberuntungan. Selain itu, cerita pendek “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki jalan cerita yang menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.

  20. DYANIKA PUTRI FITRIZA SUPRONO . Reply

    Nama ; Dyanika Putri F.s
    NIM ; 175200071
    Kelas ; B
    Kritik dan esai dari cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya shoim anwar
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya M.Shoim Anwar yang ditulis pada tahun 2016. Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa karakter yang dimiliki gus mus adalah karakter yang ramah dan suka bergaul dengan siapa saja tanpa memandang drajat tahta bahkan wajah serta kulit di cerita tersebut gusmus memiliki kegemaran suka sekali mencari batu di sungai yang sering disebut batu aki corak yang ia temukan saat itu sanggat menarik dan langkah ia jadikan cincin yang tidak akan dimiliki orang lain di cerita tersebut juga menggambarkan bahwa gus mus, perjalana dengan cicin sisik naga miliknya yang slalu di pakai saat bermain remi , sifatnya tiodak hanya rama tapi juga murah hati serta tidak pelit .dari cerita tersebut saya menangkap bahwa gus mus todak mengejar harta namun hanya ingin melihat orang di sekitar senang dengan kehadirannya dan hanay ingin bermain saja tanpa , peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah, terbukti pada cerita tersebut cicin yang ia temukan di sungai yang bergambar sisik naga membawa keberuntungan membuat setiap gus mus bermain slalu menang lantaran mengapa bisa bigitu yang saya tangkap dari cerita tersebut cicin itu diiisi nyoni atau di isi kekuatan ,sifatnya terkenal tidak gila dunia dan ramahnserta tidak pelit setiap gus mus menang dia slalu membagikan kembali uang yang di dapat dari teman – teman mungkin satu yang belum di daoat gusmus yaitu pendamping yang cocok dihatinya.
    Untuk cerpen tersebut alurmudah sekali dipahami dan membaca cerpen tersebut membuat anda bertanya tanya karna pengarang sangat pintar mengatur alur yang membuat pembaca tidak bosan dan mudaah di pahami dengan menampilkan watak dan membuat ceritanya menjadi misteri wlaupun watak tokoh utama sudah diketahui oleh pembaca.

  21. ROIKHATUZ ZAHROH Reply

    Cerpen yang berjudul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup menceritakan seorang pria muda yang akrab dipanggil Gus Usup, ia hidup dalam masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan adat istiadat. Diceritakan masyarakat di desa tempat Gus Usup tinggal masih memercayai hal-hal yang dianggap magis dan diluar logika. Mialnya dalam cerpen tersebut diceritakan jika mencuri terong Gus Usup maka perutnya akan melembung, hal ini membuktikan bahwa, masyarakat masih memercayai tahayul. Sebenarnya tahayul tersebut bisa dikatakan berguna, karena jika mencuri adalah perbuatan dosa dan pelakunya akan mendapatkan balasan. Selain itu, diceritakan jika masyarakat memercayai atau menganggap suatu benda memiliki kekuatan magis ataupun kesaktian yang berhubungan dengan nasib seseorang. Di dalam cerpen di atas, peristiwa tersebut terbukti saat banyaknya masyarakat desa memercayai jika akik sisik naga Gus Usup memiliki kekuatan yang bisa membuat pemiliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Namun, kepercayaan terhadap suatu benda dengan berlebihan dapat membawa kerugian dan menjadi sifat syirik yang dibenci Tuhan, seperti yang terjadi pada Guk Muk, diceritakan saat Guk Muk menang bermain remi karena sisik naga Gus Usup ada pada dirinya dan ia percaya jika sisik naga Gus Usup membawa keberuntungan. Hal itu menimbulkan keserakahan dalam diri Guk Muk untuk memiliki barang yang seharusnya bukan miliknya.

    Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan saat ini yaitu, masih banyaknya masyarakat yang memercayai benda ataupun suatu hal lain yang dianggap memiliki kekuatan magis. Tak jarang karena kepercayaan yang berlebihan tersebut, mereka merelakan apapun untuk sesuatu yang mereka percayai hingga membawa kerugian baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Pesan moral dari cerita tersebut yaitu segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah takdir yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa, sudah sepatutnya manusia percaya kepada-Nya daripada memercayai suatu benda yang sesungguhnya tidak memiliki kekuatan apapun. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup memiliki jalan cerita menarik dan mudah untuk diikuti, karena menceritakan kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami, sehingga pembaca pasti bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

  22. Nailatul Rifdah Reply

    Cerpen dengan judul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, penulis M. Shoim Anwar. Tokoh utama dalam cerpen tersebut yakni Gus usup, tokoh Gus Usup sangat dihormati oleh warga. Salah satu yang menarik dari Gus Usup adalah cincin batu akik yang melingkar di jari manis nya. Batu akik sebesar ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna coklat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Jika digambarkan pada kehidupan saat ini, maka cincin batu akik tersebut akan disebut dengan jimat. Masyarakat Indonesia nampaknya tidak bisa terlepas dari dunia mistis dan kepercayaan orang sebelumnya. Salah satu bentuknya yaitu jimat. Dalam kisah Gus Usup nampaknya jimat ini melekat dalam bentuk sisik. Menurut kepercayaan orang yang menggunakan jimat akan merasa lebih percaya diri dan berwibawa. Namun tidak semua orang menggunakan jimat untuk hal positif dan tidak semua orang juga yang mendapatkan jimat tanpa ia minta. Dengan kata lain jimat itu datang dengan sendirinya. Ada juga yang dengan sengaja meminta jimat melalui perantara orang lain dengan tujuan tertentu juga pastinya. Namun dalam kisah gus usup ini jimatnya memang karena kewibawaannya sendiri. Namun terdapat pihak yang menyalagunakan jimat ini untuk hal negatif yaitu bermain judi. Sudah tidak asing lagi bahwa perjudian di Indonesia ini sangat melekat baik dalam kalangan atas maupun bawah. Biasanya digunakan agar memperoleh keberuntungan berupa kemenangan. Percaya tidak percaya hal itu memang adanya dikalangan masyarakat kita. Sebagai bentuk dari warisan leluhur terdahulu. Dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa terdapat seorang tokoh yang bermain judi dengan memakai cincin gus Usup selalu menang. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menang besar seperti itu. Namun pada dasarnya jimat adalah kepercayaan. Seseorang yang menggunakan jimat akan merasa percaya diri sehingga ia akan merasa tenang dalam melakukan sesuatu ternasuk bermain kartu atau judi sehingga ia meraih kemenangan. Semua itu karena kepercayaannya terhadap jimat. Dari kisah tersebut sebenarnya terdapat pesan yang sangan bermakna. Yaitu sebagaimana jimat yang dipercayai mendatangkan keberuntungan, begitu juga dengan agama dan tuhan. Apabila kita mempercayainya kita akan lebih merasa tenang dalam melakukan sesuatu.

  23. Aleksandriani Cembes Aram Reply

    Cerpen yang berjudul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup karya M. Shoim merupakan salah satu cerpen yang penggambaran tokohnya memiliki karakter atau sifat yang baik. Tokoh tersebut bernama Gus Ucup, salah satu tokoh atau orang dalam Islam yang terpandang. Sosok tersebut memiliki karakter yang berbeda dari orang lain, dimana kehidupan yang sebenarnya seseorang yang memiliki latar belakang yang sangat disegani oleh orang lain karena memiliki keluarga yang tidak sembarangan. Gus Usup dari semua orang yang memiliki nama Gus, dialah salah satu tokoh yang rendah hati dan jiwa sosial yang tinggi dimana dia bergaul atau bercekrama dengan siapa saja tanpa melihat dari latar belakang. Sosoknya yang begitu rendah hati sehingga banyak orang mengagumi sosoknya, akan tetapi Gus Usup belum memiliki pasangan, meskipun banyak gadis yang menyukainya. Pembawaan diri yang begitu baik sehingga masyarakat begitu akrab dengan dirinya. Sosok seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Sebesar apapun jabatan kita atau sekaya apapun kita harus rendah hati dan jangan sombong.

  24. Afif Nur Afidah Reply

    Tradisi sosial memang selalu menuntut individu untuk melakukan apapun yang ada dalam aturan-aturannya. Begitu pula dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” yang mengisahkan mengenai gambaran kebudayaan dan tradisi sosial di kehidupan bermasyarakat. Gus Usup merupakan pribadi yang disegani masyarakat karena sikapnya yang sopan dan ramah terhadap semua kalangan. Berdasarkan unsur intrinsiknya, penyusunan cerita dikemas sangat renyah sehingga pembaca dapat mudah memahami setiap alur yang dibawakan oleh pengarang. Selain itu, pengarang juga sangat gamblang menggambarkan perwatakan setiap tokoh yang ada di dalam cerita. Hal ini membuat pembaca paham betul dengan setiap tokoh cerita. Selain itu, hal tersebut juga dapat menjadi nilai positif dari cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar.
    Secara garis besar, cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini memiliki berbagai makna simbolik. Simbol pertama dapat dilihat dari sosok Gus Usup sendiri. Ia memiliki sikap yang sopan dan ramah pada semua kalangan. Ia juga dapat melihat perilaku seseorang yang entah dari mana ilmu itu didapatkan. Gus Usup memang lulusan pondokan sehingga dapat dikatakan pintar dalam mengaji dan beribadah. Oleh sebab itu juga masyarakat sangat menghormatinya. Sosok Gus Usup di sini bermakna sebagai pemimpin yang dihormati. Namun sebenarnya, Gus Usup sendiri tidak meminta orang-orang untuk menghormatinya. Ia bahkan sangat luwes dan gampang berbaur dengan seluruh golongan. Sosok seperti inilah yang patut untuk benar-benar dihormati yang tak kenal pamrih.
    Makna simbolik yang kedua dari cerpen ini adalah sisik naga. Benda tersebut berukuran sebesar ibu jari bermotif sisik naga, berwarna cokelat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Konon yang diperoleh dari batuan kali dan digosok sehingga menjadi batu akik. Benda ini diagung-agungkan karena memiliki daya magis. Entah itu dipakai oleh pemiliknya atau tidak, benda ini selalu menjadi sebuah jimat keberuntungan. Kelebihan sisik naga ini membuat masyarakat penasaran dan ingin memilikinya.
    Simbol ketiga yang disajikan pengarang dalam cerpen ini adalah sosok Guk Mat. Pengarang menggambarkan sosok Guk Mat sebagai teman dari kecil Gus Usup. Ia memiliki sifat yang tamak, ingin merasa cukup, dan selalu benar. Namun, sifat Guk Mat sebenarnya tak dikagetkan lagi karena hal tersebut termasuk sifat manusia pada umumnya. Namun, sifat-sifat tersebut juga tak seharusnya kita tiru. Hindari sifat-sifat seperti itu dan mulai tanamkan kebiasaan baik dalam kehidupan bermasyarakat agar kita juga terhindar dari hal-hal buruk dan dapat disegani orang lain.
    Berdasarkan uraian makna simbolik di atas, cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar merupakan sebuah cerita yang menarik bahkan inspiratif sebab terdapat pesan moral yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Kita diajak untuk berpikir kritis mengenai situasi dan kondisi yang digambarkan dalam cerpen tersebut. Namun, cerpen ini juga masih memiliki kekurangan karena pengarang masih menggunakan istilah lain yang menggunakan bahasa Jawa, seperti, inggih, mlembung, nyolong, ngandang, nyetrum, cekikikan, mbeling, dll yang tidak disertai penjelasan sehingga membuat pembaca yang bukan dari pulau Jawa kesulitan dalam menikmatinya. Terlepas dari itu semua, pengarang sangat cerdik dalam mengemas alur ceritanya. Pada bagian akhir cerita, pengarang belum menjelaskan nasib batu akik sisik naga dan Gus Usup. Hal ini mungkin disengaja oleh pengarang karena terdapat cerita-cerita selanjutnya.

  25. Sukis Setiowati Reply

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar

    Saya akan menguraikan cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar dengan pendapat saya sendiri. Cerpen tersebut menceritakan tentang tokoh yang bernama Gus Usup. Sebelum ke ceritanya, saya akan sedikit menjabarkan mengenai panggilan “Gus”. Panggilan Gus ini biasanya ditunjukan kepada seseorang yang merupakan keturunan dari Kyai. Selain itu, ada beberapa yang mengartikan panggilan Gus tersebut dijadikan sebuah lambang keilmuan dan akhlak sosial seseorang.

    Gus Usup merupakan seorang yang di hormati oleh masyarakat sekitar, karena sikapnya yang rendah hati dan suka berbaur dengan orang lain. Gus Usup selalu menggunakan batu akik yang melingkar jari manisnya dengan motif yang unik yaitu sisik naga. Batu akik yang di gunakan Gus Usup tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya kejadian berikut: Pertama, saat Gus Usup yang sedang bermain kartu remi dengan Guk Mat, dalam permainan tersebut Gus Usup lah yang memenangkan permainan. Kedua, pada saat berlatih bela diri, ada yang ingin mengambil batu akik milik Gus Usup tersebut. Namun, orang yang ingin mengambil batu akik Gus Usup tersebut terpental. Dari dua kejadian tersebut, masyarakat mempercayai bahwa Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Mereka menganggap bahwa batu akik yang digunakan Gus Usup tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini masih ada sebagianorang yang mempercayai benda” yang dimiliki seseorang sebagai hal-hal magis dan menjadi sebuah keberuntungan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar ini ceritanya mudah untuk dipahami dan ceritanya juga menarik.

  26. Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasa Reply

    Dalam cerpen yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut memiliki cerita dimana sikap dan pembicaraan para orang tua kami seakan memberi contoh bahwa begitulah yang harus kami lakukan terhadap Gus Usup, termasuk kepada saudaranya seperti Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zin. Di antara mereka itu hanya Gus Usup yang bergaul akrab dengan siapa saja. Dia tak pernah memelihara kumis dan jenggot, tapi tepat di bagian bawah bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang manis di wajahnya. Rumah Gus Usup di lingkungan pondok dengan kampung kami memang dipisah oleh bentangan sawah. Bila Gus Usup tidak pulang, Fadilah, keponakannya, sering mencari di pojok kampung tempat dia bermain kartu.
    Entah mengapa Gus Usup belum menikah, padahal kalau dia mau, tinggal memilih bidadari di kampung kami yang paling cantik pasti terkabul. Para gadis pun diam-diam berusaha menampakkan diri ketika Gus Usup yang tampan itu lewat. Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik gula. Pasti Gus Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik. Saat malam, ketika kami berburu jangkrik sambil membawa obor, terong-terong itu sering kami curi untuk dimakan mentah-mentah, meski banyak juga di antara kami takut kalau terkena sesuatu setelah makan terong Gus Usup.

    Itulah yang paling menjadi perhatian bagi kami: cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Saat bermain kartu, terutama ketika malam menjelang ada orang hajatan di kampung, akik sisik naga Gus Usup itu hampir pasti menjadi pembicaraan.Dengan memakai akik itu konon Gus Usup tidak pernah kalah dalam bermain kartu. Mungkin karena sering mendengar cerita soal akik Gus Usup, tidak sedikit yang berusaha mendekat sambil menuding-nuding akik itu, terutama mereka yang berumur belasan tahun Gus Usup hanya tersenyum sambil tetap bermain kartu remi di acara hajatan warga. Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya.
    Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya, Akik sisik naga milik Gus Usup itu terus diperhatikan di kedua ujung jarinya.Dia sadar bahwa benda itu milik Gus Usup, tapi lama-lama timbul keinginan pada diri Guk Mat untuk memiliki sisik naga itu.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  27. Khoirun Nisa Reply

    Cerpen karya M. Shoim Anwar yang berjudul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup merupakan sebuah cerpen yang banyak mengandung nilai moral yang dapat dijadikan sebaga pelajaran, bukan hanya nilai moralnya saja yang kuat, namun juga mengandung humor sebagai pelipur lara, pengisi ruang hampa dan penghikang kesedihan.

    Cerpen ini membahas tentang seseorang yang sangat dihormati dan disegani masyarakat, sangat dijunjung tinggi harkat dan martabatnya karena ia taat beragama dan merupakan keturunan dari keluarga yang disanjung oleh masyarakat, yakni Gus Usup. Sebuah panggilan yang tak asing ditelinga masyarakat. Gus adalah sebuah panggilan teruntuk keturunan kyai, ulama atau seseorang yang memiliki ilmu agama tinggi dan sangat dihormati oleh masyarakat, biasanya berasal dari kalangan pondok pesantren. Gus usup merupakan sosok lelaki panutan, penuh canda gurau, tak mengenal tahta saat bergaul dengan masyarakat, tak memandang manusia lain lebih rendah daripadanya. Gus usup merupakan gambaran dan pengingat bagi kita semua akan rasa hormat, patuh, serta tunduk yang harus kita miliki. Terlebih pada sosok yang lebih tua, sosok yang lebih tinggi ilmnunya daripada kita. Jangan nerlaku semena-mena, sombong dan terlena atas apa yang kita punya. Jangan menganggap orang lain lebih rendah dan lemah dibandingkan kita.

    Cerpen tersebut juga menceritakan kebiasaan masyarakat jika bertemu dengan orang yang mereka hormati, yakni dengan cara menyapanya dengan mengucap salam, memberikan senyuman, menundukkan kepala saat bertemu dan mempersilahkan untuk mampir sejenak melepas lelah di rumah. Mereka berperilaku seperti itu hanya dengan harapan semoga dengan hormatnya mereka, akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan.

    Gus Usup tak pernah memandang bulu dalam bersosialisasi, berbeda dengan orang-orang bertahta di luar sana. Mereka yang lebih sibuk bergaul dengan yang setara sedangkan lupa dengan kami yang di bawah. Masyarakat sangat senang bergaul dengannya, saling bertukar cerita, berbagi pengalaman, meminta nasihat dan menghilabgkan duka lara, seperti pada cerpen tersebut, yakni dengan cara bermain kartu. Sekilas mungkin terselip di benak kita jika bermain kartu adalah hal yang tabu jika dimainkan oleh orang yang tinggi ilmu agamanya. Namun, tidak demikian dengan Gus Usup. Ia bermain hanya untuk menghibur diri, bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar, serta membangun canda tawa yang merekah. Masyarakat di desa tinggal dari berbagai macam daerah, adat, dan budaya yang melekat erat, seperti adanya kebiasaan yang menganggap suatu hal sebagai barang yang keramat, yakni cincin batu akik yang memiliki corak sirik naga yang digunakan oleh GusUsup. Masyarakat setempat menganggapnya keramat karena berbagai hal, salah satunya seperti yang diungkapkan pada cerpen tersebut, yakni Gus Usup selalu memenangkan permainan kartu jika dia mengenakan cincin tersebut. Bagi orang awam hal itu memanglah tabu, namun bagi orang yang mengerti maka tak salah jika benda tersebut dianggap keramat dan direbut oleh banyak pihak. Seperti di dunia nyata ini, ada tempat yang diyakini masyarakat sebagia tempat angker karena memiliki cerita mistis di dalamnya. Cerita tersebut terus mengembang di benak masyarakat hingga saat ini, maka tak heran jika ada hari tertentu dimana masyarakat sekitar mengadakan ruwat atau suatu bentuk penghormatan yang diberikan pada tempat yang dianggap keramat tersebut dengan hatapan agar tidak ada masalah, dan balak yang menimpa.

    Cerpen tersebut menarik karena dalam penyajiannya menggunakan bahasa jawa yang tak asing di telinga kita. Seperti oada kata “mlembung”, “nyolong”, “ngandang”, dan “nyetrum”. Cerpen tersebut mengandung nilai humor yang membuat minat serta daya tarik pembaca menjadi bergairah. Pesan yang tersirat dalam cerpen tersebut adalah jadilah manusia yang ingat akan siapa kedudukan kita di dunia. Jangan jadi manusia yang selalu senantiasa menyibukkan diri dengan aktifitas yang membuat kita lupa akan segalanya, seperti enggan bersosialisasi dengan sesama yang tak sederajat. Ingatlah kita hidup ini saling membutuhkan dan hingga kita tiada nanti kita pun masih mmebutuhkan uluran tangan orang lain. Jadilah manusia yang dapat menyebarkan manfaat bagi sesama, jangan menilai sesuatu dari apa yang kau lihat. Karena yang kita lihat belum tentu benar adanya. Jangan hanya sibuk mencari harta hingga kita menghalalkan segala cara, termasuk ingin meraih sesuatu yang bukan hak kita. Jangan suka jadi penikung bagi sesama. Jadilah orang yang dengan bijak dan cara yang bersih dalam meraih angan dan asa.

  28. Viva Avitasari Reply

    Pembahasan saat ini berbeda dengan sebelumnya yang selalu mengulas tentang puisi, kali ini saya akan mengulas cerpen berjudul ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’ karya M.Shoim Anwar yang telah menghasilkan berbagai judul cerpen salah satunya ‘Sepatu Jinjit Ariyanti’
    Cerita pendek yang berjudul ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’ mengulas tentang batu akik yang dimiliki Gus Usup. Pada cerita pendek tersebut menjelaskan bahwa untuk menghargai orang lain tak perlu memandang jabatan atau pangkat yang melekat. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam cerita pendek tersebut.
    Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara sembarangan pula.’ Dari potongan narasi tersebut dapat disimpulkan bahwa Gus Usup merupakan seseorang yang memiliki status terhormat di wilayahnya sehingga beliau diperlakukan sesuai statusnya. Meskipun disanjung oleh masyarakat sekitar, Gus Usup tetap rendah hati dan masih mau bercengkrama dengan masyarakat sekitar bahkan untuk main kartu pun beliau bersedia.
    Batu Akik merupakan batu berwarna yang sering dijadikan permata cincin. Batu Akik juga menjadi simbol atau lambang tertentu serta dapat menangkal penyakit. Pada cerpen tersebut juga dijelaskan bahwa Batu Akik dapat menangkal penyakit. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam cerita pendek tersebut yang menyatakan bahwa Gus Usup sakit perut setelah ia menanggalkan jaketnya dan ternyata di dalam jaket tersebut terdapat Batu Akik Sisik Naga yang biasanya melingkar di jari manis Gus Usup.
    Cerita pendek ini mengajarkan kita untuk tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita harus menjalankan ibadah karena Allah, bukan untuk dilihat orang lain. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam cerita pendek tersebut.
    Gus Usup sepertinya juga tahu walau tidak melihat. Ini terbukti saat kami salat berjamaah waktu belajar mengaji di pondok dahulu. Seperti biasa, kami yang waktu itu masih anak-anak suka bergurau, saling menggoda, tertawa cekikikan dan saling mendorong saat salat. Kami memang berada di saf atau baris paling belakang. Nah, begitu salam pertanda salat usai, tiba-tiba Gus Usup dari saf terdepan bangkit menghampiri kami. Mereka yang bergurau saat salat digebuki dengan sajadah. Gus Usup ternyata tahu persis siapa yang bergurau dan siapa yang tidak. Sejak itu kami tidak berani lagi bergurau saat salat, terutama kalau ada Gus Usup. Kadang-kadang di antara kami ada juga yang mbeling, berharap Gus Usup tidak ada sehingga bisa sedikit gurauan, saling mencubit dan dorong-dorongan ke samping waktu salat berjamaah. Bagi kami saat itu, salat berjamaah adalah saat yang tepat untuk usil dan menjahili teman. Karena itulah salah seorang teman yang mbeling, Muhdlor namanya, pernah diselentik kupingnya oleh Gus Usup dari belakang. Saat itu Muhdlor memasukkan pemukul kentongan ke sarung teman yang sedang sujud di depannya. Muhdlor tidak tahu kalau Gus Usup baru datang di belakangnya. Saat pulang dari mengaji Muhdlor kami kapok-kapokkan sepanjang perjalanan hingga dua hari dia tak berani ke pondok.
    Cerita pendek ‘Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup’ karya M.Shoim Anwar ini memang nyata adanya. Bahwa masih ada seorang ahli agama lulusan pesantren tetapi tidak menyombongkan dirinya, tidak ingin dipanggil Gus karena merasa sama dengan yang lain. Namun masyarakat tetap memanggilnya Gus dan sangat menghormatinya. Menjalankan kehidupan sehari-hari dengan ibadah yag tekun.

  29. ANISA DISMA CAHYANA SUKRI PERTIWI Reply

    Dalam cerpen tersebut diciptakan oleh pengarang yang berasal dari Jombang. Cerpen yang berjudul Sisik Naga di Jari Gus Usup ditulis pada tahun 2016. Cerpen ini bagi saya sangat menarik dan mampu membuat si pembaca merasakan cerita tersebut seolah menjadi nyata. Cerpen ini mengisahkan seorang tokoh yang berasal dari keluarga pondok yang disegani dan banyak orang hormat kepadanya. Dia sering dipanggil dengan Gus Usup. Gus Usup memiliki empat saudara, yaitu Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zin. Sekian dari saudara-saudaranya yang belum menikah, yaitu Gus Usup. Padahal, umur Gus Usup sudah sangat matang jika membangun rumah tangga. Dalam cerita tersebut, Gus Usup pernah menjalin hubungan dengan wanita. Namun, gagal dinikahi malahan wanita tersebut menikah dengan saudaranya Gus Roz. Gus Usup seorang yang tampan, ramah, dan murah senyum kepada siapapun yang memanggilnya. Pekerjaan Gus Usup menjadi seorang petani sawah dan menanam sayur-sayuran. Guk Mat merupakan sahabat Gus Usup. Di kampung Gus Usup terkenal jago dalam main kartu remi, karena setiap ada hajatan Gus Usup selalu menang.
    Gus Usup memiliki ciri khas, yaitu batu akik yang dipakanya yang berwarna cokelat bermotif sisik naga. Teman-temannya berkata bahwa berkat batu akik yang dipakainya membawa keberuntungan setiap memainkan kartu remi. Bahkan, uang-uang teman Gus Usup habis untuk taruhan bermain kartu remi.
    Simbol dalam cerpen yang menonjol, yaitu batu akik yang dipakai Gus Usup. Batu akik itu berarti benda pelantara dari anugerah-Nya.

  30. LATHIFATUL HIDAYAH . Reply

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya dari M. Shoim Anwar. Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  31. LUTFI ANIS SYAFA'ATI . Reply

    Sebuah Cerita Pendek yang Berjudul “Sisik Naga di Jari Gus Usap” Karya M
    Shoim Anwar

    Pesan yang disampaikan oleh penulis melalui sebuah cerita pendek dengan judul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usap. Sebuah cerita pendek yang dikemas dengan estetika tetapi, membuat pembaca lebih keras untuk memahami maksud dari pengarang dalam isi cerita pendek. Baiklah, marilah menguraikan sebuah cerpen dengan singkat.

    Cerpen tersebut menceritakan tentang orang yang sedang melakukan permainan kartu remi. Di dalam permainan tersebut Gus Usup yang sering menang, namun ketika menang hasil dalam permainan tersebut tidak dibawah pulang bahkan dibagikan kepada mereka yang ikut dalam permainan tersebut. Sampai suatu ketika Guk Mat pun menang dalam pertandingan kartu remi dan sampai dirumah tanpa sadar didalam jaket Gus Usup yang dititipkan padanya ada akik sisik naga. Timbulah rasa untuk memilikinya.

    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik

  32. Riska Nur Cahyani Reply

    Cerpen diatas yang berjudul sisik naga dijari manis Gus usup, mencerita kan tentan suatu tokoh yang mendapat panggilan ‘gus’. Panggilan tersebut dilontarkan karena seorang tersebut merupakan keturunan dari orang pondok. Iya, Gus Usup lebih tepatnya, seorang yang rendah hati, baik hati, tidak sombong, dan tidak membedakan manapun. Gus Usup orang terpandang, sekalipun ia melakukan kesalahan akan dianggap hal yang wajar. Masyarakat setempat tidak pernah memberi arahan aibnya ataupun keburukan Gus usup.

    Jika dibilang sudah berumur, memang Gus Usup sudah waktunya menikah, bahkan Gus mat sudah memunyai tiga orang anak. Iya, Gus mat adalah teman sepermainan Gus Usup.
    Gus Usup masih belum memunyai niatan untuk menikah, bahkan jika disuruh memilih bidadari tercantik dengan mudah saja dia bisa menunjuk, karena Gus Usup yang terkenal tampan, baik, serta sopan menjadi idaman para wanita. Namun, karena Gus Usup merupakan keturunan dari pondok, maka yg menjadi istrinya kelakpun harus keturunan pondok juga, atau dari pondok lain yang tak heran bisa dibilang masih kerabat sendiri.

    Gus Usup suatu hari mendapatkan batu besar yang dibuatnya sebagai akik dijari manisnya. Permainan Remi adalah permainan yang kerap dilakukan oleh Gus Usup dan teman-temannya. Konon teman-teman Gus Usup memercayai bahwa akik yang dipakai Gus Usup tersebut membawa keberuntungan, karena setiap bermain Gus Usup selalu menang melawan teman-temannya. Tak heran jika semua temannya takut ketika Gus Usup ikut bermain.

    Setelah beberapa kali memenangkan permainan, Gus Usup pamit pergi ke kamar mandi karena sejak permainan dimulai, Gus Usup terlihat sering memegangi perutnya. Meskipun begitu Gus Usup tetap meminta teman-temannya untuk melanjutkan permainan tersebut, tak lama kemudian gus usup kembali dan melemparkan jaket hijau tentara yang baunya apek karena belum pernah dicuxi ke arah Gus mat Utuk dititipkan, namun Gus Usup meminta izin pulang karena perutnya yang terasa tidak enak.

    Teman-teman Gus Usup pun melanjutkan permainan hingga waktu Shubuh tiba, hingga dipenghujung permainan, Gus mat merasa kedinginan karena angin yang berhembus, akhirnya Gus mat memakai jaket Gus Usup yang dititipkan tadi, sebelum permainan berakhir, semua orang bersepakat untuk menaruh uang koin sebanyak mungkin, semuanya tampak was was dan ingin memenangkan permainan ini. Bagaimana tidak, uang koin yang terbilang sangat banyak sudah ada didepan mata. Setelah mendapat kartu Remi, masing-masing membuka dan merasa cemas siapakah yang akan jadi pemenang. Setelah semuaa dibuka, ternyata yang memenangkan permainan tersebut yaitu Gus mat. Gus mata sangat bahagia, rasa cemas dan takut seketika hilang. Segeralah ia pulang dan menyimpan uangnya, namun ternyata Gus mat membawa sisa uang Gus Usup tadi yang ditinggalnya. Setelah merogoh saku kanan kiri, Gus mata menemukan sisik naga (akik) disaku sbeelah kiri. Ia teringat bahwa sisik tersebutlah yang membuat Gus usup memenangkan permainan, jadi gusmat tercengang, bahwa ia memenangkan permainan bukan karena hasilnya sendiri, melainkan karena akik sisi naga Gus Usup.

  33. Anisa Ikhlasul Ma'rifah Reply

    Cerpen yang berjudul “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya M. Shoim Anwar menceritakan mengenai tokoh yang bernama Gus Usup. Gus Usup merupakan anak kesayangan dari Bu Nyai yang begitu disegani dan dihormati oleh masyarakat. Gus Usup begitu dihormati karena bukan melihat dari nasab keturunan keluarga pondok, melainkan sikap Gus Usup yang ramah, pandai bergaul dengan siapa saja tidak melihat status sosialnya. Gus Usup memiliki akik sisik naga di jari manisnya. Gus Usup dan masyarakat memercayai adanya kekuatan lain dalam akik sisik naga tersebut, hal ini merupakan bentuk dari syirik karena memercayai adanya kekuatan lain selain dari Tuhan. Kritik untuk Gus Usup dalam cerita tersebut adalah Gus Usup termasuk dalam keluarga pondok yang alim dan taat, bahkan anak kesayangan dari Bu Nyainya namun sikap seharusnya pada Gus Usup adalah tidak memercayai adanya kekuatan pada akik tersebut. Gus Usup memilki akik boleh untuk perhiasan tangannya namun janganlah memercayai adanya kekuatan pada akik tersebut. Walaupun keberdaan kekuatan akik tersebut benar adanya. Di sisi lain dari sosok Gus Usup adalah idealnya seorang pemimpin yang Arif. Gus Usup dengan tegas menghukum orang yang suka bermain dan bercanda saat sholat di masjid, sehingga sosoknya menambah nilai positif dalam dirinya. Gus Usup juga seorang yang begitu ramah dengan masyarakat hal ini dibuktikan pada Gus Usup yang memberikan salam dan mau berbincang dengan masyarakat di warung gubuk kopi. Hal ini menandakan bahwa Gus Usup tidak memandang status sosial seseorang. Gus Usup dalam permainan kartunya merupakan tindakan yang umumnya tidak dilakukan oleh keluarga pondok, namun oleh Gus Usup ikut bermain bersama teman temannya. Permainan tersebut seperti bermain judi karena mengandalkan nasib keuntunhan dari bermain kartu dan memakai uang untuk menjadi jaminannya. Beradu nasib sial dan untung hanya untuk kesenangan sementara saja, Gus Usup pun mengembalikan uang yang telah diambilnya karena menang dalam permainan kartu. Bagi Gus Usup permainan kartu hanyalah hiburan sekilasnya, ia tidak ikut menyimpan uang dari hasil kemenangannya bermain kartu. Lain halnya dengan teman Gus Usup yang bernama Guk Mak. Guk Mak sudah memiliki anak kecil tiga teman sepermainan Gus Usup ini memiliki sifat yang seperti pada umumnya manusia, yakni rasa ingin memiliki. Hal ini dibuktikan pada Guk Mak yang menemukan akik Sisik Naga kepunyaan dari Gus Usup. Guk Mak tertarik ingin memiliki akik temannya dikarenakan percaya bahwa akik tersebut memiliki kekuatan sendiri. Guk Mak telah menang dari permainan kartu dan mendapatkan uang yang melimpah sehingga timbul rasa ingin memiliki akik Sisik Naga dari temannya. Akik Gus Usup berada di Guk Mak ketika Gus Usup menitipkan jaketnya kepada Guk Mak dan izin pamit meninggalkan permainan tersebut karena sakit perut. Tanpa disadari akik Sisik Naga itu berada didalam kantung jaketnya Gus Usup sehingga dalam permainan kartu tersebut kemenangan diraih oleh Guk Mak.

    Dari cerita pendek karya M. Shoim Anwar tersebut ada pesan yang bisa kita petik hikmahnya. Pertama, cerita tersebut mengangkat kehidupan manusia dengan permainan kartunya yang merekatkan hubungan sosial antar manusia. Kedua, masih adanya simbol kepercayaan pada akik yang membawa keberuntungan bagi yang memakainya. Ketiga, adanya sikap contoh santun dalam menghormati dan menyegani seseorang dari keramahan, baik hati, dan nasab keturunan keluarga seperti anak seorang Bu Nyai. Keempat, eksistensi seorang Gus yang identik dengan keislamian pada dirinya tidak menjamin seseorang memiliki hidup yang lurus seperti contoh bahwa Gus Usup masih percaya kekuatan dari akik.

    Cerita tersebut sangat menarik karena begitu dekat dengan sarat kehidupan manusia seperti simbolis kartu, kepercayaan adanya kekuatan lain, dan hasrat keinginan. Kemudian cerita yang ringan dan mudah dipahami pembaca, serta alur cerita yang tidak mudah ditebak penyelesaiannya sangat bagus sekali.

  34. Retno Ayu Purbaningrum Reply

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya M. Shoim Anwar

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya dari M. Shoim Anwar, seorang sastrawan sekaligus dosen. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Menurut KBBI cerita pendek adalah cerita yang isinya kurang dari 10.000 kata dan ceritanya berkonsentrasi pada satu tokoh dalam cerita.
    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  35. Luthfia Dzakia Reply

    Dalam Cerita “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” ini nyata adanya, dikarenakan masih banyak orang-orang yang ahli agama tetapi tetap rendah hati, tidak ingin dipuja-puja karen ia sama dengan orang lain, sama-sama ciptaan Allah. Namun demikian, masyarakat tetapp memanggilnya dengan sebutan Gus karena menghormati beliau dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan ibadah yang tekun. Dalam cerpen ini juga menggambarkan bahwa masih ada orang yang menginginkan sesuatu milik orang lain serta adanya orang-orang serakah dan licik dikehidupan kita ini.

  36. Tita Rohmawati Reply

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya M. Shoim Anwar

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” merupakan salah satu karya dari M. Shoim Anwar, seorang sastrawan sekaligus dosen. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Menurut KBBI cerita pendek adalah cerita yang isinya kurang dari 10.000 kata dan ceritanya berkonsentrasi pada satu tokoh dalam cerita.

    Pesan yang disampaikan oleh penulis melalui sebuah cerita pendek dengan judul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usap. Sebuah cerita pendek yang dikemas dengan estetika tetapi, membuat pembaca lebih keras untuk memahami maksud dari pengarang dalam isi cerita pendek.

    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  37. Riska Trisani Reply

    Pada cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar ini menggambarkan kehidupan manusia yang penuh keinginan, untuk dapat memuaskan dan mencari kesenangan terhadap diri sendiri. Tokoh Guk Mat dalam cerpen ini sedang bermain kartu remi bersama Gus Usup dan teman-temannya, ia ingin memenangkan sebuah permainan agar bisa meraup uang yang ada di depan arena permainan. Cerpen ini sangat menarik, menggunakan bahasa yang sederhana dan pemaknaan yang jelas.
    Setiap tokoh dalam cerpen terssebut mempunyai ciri khas dan mempunyai rasa hormat terhadap orang yang dianggap tidak biasa di kampungnya yaitu Gus Usup. Warga kampung menganggap Gus Usup mempunyai cerita tersendiri melainkan keluarga pondok lainnya. Gus Usup orang yang sangat unik, sederhana dengan penampilan yang apa adanya layaknya pemuda kampung biasa, sarungnya selalu diangkat sampai di atas lututnya, dan jarang terlihat memakai kopyah dengan ciri khas rambutnya. Pemuda yang tampan dan berkulit kuning tersebut diyakini warga bahwa dengan adanya batu akik sisi naga, Gus Usup terlihat lebih kuat dan selalu menang dalam permainan remi. Seperti yang tergambar pada cerita, bahwa pada saat itu mereka sedang belajar bela diri di pondok. Mereka tidak bisa mengambil batuk akik sisi naga milik Gus Usup kemudian mereka semua terpental dan meyakini bahwa Gus Usup telah memberikan bacaan yang kuat terhadap batu akiknya.
    Dalam cerita pendek ini pengarang membuat dengan rapi, menggunakan alur maju, bahasa yang mudah dipahami, dan tidak bertele-tele. Sosok Gus Usup dan warga desa yang mengambarkan kisah atau kejadian fakta yang terjadi di dalam kehidupan kita pada saat ini. Setiap manusia mempunyai porsi dan caranya tersendiri untuk mendapatkan keinginan dengan sifat orang yang berbeda-beda. Dalam rangkaian peristiwa kejadiannya berurutan. Cerita pendek ini mempunyai makna dan simbol tersendiri, yaitu masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri ketika melihat, menyapa, dan menjamu orang terhormat tanpa ada rasa ingin dihormati kembali. Tapi, mereka tahu jika Gus Mus dan keluarga pondok memberi banyak pelajaran dan kesan sendiri, terutama orang yang selalu dihormati para tetuah dan menghormati tokoh yang dianggap tak biasa yaitu Gus Mus.

  38. RAHMA YUNITA NAWANG SARI . Reply

    Pada tugaa kali ini yaitu mengkritik dan esai mengenai Cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar pada cerita tersebut menggambarkan bagiaman sisi kehidupan seorang manusia pada saat ini yang memiliki hawa nafsu yang sangat tinggi dan penuh keinginan untuk mencari kesenangan terhadap dirinya sendiri. Salah satunya contoh pada tokoh Guk Mat yang kala itu sedang bermain kartu bersama Gus usup bersama teman-temannya yang ingin menang pada sebuah permainan agar bisa meraup taruhan uang yang ada di depan arena permainan. Untuk cerita pads cerpen tersebut sangat menarik, dikemas dengan bahasa yang sederhana dan dengan pemaknaan yang tergambar jelas serta pemilihan pola kalimat pada cerpen tersebut menggunakan pola kalimat yang dapat dipahami oleh masyarakat pembaca. Setiap tokoh mempunyai ciri khas dan mempunyai rasa hormat terhadap orang yang dianggap tidak biasa di kampungnya yaitu Gus Usup.Pemuda yang tampan dan berkulit kuning tersebut diyakini warga bahwa dengan adanya batu akik sisi naga, Gus Usup terlihat lebih kuat dan selalu menang dalam permainan remi. Seperti yang tergambar pada cerita tersebut, bahwa pada saat itu mereka sedang belajar bela diri di pondok, mereka tidak bisa mengambil batuk akik sisi naga milik Gus Usup tersebut. Mereka semua terpental dan meyakini bahwa Gus Usup telah memberikan bacaan yang kuat terhadap batu akik tersebut. Cerpen diatas sebuah cerita pendek yang terkemas rapi dengan pola kalimat yang teratur dengan rapi, dengan alur maju, dan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Salah satau sosok pada cerita diatas salah satunya yaitu Gus Usup dan warga desa yang mengambarkan tentang kisah atau kejadian fakta yang sering terjadi pada kehidupan kita dilingkungan sekitar kita. Bahwa setiap manusia mempunyai porsi dan caranya tersendiri untuk mendapatkan keinginan dengan sifat orang yang notabennya terlihat berbeda-beda. Rangkaian peristiwa kejadian yang berurutan. Cerita pendek tersebut mempunyai makna dan simbol tersendiri, yaitu ketika masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri ketika melihat, menyapa, dan menjamu orang terhormat tersebut tanpa adanya rasa ingin dihormati kembali. Tetapi, mereka juga tahu jika Gus Mus dan keluarga pondok menorehkan banyak pelajaran dan kesan sendiri. Terutama orang yang selalu dihormati sekalipun para tetuah juga menghormati akan tokoh yang dianggap tak biasa tersebut yaitu Gus Mus.

  39. Maria Desi L. Ganis Reply

    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

  40. Muhammad Rafi Aslam Reply

    Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup menceritakan seorang keluarga pondok yang disebut Gus Usup. Ia selalu dihormati dalam masyarakat dikalangan manapun. Ketika masih kecil, Gus Usup hidup layaknya orang kampung pada umumnya, dengan teman teman sekampungnya. Kebiasaan Gus Usup waktu kecil ialah bermain di Kali dan belajar gaya renang bersama temannya, Guk Mat. Pada saat di sungai Gus Usup juga suka mencari batu batu kecil, semacam batu akik. Gus Usup seringkali dimarahi oleh kakaknya Gus Man saat ketahuan mandi di sungai. Agar tidak ketahuan mandi di sungai, Gus Usup tidak langsung pulang ke rumah sehabis mandi di sungai. Ia selalu pulang malam menghabiskan waktunya dengan bermain kartu remi bersama orang-orang kampung. Waktu bermain kartu remi, Gus Usup selalu mengenakan batu akik hasil temuannya mencari di kali. Kemenangan demi kemenangan diraih Gus Usup hingga membuat orang lain merasa kemenangan Gus Usup disebabkan oleh batu akiknya. Hingga pada saat Gus Usup merasa perutnya sakit, ia meninggalkan Jaketnya yang juga berisi batu akik di sakunya. Jaket yang berisi batu akik tersebut tidak sengaja dipakai oleh Guk Mat karena kedinginan. Saat Guk Mat bermain kartu remi, ia selalu memenangkan permainan hingga meraup uang lembar yang berwarna-warni. Tidak lama kemudian setelah permainan usai, Guk Mat memikirkan kemenangannya dalam permainan kartu remi, apakah ada hubungannya dengan batu akik milik Gus Usup atau tidak.

  41. Farida Febriani Reply

    Cerpen dengan judul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup karya M. Shoim Anwar masih sesuai dengan kehidupan saat ini. Namun, ada sedikit perbedaan. Kepercayaan orang-orang terhadap akik bermotif sisik naga yang dimiliki oleh Gus Usup pada cerpen di atas dapat dijumpai pada masa sekarang. Kepercayaan terhadap suatu benda masih dimiliki oleh beberapa kalangan di masyarakat, seperti masyarakat Jawa. Namun, kepercayaan pada batu akik dapat dijumpai pada beberapa tahun lalu. Ada fenomena batu akik yang membuat semua orang berlomba-lomba memiliki dan mengoleksinya. Bahkan, harga beberapa jenis batu akik menjadi sangat mahal. Apalagi batu akik tersebut dianggap membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Masyarakat yang peraya akan hal tersebut juga memperlakukan dengan istimewa dengan memandikan dengan bunga tujuh rupa pada hari-hari tertentu.
    Kemudian, sifat yang ditampilkan oleh Gus Usup kurang sesuai dengan kehidupan saat ini. pada cerpen di atas, dijelaskan bahwa ketika Gus Usup memenangkan permainan remi, ia justru membagikan uang atau mengembalikan yang ia dapatakan kepada teman-temannya. Namun, sifat Gus Usup tersebut berdanding tebalik dengan kehidupan saat ini. Kebanyakan orang-orang yang mendapatkan kemenangan, justru menjadi kebanggaan tersendiri untuk mereka. Berbeda dengan sifat Guk Mat pada cerpen di atas. Ketika akik Gus Usup tidak sengaja tertinggal di saku jaket miliknya. Guk Mat justru berpikir untuk menguasai akik sisik naga milik Gus Usup tersebut. Sifat yang ditunjukkan Guk Mat tersebut masih sesuai dengan keadaan saat ini. Namun, ada pula segelintir orang yang masih sadar untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya.

  42. M Rivda Arif Fajar Reply

    M Rivda Arif F
    175200044
    Pendidikan Bahasa Indonesia
    2017 B

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” Karya M. Shoim Anwar

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” adalah novel dari sekian novel yang ditulis oleh M. Shoim Anwar. Beliau merupakan seorang sastrawan dan dosen yang lahir di Kota Jombang Jawa timur. Beberapa karya yang sudah ditulis beliau adalah berbagai karya sastra diantaranya cerpen, novel, dan puisi.
    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” menceritakan seseorang yang bernama Gus Usup yang sangat dihormati di lingkungan tempatnya berada. Gus usup memiliki watak yang baik hati dan ramah. Keistimewaan dari Gus Usup adalah beliau memiliki batu akik yang memiliki motif sisik naga. Penggambaran tokoh Gus Usup sangat relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Beberapa masyarakat masih mempercayai bahwa hal-hal yang mistis dalam sebuah benda dapat memiliki pengaruh dalam kehidupan. Guk Mat yang memiliki kepercayaan yang berlebihan terhadap sebuah benda maka Guk Mat akan merasakan kerugiannya sendiri.
    Cerpen ini mudah untuk dipahami karena memiliki bahasa yang jelas dan komunikatif sehingga pembaca mampu memahami alur cerita dengan jelas. Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah jangan berlebihan dalam menyukai barang yang dianggap mistis apalagi sampai menimbulkan rasa syirik di dalam hati karena benda tersebut hanyalah sebuah benda, untuk takdir tetap tuhan yang menentukan.

  43. Fahira Restu Santoso Reply

    Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup
    Cerpen diatas sebuah cerita pendek yang terkemas rapi dengan pola kalimat yang teratur dengan rapi, dengan alur maju, dan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele.

    Dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah kepada siapa saja. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup adalah sebuah hal yang luar biasa misalnya seperti batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup. Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Kepercayaan pada sebuah benda yang terlalu berlebihan seperti yang terjadi pada Guk Mat justru akan membawa kerugian pada diri sendiri dan menimbulkan keserakahan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

    Fahira Restu Santoso
    175200032
    2017 B

  44. Mimha Sauf Aqil Muzad Reply

    Kritik dan Esai Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar

    M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Saya akan menguraikan cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar dengan pendapat saya sendiri. Cerpen tersebut menceritakan tentang tokoh yang bernama Gus Usup. Sebelum ke ceritanya, saya akan sedikit menjabarkan mengenai panggilan “Gus”. Panggilan Gus ini biasanya ditunjukan kepada seseorang yang merupakan keturunan dari Kyai. Selain itu, ada beberapa yang mengartikan panggilan Gus tersebut dijadikan sebuah lambang keilmuan dan akhlak sosial seseorang.

    Gus Usup merupakan seorang yang di hormati oleh masyarakat sekitar, karena sikapnya yang rendah hati dan suka berbaur dengan orang lain. Gus Usup selalu menggunakan batu akik yang melingkar jari manisnya dengan motif yang unik yaitu sisik naga. Batu akik yang di gunakan Gus Usup tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti halnya kejadian berikut: Pertama, saat Gus Usup yang sedang bermain kartu remi dengan Guk Mat, dalam permainan tersebut Gus Usup lah yang memenangkan permainan. Kedua, pada saat berlatih bela diri, ada yang ingin mengambil batu akik milik Gus Usup tersebut. Namun, orang yang ingin mengambil batu akik Gus Usup tersebut terpental. Dari dua kejadian tersebut, masyarakat mempercayai bahwa Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Mereka menganggap bahwa batu akik yang digunakan Gus Usup tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini masih ada sebagianorang yang mempercayai benda” yang dimiliki seseorang sebagai hal-hal magis dan menjadi sebuah keberuntungan.

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya M.Shoim Anwar ini ceritanya mudah untuk dipahami dan ceritanya juga menarik. Ada beberapa kata yang menggunakan bahasa jawa sehingga sulit di mengerti bagi orang awam.

  45. Fida Reply

    Kritik dan esai

    Cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar menggambarkan kehidupan manusia yang saat ini penuh dengan keinginan untuk dapat memuaskan dan mencari kesenangan terhadap dirinya sendiri. Seperti tokoh Guk Mat yang kala itu sedang bermain kartu remi bersama Gus usup dan teman-temannya ingin memenangkan sebuah permainan agar bisa meraup uang yang ada di depan arena permainan. Cerita yang disuguhkan sangat menarik, dikemas dengan bahasa yang sederhana dan dengan pemaknaan yang tergambar jelas. Setiap tokoh mempunyai ciri khas dan mempunyai rasa hormat terhadap orang yang dianggap tidak biasa di kampungnya yaitu Gus Usup. Warga di kampung tersebut menganggap Gus Usup mempunyai cerita tersendiri daripada keluarga pondok lainnya. Gus Usup orang yang sangat unik, sederhana dengan penampilan yang apa adanya layaknya pemuda kampung biasa, sarugnya selalu diangkat sampai di atas lututnya, dan jarang terlihat memakai kopyah dengan ciri khas rambutnya. Pemuda yang tampan dan berkulit kuning tersebut diyakini warga bahwa dengan adanya batu akik sisi naga, Gus Usup terlihat lebih kuat dan selalu menang dalam permainan remi. Seperti yang tergambar pada cerita tersebut, bahwa pada saat itu mereka sedang belajar bela diri di pondok, mereka tidak bisa mengambil batuk akik sisi naga milik Gus Usup tersebut. Mereka semua terpental dan meyakini bahwa Gus Usup telah memberikan bacaan yang kuat terhadap batu akik tersebut. Sebuah cerita pendek yang terkemas rapi, dengan alur maju, dan bahasa yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Sosok Gus Usup dan warga desa yang mengambarkan kisah atau kejadian fakta yang terjadi di dalam kehidupan kita saat ini. Bahwa setiap manusia mempunyai porsi dan caranya tersendiri untuk mendapatkan keinginan dengan sifat orang yang notabennya terlihat berbeda-beda. Rangkaian peristiwa kejadian yang berurutan. Cerita pendek tersebut mempunyai makna dan simbol tersendiri, yaitu ketika masyarakat mempunyai cara pandang tersendiri ketika melihat, menyapa, dan menjamu orang terhormat tersebut tanpa adanya rasa ingin dihormati kembali. Tetapi, mereka juga tahu jika Gus Mus dan keluarga pondok menorehkan banyak pelajaran dan kesan sendiri. Terutama orang yang selalu dihormati sekalipun para tetuah juga menghormati akan tokoh yang dianggap tak biasa tersebut yaitu Gus Mus.

  46. Oktavianus Jeharun_175200059_PBI 2017 B Reply

    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, menceritakan seorang tokoh bernama Gus Usup yang dihormati dan disegani oleh masyarakat di sekitarnya. Gus Usup digambarkan sebagai seseorang yang baik dan ramah. Dalam cerpen tersebut juga di gambarkan bahwa masyarakat menganggap apa saja yang ada pada diri Gus Usup merupakan sesuatu yang luar biasa. Hal ini ditunjukkan dengan batu akik bermotif sisik naga yang dipakai oleh Gus Usup.
    Penggambaran kehidupan dalam cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” terjadi dalam kehidupan manusia saat ini. Masyarakat masih banyak yang mempercayai hal-hal magis atau supranatural dalam sebuah benda. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan semacam ini bahkan masih hidup hingga kini. Kita dapat melihat, saat ini masih banyak orang percaya batu cincin ataupun benda jimat lainnya dapat memberi berbagai khasiat, mulai dari kekebalan, kegagahan, hingga ketampanan.
    Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup”, ceritanya mudah untuk dipahami dan alur yang digunakan juga jelas. Cerpen tersebut memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan.

  47. FLORENSIA CARLIANI MBUES . Reply

    “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” karya Shoim Anwar.
    Cerpen ini pada umumnya sama dengan cerpen lainnya, yakni memiliki makna yang terkandung di dalam isi. Yang berbeda pada cerpen ini adalah dimana karakter tokoh utama yakni Gus Usup sangat menjadi faktor utama dalam memaknai isi keseluruhan cerpen. Mulai dari karakter, statusnya dalam masyarakat dan yang paling menonjol keunikan yang dimilikinya. Gus Usup merupakan pribadi yang disegani di daerahnya. Orang-orang selalu bertingkah sopan kepadanya, apa pun yang ada pada Gus Usup semuanya terlihat baik dan sewajarnya. Gus Usup memang berasal dari keluarga pondok, tapi dia sangat berbaur dengan warga setempat. Jadi orang-orang setempat sangat menghormati Gus Usup.
    Keunikan yang ada pada Gus ialah dia memiliki akik bersisik naga, hal itu merupakan simbol dari kepercayaan karena akik itu bisa mendatangkan keberuntungan. Seperti diceritakan bahwa Gus Usup setiap kali bermain kartu dia selalu memenangkan dan mendapatkan hasil yang banyak. Tapi dia juga sering berbuat atau sengaja mengalah demi teman-temannya bisa mendapatkan kemenangan. Hal tersebut sudah mengarah pada sebuah kepercayaan, kepercayaan bukan hanya dinilai kepercayaan kepada Tuhan tetapi kepercayaan juga bisa dinilai sebagai kepercayaan kepada sesama, dan benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan yang berpengaruh.

  48. Moch. Tri cahyo. Purnomo Reply

    Berbicara karya Shoim Anwar tidak akan ada habis-habisnya. Shoim Anwar termasuk sastrawan yang sangat produktif dalam menghasilkan karya-karyanya. Termasuk dalam cerpen yang berjudul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup. Dari keseluruhan alur yang diceritakan, lagi-lagi Shoim Anwar mengambil tema mengenai kereligiusitasan. Hal tersebut sama seperti puisi-puisi yang telah kita ulas sebelumnya. Dalam hal ini penulis terkesan monoton dalam pengambilan tema untuk karyanya.

    Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup memiliki makna mengenai seorang alim ulama lulusan pesantren tetapi tidak menyombongkan dirinya, tidak ingin dipanggil Gus karena merasa sama dengan yang lain. Namun masyarakat tetap memanggilnya Gus dan sangat menghormatinya. Menjalankan kehidupan sehari-hari dengan ibadah yag tekun.

    Dari pembukaan cerpennya, terkesan biasa-biasa saja, karena penulis membangun alur cerita maju. Namun apabila mengikuti gaya penulisan saat ini, cerpen-cerpen yang dihasilkan akan dimulai langsung merujuk pada konflik. Serta penggunaan gaya bahasanya pun dapat kita petik untuk menambah khazanah ilmu bahsa kita.

    Akan tetapi, kita juga bisa memetik bahasa dari cerpen Shoim Anwar, salah satunya yakni bahasa Jawa. Bagi mereka yang memang berasal dari luar Jawa hal tersebut memanglah menarik, namun bagi pembaca yang berada di Jawa akan terkesan biasa-biasa saja.

    Penulis menggunakan simbol Naga, dimana Naga melambangkan kebenaran, keberuntungan, kebaikan, kekuatan, dan kemakmuran. Seperti dalam cerpen ini, cincin di jari manis yang digunakan Gus Usup bermotif sisik naga, yang membuat Gus Usup selalu beruntung dalam hal apapun, khususnya permainan kartu remi.

    Di akhir cerpen, penulis membangun cerita yang gantung. Artinya penulis mengangkat kisah menarik dan juga unik, sehingga pembaca dibuat bertanya-tanya bagaimana kisah selanjutnya, hingga akhirnya pembaca menebak dengan pikirannya sendiri. Membaca cerpen Shoim Anwar kita akan disuguhkan mengenai tema-tema spiritualitas atau religiusitas, nampaknya hal tersebut memanglah karakteristik dari sang penulis yang memanganggap bahwa religiusitas merupakan lahan dalam melahirkan kreativitas melalui bahasa-bahasa gang sederhana

  49. Anita Zulfah Reply

    Cerpen M. Shoim Anwar “Sisik Naga Di Jari Jari Gus Usup” terdiri dari beberapa paragraf yang entah dihitung darimana, sebab tanda-tanda paragraf tersebut tidak bisa diketahui pasti penulisannya dimulai dengan alinea mana. Suatu cerpen yang menggambarkan kehidupan manusia saat ini penuh dengan keinginan yang dapat dipuaskan dan mencari kesenangan tersendiri. Seperti halnya Guk Mat, tokoh kartu remi yang ingin memenangkan permainan bersama Gus Usup dan kawan-kawan, mereka bisa menghasilkan uang di panggung permainan. Cerita yang disajikan sangat menarik, dikemas dalam bahasa yang sederhana dengan penjelasan yang jelas. Masing-masing tokoh memiliki ciri khas dan penghormatan terhadap orang yang dianggap tidak biasa di desanya, orang itu adalah Gus Usup. Seorang yang begitu humoris dalam memandang hidup ini, namun di dalamnya menyimpan segala kebijaksanaan. Potret pengabdian sebuah keluarga pondok yang terpandang, tempat ia dibesarkan oleh sebuah kultur Jawa yang tenang.

    Berbicara soal kehidupan yang diabdinya, “Gus Usup”. Nama ini merupakan sebuah figur yang disegani oleh masyarakat. Mengapa tidak? Keseharian yang dilakukan Gus Usup merupakan suatu konsep yang menyinggung dan berkaitan dengan agama dengan konsep sosial yang ditonjolkan. Pemahaman terhadap suatu kehidupan terhadap gejala sosial yang dilakukan oleh Gus Usup sebagai tokoh masyarakat dalam permainan remi bukanlah perkara hal baik atau buruk. Siapa dapat mengira jika yang ia lakukan adalah sebuah dakwah, karena segala hal terpuji dan tercela hanya Tuhan yang akan menimbangnya. Kultur lingkungan pesantren Jawa sangat melekat pada kehidupannya, sehingga pola hidup sehat memang pantas untuk diterapkan disana.

    Lain cerita ketika akan membahas seorang tokoh yang selalu menganggap rumput tetangga selalu terlihat indah, Guk Mat namanya. Watak yang digambarkan pada cerpen tersebut mencerminkan saya atau bahkan kita semua. Manusia memang aneh, kadang manusia sibuk memikirkan keberuntungan orang lain tanpa melihat sekeras apa usaha yang dilakukan. Merasa iri dengan pandangan kita tanpa kita pahami bahwa setiap makhluk memiliki jalan hidupnya masing-masing, perkara rezeki sudah ada takarannya. Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita. Penggambaran masyarakat kurang bersyukur dan hanya menuruti hawa nafsunya mampu dituangkan dalam cerpen tersebut, untuk menyadarkan bahwa semua perkara kerja keras dan keberuntungan. Kalimat sederhana dengan alur yang sejalan mampu membuat pembaca mudah memahami dan menangkap makna cerita tersebut, walaupun ada beberapa kata berbahasa Jawa tanpa pemberian makna yang mempersulit orang lain dalam mengartikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.