Subadra Larung

(1974)

KAMERA merekam adegan itu berkali-kali. Sutradara berteriak tak henti-henti. Sesekali menyeka keringat, namun sering membiarkan cairan itu memercik di permukaan wajahnya.

Bella, gadis cantik dengan tatapan mata mengkilat itu–seperti kebanyakan dara usia 20 tahunan, ia bergerak manja dan penuh pesona. Bella tak pernah jauh dari sang sutradara. Seakan semua adegan pembuka yang kini sedang Gulito–nama sutradara ceking itu–rekam, khusus dipersembahkan untuknya.

“Bel, jangan dekat-dekat, ah. Nanti Mr. Tody marah.”

“Alaah, ini keberatan atau keasyikan?” sindir Bella, serta-merta malah merapatkan tubuhnya di lengan Gulito.

“Jangan, Bel. Kalau kamu begini terus, aku bisa gila.”

“Bukannya aku yang gila? Ngeliat wajahmu yang berkeringat itu, aku jadi tambah gemes.”

Yang melihat adegan itu pasti ketawa ngakak.

Mereka paham sekali, ini cuma gurauan. Mana mungkin Bella jatuh cinta sama si ceking hitam gelap itu. Di mata Mr. Tody, bos VistaLine Cinema, Gulito tetaplah anak emas. Seorang sutradara muda yang secara tak sengaja ditemukannya di kolong langit Gelanggang Remaja. Tiap sore, bersama kelompok teaternya, Gulito selalu terlihat berlatih akting.

Setelah dipoles Mr. Tody, beberapa kali bertugas sebagai pencatat script, Gulito mulai hafal bagaimana cara mencipta adegan. Ketika sutradara-sutradara ternama mendapat proyek film dengan sokongan dana besar rezim politik berkuasa, kemahiran Gulito sebagai astrada diperebutkan. Setelah semua itu, VistaLine Cinema mengangkatnya menjadi sutradara penuh.

Dan Bella?

“Bintang Kejora” itu ditemukan Mr. Tody hampir bersamaan waktunya ketika ia mendapatkan Gulito dari jalanan.

“Mana mungkin kamu berani jatuh cinta padaku?” nyinyir Bella.

Yang diserang tersenyum malu.

Film “Subadra Larung” adalah pertaruhan maha berani bagi perusahaan film Mr. Tody. Laki-laki keturunan Manado berusia 45 tahunan itu tidak biasanya membuat film berlatar belakang budaya. Sudah dikenal sejak lima tahunan terakhir, VistaLine Cinema selalu menjadi trendsetter bagi produksi film-film mainstream. Sinema ranjang dan impian kaum kesepian.

“Aku membuat ‘Subadra Larung’, karena aku menemukan Bella sebagai bintangnya. Subadra adalah tokoh perempuan yang dinistakan,” komentar Mr. Tody saat jumpa pers di sebuah hotel berbintang di kawasan Kuningan.

Tiap kali Mr. Tody melongok di lokasi syuting, Bella langsung beringsut ke kamar ganti. Tidak ada gurauan apalagi ejekan. Semua orang patuh pada Mr. Tody, karena ia sangat profesional dalam memperlakukan karyawan. Gaji awak filmnya selalu di atas rata-rata perusahaan film lain. Tapi bisa saja dalam seminggu ia memecat tiga tenaga unit yang ogah-ogahan model kerjanya.

Di mata produser kaya itu, Bella bisa menjadi “anaknya sendiri.” Sejak kecil Bella sudah berakting sebagai figuran di film-film VistaLine Cinema. Hingga remaja, tak jelas bagaimana hubungan antara keduanya. Karena sejak putus sekolah di bangku SMP, Bella dipungut Mr. Tody. Di rumah besar itu, si dara kecil dibekali ilmu akting lewat bacaan buku-buku. Ke mana saja Mr. Tody pergi, Bella tak pernah jauh dari sampingnya.

Semua orang tahu, Mr. Tody tidak beristri. Tidak mau menikah, meski memiliki hubungan sangat luas di kalangan para sosialita perempuan.

Sudah sejak tadi Bella masuk ke sebuah bilik ganti untuk pemain. Lebih khusus lagi untuk dirinya.

“Begitu deh kehidupan. Kadang seperti tembang, kadang ibarat tangis yang pilunya tak tertahankan. Film ‘Subadra Larung’ bisa saja tidak diputar, tapi dalam perjalanan hidupku, lakon itu tak akan pernah putus di tengah jalan…,” desisnya kepada diri sendiri.

Di depan cermin, Bella seakan melihat bayang-bayang hidupnya. Penuh gairah sekaligus memendam gelisah.

Digulungnya stagen 1) yang melilit kebaya. Melepas gelungan 2) rambut yang ia kenakan untuk syuting barusan. Sayup-sayup, jangkrik malam mengerik kencang. Dari celah lubang jendela, senja berangsur menghilang.

Malam pun tua.

Sekitar lima meter dari arah duduk Bella, Mr. Tody berdiri sambil memerhatikannya. Menatap Bella penuh saksama, dari ujung rambut hingga ujung jari-jari kaki. Semacam kekaguman yang sedang datang bertubi.

“Kamu capek, ya?” usiknya.

Bella menoleh, raut mukanya semburat membara.

 “Capek tapi senang, Papi. Baru kali ini kan menjadi Jawa. Susah lho mainin tokoh Wayang Jawa. Jauh dari karakterku yang sesungguhnya.”

Mr. Tody tertawa.

“Kesenangan harus dikendalikan. Kalau tidak, bisa lupa daratan.”

“Iya, Papi.”

Suara terhenti sejenak. Dalam ucapannya, Mr. Tody seolah sedang berjuang melawan kesulitannya sendiri.

 “O, iya … Bella. Sebentar lagi sopir akan membawamu ke Restoran Boenga di puncak. Kita break dan bersenang-senang semalaman.”

“Benarkah, Papi?” Bella pura-pura girang.

“Untuk keberhasilanmu sebagai Subadra.”

Mata Bella mengerjap-ngerjap. Sekali memutar arah, tubuhnya langsung ditabrakkan ke Mr. Tody. Tidak lama kemudian, ciuman sayang Bella mendarat di pipi laki-laki matang usia itu.

***

BELLA hanyalah sebuah nama, setidaknya itulah gunjingan orang.

Nama itu dicomot sekenanya oleh Mr. Tody, sejak Bella mendapat berbagai peran di film-filmnya. Di mata Bella, nama menjadi tidak penting, karena sudah lama ia lupakan.

Apalagi sejak film “Subadra Larung” diputar di bioskop-bioskop dengan publikasi besar. Iklan-iklan, baliho, spanduk hingga selebaran yang ditabur dari helikopter. Tiba-tiba nama Bella menjadi simbol kerinduan. Pamornya kian gemerlap, meski masa lalunya terhitung gelap. Tak seorang pun tahu, siapa sebenarnya dia. Dari mana asal-usulnya, seperti apa masa kecilnya.

Kebanyakan orang cuma melihat, telah lahir seorang artis muda berbakat dengan aura sangat memesona. “Ia sungguh cerdas berakting, tapi pandangan matanya kosong,” seorang sutradara senior pernah mengomentari cara berakting Bella.

Soal masa lalu itu, sineas Jakarta pun menebar gunjingan. Menjadi sangat penting, karena Bella diperkirakan bakal menjadi meteor Asia di kancah perfilman mancanegara. Setiap wartawan bertanya siapa orang tuanya, Bella selalu menjawab: “Tanya Mr. Tody. Ia yang tahu dari semula.”

Setali tiga uang, Mr. Tody pun pasti akan selalu berkilah, “Tentang masa depan Bella, aku yang tahu. Untuk masa silam dia, aku tak mau tahu.”

“Subadra Larung” menjadi film berlatar etnokultural yang tajam. Digarap dengan tema retro yang mengejutkan. Media-media intelek pasti akan mengupas film perdana Gulito sebagai karya yang penuh sindiran. Namun media kelas bawah pasti mengeksplor habis-habisan latar belakang. Itu ditujukannya pada Bella, si pemeran utama.

Dari sekian pengagum Bella, ada seorang pemuda berbadan tinggi dengan rambut keriting mekar. Ia selalu memotret sang bintang berkali-kali di mana pun Bella melakukan jumpa penggemar.

“Hai, Bella!” Dan kilatan blitz pun menghunjam habis-habisan.

Sorotan lampu kamera mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun kilatan lampu kamera pemuda itu senantiasa mengandung sensasi. Sore harinya, bisa diduga, pemuda bermata segaris itu mengirim segepok foto hasil jepretannya kepada Bella. Tidak lupa, di belakang salah satu foto itu tertulis, “Its Me, Erich Chan; I like pragmatic, gutsy, smart woman.”

Pertama kali mendapatkan foto itu, langsung Bella tunjukkan ke Mr. Tody.

“Lihat, Papi, aku mulai punya penggemar,” katanya.

Mr. Tody mengamati satu-dua lembar foto itu. Mulutnya tertawa lebar.

“Baca juga tulisan di belakangnya,” sambung Bella.

Mr. Tody menatap Bella, seakan menyelidik. Di raut muka Bella memang ada rona gembira. Itulah yang membuat Mr. Tody buru-buru membalik lembaran foto tersebut. Ketika tulisan terbaca, Mr. Tody tak lagi menunjukkan rasa gembira.

“Hati-hati dengan sanjungan. Sanjungan akan menjadi racun.”

Raut kecewa mendadak nampak.

“Aku mesti bagaimana, Papi?” Bella menghiba.

Mr. Tody meletakkan dengan dingin lembaran foto-foto itu di meja.

“Mulai sekarang, setiap surat atau kiriman apa pun dari penggemar harus melewati sekretaris kantor. Papi tidak ingin kehidupan kamu terganggu.”

“Sungguh, Bella tidak terganggu. Bella malah senang, Pi.”

Wajah mendung Mr. Tody sangat ia hafal. Makanya Bella langsung mendekat dan mencium pipi “Papi”-nya.

“Yang Bella sayang tetaplah Papi seorang.”

Bisikan itu cukup melegakan hati Mr. Tody. Mereka pun saling berdekapan mesra, seolah sepasang kekasih. Jadi, bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya?

“Sejak kecil, Papi selalu menyayangimu. Kau kuentas dari lorong jembatan yang paling kumuh di Jakarta kusam ini,” bisik laki-laki itu tegas.

“Iya, Papi. Bella telah dengar itu berulang-kali”

“Kau tahu kan, Papi tidak menikah? Ketika kamu beranjak remaja, Papi berharap padamu. Papi mulai mencintamu.”

“Bella ngerti, Pap.”

“Tahu kan, kini kau menjadi milikku?”

“Tahu, Pap. Bella milik Papi…”

***

PURNAMA menyelinap di ujung ranting pohon tertinggi. Angin menderu lembut, debu-debu beterbangan tak tertangkap mata. Lalu-lalang mobil melaju dari ujung ke ujung.

Puluhan gelandangan tidur meringkuk di lorong-lorong jembatan layang. Satu dua di antaranya masih terjaga, beberapa memainkan kartu dengan teriakan penuh berontak. Di sudut lain, seorang gadis di bawah umur tampak merokok. Menjajakan diri di tepian rel kereta api. Jakarta tengah malam bagai geliat naga murka yang hendak menerkam siapa saja.

Di sebuah pub hotel internasional, seorang musisi kribo meraungkan senar gitarnya, memainkan sebuah nomor lama, “Ballad of the Day” 3).

Tiga nomor berturut-turut dimainkan setelah itu. Tak lama kemudian si kribo menyelinap di sudut lorong pub, menekan nomor BB-nya.

Suara bernut-nut di ujung sana. Harap-harap cemas ia menanti. Beberapa detik kemudian, telepon diterima.

Hallo…” sapa si Kribo.

Tidak ada jawaban, meski ada nada diangkat.

I’m Erich Chan. Bella-kah?”

“Hai…” Benar-benar itu suara Bella dalam nada hati-hati.

“Aku Erich, susah payah temanku mencari nomor telepon kamarmu.”

“Gila. Siapa nama temanmu?”

“Itu tidak penting, aku penggemarmu. Bisakah kita ketemu?”

“Gila lagi, nih. Bagaimana mungkin ada waktu? Jadwal syutingku telah diatur padat oleh sekretaris kantor. Hari-hariku mulai dikendalikan oleh manajer.”

“Kapan syuting? Aku akan menyelinap.”

“Ini lagi, siapa berani membawamu ke lokasi syutingku?”

Itulah untuk yang pertama kali Bella menerima telepon Erich Chan. Mula-mula Erich adalah penggemar biasa. Namun Bella menangkap impresi lain ketika dalam berbagai kesempatan mereka terus bertemu. Tiba-tiba saja Gulito, sutradara yang baik hati itu, mempekerjakan Erich sebagai penggarap musik untuk film terbaru Bella. Apakah ini sekadar kebetulan? Jangan-jangan telah diatur sedemikian rupa?

“Kenalin, Bel, Erich ini anak Filipina.”

Mereka pura-pura tidak kenal dan bersalaman. Dalam genggaman tangan Erich, kehangatan menjalar lembut di pembuluh darahnya.

“Hai, Bell…”

“Hai, Erich.”

Gulito seperti membiarkan keduanya saling mengobrol, diskusi sana-sini soal pekerjaan musik dan film.

“Kalian ketemu di mana?” tanya Bella.

“Temanku yang atur. Kami yang menggarap musiknya di film kamu. Gulito, sutradaramu itu, orangnya hangat, ya?”

Bella tertawa tanpa mengiyakan.

Berikutnya, mereka seperti tak ada sekat. Tak seorang pun tahu, bahwa di luar kesibukan syuting, keduanya menjalin pertemuan rahasia di tempat yang sangat rahasia. Ini semua berkat jasa Gulito.

“Habis scene ini aku break, ya,” pinta Bella.

“Masih ada dua scene 4) lagi malam ini,” protes Gulito.

“Aku capek, bener, aku nggak kuat lagi.”

Untung Mr. Tody sedang terbang ke Singapura bersama sejumlah koleganya. Esok sore baru pulang ke Jakarta. Sedang Bella merasakan tantangan lain bersama Erich. Mereka pun mengatur pertemuan di sebuah hotel pinggiran. Tak seorang pun menyangka, di hotel berbintang empat itu tengah berbaring Bella, si bintang pujaan, bersama Erich–gitaris asal Filipina.

“Gara-gara kamu aku mulai berani gila…”

Sorry, Bell. Pasti akan mengalami kesulitan di kemudian hari.”

“Meninggalkan lokasi syuting adalah pelanggaran berat di perusahaan Mr. Tody. Tapi ini risiko. Apa yang kau cari dariku, Erich?”

“Tidak tahu. Di Manila, kebanyakan temanku adalah artis. Beberapa di antaranya bintang film cantik sepertimu. Tapi mereka bukanlah kau.

Erich tertawa sambil menangkap tangan Bella. Menggenggam rapat dan merasakan rambatan hangatnya.

“Apa artinya ini, Erich?”

“Aku ingin mengajakmu pulang ke rumah orang tuaku.”

“Di Manila maksudmu?”

Erich mengangguk. Tawa Bella meledak tak beraturan.

“Sungguh kau rusak angan-anganku, Rich.”

“Di Manila, kehidupan kamu pasti lebih baik. Industri filmnya menjamur pesat dibanding Jakarta. Kau akan kujadikan bintang besar di Manila. Sebenarnya Jakarta bukan apa-apa untuk seorang bintang besar sepertimu.”

Bayang-bayang baur mulai berseliweran di pikiran Bella. Bagaimana dengan Mr. Tody, “Papi” yang sangat baik hati? Masa depannya hampir gemilang, akankah ditutup begitu saja hanya oleh godaan semalam?

“Bagaimana, Bell?”

“Belum bisa kujawab.”

Namun Erich memintanya dengan penuh ratap. Hingga Bella tak mampu meronta ketika ujung bibir Erich menyentuh bibirnya. “Aku sangat matang dalam urusan ini. Trust me.”

Meski malam itu tidak menjawab, pikiran Bella mulai terusik untuk lari dari VistaLine Cinema. Selama ini gunjingan dan cibiran orang ditelannya tanpa rasa. Omongan orang-orang di sekitar produksi, bisik-bisik yang menyakitkan sesama artis, tak pernah digubrisnya. Meski dalam tidur, air matanya senantiasa menitik.

Lebih-lebih, ketika harus mendekap tubuh gembul Mr. Tody dengan peran tak pasti. Anak angkat ataukah kekasih? Himpitan tubuh Mr. Tody tidak tepat diterjemahkan sebagai himpitan sayang, lebih tepat adalah nafsu. Rabaan-rabaan yang menggila di malam hari, kerap membuat Bella menahan napas lantaran muak dan ngeri.

Pertemuan demi pertemuan terjadi justru saat Mr. Tody meyakini, bahwa Bella sedang sangat direpotkan oleh perannya sebagai bintang pujaan. Dan Gulito, sejak dulu ia selalu berperan sebagai pelindung bagi tiap-tiap kesalahan Bella.

Air mata Bella menitik. Gulito dengan gemetar mengusapnya. Baru sekali ini tangan Gulito yang hitam legam mengusap air mata Bella. Baru sekali ini ia merasakan gesekan kulit pipi Bella dengan kulitnya selama menjadi sutradara.

“Aku hanya ingin lari dari Papi. Sebenarnya aku tidak yakin,” desis lirih Bella.

Demikianlah kalimat terakhir Bella pada Gulito. Sejak saat itu, ia tak pernah nongol di lokasi syuting. Dan sejak Bella menghilang, Mr. Tody menyatakan break total terhadap produiksi film “Subadra Larung 2”. Produser itu pun menyatakan istirahat dari semua produksi filmnya. Mulai susah ditemui, dan kantor VistaLine Cinema tidak beraktivitas lagi.

Sehari setelah pertemuan dengan Gulito, Bella menghadap “Papi”. Malam itu Bella memberikan “kemesraan” terakhirnya kepada “Papi.”

Ia tercenung di depan cermin sembari mengusap ubun-ubun sendiri. Bella nampak cantik sekali di mata Mr. Tody. Laki-laki setengah baya itu sedang sibuk dengan cerutunya di tepi tempat tidur.

Wajah Bella menyamping, seolah mengerling ke Mr. Tody.

“Mungkin ini yang terakhir, Pi.”

“Kenapa, Bell? Kenapa ini yang terakhir?”

Mr. Tody mendekat ke Bella.

“Jangan-jangan benar kata anak-anak produksi itu, kau memang akan meninggalkan VistaLine?”

Bella terlongong. Tubuhnya berbalik dan jatuh di dekapan Mr. Tody.

“Minggu depan, rombongan pembuat musik film itu akan segera angkat kaki dari Jakarta. Mereka kembali ke Manila. Papi tahu kan siapa Erich, music director untuk film kita itu? Ia melamarku. Aku hendak dibawanya serta ke Manila.”

Wajah Bella mendongak ke atas. Akan tetapi tatapan mata Mr. Tody cuma kosong menujunya.

Dipeluknya erat Bella. “Dan akan kau tinggalkan begitu saja proyek film besar ini? Artinya, kau akan meninggalkan aku juga?”

“Oh, Papi…,” Bella menangis terguguk.

“Di dalam hati Bella, Papi adalah guru sejati. Kekasih yang selalu mengerti saat kapan harus mencintai dan kapan mesti merelakan pergi. Bella mohon izin, Pi. Inilah risikonya bertalian asmara tanpa ikatan sumpah yang pasti. Saat ini, Bella memang sedang melarung 5) hati kecilnya sendiri…”

Gorden jendela tersingkap angin. Bella berdiri, tubuhnya bersandar di dinding dekat celahnya. Mr. Tody pun bergeser duduk di bibir ranjang.

Mereka nampak sedang bertikai hebat.

“Boleh dibilangaku turut membesarkan proyek film ini!! Tidak rela rasanya kalau Papi hendak menghancurkannya. Bahkan menutup VistaLine yang telah bertahun-tahun membesarkan nama Papi.”

“Tanpa kau, proyek film-film besar Papi tidak akan berarti. Semuanya hancur. Penonton cuma ingin melihatmu di layar lebar, bukan yang lain!!!”

 “Tolonglah, Papi. Rahasiakan kepergianku pada siapa pun. Aku tak ingin awak produksi kecewa ketika tahu Bella akhirnya menjadi pengecut. Belokkan tokoh Subadra agar mati dini,” pinta Bella.

“Itu soal gampang, Bell. Tapi merahasiakan ke awak produksi lain dengan mengatakan bahwa aku tidak tahu-menahu tentang kepergianmu, banyak orang akan tertawa.”

Nada bicara Mr. Tody sangat merendah. Seperti tak punya harapan lain. Wajah Bella pun bertambah bimbang. Menatap ke atas, nampak langit-langit rumah yang semakin kusam.

“Semua orang boleh menafsir, perempuan macam apa Bella. Hanya dua lelaki yang tetap melekat di hati Bella.”

Bella menekan dadanya sendiri.

“Pertama adalah Papi, kedua adalah Erich. Ia seorang pekerja yang sedang tersesat. Papi, izinkan aku memilih Erich. Karena ingin kukubur masa laluku yang pekat di tempat ini.”

Mr. Tody menatap aneh Bella. Yang ditatap malah meraih sehelai tisu dan menyusut matanya yang basah. Tak ada kata-kata. Kecuali diam dan isak tangis tak tertahankan.

Bisa dibilang, itulah pertemuan terakhir. Karena keduanya mengambil sikap masing-masing. Mr. Tody tak lagi bicara tentang proyek film “Subadra Larung 2”. Semua lini kegiatan dibekukan. Sang bos menghilang dari markasnya entah ke mana.

Namun bukan VistaLine Cinema kalau tidak menampilkan kejutan dahsyat. Di tengah-tengah krisis produksi, seluruh kru, mulai dari artis utama, sutradara, hingga unit terbawah dilunasi lima puluh persen dari nilai kontrak keseluruhan. Padahal aktivitas syuting belum berlangsung dua puluh persennya.

Di sebuah kawasan, tempat biasa sebagian besar produksi film Mr. Tody melakukan syuting indoor, sisa-sisa properti masih terserak. Sari, penanggung jawab kostum Bella, sering nongol di tempat itu bersama Gulito.

Mereka merasa ada pekerjaan yang belum selesai. Seperti remaja yang sedang patah hati, keduanya saling menatap tidak sengaja, ketika pikirannya membentur pada tema yang sama.

Di sebuah pojok kantor, tertempel tulisan tangan sekenanya. Siapa pun yang telah lama bekerja di VistaLine Cinema pasti tepat menebak, bahwa itu tulisan tangan Mr. Tody. Tulisan tangan hanya akan muncul ketika yang bersangkutan sedang tidak enak hati atau ketika sedang marah besar.

“Sejak malam ini, Bella keluar dari PT VistaLine Cinema. Segera dicari gantinya! –(Mr. Tody)”

Sebuah kertas pengumuman yang tidak formal. Ditulis dengan satu dua kata digaris tebal. Di kantor itu, hanya seorang sekretaris yang masih setia bekerja. Ia mengetik berkas-berkas administrasi produksi, meski proyek film terakhir dinyatakan berhenti.

 “Jangan lagi ada yang mimpi film “Subadra Larung 2” akan berlanjut.” kata Mr. Tody pada sekretaris kantor.

Begitulah Mr. Tody yang sedang patah hati. Ia lantas ngeloyor pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan pintu, langkahnya terhenti dengan satu pertanyaan, “Pesangon kalian lebih dari cukup, kan?”

Gulito dan Sari saling menatap. Kesedihan seorang karyawan ketika melihat sang majikan sedang tidak bisa berpikir tenang.

Satu menit kemudian, Mr. Tody telah hilang dari pandangan mereka. Entah ke mana.***

                                                                                                                       Jakarta 2020

Latest posts by Handry TM (see all)

Comments

  1. Rezeki Suci Reply

    saking serunya sampe berharap “jangan abis dulu ceritanya”

  2. Fadel Reply

    Seru

  3. Ley Reply

    Wah seru ceritanya

  4. Berbisik Reply

    Dan ketika pembacamu iku terlarut dalam mimpi cinta ia tak sadar bahwa sudah pada sajak paling dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.