Syaikh Abu ‘Abdillah al-Qalanisi

Beliau adalah sebagaimana judul di atas, persis, tidak ada tambahannya. Dua kitab yang menjadi referensi saya dalam penulisan esai biografi ini, kitab Hilyah al-Awliya karya Syaikh Abu Nu’aim al-Ashfihani dan kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami, sama-sama tidak menyebutkan tempat kelahiran dan wafatnya, juga tidak menuliskan tahun kelahiran dan wafatnya.

Beliau termasuk sufi yang sangat dimuliakan di antara sufi-sufi yang lain. Beliau adalah seorang pembesar di kalangan mereka. Beliau adalah seseorang yang begitu ramah. Memenuhi janji. Kebenaran selalu berbicara kepadanya walaupun di tengah-tengah kerusakan moral.

Tentang gambaran mengenai pengalaman rohaninya, beliau pernah menuturkan kisah sebagaimana berikut ini. Di dalam sebuah pengembaraan, beliau pernah berada di dalam sebuah perahu bersama orang-orang. Angin bertiup kencang. Bahkan disusul oleh topan yang sangat ganas.

Orang-orang di dalam perahu itu terlihat khusyuk sekali berdoa, sangat merasa rendah diri di hadapan Allah Ta’ala. Mereka juga bernadzar dengan beraneka ragam. “Engkau, bernadzarlah,” kata mereka kepada Syaikh Abu ‘Abdillah al-Qalanisi.” Beliau menjawab: “Aku ini sudah terbebaskan dari berbagai kausalitas duniawi. Mau bernadzar apa aku?”

Mereka terus memaksa beliau untuk bernadzar. Akhirnya beliau juga bernadzar: “Ya Tuhan, aku bernadzar. Jika kami selamat dari bencana topan dan lautan ini, aku tidak akan makan daging gajah.” Mereka serempak merespons beliau: “Nadzar macam apa ini? Apakah salah seorang di antara kita mau makan daging gajah?” Beliau menimpali: “Demikianlah bisikan yang melintas di hatiku. Kemudian Allah Ta’ala mengalirkan hal itu ke lisanku.”

Menjelang sampai di pantai, perahu yang beliau tumpangi pecah. Beliau bersama rombongan selamat sampai di pantai. Mereka kebingungan, tidak tahu harus ke mana. Selama beberapa hari mereka tidak makan apa pun. Mereka hanya duduk-duduk lesu.

Tiba-tiba mereka melihat anak gajah. Mereka menangkap dan menyembelih anak gajah itu. Dengan lahap mereka memakan dagingnya. Mereka berkata kepada Syaikh Abu ‘Abdillah al-Qalanisi: “Ayo makan!” Beliau menjawab: “Aku sudah bernadzar untuk tidak makan daging gajah.” Tapi mereka tetap memaksa beliau untuk makan: “Dalam kondisi kepepet, boleh ingkar janji.” Beliau tetap tidak menggubris mereka.

Setelah puas dan kenyang makan daging gajah, mereka dirundung kantuk, lalu tertidur. Induk gajah kemudian datang dan menemukan anaknya sudah menjadi tulang-belulang. Mereka yang tidur diciumi mulutnya satu per satu. Setiap orang yang mulutnya bau daging gajah, diinjak dan dibunuh.

Lalu induk gajah itu menciumi mulut Syaikh Abu ‘Abdillah al-Qalanisi, dan sama sekali tidak menemukan bau anaknya. Dan sungguh mengagumkan, induk gajah memberi isyarat kepada sang sufi dengan belalainya agar beliau naik ke punggungnya.

Induk gajah berjalan dengan cepat di malam itu. Hingga akhirnya sampai di sebuah perkampungan di mana sang sufi menyaksikan berbagai macam tanaman dan rumah-rumah penduduk. Induk gajah lalu memberikan isyarat agar sang sufi turun. Induk gajah itu kemudian pergi.

Subuh tiba. Para penduduk berdatangan. Mereka membawa sang sufi ke sebuah rumah. Sang sufi tidak mengerti bahasa mereka. Kemudian datang seorang penerjemah dan bertanya tentang peristiwa yang terjadi. Sang sufi menceritakan peristiwa yang mengerikan tadi malam. “Berapa jauh jarak antara tempat itu ke sini?” tanya mereka. “Tidak tahu,” jawab sang sufi. “Jarak dari sana ke sini adalah perjalanan delapan hari,” tukas mereka. Sementara induk gajah itu hanya menempuhnya dalam satu malam.

Betapa mengagumkan pelayanan Allah Ta’ala untuk kekasihNya. Digenggamlah hati sang kekasih itu agar tidak tertarik kepada yang lain. Dan di tengah lika-liku perjalanan, sang kekasih itu senantiasa dipayungi oleh kasih-sayang dan bimbingan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.