Syaikh ‘Abdullah al-Bawardi

(‘Sufi Meditation Embracing Humanity With Love’ Sticker by taiche)

 

Beliau adalah ‘Abdullah bin Mahdi al-Bawardi. Salah satu guru Syaikh Abu Hafsh al-Haddad. Termasuk wali agung di antara deretan kaum sufi.

Beliau adalah seorang pandai besi yang cekatan dan sangat ulung. Akan tetapi profesi itu kemudian ditinggalkan oleh beliau. Ada apa gerangan sehingga pekerjaan yang semula ditekuni itu lalu dilepas begitu saja?

Inilah alasannya. Pada suatu hari, beliau sedang mengerjakan tugas perbesian. Di tangannya ada sebuah besi yang sedang dipanaskan. Persis pada saat itu, ada seorang buta yang sedang lewat dan membacakan sebuah ayat yang berbunyi: “Kerajaan yang haq di hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah,” (QS. al-Furqan: 26).

Sang sufi mendengarkannya dengan saksama. Lalu kondisi rohaninya bergetar dengan kencang. Besi yang membara dengan berwarna merah jatuh dari genggamannya. Dan dengan penampilan yang seperti tidak hirau terhadap pekerjaannya karena terpengaruh oleh bacaan ayat tadi, beliau mengambil besi yang masih membara itu dengan tangan kosong alias tidak menggunakan perangkat apa pun.

Salah seorang santri beliau yang melihatnya, seketika menjerit sekeras-kerasnya. Kemudian pingsan. Sesaat kemudian santri itu sadar. Sang sufi bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi pada dirimu?” Santri itu tidak menjawab. Tapi terus memandangi tangan gurunya yang sedang memegang besi membara. Si guru baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah sesuatu yang tidak lazim, mutlak merupakan kerja dan pertolongan Tuhan.

Sungguh sangat mengagumkan. Bagaimana sebuah ayat yang sedang dibacakan oleh orang buta itu sedemikian berpengaruh pada si pandai besi itu. Andai bukan karena kesucian hati dan konsentrasi yang kuat setiap saat kepada hadiratNya, maka akan sulit dibayangkan bagaimana sebuah bisa memiliki pengaruh yang begitu dahsyat itu.

Pelajaran spiritual dari kisah itu adalah keniscayaan kita untuk senantiasa mengutuhkan hati kepada Allah Ta’ala apa pun yang sedang kita kerjakan dan tekuni. Tidak tercabik-cabik oleh berbagai keterpukauan terhadap aneka ragam profesi dan aktivitas yang kita jalani.

Dalam keadaan terpukau terhadap salah satu ayat saja, sang sufi itu tidak hanya memandang bahaya itu sebagai “ketiadaan”, tapi juga sama sekali memang betul-betul tidak tersentuh oleh adanya bahaya besi yang membara itu. Begitu nyata bahwa yang sanggup memberikan manfaat dan bahaya itu hanyalah Allah Ta’ala, sama sekali bukanlah apa atau siapa pun yang lain.

Menjadi nyata secara hakiki bahwa tangan sang sufi itu sebenarnya adalah tangan Allah Ta’ala. Bahkan bukan saja tangannya, tapi keseluruhan dari anggota tubuh sang sufi telah diperankan oleh hadiratNya sehingga berbagai tindakan beliau memiliki nilai-nilai yang mulus dan bernuansa abadi.

Bagaimana beliau bisa sampai pada kedudukan rohani yang sedemikian mulia itu? Tak lain dengan menyerahkan diri secara utuh kepada hadiratNya melalui berbagai macam kepatuhan yang paling tulus dan penuh dengan kesungguhan.

Berbagai perintah yang datang dari Allah Ta’ala dipandang sebagai aneka ragam jalan spiritual yang bisa mengantarkan sang sufi untuk sampai sekaligus menyaksikan hadiratNya. Dan beliau telah betul-betul merasakan kondisi rohani yang sangat mengagumkan itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.