Syaikh ‘Abdullah al-Anthaki

(Dance of the Beloved; Photo by Ninth Raven)

 

Beliau adalah Abu Muhammad ‘Abdullah bin Khubiq bin Sabiq al-Anthaki. Termasuk generasi awal dari kalangan kaum sufi. Beliau adalah seorang sufi yang senantiasa bersikap asketik, mengonsumsi hanya yang halal, bersikap sangat hati-hati di dalam berhadapan dengan berbagai perkara. Berasal dari Kufah, Irak. Bermukim di Antakya, Turki.

Pada suatu kesempatan, Syaikh Fath bin Syakhraf menyaksikan Syaikh ‘Abdullah al-Anthaki menyatakan dengan tegas terhadap seseorang dari Khurasan: “Wahai orang Khurasan, ada empat hal yang semestinya senantiasa dijaga dengan ketat. Pertama, jagalah mata dari memandang segala yang diharamkan dan apa pun yang tidak disenangi oleh Allah Ta’ala.

Kedua, jagalah lisan dari mengucapkan apa saja yang tidak sesuai dengan isi hati. Ketiga, jagalah hati dari segala jenis iri dan dengki terhadap orang lain. Keempat, jagalah hasrat dan keinginan terhadap segala yang tidak pantas dan tidak elok.

Jika empat perkara yang sangat penting itu tidak ada pada dirimu, maka merataplah dan tuangkanlah debu-debu di atas kepalamu. Jika demikian, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau tidak lain adalah orang yang celaka.”

Tentu saja kita bisa menerka bahwa empat poin penting itu merupakan panduan umum bagi siapa pun untuk menggapai keselamatan dan kemuliaan. Karena, di samping merupakan pintu-pintu keberuntungan, empat anggota diri itu juga bisa menjadi berbagai jalan bagi malapetaka dan kehancuran setiap orang.

Itu artinya adalah bahwa empat “pintu” itu tidak secara otomatis menjadi jalan-jalan yang baik. Karenanya, harus diwaspadai segala sesuatu yang masuk lewat berbagai jenis pintu itu. Kita harus berani bertarung jika yang akan masuk lewat berbagai pintu tersebut ternyata adalah “begal-begal” yang mau mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan kita, yang mau meracuni cara berpikir kita, yang mau mencelakakan kita setiap kali kita mengambil keputusan.

Dan begal-begal itu bisa beraneka ragam, baik jenis jurus-jurusnya, rupa-rupanya maupun tingkat kekuatan dan kelihaiannya. Bisa berupa ajakan dan rayuan dari kawan-kawan. Bisa berbagai “ceramah” di YouTube. Bisa juga konten dari berbagai status di Facebook. Dan lain sebagainya, sebagainya.

Bahkan yang lebih malang lagi, kadang begal-begal itu leluasa masuk ke dalam diri manusia tanpa sama sekali disadari bahwa mereka sebenarnya adalah begal-begal yang sangat destruktif dan berbahaya. Sehingga manusia itu malah menikmati adanya kebersamaan dengan mereka.

Syaikh ‘Abdullah al-Anthaki pernah menceritakan bahwa salah seorang pendeta dari kalangan Bani Israil pernah menyeru begini kepada Tuhannya: “Tuhan, betapa banyak aku durhaka kepadaMu, tapi Engkau tidak menyiksaku.” Allah Ta’ala lalu berfirman kepada seorang nabi dari kalangan Bani Israil di kala itu: “Katakan kepada si pendeta itu, ‘Betapa sering Aku menyiksamu dan engkau tidak tahu. Bukankah Aku telah menyingkirkanmu dari kelezatan bermunajat kepadaKu?”

Bukan kehancuran fisik dan psikis yang telah menimpa si pendeta itu, tapi kerusakan spiritual. Dan hal itu merupakan wujud kemalangan yang jauh lebih pedih dan nista. Moga kita dijauhkan darinya. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.